Dzikir dan Cinta

”Tanda cinta pada Allah adalah menyukai dzikrullah (dzikir kepada Allah). Dan tanda benci pada Allah adalah membenci dzikrullah azza wajalla.” (HR Baihaqi).

Hadis di atas menjelaskan bagaimana kaitan antara dzikir dan cinta. Apakah dzikir itu bagian dari cinta, atau justru sebaliknya, cinta adalah bagian dari dzikir?

Cinta merupakan fitrah yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap makhluk-Nya. Cinta akan selalu hadir dalam napas manusia. Cinta pula yang kadang menjadikan orang bahagia atau sengsara.

Berbicara serba-serbi cinta, tentu tidak akan ada habisnya. Bahkan, para sastrawan Barat pun kesulitan mengungkap definisi cinta, karena ia begitu relatif dan multimakna, tergantung siapa yang mendefinisikannya. Islam sangat menganjurkan kepada manusia agar mencintai sesama, asalkan cinta tersebut dalam koridor agama dan tidak melebihi cinta kepada Allah SWT.

Ketika seseorang sudah jatuh cinta, ia akan selalu mengingat dan memikirkan yang dicintainya itu. Maka, jatuh cinta kepada Allah adalah suatu keniscayaan yang tak dapat dielakkan bagi diri setiap Muslim. Dengan cinta kepada Allah, tentu kita akan selalu mengingatnya, yang dalam Islam disebut dengan dzikrullah. Karena dzikir merupakan manifestasi cinta seorang hamba kepada Sang Khalik.

Dzikir adalah ibadah yang paling dicintai Allah. Dzikir merupakan amalan yang paling bersih di sisi-Nya dan sangat tinggi tingkatannya. Lebih dari itu, berdzikir juga lebih baik dan afdhal daripada mendermakan emas perak ataupun berlian, serta berperang melawan musuh-musuh Islam. (HR Ahmad).

Ketika Rasulallah ditanya oleh sahabatnya, ”Ibadah manakah yang paling utama di sisi Allah ketika hari kiamat?” Rasulallah menjawab, ”Orang-orang yang banyak berdzikir.” (HR Tirmidzi).

Hal ini juga diungkap dalam firman Allah SWT, ”Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al-Ahzab [33]: 41).

Dzikir dan cinta adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Seseorang yang mencintai Allah, ia akan selalu berdzikir kepada-Nya. Begitu sebaliknya, orang yang selalu berdzikir kepada Allah, berarti ia sangat mencintai-Nya. Dengan mencintai Allah, manusia akan selalu menaati segala perintah dan laranngan-Nya.

Jika dzikir dan cinta ini sudah menggurita dan terpatri pada setiap dada manusia, maka tidak akan lagi kita mendengar berita tentang tindakan-tindakan tercela, menyalahfungsikan jabatan, atau menjualbelikan undang-undang. Insya Allah!

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Ali Rif’an, “Hikmah”, Republika, Jumat, 19 Desember 2008)