<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Quranic Studies</title>
	<atom:link href="http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id</link>
	<description>Membaca Teks Suci Untuk Aksi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 May 2013 07:59:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Peminta-Minta Di Jalanan</title>
		<link>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/peminta-minta-di-jalanan/</link>
		<comments>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/peminta-minta-di-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 07:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Hariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kapita Selekta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/?p=9198</guid>
		<description><![CDATA[Begitulah seorang peminta-minta memancing belas kasihan para pengedara mobil di jalalan. Ada yang mengendong bayii, duduk di pinggir jalan raya dengan balutan yang mengesankan penuh luka, dan adapula yang memakai kursi roda. Iseng-iseng saya bertanya kepada salah seorang yang berpofresi seperti itu: &#8220;berapa rupiah yang anda peroleh setiah hari?&#8221;. Dia menjawab dengan suara lirih: &#8220;tidak <a href="http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/peminta-minta-di-jalanan/">[Selengkapnya...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitulah seorang peminta-minta memancing belas kasihan para pengedara mobil di jalalan.</p>
<p>Ada yang mengendong bayii, duduk di pinggir jalan raya dengan balutan yang mengesankan penuh luka, dan adapula yang memakai kursi roda.</p>
<p>Iseng-iseng saya bertanya kepada salah seorang yang berpofresi seperti itu: &#8220;berapa rupiah yang anda peroleh setiah hari?&#8221;. Dia menjawab dengan suara lirih: &#8220;tidak tentu. Tapi kalau hari lbur, minlmal 100 ribu&#8221;.</p>
<p>Ahamdulillah, ternyata masih banyak di antara kita yang bersedia untuk berbagi kepada sesama. Tapi, apakah kita selamanya harus memanjakan mereka &#8212; para peminta-minta &#8212; dengan cara sepert iini?</p>
<p>Apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk memberdayakan mereka daripada harus menyantuninya dengan cara yang bisa jadi semakin memanjakan mereka?</p>
<p>Mari kita berbuat sesuatu yang lebih bermakna bagi diri kita dan orang lain dengan cara yang lebih bijak!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/peminta-minta-di-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata &#8216;Bersabar&#8217; Itu Indah.</title>
		<link>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/ternyata-bersabar-itu-indah/</link>
		<comments>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/ternyata-bersabar-itu-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 May 2013 07:58:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Hariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kapita Selekta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/?p=9196</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata &#8216;bersabar&#8217; itu indah. Baru saja saya bersama isteri dan anak-anak mendapatkan &#8216;ujian&#8217; untuk merawat ibu yang sakit dan terbaring di rumah, setelah 18 hari dirawat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Berkali-kali kami memberikan sesuatu yang sangat berarti bagi ibu, dan berkali-kali pula ditolak, karena beliau kurang berkenan. Saya katakan kepada isteri dan anak-anakku: &#8220;Jangan <a href="http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/ternyata-bersabar-itu-indah/">[Selengkapnya...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata &#8216;bersabar&#8217; itu indah.</p>
<p>Baru saja saya bersama isteri dan anak-anak mendapatkan &#8216;ujian&#8217; untuk merawat ibu yang sakit dan terbaring di rumah, setelah 18 hari dirawat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.</p>
<p>Berkali-kali kami memberikan sesuatu yang sangat berarti bagi ibu, dan berkali-kali pula ditolak, karena beliau kurang berkenan.</p>
<p>Saya katakan kepada isteri dan anak-anakku: &#8220;Jangan pernah kecewa dan &#8212; apalagi &#8212; berputus asa. Bersabarlah untuk selalu memberikan yang terbaik kepada siapa pun dengan sikap ikhlas.</p>
<p>Alhamdulillah, tadi pagi ibu pun berkata lirih kepada kami: &#8220;Jangan pernah kecewa, apalagi mengecewakan orang. Allah akan membalas amal kebaikanmu sebatas keikhlasanmu untuk berbuat sesuatu&#8221;.</p>
<p>Kami pun lega, karena ibuku yang selama ini telah mendidikku untuk bersabar dan bersikap ikhlas dalam berbuat sesuatu telah berhasll menanamkan sikap sabar dan ikhlas kepada diri kami.</p>
<p>Doakan ibu, agar kami bisa menjaga kesabaran dan keikhlasan kami.</p>
<p>Amien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/ternyata-bersabar-itu-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Artipenting Dzikir dan Doa</title>
		<link>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/9191/</link>
		<comments>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/9191/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 08:31:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Hariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kapita Selekta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/?p=9191</guid>
		<description><![CDATA[Artipenting Dzikir dan Doa Kita bersyukur kepada Allah SWT, karena pada setiap peristiwa penting atau dianggap penting, kita seringkali melakukan kegiatan dzikir dan doa. Tentu hal ini adalah perbuatan yang sangat terpuji, karena dzikir dan doa merupakan perintah Allah SWT dan karena itu dimasukkan ke dalam kategori ibadah. Dzikir bermakna ingat, yaitu mengingat Allah dengan <a href="http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/9191/">[Selengkapnya...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Artipenting Dzikir dan Doa </strong></p>
<p>Kita bersyukur kepada Allah SWT, karena pada setiap peristiwa penting atau dianggap penting, kita seringkali melakukan kegiatan dzikir dan doa. Tentu hal ini adalah perbuatan yang sangat terpuji, karena dzikir dan doa merupakan perintah Allah SWT dan karena itu dimasukkan ke dalam kategori ibadah.</p>
<p>Dzikir bermakna ingat, yaitu mengingat Allah dengan lisan dan tindakan serta mengingat Allah dengan hati (rahasia). Sebagaimana firman Allah:</p>
<p dir="RTL">وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ</p>
<p><em>“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang bergejolak di dalam dada.”</em> (QS al-Mulk, 67: 13)</p>
<p><em>Adz-Dzikr al-Jahriy</em> adalah dzikir yang diucapkan atau dinyatakan dengan tindakan. Antara lain dzikir yang dilaksanakan setelah mengerjakan shalat, untuk memohon perlindungan Allah dari segala gangguan dan serangan setan yang selalu mengajak ke jalan kesesatan sehingga melanggar perintah Allah dan shalat itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Iblis pun (pernah) menjawab tantangan Allah:</p>
<p dir="RTL">قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (١٦) ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (١٧)</p>
<p><em>“Iblis menjawab: &#8220;Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”</em> (QS al-A’râf, 7: 16-17)<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Adz-Dzikr al-Jahriy</em> dilakukan dengan lisan, dengan menyebut-nyebut bacaan (lafazh): <em>Istighfâr, Tasbîh, Tahmîd, Tahlîl, Takbîr, </em>dan lain-lain, ayat Al-Qur’an atau wirid, atau bisa juga dengan tindakan nyata.<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Adz-Dzikr  as-Sirriy</em> atau <em>Adz-Dzikr Al-Khafiy</em> <strong> </strong>&#8211; dzikir yang tersembunyi &#8212; karena ia dilakukan di dalam hati, tidak menggunakan lisan, melainkan <em>dzawq </em>(perasaan) dan <em>syu`ûr</em> (kesadaran) yang ada di dalam qalbu. Karenanya dzikir ini menjadi tersamar (<em>khafiy</em>) dan hanya pelaku serta Allah SWT saja yang dapat mengetahuinya. Dengan <em>Adz-Dzikr  as-Sirriy</em> atau <em>Adz-Dzikr Al-Khafiy</em> <strong> </strong> kita berusaha menghadirkan Allah di dalam hati terus menerus, 24 jam penuh, tanpa terbatas ruang dan waktu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam <em>Adz-Dzikr  as-Sirriy</em> atau <em>Adz-Dzikr Al-Khafiy</em> <strong> </strong> orang mengingat Allah, merasakan kehadiran Allah, menyadari keberadaan Allah. Di dalam qalbunya tumbuh rasa cinta, rasa rindu kepada Allah, rasa dekat, bersahabat, seakan melihat Allah. Itulah ihsân, dimana dalam ibadahmu kamu merasa melihat Allah, atau setidaknya merasa sedang dilihat oleh Allah SWT. Inilah dzikir yang hakiki, sebab hubungan manusia dengan Allah SWT tidak terjadi dengan tubuh jasmaninya melainkan dengan qalbunya.<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Firman Allah dalam QS al-A<span style="text-decoration: underline">h</span>zâb, 33: 41-42:<em></em></p>
<p dir="RTL">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا<sup>(٤١)</sup>وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا<sup>(٤٢)</sup></p>
<p><em>&#8221;Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya<sup>(41)</sup> Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang<sup>(42)</sup>.&#8221; </em><em></em></p>
<p>Sedangkan doa adalah ucapan permohonan dan pujian kepada Allah SWT dengan cara-cara tertentu, disertai kerendahan hati untuk mendapatkan kemaslahatan dan kebaikan yang ada di sisi-Nya. Secara khusus, doa biasanya dilafazhkan dengan lisan, meskipun – sebenarnya &#8212; bisa juga dinyatakan di dalam hati.</p>
<p>Dan di dalam sebuah hadis riwayat Imam Empat dari Nu&#8217;man bin Basyir, Rasulullah s.a.w. bersabda:</p>
<p dir="RTL">الدُّعَاءُ مُحُّ الْعِبَادَةِ</p>
<p><em>&#8221;Sesungguhnya doa itu adalah otak ibadah.&#8221;</em></p>
<p>Kutipan kalimat di atas diambil dari sebuah hadits yang menerangkan tentang salah satu makna dari doa. Dimana dikatakan bahwa <em>Doa adalah otaknya ibadah</em>. Mengapa bisa demikian?</p>
<p>Seperti yang kita ketahui, yang disebut dengan doa adalah sebuah permohonan yang mengarah pada kebaikan. Baik itu permohonan untuk diri sendiri, keluarga, maupun untuk orang lain. Jadi pada prinsipnya ketika kita berdoa itu berarti kita menginginkan kebaikan untuk dapat terwujud.</p>
<p>Sedangkan ibadah adalah segala perbuatan baik yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan dan aturan agama yang kita anut. Baik itu menyangkut pada perbuatan baik terhadap Allah, perbuatan baik terhadap sesama manusia, maupun perbuatan baik pada lingkungan dan makhluk hidup di sekitar kita.</p>
<p>Adapun kaitan antara doa dengan ibadah seperti yang diterangkan di atas, dimana dikatakan doa adalah otaknya ibadah, dapat kita kaji dari mempelajari apa sebenarnya fungsi dari otak kita?</p>
<p>Otak adalah sebuah organ tubuh yang sangat penting, dimana salah satunya otak berfungsi memberikan perintah kepada anggota tubuh yang lain untuk menangkap hal-hal yang dibutuhkan ataupun untuk melakukan sesuatu sebagai respon dari perintah yang diberikan oleh otak kita.</p>
<p>Jika ada gangguan pada otak kita, maka dapat menyebabkan kita melakukan sesuatu di luar kesadaran ataupun keinginan kita. Dengan kata lain, kita tidak dapat mengontrol apa yang akan dilakukan oleh organ tubuh kita yang lain.</p>
<p>Hal ini jika kita kaitkan dengan pengertian Doa adalah otaknya ibadah, maka jelas bahwa doa adalah pemberi arah dari setiap ibadah yang kita lakukan. Ketika kita berdoa untuk menjadi anak yang soleh misalnya, maka setiap ibadah yang kita lakukan akan mencerminkan atau menjadikan kita untuk dapat bersikap santun, bertutur kata yang lembut ataupun melakukan sesuatu yang berarti pada kedua orang tua kita.</p>
<p>Begitu juga ketika kita berdoa agar menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, maka kita akan senantiasa melakukan ibadah pada orang lain dengan cara tidak merugikan orang lain, menolong orang yang membutuhkan bantuan, dan selalu bersikap baik dan sopan pada orang lain.</p>
<p>Dan ketika kita jarang berdoa ataupun lupa untuk berdoa dalam hidup kita, maka tentunya kita akan lebih banyak bersikap di luar konteks ibadah. Seperti, kita akan menghalalkan segala cara termasuk dengan merugikan orang lain, demi mencapai keinginan kita. Atau kita berlaku semena-mena dan menindas orang lain. Bahkan kita bisa saja meninggalkan nilai-nilai kebaikkan yang telah diajarkan kepada kita baik itu melalui pendidikan keagamaan, maupun pendidikan sosial yang berupa norma-norma yang ada, hanya untuk kesenangan yang semu.</p>
<p>Mungkin saja banyaknya pelanggaran dan kejahatan yang terjadi saat ini, itu disebabkan karena kita lupa atau lalai dalam berdoa. Karena itu, yang kita lakukan menjadi sesuatu yang tidak terkontrol bahkan bersifat merusak seperti halnya ketika otak manusia mengalami gangguan atau kerusakkan.</p>
<p>Semoga kita senantiasa diingatkan dan diberikan kekuatan oleh Allah untuk dapat selalu berdoa, sehingga segala hal yang kita lakukan dapat bernilai ibadah serta dapat membawa kebaikkan dan manfaat baik bagi diri kita sendiri, maupun bagi orang lain.<em></em></p>
<p>Seringkali kita ingat untuk berdoa ketika mendapatkan musibah.  Padahal, dalam keadaan ‘tanpa’ musibah pun kita seharusnya tetap berdoa. Karena ‘kita’ selalu harus mengikatkan diri kita kepada Allah.</p>
<p>Pada umumnya, manusia memahami bahwa setiap musibah mengandung suatu makna yang sangat dalam, bahwa apapun yang terjadi, hakikatnya berasal dari Allah SWT, dan karena itu seluruh kehidupan kita harus ditata dan dibangun kembali sesuai dengan ketentuan-Nya. Musibah yang terjadi pasti akan berubah menjadi nikmat dan rahmat, bila melahirkan kesadaran tauhid dan keimanan yang mendalam yang terefleksikan dalam perbuatan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.</p>
<p>Sebaliknya, musibah akan berubah menjadi azab dan laknat, apabila tidak melahirkan kesadaran dan keimanan sedikitpun. Maksiat tetap dilakukan, demikian pula kezaliman dan perbuatan merusak lainnya tetap dilaksanakan.</p>
<p>Karena itu, dzikir dan doa pada hakikatnya adalah untuk mendorong kita bertobat dan bertingkah laku sesuai dengan aturan Allah SWT serta meninggalkan perbuatan-perbuatan yang mengundang murka-Nya.  Semoga dengan berdzikir dan berdoa, hati akan bertambah tenang, pikiran bertambah jernih, dan tingkah laku bertambah baik.</p>
<p>Harus diyakini bahwa orang yang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, akan tetapi orang yang kalau melakukan kesalahan segera bertobat dan tidak mengulangi kembali perbuatan salahnya itu. Hal ini sebagaimana dikemukakan pada QS Âli ‘Imrân, 3: 135.</p>
<p dir="RTL">وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ</p>
<p><em>“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”</em></p>
<p><strong><em>Wallâhu A&#8217;lam bi ash-Shawâb.</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/9191/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Paham Terhadap Do’a Nabi s.a.w.</title>
		<link>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/salah-paham-terhadap-doa-nabi-s-a-w/</link>
		<comments>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/salah-paham-terhadap-doa-nabi-s-a-w/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 May 2013 12:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Hariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kapita Selekta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/?p=9189</guid>
		<description><![CDATA[Salah Paham Terhadap Do’a Nabi s.a.w. Berdo’a merupakan salah satu bentuk interaksi manusia dengan Sang Pencipta. Sebab dalam berdo’a ada suatu permohonan yang diajukan manusia kepada Tuhan-Nya yang sudah pasti akan melihat, mendengar dan mengabulkan apa yang dimohon oleh hamba-Nya. Tetapi, ada beberapa do’a yang disalahpami maknanya. Antara lain do’a Nabi s.a.w. untuk memohon ‘kemiskinan’ <a href="http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/salah-paham-terhadap-doa-nabi-s-a-w/">[Selengkapnya...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center"><strong>Salah Paham Terhadap Do’a Nabi s.a.w.</strong></p>
<p dir="LTR"><strong><em>Berdo’a merupakan salah satu bentuk interaksi manusia dengan Sang Pencipta. Sebab dalam berdo’a ada suatu permohonan yang diajukan manusia kepada Tuhan-Nya yang sudah pasti akan melihat, mendengar dan mengabulkan apa yang dimohon oleh hamba-Nya. Tetapi, ada beberapa do’a yang disalahpami maknanya. Antara lain do’a Nabi s.a.w. untuk memohon ‘kemiskinan’ dari Allah.</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p dir="LTR">Perhatikan lafazh do’a di bawah ini :</p>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ.</p>
<p dir="LTR"><em>&#8220;Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin.&#8221;</em> (HR Ibnu Majah dari Abu Sa&#8217;id al-Khudriy)</p>
<p dir="LTR">Setelah kita mengetahui bahwa hadits ini sah datangnya dari Nabi s.a.w., maka sekarang perlu kita mengetahui apa maksud sebutan <strong><em>miskin</em></strong><em> </em>dalam lafazh do’a Nabi s.a.w. di atas. Yang sangat penulis sesalkan diantara saudara-saudara kita telah memahami bahwa <strong><em>miskin</em></strong> di sini dalam arti yang biasa kita kenal yaitu: &#8220;Orang-orang yang tidak berkecukupan di dalam hidupnya atau orang-orang yang kekurangan harta.&#8221;</p>
<p dir="LTR">Dengan arti yang demikian maka timbullah kesalahpahaman di kalangan umat terhadap do’a Nabi s.a.w. di atas, akibatnya:</p>
<ol>
<li>Tidak ada seorang muslimin pun yang berani mengamalkan do’a ini, atau paling tidak sangat jarang sekali, lantaran menurut tabi’atnya manusia itu tidak mau dengan sengaja menjadi miskin.</li>
<li>Akan timbul pertanyaan: Mengapa Rasulullah s.a.w. menyuruh umatnya menjadi miskin? Bukankah di dalam Islam ada hukum zakat yang justeru salah satu faedahnya ialah untuk memerangi kemiskinan? Dapatkah hukum zakat itu terlaksana kalau kita semua menjadi miskin? Dapatkah kita berjuang dengan harta-harta kita sebagaimana yang Allah SWT perintahkan kalau kita hidup dalam kemiskinan? Kita berlindung kepada Allah SWT dari berburuk sangka kepada Nabi-Nya (Muhammad) s.a.w..</li>
<li>Ada jalan bagi musuh-musuh Islam untuk mengatakan: &#8220;Islam adalah musuh kekayaan!&#8221;</li>
</ol>
<p dir="LTR">Padahal yang benar, makna &#8216;<strong><em>miskin</em></strong>&#8216; di dalam do’a Nabi s.a.w. ini ialah dalam pengertian <strong><em>majâz</em></strong><em> </em><strong>(kiasan</strong>), yaitu: &#8220;Orang yang <strong><em>Khusyu</em></strong><em>&#8216;</em> <strong><em>(sungguh-sungguh dan sepenuh hati</em>)</strong> dan <strong><em>Mutawâdhi (yang bersikap rendah hati)</em></strong> dalam berdo’a&#8221;. Sebagaimana hal ini telah diterangkan oleh para ulama dalam beberapa kitab syarah (penjelasan) hadis.</p>
<p dir="LTR">Setelah kita mengetahui keterangan ulama-ulama kita tentang maksud &#8216;<strong><em>miskin</em></strong>&#8216; dalam do’a Nabi s.a.w. di atas, baik secara <em>lughah</em>/bahasa maupun maknanya, maka hadits tersebut bisa dipahami menjadi: <em>&#8220;Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu&#8217;’, dan matikanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu&#8217;’, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang yang khusyu’ dan tawadhu&#8217;.&#8221;</em></p>
<p dir="LTR">Rasanya kurang lengkap kalau di dalam risalah ini saya tidak menerangkan dua masalah yang perlu diketahui.<em></em></p>
<p dir="LTR">Islam adalah agama yang memerangi atau memberantas kefakiran dan kemiskinan di kalangan masyarakat. Hal ini dengan jelas dapat kita ketahui :</p>
<ol>
<li>Di dalam Islam terdapat hukum zakat. Sedangkan yang berhak menerima bagian zakat di antaranya orang-orang yang fakir dan miskin. Kalau saja zakat ini dijalankan sesuai dengan apa yang Allah SWT perintahkan dan menurut sunnah Nabi s.a.w., niscaya tidak sedikit mereka yang sebelumnya hidup dalam kemiskinan &#8212; setelah menerima bagian zakatnya &#8212; akan berubah kehidupannya bahkan tidak mustahil kalau di kemudian hari merekalah yang akan mengeluarkan zakat. Allah SWT telah berfirman:</li>
</ol>
<p dir="RTL">كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأَغْنِيَاء مِنكُمْ<strong> </strong><strong></strong></p>
<p dir="LTR">”<em>Agar supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang yang kaya saja dari kamu.”</em> (QS al-Hasyr, 59: 7)<em> </em></p>
<ol>
<li>Islam memerintahkan memerhatikan keluarga yang akan ditinggalkan, supaya mereka jangan sampai hidup melarat yang menadahkan tangan kepada manusia. Kita perhatikan sabda Nabi s.a.w.</li>
</ol>
<p dir="RTL">إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ</p>
<p dir="LTR">”<em>Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka hidup melarat/miskin yang menengadahkan tangan-tangan mereka kepada manusia).&#8221;</em> (HR al-Bukhari dan Muslim dari Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash)<em> </em></p>
<ol>
<li>Islam mencela kalau ada seorang mukmin yang hidup dalam keadaan cukup sedangkan tetangganya kelaparan dan dia tidak membantunya, sebagaimana sabda Nabi s.a.w.:</li>
</ol>
<p dir="RTL">لَيْسَ اْلمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ</p>
<p dir="LTR"><em>“Bukanlah orang yang mukmin itu yang kenyang, sedangkan tetangganya lapar di sebelahnya).&#8221;</em> (HR al-Baihaqi dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Abbas. Maksudnya: &#8220;<em>Tidaklah sempurna keimanan seorang muslim itu apabila ia makan dengan kenyang sedangkan tetangganya di sebelahnya kelaparan.&#8221;</em></p>
<ol>
<li>Nabi s.a.w. senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari hidup dalam kefakiran dan kelaparan. Abu Hurairah menyatakan, bahwa Rasulullah s.a.w. senantiasa berdo’a: <em> </em></li>
</ol>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ<strong> </strong>إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ<strong> </strong>أَوْ أُظْلَمَ</p>
<p dir="LTR">“<em>Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekurangan dan kehinaan, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari menganiaya atau dianiaya).&#8221;</em> Maknanya: &#8220;Rasulullah s.a.w. berdo’a: <em>Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindunganMu dari kelaparan, karena sesungguhnya kelaparan itu seburuk-buruk teman berbaring, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari khianat, karena sesungguhnya khianat itu seburuk-buruk teman.&#8221;</em> (HR Abu Dawud). Abu Bakrah menyatakan: <em>&#8220;Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. mengucapkan do’a ini di akhir shalat:</em></p>
<p dir="RTL">اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ<em> </em><em></em></p>
<p dir="LTR"><em>“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran dan azab kubur<strong>).&#8221;</strong></em> (HR Abu Dawud). Dan Anas bin Malik menyatakan, bahwa Rasulullah s.a.w. mengucapkan dalam do’anya:</p>
<p dir="RTL">وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَ الْكُفْرِ<em> </em><em></em></p>
<p dir="LTR"><em>“Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran/miskin dan kekafiran).&#8221;</em> (HR al-Hakim)</p>
<p dir="LTR">Demikian penjelasan tentang makna do’a Nabi Muhammad s.a.w. berkenaan dengan ‘kemiskinan’ yang dimohonkan kepada Allah, yang ternyata harus dimaknai secara <em>majâz</em>, dan bukan hakikat, yaitu: “<strong><em>khusyu’ dan tawadhu&#8217;</em></strong><em>.”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/salah-paham-terhadap-doa-nabi-s-a-w/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kajian Tematik Manajemen Qalbu Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid</title>
		<link>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/kajian-tematik-manajemen-qalbu-dompet-peduli-ummat-daarut-tauhid/</link>
		<comments>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/kajian-tematik-manajemen-qalbu-dompet-peduli-ummat-daarut-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Apr 2013 06:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Hariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kapita Selekta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/?p=9184</guid>
		<description><![CDATA[Kajian Tematik Manajemen Qalbu Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid Di: Masjid Pertiwi, Gendingan, Kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan, Yogyakart Ustadz: Muhsin Hariyanto I Membangun Sikap Jujur Terkadang seseorang berbohong karena suatu kepentingan. Namun, disadari atau tidak, pada saat ia melakukan suatu kebohongan, maka kecemasan akan datang menghantuinya. Cemas apabila kebohongannya terbongkar. Cemas apabila orang akan mencelanya <a href="http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/kajian-tematik-manajemen-qalbu-dompet-peduli-ummat-daarut-tauhid/">[Selengkapnya...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong>Kajian Tematik Manajemen Qalbu</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Di: Masjid Pertiwi, Gendingan, Kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan, Yogyakart</strong></p>
<p style="text-align: center"><strong>Ustadz: Muhsin Hariyanto</strong></p>
<p style="text-align: center">I</p>
<p style="text-align: center">Membangun Sikap Jujur</p>
<p>Terkadang seseorang berbohong karena suatu kepentingan. Namun, disadari atau tidak, pada saat ia melakukan suatu kebohongan, maka kecemasan akan datang menghantuinya. Cemas apabila kebohongannya terbongkar. Cemas apabila orang akan mencelanya sebagai seorang pembohong dan beragam kecemasan lainnya. Sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Seseorang yang awalnya terpaksa berbohong, namun bila ia melakukannya terus-menerus, maka hal itu akan melekat pada dirinya dan menjadi tabiat hidupnya. Inilah yang harus diwaspadai. Sesungguhnya kebohongan hanya membawa pelakunya kepada banyak permasalahan.</p>
<p style="text-align: center">II</p>
<p style="text-align: center">Berbahagia dengan <em>Huznu Zhan</em></p>
<p>Kehidupan bagaikan sebuah pengembaraan. Banyak yang manusia temui sepanjang perjalanan hidupnya. Banyak hal yang tak pasti dan tak dapat diprediksi. Terkadang manusia mengalami kebahagian, kadang ia juga mengalami kesedihan. Banyak hal yang dilakukan untuk menghilangkan efek dari satu pengalaman yang didapat dari perjalanan hidup, salah satunya adalah <em>husnuzhan</em>.</p>
<p style="text-align: center">III</p>
<p style="text-align: center">Mengembangkan Sikap Ihsân</p>
<p>Kisah Umar ibn al-Khaththab – Sang Khalifah &#8212; ketika berinteraksi dengan seorang anak gembala berikut ini, benar-benar bisa menjadi <em>‘ibrah</em> bagi diri kita. Berawal dari permintaan ‘Sang Khalifah’: &#8221;Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!. &#8216;Si Anak Gembala’ itu pun menjawab: Aku hanyalah seorang budak, jawab si anak gembala. Sang Khalifah pun berucap kembali:  Katakan saja nanti pada tuanmu bahwa anak kambing itu dimakan serigala. Anak gembala itu pun terdiam sejenak, dan ditatapnya wajah Sang Khalifah, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Sang Khalifah: &#8221;<em>Fa ainallâh</em>?”, yang kurang lebih bermakna: Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?&#8221; Alangkah indahnya negeri ini bila penduduknya memiliki <em>îmân</em> dan <em>ihsân</em> seperti ‘Si Anak Gembala itu’. Apalagi jika <em>îmân</em> dan <em>ihsân</em> itu ada pada para pendidik  di negeri ini. Para pendidik yang berkarakter dan selalu bersedia mengedepankan sikap ‘<em>ihsân</em>”, yang dengan <em>îmân </em>dan sikap<em> istiqâmahnya</em>bisa bekerja &#8212; secara optimal &#8212; untuk  mendidik para peserta didiknya.</p>
<p style="text-align: center">IV</p>
<p style="text-align: center">Memahami Makna Ikhlas</p>
<p>Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya’ akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.</p>
<p style="text-align: center">V</p>
<p style="text-align: center">Jadilah Seorang Pemaaf</p>
<p>Islam mendorong setiap muslim untuk memiliki sikap “pemaaf”. Sifat ini muncul karena keimanan, ketakwaan, pengetahuan dan wawasan mendalam seorang muslim tentang Islam. Seorang muslim menyadari bahwa sikap pemaaf menguntungkan, terutama mebuat hati lapang dan tidak dendam terhadap orang yang berbuat salah kepadanya, sehingga jiwanya menjadi tenang dan tentram. Apabila ia bukan pemaaf, tentu akan menjadi orang pendendam. Dendam yang tidak terbalas menjadi beban bagi dirinya. Ini penyakit berbahaya karena selalu membawa kegelisahan dan tekanan negatif bagi orang yang bersangkutan. Hanya orang-orang bodoh yang tidak memiliki sikap pemaaf.</p>
<p style="text-align: center">VI</p>
<p style="text-align: center">Bersikap Istiqamah</p>
<p>Banyak hal yang bisa menjadikan diri kita &#8216;gamang&#8217; menghadapi persoalan hidup, karena kita tidak selalu hidup dalam lingkaran sistem dan budaya yang &#8216;sehat’. Bahkan dalam banyak hal kita ditantang oleh sebuah kenyataan hidup yang serba menggoda, hingga iman kita serasa semakin menipis dan suatu saat mungkin akan sirna karena kelemahan kita sendiri ketika menghadapi realitas kehidupan yang serba menekan.   Padahal Islam telah mengenalkan panduan hidup yang cukup sederhana; &#8220;jadilah orang yang beriman, bersikap <em>istiqâmah</em> dan – kemudian – &#8220;jaga lidah kita&#8221;.</p>
<p style="text-align: center">VII</p>
<p style="text-align: center"><em>Tahsîn al-Akhlâq</em>:</p>
<p>“Berproses Menjadi Muslim Sejati”</p>
<p>Pendidikan untuk “pencerdasan diri”, merupakan visi dan misi Islam sejak agama ini diturunkan Allah SWT. Penanamam sikap tauhid dan pembinaan akhlak adalah dua ‘kunci utama’ pendidikan yang ditawarkan Islam. Tauhid adalah akar kepribadian sedangkan akhlak adalah buahnya. Tanpa akar yang kuat &#8212; kata para ulama &#8212; tanaman mudah tercerabut, berpeluang layu, dan akhirnya ‘mati’, atau kalau tetap hidup pun ‘buahnya’ akan rusak bersamanya. Namun, akar yang kuat saja bagi setiap pohon, tidaklah cukup, apabila pohon tak dirawat dengan  penuh kesabaran sejak ditanamnya benih, maka jangan harap akan memberikan kesempurnaan hasil yang diidamkan.</p>
<p style="text-align: center">VIII</p>
<p style="text-align: center">Membangun Sikap <em>Khauf </em>dan <em>Rajâ’</em></p>
<p>Konsep <em>Khauf</em> dan <em>Raja’</em>, dan dalam dunia spiritualitas dianggap sebagai salah satu <em>hâl </em>(kondisi) yang harus dilalui atau dialami orang yang menapak jalan menuju Allah. Keseimbangan secara proporsional ini diperlukan agar seseorang tidak tenggelam dalam satu kondisi, apakah itu <em>Raja’</em> atau <em>Khauf</em> saja.</p>
<p style="text-align: center">IX</p>
<p style="text-align: center"><em>Al-Hilm:</em></p>
<p style="text-align: center">(Menahan Diri untuk Melampiaskan Amarah</p>
<p style="text-align: center">Meskipun Mampu Untuk Melakukannya)</p>
<p>Jika seseorang mengikuti amarahnya tanpa menggunakan akal pikiran dan perenungan, berarti dia berada dalam satu kehinaan, dan jika ia rela dengan kezaliman dan kesewenangan maka dia pun berada dalam kehinaan yang serupa. Tetapi jika dia menghadapinya dengan sikap sabar, meskipun dia memiliki kemampuan untuk melampiaskan kemarahannya, maka dia berada dalam kebaikan, dan itulah hakikatnya sifat <em>al-hilm</em>.</p>
<p style="text-align: center">X</p>
<p style="text-align: center">Antara Amanah dan Khianat</p>
<p style="text-align: left">Sikap amanah harus dimiliki setiap individu, terutama para pemimpin. Dengan sikap amanah diharapkan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka dapat dijalankan dengan baik dan membawa kejayaan setiap orang, keluarga, masyarakat dan bangsa. Sebaliknya, apabila sikap khianat menjadi ‘budaya’, maka setiap orang, keluarga, masyarakat dan bangsa ini akan semakin terpuruk.</p>
<p style="text-align: center">XI</p>
<p style="text-align: center">Menjaga Diri dari Sikap <em>Ghuluw</em></p>
<p><em>Ghuluw </em>adalah sikap melampaui batas kebenaran. Sesuatu yang berlebih-lebihan pasti akan keluar dari jalan yang lurus. Ibn Hajar mengatakan: <em>“Ghuluw </em>adalah berlebih-lebihan terhadap sesuatu dan menekan hingga melampau batas.” Sikap <em>ghuluw </em>telah lama menjangkiti umat-umat terdahulu. Sebelum Nabi Muhammad, umat-umat Nabi Nuh, Nabi Musa dan Isa dikecam karena telah melebih-lebihkan aturan yang telah diberikan.</p>
<p style="text-align: center">XII</p>
<p style="text-align: center"><em>Afsyus Salâm</em>:</p>
<p style="text-align: center">“Dari Ucapan Menuju Tindakan”</p>
<p>Kata “<em>salâm</em>” dalam hadis itu bisa dimaknai lebih daripada sekadar mengucapkan salam secara verbal. Lebih jauh dari itu, <em>salâm</em> bisa dimaknai sebagai “kedamaian” dalam pengertian luas. Tebarkan kedamaian untuk siapa pun dalam konteks apa pun. Karena Islam hadir dengan tawaran damai: “<em>peace for all</em>” (damai untuk semuanya), selaras dengan misi kerahmatannya, <em>rahmatan li al-âlamîn</em>. Itulah kurang-lebih makna kalimat “<em>afsyus salâm</em>” (tebarkanlah kedamaian untuk semua orang).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/kajian-tematik-manajemen-qalbu-dompet-peduli-ummat-daarut-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
