Hadapi Musuh Islam dengan Cara (yang) Bijak

Ada beberapa ayat al-Quran yang mengindikasikan (misalnya: QS Âli ‘Imran [3]: 79-80) sikap dan perilaku buruk orang Yahudi, yang menjadi bagian dari kelompok yang membenci Islam, sebagaimana juga kelompok lainnya, yaitu mendustakan kenabian (Nabi) Muhammad s.a.w., sebagaimana mereka mendustakan kenabian (Nabi) Musa. Mereka ciptakan fitnah terhadap (Nabi) Muhammad s.a.w., bahwa seolah-olah (Nabi) Muhammad s.a.w. mengajak umat manusia untuk ‘syirik’ (menyekutukan Allah), dengan cara memerintahkan kepada umat manusia untuk menyembah dirinya dan para malaikat.

Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap setiap fitnah terhadap Nabi Muhammad s.a.w., yang dalam bentuk apa pun, yang bisa juga berupa pengkhianatan terhadap pesan moral beliau, dengan cara memutarbalikkan fakta dan menyelewengkan ajaran-ajaran beliau untuk kepentingan-kepentingan tertentu di setiap waktu dan tempat.

Sikap dan perilaku buruk orang Yahudi itu pun bisa menular kepada siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Gunakan strategi al-amr bi al-ma’ruf dan an-nahy ‘an al-munkar secara tepat untuk menghadapinya.

Dalam kaitannya dengan strategi al-amr bi al-ma’rûf, kita bisa menerapkan metode mau’izhah hasanah (metode penyampaian yang baik), dengan tidak seharusnya menyakiti pihak lain, menjauhkan diri dari isu black-campaign, dan melakukan bisa juga dialanjutkan dengan menggunakan metode mujâdalah bil latî hiya ahsan (perdebatan ilmiah yang santun) (TQS an-Nahl, 16: 125).

Namun, dalam kaitannya dengan strategi an-nahy ‘al-munkar (mencegah kemungkaran) tidak semua kalangan memahami syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan tindakan, yaitu mengedepankan manhaj al-hikmah.

Berkaitan dengan penggunaan manhaj al-hikmah, Yusuf al-Qaradhawi – misalnya — menyatakan bahwa ada empat hal yang harus dicermati dalam pelaksanaan ‘an-nahy ‘al munkar’, sebagaimana tersebut dalam hadis shahih riwayat Muslim, Abu Dawud, an-Nasai dan periwayat lain dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah mengubahnya dengan tangan (kekuasaan)-nya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka hendaklah mengubahnya dengan lisannya. Barang siapa yang tidak mampu melaksanakannya, maka hendaklah mengubahnya dengan hatinya. Cara yang terakhir [yang disebut dalam hadis ini] merupakan indikator keimanan yang paling lemah,”

Yusuf al-Qaradhawi selanjutnya menyatakan, bahwa dua hal di antaranya: (1) ketika kita memiliki kemampuan yang kita yakini berpotensi untuk memerangi kemungkaran itu dengan mudah dan elegan. Potensi di sini bisa bermakna fisik dan nonfisik, serta dalam melakukan tindakan untuk memerangi kemungkaran tersebut; (2) tidak ada kekhawatiran bahwa kemungkaran yang diperangi akan melahirkan kemungkaran baru yang lebih besar sehingga menyebabkan fitnah, pertumpahan darah, merugikan pihak lain, makin tersebarnya kemungkaran, menimbulkan kekacauan dan kerusakan.

Demikian artipentingnya al-hikmah (kearifan) yang ditawarkan oleh Allah (dalam al-Quran) dan Rasul-Nya (dalam as-Sunnah), mudah-mudahan umat Islam – tidak terkecuali di negeri kita tercinta, Indonesia — segera berkemauan dan berkeberanian untuk berbenah diri “membangun kearifan-kontekstual”, sehingga tindakan mulia tersebut diharapkan bisa menciptakan kemaslahatan yang lebih besar dan tidak menimbulkan kemungkaran baru yang lebih parah.

Pertimbangan ‘cara’ terbaik dalam “beramar ma’ruf” ber-nahi munkar” – utamanya dalam upaya mengikis gejala kebencian terhadap Islam yang ditengarai akan selalu hadir di tengah kita — kapan pun dan di mana pun harus kita upayakan secara kolektif dengan lebih cerdas dan elegan, dalam bingkai semangat Islam ‘rahmatan lil ‘âlamîn’, menuju upaya kita untuk menciptakan “kemashlatan yang lebih bermakna”.