Fenomena Banci dan Anomali Kehidupan

Maraknya kembali acara televisi yang menampilkan sosok kebanci-bancian pasca- Ramadhan seakan menafikan peringatan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada bulan puasa untuk tidak menayangkan acara yang berbau kebanci-bancian dengan lawakan yang cenderung porno pada seluruh stasiun televisi Indonesia. Sepantasnya kita semua introspeksi terhadap acara semacam ini bukan justru melanggengkannya.

Peran banci telanjur lekat menghiasi dunia hiburan pertelevisian di Tanah Air. Hampir setiap hari masyarakat disuguhkan pada peran banci dengan segala tingkah lakunya yang dianggap lucu dan menghibur. Imbauan berbagai pihak, utamanya pihak yang berwenang dan berkepentingan, pun perlu mendapatkan respons positif oleh pelaku seni dan dunia hiburan.

Imbauan moral KPI bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba tanpa sebab dan hanya mendasarkan pada momen Ramadhan yang telah berlalu, tetapi telah melewati proses penilaian panjang dengan memerhatikan masukan berbagai unsur, seperti pakar pendidikan, psikologi, sosial budaya, dan agama. Terlebih lagi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga independen yang mempunyai otoritas di bidang agama Islam juga mempunyai pandangan yang sama dalam menyikapi tayangan kebanci-bancian yang lebih banyak mengandung nilai mudharat ketimbang manfaatnya.

Ironis, banci yang pada awal kemunculannya dicemooh karena dipandang sebagai sebuah kelainan (abnormal) yang harus diobati berubah menjadi sosok yang mempunyai kelas tersendiri di dunia hiburan. Bahkan, kehadiran mereka sering kali menjadi sebuah keharusan. Tanpanya sebuah acara  akan hambar.

Lantas yang menjadi pertanyaan, apakah kehadiran peran banci semata bermula dari  tawaran dunia hiburan yang direspons positif oleh masyarakat ataukah murni sebagai upaya menyajikan realitas masyarakat yang sedang sakit? Kalau kita perhatikan dengan saksama, terkesan ada upaya memaksakan tren baru dunia hiburan yang bercorak kebanci-bancian untuk kepentingan kelompok tertentu, entah apa yang ingin dibangun.

Melihat begitu efektifnya media televisi dalam memengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat, maka penayangan peran banci tentunya juga akan menimbulkan pengaruh tersendiri di masyarakat. Pada dasarnya tayangan kebancian-kebancian disadari atau tidak akan merusak pemerannya sendiri dan masyarakat secara luas.

Banci bisa terjadi lantaran proses labeling. Seseorang yang diberi label banci, meski ia seseorang lelaki normal, lama-kelamaan ia akan berpikir mengenai banci dan terjadilah proses internalisasi. Jika mudah terpengaruh dan rapuh, bisa jadi dalam waktu yang tidak begitu lama ia akan berubah menjadi sosok banci yang sesungguhnya.

Dari sudut psikoanalisis, manusia lahir belum mempunyai gender. Seksualitasnya sama antara laki-laki dan perempuan. Gender akan ditentukan oleh lingkungan, manusia mengarahkan seksualitasnya menuju objek yang dianggap pantas dan tidak pantas.

Hal yang bersifat pantas atau tidak pantas sangatlah dipengaruhi oleh pola pikir masyarakat yang terbangun, di antaranya efektif terbentuk  melalui media televisi.
Lebih jauh, penayangan peran banci akan berimplikasi negatif pada perubahan tatanan masyarakat walaupun saat ini proses anomali kehidupan yang merusak sendi-sendi kehidupan bangsa dengan berbagai variannya telah berlangsung.

Implikasi negatif di antaranya terbentuk melalui proses imitasi, di mana ada upaya masyarakat mendekatkan pada ciri yang menjadi tren di masyarakat. Terlebih lagi  apabila hal tersebut dapat meningkatkan status sosial, mengandung nilai lebih pada diri seseorang, serta menyebabkan diterimanya pada komunitas tertentu.

Keberhasilan aktor-aktor memerankan sosok banci tidak hanya menyukseskan karya seni yang dibawakannya. Namun, juga membesarkan pamornya yang berimplikasi pada ketenaran dan finansial. Hal inilah yang kemudian menjadi pendorong pelaku-pelaku seni untuk terus mengeksploitasi peran banci dengan mengabaikan dampak negatif di masyarakat.

Mental Banci

Satu hal yang patut kita waspadai bersama saat ini adalah banci telah menjadi sifat dan mental yang meracuni masyarakat, bukan sekadar orientasi gender dan seksual. Sifat jantan yang telah dimiliki bangsa ini sejak berabad-abad lalu semakin menipis dan nyaris hilang.

Kita dapat melihat betapa rapuhnya masyarakat ketika menghadapi masalah. Mereka justru lari dari masalah bukan berusaha menghadapi masalah. Maka, tidaklah mengherankan angka kasus bunuh diri di masyarakat semakin meningkat pesat dengan berbagai variasi kasus keputusasaan.

Hal yang sama juga ditampakkan oleh para pemimpin bangsa ini yang sering kali bersembunyi di balik kegagalannya. Kisruh pascapilkada yang berlarut-larut di beberapa daerah menunjukkan betapa bancinya mereka dalam menerima kekalahan. Mereka tidak menampakkan sikap satria dan sportif yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin yang bermartabat.

Lebih tragis lagi, kita juga sering dipertontonkan dagelan-dagelan para pemimpin bangsa yang pintar bersilat lidah atas kesalahan hukum yang secara kasat mata nyata-nyata  telah mereka lakukan. Kita pun sering melihat betapa lihainya para pemimpin bangsa ini mencari kambing hitam atas kekeliruan dalam membuat kebijakan yang berakibat pada kesengsaraan rakyat.

Sikap-sikap tidak bertanggung jawab yang diperlihatkan para pemimpin bangsa ini pada hakikatnya buah dari mental banci yang melekat pada diri mereka. Tayangan-tayangan semacam ini pun sangat berbahaya apabila ditiru oleh masyarakat. Namun, berbeda dengan peran banci pada acara di televisi yang tidak layak dipertontonkan, tayangan ini justru harus dipertontonkan kepada masyarakat sebagai efek jera bagi para pelakunya dan shock therapy bagi mereka yang akan melakukannya.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Imam Mujahid, Dosen STAIN Surakarta, Sedang Studi S3 Program Studi Bimbingan Konseling di UPI Bandung, “Opini”, Republika, 22 Oktober 2008)