Fundamentalis Bukan Ekstremis

Dalam dekade terakhir ini kita sering mendengar istilah fundamental atau fundamentalis untuk orangnya. Bila kata ini dikaitkan atau disambung dengan kata Islam, yang diberi predikat ini bisa merasa tidak nyaman atau mungkin ngeri.

Bisa jadi aparat keamanan akan mengawasi atau menguber mereka (yang fundamental Islamnya kuat atau disebut Islamfundamentalist), pers asyik ikut-ikutan memberitakan, dan kawan-kawan si fundamentalis menjauh karena takut terseret-seret. Anehnya, bila kata tadi dikaitkan atau disambung dengan kata selain Islam, yang diberi predikat ini merasa bangga atau sukses sehingga cenderung berkoar-koar.

Pemerintah, misalnya, akan merasa bangga atau sukses ketika mengatakan fundamental ekonomi kita kuat sehingga tidak akan terkena krisis. Atau seorang ibu yang merasa tenang karena fundamental rumah tangga anak-anaknya kuat dan bagus. Atau seorang mahasiswa akan bangga ketika memperoleh nilai A pada mata pelajaran akuntansi fundamental yang ditempuhnya. Lebih bangga lagi Soekarno dan para pendiri NKRI yang mendirikan negara bangsa ini dengan fundamental yang kuat, yakni Pancasila.

Istilah fundamental atau fundamentalis ini mengingatkan pada sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia ketika melawan penjajah Belanda yang suka memberi predikat ekstremis pada para pejuang. Pemerintah Belanda tidak menggunakan istilah fundamental untuk para pejuang kemerdekaan Indonesia, tetapi ekstrem atau ekstremis karena keliru mengira mereka yang menginginkan kemerdekaan itu berjumlah sedikit atau minoritas rakyat Indonesia.

Kata fundamental sebenarnya dan seharusnya mempunyai makna yang baik dan positif, yakni dasar, pokok, atau fondasi. Artinya, kata itu tidak sepantasnya disalahmaknakan untuk menyerang kelompok tertentu atau paham/ideologi/agama tertentu yang sah dan diakui karena kata fundamental yang kuat adalah sesuatu yang baik atau setidak-tidaknya netral, seperti contoh-contoh di atas.

Seorang guru agama, apa pun agamanya, tentu merasa senang bila murid-muridnya bisa meyakini fundamental agama yang diajarkannya itu secara benar dan sungguh-sungguh agar tidak menjadi ekstremis atau kelompok kecil yang memisah dari mainstream-nya. Tegasnya, seorang yang memahami dengan baik dan benar pokok-pokok atau dasar-dasar suatu ilmu atau paham atau agama yang baik (bukan ilmu hitam  atau agama yang sesat) akan mendapatkan fondasi yang kuat bagi dirinya. Fondasi pemahaman yang kuat ini akan mencegah seseorang dari kesesatan atau menjadi ekstremis alias menyimpang atau berlebih-lebihan dari umumnya atau yang seharusnya. Karena itu sungguh keliru bila seseorang yang memahami atau menjalankan atau mempraktikkan ilmu atau agamanya dengan benar (bisa disebut fundamentalis)  dicap sebagai penjahat, kecuali kalau agamanya itu dianggap ajaran yang sesat atau yang perlu dilawan/dimusuhi.

Dengan penjelasan di atas, kiranya para tokoh Islam pada khususnya atau pejabat pemerintah dan media pada umumnya untuk menghentikan pemakaian istilah yang berasal dari kata dasar fundament yang selama ini keliru, bermula datang dari dunia Barat. Argumentasi penolakan labelisasi negatif terhadap Islam ini cukup beralasan mengingat ada kecenderungan kejahatan yang dilakukan oleh orang yang kebetulan beragama Islam sering disebutkan agama si pelaku, sementara tidak demikian bila pelakunya non-Muslim. Apalagi kata yang semestinya bermakna baik, netral, dan positif itu khusus dikonotasikan negatif ketika dikaitkan dengan kata Islam.

Artinya, secara implisit dimaknai Islam itu ajaran sesat atau buruk dan karena itu mereka yang sungguh-sungguh memahami ajaran Islam dengan baik dan benar adalah seorang fundamentalis yang berbahaya dan layak dimusuhi. Padahal semestinya karena agama Islam itu mengajarkan perdamaian dan kasih sayang, mereka yang sungguh-sungguh memahaminya (fundamentalis) justru akan membawa kebaikan dan tercegah dari kesesatan atau tercegah menjadi ekstrem, sesuatu yang tidak dibenarkan oleh ajaran Islam, dan tidak disukai Tuhan.

Ekstremitas adalah yang seharusnya dijauhi karena memaksakan kehendaknya pada mayoritas atau pada orang lain dan cenderung berakhir dengan bencana. Ekstremitas ini tidak hanya milik suatu agama, tapi juga isme-isme lain, seperti sosialisme dan kapitalisme yang bila dilaksanakan secara ekstrem, seperti kebebasan pasar yang berlebih-lebihan dapat mengakibatkan krisis pasar keuangan di Amerika Serikat yang kemudian menjadi krisis keuangan global.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Fuad Bawazier, Ketua DPP Partai Hanura, “Opini”, Republika, Jumat, 2 Januari 2009)