Fikih Ikhtilaf

  1. I.     Prolog

Adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan jika Islam menghadapi musuh dari luar atau yang kita sebut sunnah at-tadâfu‘(sunnah pertarungan) antara yang haq dan bathil, karena ini merupakan ketetapan Allah,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. (QS Al-Furqân, 25: 31)

Yang perlu dikhawatirkan justeru jika musuh itu datang dari dalam tubuh Islam itu sendiri. Diantara ancaman yang paling berbahaya adalah perpecahan di tubuh umat. Perbedaan yang terlalu dibesar-besarkan dan disalahpahami terkadang menjadi pemicu timbulnya perpecahan. Tidak sekadar perbedaan pendapat, tetapi mengarah pada kericuhan hati, bahkan perselisihan yang mengancam kesatuan umat. Oleh sebab itu, kita sangat memerlukan kesadaran yang utuh dan mendalam mengenai apa yang disebut Fiqh al-Ikhtilâf.

Sesungguhnya Fikih Ikhtilaf merupakan salah satu dari 5 (lima) bidang kajian  fikih:

  1. 1.      Fiqh al-Maqâshid (Tujuan Syariat), membahas tentang sasaran atau tujuan  syari’at dalam segal aspek kehidupan
  2. 2.      Fiqh al-Aulawiyyât, skala prioritas
  3. 3.      Fiqh as-Sunnah, menyangkut sunnah kauniyyah dan ijtimâ’iyyah.
  4. 4.      Fiqh al-Muwâzanah Bain al-Mashâlih wa al-Mafâsid, fikih komparasi antara mashalat dan mudharat
  5. 5.      Fiqh al-Ikhtilâf, fikih perbedaan pendapat.
  1. II.      Pendahuluan

Macam-macam dan sebab ikhtilaf atau perselisihan pendapat:

  1. A.    Faktor Akhlaq

Antara lain disebabkan oleh:

  1. gemar membangga-banggakan diri dan kagum terhadap pendapat sendiri
  2. buruk sangka dan mudah menuduh orang tanpa bukti
  3. egoisme dan mengikuti hawa nafsu
  4. fanatik kepada pendapat orang tertentu, mazhab atau golongan
  5. fanatik kepada negeri, daerah, partai, jama’ah atau pemimpin

Kesemuanya ini adalah akhlaq yang tercela dan hal yang mencelakakan. Kita wajib menghindari sifat-sifat tersebut.

  1. B.     Faktor Pemikiran

Timbul karena perbedaan sudut pandang mengenai suatu masalah:

  1. masalah ilmiah, perbedaan menyangkut cabang syari’at dan beberapa maslah aqidah yang tidak menyentuh hal-hal prinsip yang sudah pasti
  2. masalah alamiah, perbedaan mengenai sikap politik dan pengabilan keputusan atas berbagai masalah
  3. masalah politik, perbedaan yang bersifat politis dan fiqhi
  4. ikhtilaf fikriah, perbedaan pandangan mengenai penilaian terhadap sebagian ilmu pengetahuan atau mengenai penilaian terhadap sebagian peristiwa sejarah.

Perbedaan yang terbesar umumnya adalah mengenai fiqhi dan aqidah.

BAGIAN PERTAMA:

Persatuan Adalah Kewajiban, Perpecahan Adalah Dosa

  1. 1.    Persatuan Adalah Suatu Kewajiban Islam

Sasaran kerja para da’i dan aktivitas Islam adalah persatuan, ta’liful qulub, kerapihan dan kekokohan barisan. Kita harus menjauhi perselisihan dan perpecahan serta menghindari segal hal yang dapat memecahbelah jama’ah. Perselisihan akan menimbulkan kerusakan pada hubungan baik sesama saudara dan melemahkan agama, umat dan dunia.

QS Âli ‘Imrân, 3: 100–107 merupakan ajakan serius kepada persatuan pandangan hidup dan kesatuan barisan Muslim diatas landasan Islam. Ayat-ayat tersebut mengandung:

  1. peringatan agar berhati-hati terhadap intrik-intrik orang-orang di luar Islam
  2. mengungkapkan bahwa perstauan merupakan buah keimanan dan perpecahan adalah buah kekafiran.
  3. berpegang teguh pada tali Allah, dari semua pihak merupakan asas persatuan dan kesatuan kaum Muslimin. Tali Allah adalah Islam dan Al Qur’an.
  4. mengingatkan bahwa ukhuwah imaniyah, setelah beraneka permusuhan dan peperangan jahiliyah, merupakan nikmat terbesar sesuah nikmat iman.
  5. tidak ada sesuatu yang dapat mempersatukan umat kecuali jika umat memiliki sasaran besar dan risalah yang diperjuangkan. Dan tidak ada sasaran yang lebih besar selain dakwah kepada kebaikan yang dibawa oleh Islam
  6. sejarah telah mencatat bahwa orang-orang sebelum kita telah berpecah-belah dan berselisih dalam masalah agama, kemudian mereka binasa, walaupun mereka telah mendapatkan penjelasan dan pengetahuan dari Allah sebelumnya.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan mengenai ukhuwah (QS Al-Hujurat, 49: 10) dan sejumlah adab dan akhlak utama (QS Al-Hujurat, 49: 11 – 12). Juga sangat mengecam perpecahan (QS Al-An’am, 6: 65, QS Al-An’am, 6: 159, QS Asy-Syura, 42: 13)

Dalam As-Sunnah juga banyak sekali menyinggung masalah ini. As-Sunnah mengajak kepada kehidupan berjamaah, persatuan, mengecam tindakan nyeleneh dan perpecahaan, mengajak kepada ukhuwah dan mahabbah. As -Sunnah mencela permusuhan dan perselisihan.

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الْحَسَدُ، وَالْبَغْضَاءُ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ، أَمَا إِنِّي لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ، وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ ، ثُمَّ قَالَ : وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

“Penyakit umat sebelum kamu telah menjangkit kepada kalian; kedengkian dan permusuhan. Permusuhan adalah pencukur, Aku tidak mengatakan mencukur rambut tetapi pencukur agama. Demi Dzat yang diriku berada di Tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai.” (HR at-Tirmidzi dari Zubair bin ‘Awwam)

  1. 2.    Islam Membenci Perpecahan

Islam sangat membenci perpecahan dan perselisihan sampai Rasulullah s.a.w memerintahkan kepada orang yang sedang membaca Al Qur’an agar menghentikan bacaannya jika bacaannya itu akan mengakibatkan perpecahan.

« اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوبُكُمْ فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ فَقُومُوا »

“Bacalah al-Qur’an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika kalian berselisih makan hentikanlah bacaan itu.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abdullah al-Bajali)

Kendati keutamaan membaca Al-Qur’an sangat besar, namun Nabi s.a.w tidak mengizinkan membacanya jika bacaan itu membawa kepada perselisihan dan pertentangan. Jika perselisihan mengangkut pemahaman makna maka harus dibaca dengan berpegang teguh kepada pemahaman dan pengertian yang akan menumbuhkan kesatuan.

Jika terjadi perselisihan atau timbul suatu keraguaan maka hendaklah bacaan itu ditinggalkan dan berpegang teeguh pada yang Muhkam yang akan membawa persatuan.

  1. 3.    Mengapa Harus Menjaga Persatuan dan Kesatuan?

Manfaat dan pengaruh positifnya sangat banyak, antara lain:

  1. memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi yang sudah kuat.
  2. merupakan benteng pertahanan dari ancaman kehancuran.
  1. 4.    Perpecahan Umat Bukan Suatu Kelaziman

Ada yang berpendapat bahwa perpecahan adalah lazim (umum, dianggap biasa dan merupakan ketetapan yang telah ditetapkan Allah, dengan alasan:

  1. Adanya sejumlah hadits yang mengabarkan bahwa Allah menimpakan keganasan sebagian umat kepada sebagian yang lain

« سَأَلْتُ رَبِّى ثَلاَثًا فَأَعْطَانِى ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِى وَاحِدَةً سَأَلْتُ رَبِّى أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِى بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِى بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا ».

“Aku meminta kepada Allah tiga hal lalu Dia memberiku dua hal dan menolak yang satu. Aku meminta kepada Allah agar membinasakan umatku dengan bencana kelaparan lalu Dia mengabulkannya. Aku meminta-Nya agar tidak membinasakan Umatku dengan bencana banjir lalu Dia mengabulkannya. Dan aku meminta-Nya agar tidak menimpakan keganasan sebagian umatku kepada sebagian yang lain tetapi Dia menolak permintaanku ini.” (HR Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dan hadits-hadits lainnya yang serupa)

Hadits itu dan juga hadits lainnya yang semakna menunjukkan bahwa Allah menjamin 2 hal bagi umat Nabi-Nya, yaitu:

1)      Allah tidak akan membinasakan Umat Nabi s.a.w dengan bencana yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu

2)      Allah tidak akan menguasakan musuh atas mereka sampai kepada batas menindas dan melenyapkan eksistensi mereka sama sekali.

Permintaan Nabi s.a.w agar Allah tidak menimpakan perpecahan kepada umat ini ditolak. Artinya persoalan tersebut diserahkan kepada sunnah kauniyah, sunnah ijtima’iah dan hukum sebab akibat lainnya. Dalam hal ini umat ini berkuasa penuh atas dirinya. Allah tidak memaksakan sesuatu kepadanya dan tidak pula memberi kekhususan.

Semua tergantung dari umat itu sendiri apakah menyambut perintah Rabbnya, perintah NabiNya, menyatukan kalimat, merapikan barisan dan berhasil merebut kemenangan atas musuh Allah. Atau berpecah belah dan dikuasai musuh.

Hadits tersebut tidak mengisyaratkan bahwa perpecahan adalah lazim, karena  justeru banyak ayat Al-Qur’an yang mengecam perpecahan.

  1. Hadits tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan
    Hadits ini tidak termasuk dalam kitab Bukhari dan Muslim, yang berarti hadits ini tidak shahih menurut salah satu syarat dari keduanya.

Sebagian riwayat lain tidak menyebutkan tambahan ,“Semua golongan akan masuk neraka kecuali satu.“. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Akan tetapi perawinya Muhammad bin Amr, dinilai sebagai orang yang jujur tapi banyak kelemahannya

Sedang hadits yang dengan tambahan, diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr, Mu’awiyah, Auf bin Malik dan Anas r.a.. Tetapi semuanya bersanad lemah.

Hadits tersebut dengan tambahannya dapat menimbulkan perpecahan dan menyesatkan dan saling mengkafirkan kalangan umat Islam. Oleh karena itu beberapa ulama menolak hadits tersebut baik dari segi sanad maupun makna.

Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa tambahan ini adalah palsu.

BAGIAN KEDUA:

Landasan Pemikiran Bagi Fiqh al-Ikhtilâf

  1. 1.        Perbedaan Masalah Furû‘: Kemestian; Rahmat dan Keleluasaan

Upaya penyatuan adalah suatu hal yang tidak mungkin, malah akan mempeluas perbedaan itu sendiri dan perselisihan. Upaya-upaya seperti itu hanya menunjukkan kedunguan. Perbedaan merupakan suatu kemestian dan tidak dapat dihindari.

Antara lain dapat disebabkan karena:

  1. tabi’at agama, adanya ayat-ayat mutasyabihat yang memang menuntut kita untuk berijtihad
  2. tabi’at bahasa, adanya pemahaman yang berbeda dari makna yang terkandung
  3. tabi’at manusia, yang diciptakan berbeda-beda dan memiliki kepribadian, tabi’at, pemikiran sendiri-sendiri. Hal ini merupakan perbedaan macam atau variasi dan bukan merupakan perbedaan yang mengarah ke pertentangan
  4. tabi’at alam dan kehidupan; alam diciptakan bervariasi dan berbeda-beda.

Perselisihan yang ditolerir: ketika seseorang melakukan amal perbuatan yang didasarkan pada hujjah atau pengetahuan orang sebagai dasar untuk melakukannya tanpa disertai permusuhan dan celaan kepada orang yang berbeda dengannya.

Perbedaan yang tercela:

  1. yang bermotif pembangkangan, kedengkian, dan mengikuti hawa nafsu.
  2. yang mengakibatkan perpecahan dan permusuhan umat
  1. Mengikuti Manhaj Pertengahan dan Meninggalkan Sikap Berlebihan Dalam Agama

Mengikuti manhaj pertengahan yang mencerminkan tawazun atau keseimbangan dan keadilan, jauh dari sikap berlebihan atau mengurangi ajaran.

Hadits Rasulullah s.a.w.:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ

“Jauhilah sikap berlebihan, karena telah binasalah orang-orang yang bersikap berlebihan“.  (HR Ahmad dari Abdullah bin Abbas)

Orang-orang yang berlebihan ini menurut Imam an-Nawawi adalah orang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampaui batas.

Ciri lainnya adalah selalu memperbanyak pertanyaan yang hanya akan menghasilkan kesusahan dan kesempitan. Prinsip umum dari shahabiyah r.a. adalah tashîl/memudahkan dan musâmahah/toleransi.

  1. Mengutamakan Muhkamat, Bukan Mutasyabihat

Berdasarkan QS Âli ‘Imrân, 3: 7, “apabila ayat-ayat muhkamat ditinggalkan maka terbukalah pintu perdebatan dan perbantahan”. Rasulullah s.a.w. mengecam tindakan mempertentangkan satu ayat al Qur’an dan ayat lainnya dan tidak mengembalikan ayat mutasyabihat kepada ayat-ayat muhkamat.

Tindakan mempertentangkan satu ayat dengan ayat yang lain biasanya terjadi karena mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang beragam penunjukkannya dan nampak secara lahiriah saling bertentangan. Jika dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat niscaya pertentangan akan sirna.

  1. 4.    Tidak Memastikan dan Menolak Dalam Masalah-masalah Ijtihadiyah

Para ulama kita menegaskan tidak boleh ada penolakan dari seseorang kepada orang lain dalam masalah ijtihadiyah.

  1. 5.    Menelaah Perbedaan Pendapat Para Ulama

Agar kita mengetahui beragamnya mazhab dan bervariasinya sumber pengambilan, juga sudut pandang dan dalil-dalil yang mendasarinya. Hal ini membantu lahirnya sikap toleransi dan tenggang rasa.

Yang penting diingat adalah tidak mengagumi pendapat sendiri dan tidak mencela pendapat orang lain.

  1. 6.    Membatasi Pengertian dan Istilah

Kita harus membatasi beberapa pemahaman yang menjadi sebab terjadinya perselisihan itu. Seringkali suatu istilah dipertentangan dengan sengit.

Harus dibatasi, diluruskan, dijelaskan pemahamannya agar tidak disalahpahami oleh orang-orang yang dapat mengakibatkan vonis sesat dan menyesatkan.

  1. 7.    Menggarap Masalah Besar Yang Dihadapi Umat

Umat memiliki permasalahan yang lebih besar dibandingkan harus mempermasalahkan perbedaan yang ada. Apabila kita sepaham mengenai masalah besar yang kita hadapai dan menjadikan cita-cita bersama dan tujuan kita bersama, niscaya perbedaan yang ada tidak akan diperbesarkan dan dipersilisihkan.

Sebaiknya energi dan pikiran kita dipusatkan ke situ, antara lain:

  1. IPTEK
  2. Sosial ekonomi
  3. Politik
  4. Ghazwul fikri
  5. Zionisme
  6. Perpecahan dan sengketa di Dunia Arab dan Islam
  7. Dekadensi moral 
  1. 8.    Bekerjasama Dalam Masalah Yang Disepakati

Masalah khilafiyah hendaknya tidak dibesar-besarkan sehingga menghabiskan dan menguras waktu dan tenaga. Persoalan kaum muslimin bukanlah terletak pada perbedaan masalah-masalah khilafiah yang didasarkan pada ijtihad, akan tetapi terletak pada tidak difungsikannya akal, pembekuan fikiran, pembisuan kehendak, pemasungan kebebasan, perampasan hak asasi, pengabaian kewajiban, tersebarnya egoisme, pengabaian sunnah-sunnah Allah tentang alam dan masyarakat, kesewenangan atas kebenaran dan sebagainya.

Masalah-masalah umat yang bisa kita sepakati sangat banyak, sebaiknya kita bekerjasama menyelesaikannya.

  1. 9.    Saling Toleransi Dalam Masalah Yang Diperselisihkan

Toleransi dalam masalah yang diperselisihkan dapat dilakukan jika kita tidak fanatik terhadap satu pendapat yang bertentangan dengan pendapat yang lain.

Prinsipnya:

  1. menghormati pendapat orang lain
  2. menyadari kemungkinan beragamnya kebenaran
  3. kesadaran dan kenyataan bahwa berbagai perselisihan yang kita saksikan bukan tentang hukum syar’i
  1. 10.    Menahan Diri Dari Orang Yang Mengucapkan ”Lâ Ilâha Illallâh

Tindakan yang paling berbahaya yang dapat menghancurkan persatuan umat ialah takfîr (pengkafiran) sesama muslim.

Rasulullah s.a.w mengecam takfîr (tuduhan kafir) ini dalam berbagai haditsnya, salah satu yang diriwayatkan Ibnu Umar,

« أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ. فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ ».

“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya, ‘wahai si kafir’, maka panggilan itu kembali kepada salah satu jika ia seperti apa yang dikatakan. Tetapi jika tidak, maka panggilan itu akan kembali kepada yang mengucapkan.“ (HR Muslim)

Dalam hadits lain,

مَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ

“Barangsiapa menuduh kafir seorang mukmin maka ia seperti membunuhnya.“  (HR Ath-Thabrani dari Hisyam bin ‘Amir)

[Sumber: http://catatanhati.blogsome.com/2003/01/20/fiqh-perbedaan/ (dengan sedikit perubahan dan editing) dalam http://www.ufukislam.com/2011/09/ringkasan-buku-fiqh-ikhtilaf-fikih.html]