FONDASI ETIKA ISLAM: Perspektif al-Quran

Dalam al-Quran dijelaskan bahwa tujuan para Rasul Allah ialah mewujudkan masyarakat ber-Ketuhanan (rabbâniyyûn; QS. Âli ‘Imrân,

3: 79), مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. yaitu masyarakat yang para anggotanya dijiwai oleh semangat mencapai ridha Allah, melalui perbuatan baik bagi sesamanya dan kepada seluruh makhluk. Inilah dasar pandangan etis keagamaan.

Dan seluruh pemikiran bidang-bidang etika (sosial, politik, antaragama, lingkungan, biomedis, bisnis, dan seterusnya) –dari sudut pandang keagamaan– haruslah dibangun dari dasar ini.

Makna rabbâniyyah itu adalah sama dengan ”berkeimanan” dan ‘berketakwaan” atau lebih sederhananya, ”beriman” dan ”bertakwa” –atau ”imtak” akronim yang sekarang populer. Dari sudut pandang sistem paham keagamaan, iman dan takwa adalah fondasi (Arab: asas) yang benar bagi semua segi kehidupan manusia. ”Manakah yang terbaik? Mereka yang mendirikan bangunannya atas dasar takwa dan keridhaan Allah, ataukah yang mendirikan bangunannya di atas tanah pasir di tepi jurang lalu runtuh bersamanya ke dalam api neraka?” (QS. at-Taubah, 9: 109).

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Implikasi dan ramifikasi Ketuhanan Yang Maha Esa ini, jika kita mencoba mengidentifikasinya, kurang lebih akan menghasilkan nilai-nilai berikut, yang bolehlah kita sebut fondasi untuk etika Islam yang harus menjadi dasar normatif dari apapun yang akan kita bangun atas nama Islam, yaitu bahwa manusia tidak dibenarkan memutlakkan sesuatu apa pun selain Allah itu sendiri. Mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa sebagai yang mutlak berarti menyadari bahwa Tuhan tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Maka Tuhan tidak dapat diketahui, tetapi dapat diinsyafi sedalam-dalamnya keberadaannya. Dialah asal dan tujuan hidup manusia, dengan konsekuensinya bahwa manusia harus membaktikan seluruh hidupnya demi memperoleh perkenan atau ridha-Nya.

Di sini, tidak memutlakkan sesuatu apa pun selain Tuhan Yang Maha Esa berarti tidak menjadikan sesuatu selain dari Dia sebagai tujuan hidup. Dalam wujudnya yang minimal, contoh menjadikan sesuatu selain Tuhan sebagai tujuan hidup adalah sikap pamrih, tidak ikhlas. Pandangan hidup yang berorientasi ketuhanan ini terkait erat dengan pandangan bahwa manusia adalah puncak ciptaan Tuhan, yang diciptakan-Nya dalam sebaik-baik kejadian.

Manusia berkedudukan lebih tinggi daripada ciptaan Tuhan manapun di seluruh alam, malah lebih tinggi daripada alam itu sendiri. Tuhan telah memuliakan manusia. Oleh karena itu, manusia harus menjaga harkat dan martabatnya itu, dengan tidak bersikap menempatkan alam atau gejala alam lebih tinggi daripada dirinya sendiri (melalui mitologi alam atau gejalanya), atau menempatkan seseorang, atau diri sendiri, lebih tinggi daripada orang lain (melalui tirani atau mitologi terhadap sesama manusia).

Menyoal Manusia

Pada hakikatnya, manusia diciptakan sebagai makhluk kebaikan (fithrah), oleh karena itu masing-masing pribadi manusia harus berpandangan baik kepada sesamanya dan berbuat baik untuk sesamanya. Sebaliknya, sebagai ciptaan yang lebih rendah daripada manusia, alam ini disediakan oleh Tuhan bagi kepentingan manusia untuk kesejahteraan hidupnya, baik yang bersifat spiritual maupun yang bersifat material.

Alam diciptakan Tuhan sebagai wujud yang baik dan nyata (tidak semu), dan dengan hukum-hukumnya yang tetap, baik yang berlaku dalam kesejahteraannya yang utuh maupun yang berlaku dalam bagiannya secara spesifik. Oleh karena itu, manusia harus mengamati alam raya ini dengan penuh apresiasi, baik dalam kaitannya dengan keseluruhannya yang utuh maupun dalam kaitannya dengan bagiannya yang tertentu, semuanya sebagai ”manifestasi” Tuhan (perkataan Arab ”`alam” memang bermakna asal ”manifestasi”), guna menghayati keagungan Allah (Tuhan Yang Maha Esa), sebagai dasar kesejahteraan spiritual.

Dengan memerhatikan alam itu, terutama gejala spesifiknya, manusia dapat menemukan patokan dalam usaha memanfaatkannya (sebagai dasar kesejahteraan material, melalui ilmu pengetahuan dan teknologi). Dengan prinsip ini, manusia dapat mengemban tugas membangun dunia ini dan memeliharanya sesuai dengan hukum-hukumnya yang berlaku dalam keseluruhannya secara utuh (tidak hanya dalam bagiannya secara parsial semata), demi usaha mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi. Di sinilah letak relevansi keimanan untuk wawasan lingkungan, atau environmentalism.

Di atas segala-galanya, manusia juga harus senantiasa berusaha menjaga konsistensi dan keutuhan orientasi hidupnya yang luhur (menuju ridha Allah, Tuhan Yang Maha Esa), dengan senantiasa memelihara hubungan dengan Tuhan, dan dengan perbuatan baik kepada sesama manusia. Perbuatan baik kepada sesama manusia yang dilakukan dengan konsisten, tujuan luhurnya adalah menuju ridha-Nya, bukan semata-semata dengan mengikuti dan menjalankan segi-segi formal lahiriah ajaran agama, seperti ritus keagamaan. Simbolisme tanpa substansi adalah ‘muspra’ (sia-sia), jika bukan kesesatan itu sendiri.

Oleh karena itu, manusia harus bekerja sebaik-baiknya, sesuai bidang masing- masing, menggunakan setiap waktu luang secara produktif dan senantiasa berusaha menanamkam kesadaran ketuhanan dalam dirinya. Manusia dalam pandangan Tuhan tidak memperoleh apa-apa kecuali yang ia usahakan sendiri, tanpa menanggung kesalahan orang lain. Ini berarti manusia harus menyadari bahwa semua perbuatannya, baik dan buruk, besar dan kecil, akan dipertanggungjawabkan dalam Pengadilan Ilahi di Hari Kemudian, dan manusia akan menghadapi Hakim Maha Agung, mutlak sebagai pribadi-pribadi, sebagaimana ia juga adalah seorang pribadi ketika Tuhan menciptakannya pertama kali.

Oleh karena itu, karena iman, manusia menjadi bebas dan memiliki dirinya sendiri secara utuh (tidak mengalami fragmentasi), sebab ia tidak tunduk kepada apapun selain kepada Sang Kebenaran (al-Haqq, yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Esa). Ini dinyatakan dalam kegiatan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah semata, tidak sedikitpun kepada yang lain, karena sadar akan Ke-Maha-Agung-an Allah.

Namun, dengan iman ini manusia juga hidup penuh tanggung jawab, karena sadar akan adanya Pengadilan Ilahi itu kelak. Ini secara amaliah dinyatakan dalam sikap memelihara hubungan yang sebaik-baiknya dengan sesama manusia berwujud persaudaraan, saling menghargai, tenggang-menenggang dan saling membantu, karena sadar akan makna penting usaha menyebarkan perdamaian (salam) antara sesamanya.

Perbedaan antara sesama manusia harus didasari sebagai ketentuan Tuhan, karena Dia tidak menghendaki terjadinya susunan masyarakat yang monolitik. Pluralitas yang sehat justeru diperlukan sebagai kerangka adanya kompetisi ke arah berbagai kebaikan, sehingga perbedaan yang sehat merupakan rahmat bagi manusia. Dan melandasi semua itu ialah keyakinan dan kesadaran bahwa Tuhan adalah Omnipresent (Mahahadir), menyertai dan bersama setiap individu di mana pun ia berada, dan Maha Tahu akan segala perbuatan individu itu, serta tidak akan lengah sedikit pun untuk memperhitungkan amal-perbuatannya, biar sekecil apa pun.

Akhirnya, memang selalu ada kesenjangan antara yang normatif (yang seharusnya) dan historis (yang senyatanya) dalam sejarah perwujudan nilai-nilai Islam seperti di atas. Tetapi, inilah kurang lebih identifikasi sendi-sendi pokok pandangan hidup berdasarkan iman itu. Kesemua nilai tersebut berdasarkan Kitab Suci (al-Quran) dan Sunnah Nabi saw. (Hadis), dan harus menjadi bagian dari sumber etis seorang Muslim dalam semua kegiatan. Yang normatif melandasi yang historis, yang historis akan memperlihatkan apakah yang normatif itu telah berjalan dalam masyarakat.

(Dikutip dari beberapa situs internet, untuk keperluan kajian keislamaan internal)