Hadis-Hadis Misoginis

tentang Kehidupan Rumah Tangga[1]

 A.    Prawacana

Misoginis (Misogynist) merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris “misogyny” yang berarti “kebencian terhadap wanita”[2]. Klaim adanya unsur misoginis dalam hadis dipopulerkan oleh Fatima Mernissi[3] dalam bukunya Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry[4] untuk menunjukkan hadis-hadis yang dianggap membenci dan merendahkan derjat perempuan. Kajian hadis misoginis menjadi topik yang selalu hangat dibahas dewasa ini, seiring dengan pembahasan kesetaraan gender dan hak-hak asasi manusia dalam pelbagai aspek kehidupan yang berimbas pula pada pembahasan agama. Banyak hadis yang dianggap misoginis oleh kalangan feminis terutama hadis yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, tetapi penulis hanya akan mengulas tiga hadis yang paling sering diklaim tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan gender dan hak asasi manusia.

B.     Hadis tentang Perintah Rasulullah s.a.w. terhadap Wanita untuk Bersujud pada Suaminya Jika Dibolehkan Bersujud pada Selain Allah

1. Teks Hadis[5]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا لِمَا عَظَّمَ اللَّهُ مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا».

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi s.a.w., beliau berkata: jikalau aku memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, maka aku akan menyuruh isteri untuk sujud kepada suaminya.

Fatima Mernissi dalam bukunya “Setara di Hadapan Allah (terj.)” mengeritik dan menolak matan hadis ini, karena menurutnya Islam sebagai agama monoteis tidak membenarkan seseorang menyembah sesuatu selain Allah[6].

2. Kajian Sanad Hadis

Hadis ini diriwayatkan dari banyak sahabat yaitu Abu Hurairah, Qays bin Sad[7]7, Anas bin Malik[8], Muadz bin Jabal[9][, Abdullah bin Abi Aufa[10], Aisyah[11]. Meskipun tidak ada riwayat yang shahih, tetapi minimal terdapat riwayat hasan, yaitu riwayat dari Abu Hurairah di atas.

Asy-Syaukani mengungkapkan dalam kitabnya Nailu al-Authâr bahwa sebagian riwayat menjadi syâhid (saksi yang menguatkan) terhadap riwayat lain sehingga semuanya saling menguatkan satu sama lain[12]. Kesimpulannya, hadis ini dapat diterima, kecuali beberapa kalimat dalam matan hadis-hadis tersebut yang ditolak oleh para ulama.

3. Kajian Matan Hadis

Latar belakang munculnya hadis ini adalah ketika Muaz bin Jabal kembali ke Medinah dari Syam, dia langsung bersujud kepada Rasulullah s.a.w. karena dia melihat kaum Yahudi dan Nasrani di Syam bersujud kepada rabi-rabi dan uskup-uskup serta pastor-pastor mereka, dia berpikir bahwa Rasulullah s.a.w. lebih berhak untuk mendapatkan penghormatan dengan bersujud kepada beliau, sehingga Rasulullah s.a.w. menyabdakan hadis ini[13].

Lantas, benarkah matan hadis ini mengandung unsur penghambaan isteri kepada suami? Bila dikaji lebih lanjut, sujud dapat diartikan menjadi dua macam, pertama sujud ibadah yang hanya boleh ditujukan pada Allah, dan kedua sujud sebagai penghormatan yang diperbolehkan untuk selain Allah, sebagaimana malaikat sujud dengan tunduk dan tawadu’ menghormati Adam a.s. sebagai imam karena dia adalah khalifah Allah.[14] Sujud penghormatan juga dilakukan di masa Nabi Yusuf a.s.:[15]

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّواْ لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بَي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاء بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاء إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud[16] kepada Yusuf. dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaKu, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Akan tetapi hal ini tidak berlaku bagi seorang isteri dalam melaksanakan hak suaminya karena sujud kepada manusia tidak diperbolehkan[17]. Secara eksplisit hal ini dapat dilihat dari ungkapan Rasulullah dengan memakai kata “lau” atau “jika”, sehingga makna sujud disini bukanlah bermaksud perintah, melainkan hanya sekedar perumpamaan atau pengandaian yang sekaligus mengindikasikan betapa besarnya kewajiban isteri dalam menunaikan hak suaminya[18].

Sebagian feminis liberal juga menyatakan bahwa hadis ini bertentangan dengan ajaran moral yang substansial dalam al-Quran yang menggariskan konsep kesetaraan antara suami isteri. Stigma ini disangkal oleh ayat al-Quran sendiri, karena Allah SWT juga telah mengisyaratkan kelebihan derajat yang dianugerahkan kepada para suami, seperti dalam firman-Nya:[19]

وَالْمُطَلَّقاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَ لا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ ما خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ وَ بُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذلِكَ إِنْ أَرادُوا إِصْلاحاً وَ لَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَ لِلرِّجالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَ اللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’[20]. tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[21]. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Kelebihan yang Allah anugerahkan ini tentu saja bukan untuk menindas isteri, melainkan sebagai ukuran kebaikan bagi suami dalam memperlakukan isterinya, sebagaimana yang diungkapkan Muhammad Abduh dalam tafsirnya bahwa Ibnu Abbas berkata: “Aku berhias untuk isteriku sebagaimana dia berhias untukku, karena adanya ayat ini”[22].

C.    Hadis tentang Isteri Dilaknat Malaikat Jika Tidak Memenuhi Panggilan Suami Ke Tempat Tidur

1. Teks Hadis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.

“Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: Jika suami mengajak isterinya ke tempat tidur lalu isteri enggan mendatanginya kemudian ia tidur dalam keadaan marah, maka isteri dilaknat oleh malaikat hingga pagi hari.”[23].

Masdar F. Mas’udi menyatakan meskipun hadis ini diriwayatkan Bukhari dan Muslim, tapi tidak dapat diterima begitu saja karena Rasulullah s.a.w. tidak mungkin mensabdakan ketidakadilan suami terhadap isteri[24]. Kritik senada diungkapkan Siti Musdah Mulia bahwa pemahaman tekstual terhadap hadis tersebut akan menimbulkan kesan yang kuat tentang ketinggian derjat lelaki atas perempuan, bahkan menjadi alat legitimasi bagi lelaki untuk memaksa dan mengeksploitasi perempuan dalam hubungan seksual. Menurutnya, jika penolakan dikarenakan kondisi isteri sedang tidak sehat atau tidak bergairah atau karena suami mengajak dengan kasar dan tidak manusiawi, maka seharusnya suamilah yang mendapat laknat malaikat karena dia dianggap melakukan nusyuz terhadap isteri.[25] Zaitunah Subhan juga berpendapat serupa, bahwa laknat malaikat tidak bisa disimpulkan mutlak menimpa isteri yang tidak memenuhi ajakan suaminya saja, tetapi juga berlaku bagi suami, karena Islam mengakui keberadaan perempuan sebagai individu independen yang juga mempunyai hak yang dapat dituntut.[26]

2. Kajian Sanad Hadis

Walaupun hanya diriwayatkan dari Abu Hurairah saja, tetapi dari lima riwayat yang ada, tiga di antaranya terdapat dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim, sehingga status hadis ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Hadis riwayat Abu Dawud juga dinyatakan shahih oleh al-Albani[27].

3. Kajian Matan Hadis

Pada hakikatnya dalam matan hadis tidak terdapat kontradiksi apapun dengan ayat al-Quran ataupun hadis shahih lainnya. Bahkan al-Quran ketika menyebutkan tentang berjimak secara khusus, selalu ditujukan kepada lelaki, antaranya dalam firman Allah:[28]

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf[29] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

Oleh sebab itu, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami hadis ini -agar tidak terjebak dalam prasangka negatif bahwa hadis ini melecehkan kaum wanita- adalah:

a. Analisis Kebahasaan

Hadis ini mengungkapkan ajakan suami dengan kata: da′â yang berarti ajakan yang baik, sopan, dan bijaksana serta mengetahui keadaan orang yang diajak. Sedangkan penolakan isteri terhadap panggilan tersebut diungkapkan dalam kata abat, sama dengan kata yang digunakan al-Quran ketika menyebutkan keengganan iblis untuk sujud kepada Adam. Selain itu dalam matan hadispun disebutkan, bahwa laknat malaikat hanya akan berlaku bila penolakan isteri membuat suami marah dan kesal. Jadi keengganan isteri untuk segera melayani suami yang berakibat laknat malaikat hanyalah jika penolakan dilakukan tanpa alasan syar’i dan logis yang menghalanginya untuk segera melayani suami sehingga suami marah, padahal ia telah meminta dengan baik dan sopan.

b. Perbedaan Fisiologis dan Psikologis lelaki dan wanita

Menurut para ahli Psikologi, hasrat seksual lelaki lebih banyak berkaitan dengan fungsi fisiologisnya, karena lelaki akan mengumpulkan sperma ketika hasrat seksualnya meningkat, sehingga menuntut untuk segera disalurkan. Berbeda dengan perempuan, hasrat seksual mereka lebih banyak bersumber dari kebutuhan psikologisnya untuk memperoleh kehangatan dan cumbu rayu dari orang yang dicintainya.[30]

Ada beberapa fakta ilmiah tentang perbedaan seksual lelaki dan wanita[31]:

1)      Gairah seksual wanita berbeda dari waktu ke waktu yang diakibatkan oleh adanya haid yang disertai dengan perubahan hormon secara fisik. Sebaliknya, gairah seksual lelaki bisa terjadi setiap saat dan tidak mengenal waktu.

2)      Lelaki mudah sekali terangsang bahkan hanya dengan sekedar memikirkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas seksual meskipun tanpa persiapan sebelumnya. Sedangkan wanita memerlukan rangsangan sebelum melakukan hubungan seksual, sebab ia hanya akan menginginkan seks ketika suasana batinnya dipenuhi cinta, kasih sayang, rayuan dan sentuhan fisik terlebih dahulu.

Semua perbedaan alamiah ini, sangatlah penting direnungkan oleh pasangan suami isteri, sehingga mampu memahami kondisi masing-masing. Allah telah menciptakan pelbagai rahasia penciptaan dua jenis kelamin yang berbeda, agar mereka dapat saling memenuhi hak-hak satu sama lain dengan sempurna.

Jadi, banyaknya nash-nash yang menekankan tentang hak suami dalam hubungan seksual dan menganjurkan isteri untuk segera memenuhinya, adalah karena fitrah lelaki itu menuntut, sedangkan wanita adalah pihak yang dituntut. Lelaki sangat cepat merespon rangsangan sesuai dengan sikap hidup dan aktivitasnya. Maka, hendaklah suami bersikap lemah lembut dalam meminta hubungan seksual kepada isteri, dan hendaklah isteri bersikap kasih sayang dalam memenuhi panggilan suaminya, walaupun sedang sibuk.[32]

Meskipun demikan, Islam tidak meremehkan hak seksual kaum wanita yang sama-sama penting dengan hak lelaki. Salah satu bukti adalah riwayat dari Aun bin Juhaifah dari ayahnya yang menceritakan tentang Ummu Darda yang mengeluhkan suaminya tidak lagi memerlukan dirinya ketika ditanya oleh Salman al-Farisi, sehingga Salman menasehati Abu Darda: “Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, dirimu sendiri juga memiliki hak atas dirimu, dan isterimu memiliki hak atas dirimu. Maka, berikanlah setiap hak kepada pemiliknya” Abu Darda lalu menanyakan pada Rasulullah s.a.w. dan beliau bersabda: “Salman benar”.[33]

Begitu banyak hikmah dari perintah memenuhi ajakan suami dengan segera, yang pada hakikatnya demi kepetingan isteri juga. Keengganan seorang isteri untuk melayani suaminya tanpa alasan bisa menyebabkan buruk sangka suami dan menganggap isterinya tidak lagi setia, dan membuka kesempatan untuk melirik wanita lain. Bahkan, kalaupun suami berusaha keras menahan diri untuk tidak menyalurkan kebutuhan biologisnya, dia akan menderita tekanan batin, depresi, malas bekerja, dan cepat marah[34], yang tentunya berdampak negatif pada keharmonisan rumah tangga.

D.    Hadis tentang Wanita Penghuni Neraka Paling Banyak Karena Kufur Terhadap Suami

1. Teks Hadis[35]

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

“Dari Abu Sa’id al-Khudriy, dia berkata bahwa Rasulullah s.a.w. keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri, lalu beliau melewati tempat shalat wanita dan bersabda: “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah kalian, sesungguhnya aku melihat kalian adalah penduduk neraka paling banyak” Para wanita bertanya: “Kenapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:Kalian banyak melaknat dan tidak bersyukur kepada suami. Tidaklah aku lihat golongan yang lemah akal dan agamanya yang dapat menghilangkan fikiran lelaki yang cerdas kecuali kalian”. Mereka bertanya: “Apa kekurangan akal dan agama kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “bukankah kesaksian seorang wanita sama dengan setengah kesaksian lelaki? Mereka menjawab: “betul”. Rasulullah bersabda: “Itulah kekurangan akalnya. Bukankah jika haid wanita tidak shalat dan tidak puasa?” Mereka menjawab: “betul”. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Itulah kekurangan agamanya”.

2. Kajian Sanad Hadis

Sanad hadis ini diperoleh dari 5 sahabat yaitu Abu Said Al-Khudri, Ibnu Abbas[36], Ibnu Umar[37], Abu Hurairah[38], dan Ibn Masud[39] dengan banyak sekali jalur periwayatan yang ditulis dalam kitab hadis mu’tabar: Bukhari, Muslim, Tirmizi, Ibn Majah dan Ahmad bin Hanbal. Dua hadis diriwayatkan Bukhari dan satu riwayat dalam Sahih Muslim, sehingga tidak diragukan keshahihannya. Sementara al-Albani juga menyatakan hadis riwayat Tirmizi dan Ibn Majah adalah shahih.[40]

3. Kajian Matan Hadis

Jika hadis ini dipahami menurut paradigma barat, tentu kita akan salah dalam memahaminya. Mengapa wanita disebutkan lebih banyak masuk neraka, padahal wanita diciptakan sama seperti lelaki, yaitu tanpa dosa asal. Oleh karena itu, hadis ini harus dipahami bersama-sama dengan hadis lain yang semakna dengannya[41]. Sehingga, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan yaitu:

Pertama: Apakah hadis ini berarti wanita lebih dominan dikuasai kejahatan dalam fitrah mereka sementara lelaki tidak? Jawabannya tentu tidak, jika memang kejahatan telah ada pada diri wanita, tentu mereka tidak akan diminta pertangungjawaban darinya. Akan tetapi hadis tersebut menyatakan bahwa mereka bertanggung-jawab terhadap apa yang mereka kerjakan sendiri, seperti tidak patuh kepada suami. Maka tidak salah jika Ibn Hajar menyatakan bahwa dalam hadis Jabir terdapat dalil yang menunjukkan bahwa yang terlihat dalam neraka adalah wanita-wanita yang memiliki sifat-sifat tercela[42] seperti dalam hadis ini:[43]

وَأَكْثَرُ مَنْ رَأَيْتُ فِيهَا مِنَ النِّسَاءِ ، إِنِ ائْتُمِنَّ أَفْشَيْنَ ، وَإِنْ سَأَلْنَ أَلْحَفْنَ ، وَإِذَا سُئِلْنَ بَخِلْنَ ، وَإِذَا أُعْطِينَ لَمْ يَشْكُرْنَ

Artinya: Orang yang paling banyak aku lihat di dalam neraka adalah kaum wanita yang apabila diberi kepercayaan menyimpan rahsia dia bocorkan, apabila diminta sesuatu kepadanya ia bakhil, apabila mereka meminta, mereka bersikeras dan meminta lebih banyak, dan mereka tidak pandai berterima kasih.

Begitu juga riwayat dari Ibnu Abbas:[44]

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata bahwa Nabi s.a.w. bersabda: “Aku melihat neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, mereka telah mengkufuri”. Dikatakan: “Apakah mereka kufur terhadap Allah?” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Mereka mengkufuri suami dan kebaikan, jika engkau berbuat baik kepadanya selama satu tahun penuh, lalu dia melihat sesuatu yang buruk darimu, maka dia akan mengatakan aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”.

Jadi, dosa yang paling banyak menyeret wanita masuk ke neraka adalah kemaksiatan tehadap suaminya dan pengingkaran terhadap segala kebaikan suaminya.

Kedua: Peringatan Rasulullah s.a.w. dalam hadis ini mudah diterima oleh muslimah pada zaman Rasulullah s.a.w. karena mereka sering mengingat dan diingatkan tentang hari kebangkitan, padang mahshar, surga dan neraka. Justru, hal ini tidak mengejutkan mereka, malah mereka berusaha bertanya kepada Rasulullah s.a.w. kenapa dan bagaimana cara mengelakkannya. Berbeda dengan keadaan muslimah zaman sekarang yang mayoritas terlena dan lalai dari urusan hari akhir, sehingga ketika mendengar hadis ini mereka terkejut dan buru-buru berusaha menepisnya. Oleh karena itu, hendaklah memahami hadis ini sesuai suasana masyarakat ketika ia disabdakan.[45]

Ketiga: Hadis ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin -baik lelaki maupun wanita- agar mereka berusaha sedaya upaya untuk menghindarkan diri dari siksa neraka. Bagi kaum wanita, dapat dilakukan dengan memperbanyak sedekah dan meninggalkan sikap durhaka terhadap suami atau kufur terhadap budi baiknya.

Sedangkan bagi lelaki, dengan memelihara ibu-ibu, isteri-isteri, puteri-puteri, dan saudari-saudarinya dengan baik. Dia berkewajiban menyediakan kesempatan yang cukup bagi mereka untuk mendapatkan pengajaran dan melakukan berbagai ibadah dan ketaatan pada Allah, agar hati mereka dipenuhi nilai-nilai iman dan taqwa. Tanggung jawab ini sepenuhnya ada di pundak kaum lelaki.[46] Sebagaimana Allah telah memerintahkan dalam firman-Nya:[47]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ibnu Hajar ketika mengomentari hadis ini juga mengatakan bahwa dalam hadis ini terdapat anjuran menyampaikan nasihat kepada wanita sebab nasihat dapat menghilangkan sifat tercela, sedangkan bersedekah yang dianjurkan kepada wanita dapat menghindarkan azab dan menghapuskan dosa yang terjadi antara para makhluk.[48]

E. Khâtimah

Bedasarkan penjelasan di atas, tidak sedikitpun kita temukan fakta bahwa terdapat unsur misoginis di dalam hadis-hadis tersebut. Bahkan semua ini semakin mengukuhkan syariat Islam sebagai satu-satunya agama yang menjaga dan mengatur secara terperinci hak-hak setiap individu lelaki maupun wanita, agar dapat terpenuhi sesuai fitrahnya masing-masing. Kesetaraan gender dalam Islam bukanlah dengan menjadikan posisi suami isteri selalu sama rata dalam segala hal, melainkan persamaan hak dan kewajiban sesuai dengan fitrah dan peranan masing-masing untuk saling melengkapi dalam membina mahligai rumah tangga.

Selain itu, salah satu kesalahan paradigma para feminis liberal – disamping memakai ilmu humaniora barat dan logika akal sebagai asas utama memahami al-Quran dan hadis – adalah mereka membawa permasalahan yang terjadi dalam tataran sosial ke ranah ideologi, sehingga ketika menjumpai ketidakadilan terhadap isteri dalam masyarakat muslim, mereka buru-buru menuding bahwa teks-teks agamalah penyebabnya, atau tafsir dan penjelasan ulamalah yang misoginis dan terlalu partriarki (memihak lelaki). Padahal seharusnya dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan dan mengadakan perbaikan dalam masyarakat, hendaknya tetap dilandaskan pada syariat Islam, karna realitanya mayoritas para pelaku ketidakadilan terhadap isteri adalah mereka yang tidak memahami syariat dan mengabaikan nash-nash al-Quran dan hadis, yang secara komprehensif telah menuntun pemenuhan hak-hak isteri sebagaimana mestinya.

Wa′lLâhu Alam bi ash-Shawâb.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Dwi Sukmanila Sayska, M.A. dalam http://sukmanila.multiply.com/journal/item/37)


[1]I’tikaf ialah: berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

[2]Jhon Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 1986), hal. 382.

[3]Fatima Mernissi adalah seorang penulis, sosiolog, dan feminis kelahiran Maroko tahun 1940. Ia kuliah tentang ilmu politik di Universitas Mohammed V Rabat, Maroko, dan melanjutkan pasca sarjana di Universitas Sorbonne, Perancis dan Universitas  Brandeis,  Amerika Serikat , hingga mendapatkan gelar doktor tahun 1973.

[4]Buku ini merupakan edisi revisi dari disertasi Fatima Mernissi berbahasa Perancis yang diterbitkan dalam bahasa Inggris: Beyond the Veil: Male-Female Dynamics In Modern Muslim Society, dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dalam judul Seks dan Kekuasaan, penerbit Al-Fikr, 1975. Sedangkan buku Women in Islam ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tahun 1994 dengan judul Perempuan dalam Islam oleh penerbit Pustaka.

[5]At-Tirmidzi, al-Jâmi ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzi, Kitâb an-Nikâh, Bâb Mâ Jâ’a Fî Haq al-Zawj alâ al-Mar’ah, Juz III, Hadis Nomor 1159 (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, t.t. ), hal. 465.

[6]Fatima Mernissi dan Rif’at Hassan, Setara di Hadapan Allah (terj), (Yogyakarta: Media Gama Offset, 1999), hal. 44.

[7]Abu Dawud, Sunan Abî Dâwud, Kitâb an-Nikâh, Bâb Haq az-Zawj ‘alâ al-Mar‘ah, Juz II, Hadis Nomor 2140  (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.) hal. 224.

[8]An-Nasâ’i, As-Sunan al-Kubrâ, Kitâb an-Nikâh, Bâb Haq al-Zawj ‘ala al-Mar’ah, Jjuz V (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmi, t.t.), h 363, dan Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Juz III (Mesir: Muassasah Qurtubah), hal. 158.

[9]Al-Hakim an-Naisaburiy, Al-Mustadrak alâ ash-Shahîhain, Juz II (Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1990 M/1411 H), hal. 208.

[10]Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, kitab al-Nikah, Bab Haq al-Zawj ala al-Mar’ah, Juz I, Hadis Nomor 1853 (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), h 595 dan Ahmad bin Hanbal, Juz IV, ibid, hal. 381.

[11]Ibn Majah, Juz 1, Hadis Nomor 1852, ibid., hal. 595.

[12]Muhammad bin Ali asy-Syaukani, Nail  al-Authâr, Juz III (Beirut: Dar al-Fikr,  1973 M.), hal. 361-362

[13]Al-Hakim al-Naisaburiy, op.cit., Juz IV, Hadis Nomor 7325,hal. 190.

[14]Al-Hakim an-Naisaburiy, op.cit., Juz IV, Hadis Nomor 7325, hal. 190

[15]QS Yûsuf, 12: 100.

[16]Sujud di sini ialah: sujud penghormatan, bukan sujud ibadah

[17]Abdurrauf al-Munawi, op.cit, Juz V, hal. 328.

[18]Muhammad bin Abdurahman al-Mubarak Fauriy, Tuhfah al-Ahwadziy, Juz IV (Beirut: Dar al-Maktabah al-Ilmiyyah, 1353 H.), hal. 271.

[19]QS al-Baqarah, 2: 228.

[20]Qurû’ dapat diartikan “suci atau haidh”.

[21]Hal ini disebabkan karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan Kesejahteraan rumah tangga (Lihat QS an-Nisâ’, 4: 34).

[22]Muhammad Abduh, Tafsîr al-Manâr, Juz II (Beirut: Darul Fikr, t.t.), hal. 297-298.

[23]Al-Bukhâriy, Shahîh al-Bukhâriy, kitab Bad’u al-Khalq, Bâb Dzikr al-Malâikah, Juz III, Hadis Nomor 3065 (Beirut: Dar Ibn Katsir, t.t.), hal. 1993 dan Juz V, Hadis Nomor 4897, hal. 1993, Muslim bin al-Hajjaj, op.cit, Kitâb an-Nikâh, Bâb Tahrîm Imtinâ′iha Min Firâsy Zawjiha, Juz II, Hadis Nomor 1436, hal. 1059-1060, Abu Dawud, op.cit, Kitâb an-Nikâh, Bâb Haq al-Zawj alâ al-Mar’ah, Juz II, Hadis Nomor.2141, hal. 224, Ahmad bin Hanbal, op.cit, Juz II, Hadis Nomor 9669, hal. 439 dan juz II, Hadis Nomor 10230, hal. 480.

[24]Masdar F Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fikih Pemberdayaan (Bandung: Mizan, 1997), hal. 76.

[25]Siti Musdah Mulia, Muslimah Reformis; Perempuan Pembaru Keagamaan (Bandung: Mizan, 2005), hal. 249-250.

[26]Zaitunah Subhan, Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam al-Quran, (Yogyakarta: LKiS, 1999), hal. 150-151.

[27]Al-Albani, Sunan Abu Dawud hakama ′ala Hadisahu wa Asarahu wa ′Allaqa ′Alayh ′Allamah al-Muhaddis al-Albani, kitab al-Nikah, bab Haq al-Zawj ala  al-Mar’ah, Hadis Nomor 2141 (Riyadh: Maktabah al-Ma′arif li Nasyr wa Tauzi,  t.t.)  hal. 372.

[28]QS al-Baqarah, 2: 187.

[29]I’tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

[30]Muhammad Fauzil Adhim, Mencapai Pernikahan Barokah (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1999 M), hal. 181-182.

[31]Adnan al-Tarshah, Serba Serbi Wanita (terj) (Jakarta: al-Mahira, t.t.) hal. 139-140.

[32]Abdul Halim Muhammad Abu Syuqqah, Tahrîr al-Mar’ah Fî Ashri ar-Risâlah, Juz VI (Kairo: Dar al-Qalam, 2002), hal. 105.

[33]Al-Bukhari, op.cit, Kitâb ash-Shaum, Bâb Man Aqsama alâ Akhîhi li Yaftura fî al-Tathawwu, Juz V, h 112.

[34]Abu Muhammad Iqbal, Menyayangi Isteri, Membahagiakan Suami (terj), (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1999), hal. 224-225.

[35]Al-Bukhari, op.cit, Kitâb al-Shiyâm, Bâb Tark al-Haidh ash-Shaum, Juz I, Hadis Nomor 298, hal. 116, dan Kitâb az-Zakâh, Bâb az-ZakâhAlâ al-Aqârib Wa Qâla al-Nabiy Salla′lLâhu ′Alaihi Wa Sallam: Lahû Ajrâni, Ajru al-Qirâbah Wa ash-Shadaqah, Juz II, Hadis Nomor 1393. hal. 531.

[36]Al-Bukhariy, ibid., Kitâb al-Îmân, Bâb Kufrân al-Âshir wa Kufr Ba′da Kufr Fîh, Juz I, Hadis Nomor 19, hal. 19, Kitâb al-Kusûf, Bâb Shalâh al-Kusûf Jamâ′atan, Juz I, Hadis Nomor 1004, hal. 357, Kitâb an-Nikâh, Kitâb Kitâb wa Huwa az-Zawj wa huwa al-Khâlith  min al-Mu′âsharah fîh, Juz V, Hadis Nomor 4901, hal. 1994.

[37]Muslim bin al-Hajjaj, op.cit, Kitâb Haidh, Kitâb Bayân Nuqshâni al-Îmân bi Nuqsh Ath-Ta′at Wa Bayan Ithlâq Lafzhi al-Kufr Bi Allâh ka Kufr anl-Ni′mah wa al-Huqûq, Juz I, Hadis Nomor 79, hal. 86, Ibn Majah, op.cit, Kitâb al-Fitan, Bâb Fitnah an-Nisâ’, Juz II, Hadis Nomor 4003 (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.) hal. 1326.

[38]At-Tirmidzi, Al-Jâmi′ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzi, Kitâb al-Îmân, Bâb Mâ Jâ’a fî Istikmâli al-Îmân wa Ziyâdatuh wa Nuqshânuh, Juz V (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, t.t.), hal. 10.

[39]Ahmad bin Hanbal, op.cit, Juz I, Hadis Nomor 3569, hal. 376, Juz I, Hadis Nomor 4152, hal. 436, Juz II, Hadis Nomor 5343, hal.  66, dan Juz

II, Hadis Nomor 8849, hal. 373.

[40]Al-Albani, Al-Jâmi′ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzi Hakama ′Alâ Hadîtsihi wa Âtsarihi wa ′Allaqa ′Alaihi ′Allâmah al-Muhaddits al-Albani, Kitâb al-Îmân, Bâb Mâ Jâ-a fî Istikmâli al-Îmân wa Ziyâdatih wa Nuqsanih, (Riyadh: Maktabah al-Ma′arif li Nasyr wa Tauzi, t.t.), hal. 589 dan al-Albani, Sunan Ibn Mâjah Hakama ′Alâ Hadîtsihi wa Âtsarihi wa ′Allaqa ′Alaihi ′Allâmah al-Muhaddits al-Albani,  Kitâb al-Fitan, Bâb Fitnah an-Nisâ’, hadis no.4003,  (Riyadh: Maktabah al-Ma′arif li Nasyr wa Tauzi, t.t.)  hal. 661.

[41]Daud Rasyid, Sunnah di Bawah Ancaman, (Bandung: Asy-Syamil, 2006), hal. 147.

[42]Abdul Halim Muhammad Abu Syuqqah, op.cit, Juz I (Kairo: Dar al- Qalam, 2002 M.)  hal. 273.

[43]Al-Hakim al-Naisaburi, op.cit, Juz IV, Hadis Nomor 8788 (Beirut: Dar al-Kitab al-′Ilmiyah, 1990 M./1411 H.) hal. 647. Beliau berkomentar: “hadis ini shahîh al-Isnâd, sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim tetapi mereka tidak mengeluarkanya. Dan diriwayatkan juga oleh Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Juz II, hal. 532 dan dikemukakan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bâri, Juz II, hal. 542.

[44]Al-Bukhariy, op.cit, Kitâb al-Îmân, Bâb Kufrân al-′Âshir wa Kufr Ba′da Kufr Fîh, Juz 1, Hadis Nomor 19 (Beirut: Dar Ibn Katsir, t.t.) hal. 19, Kitâb al-Kusuf, Bâb Shalâh al-Kusuf Jamâ′atan, Juz I, Hadis Nomor 1004, hal. 357, dan Kitâb an-Nikâh, Bâb Kufrân al-′Âshir wa Huwa az-Zawj wa huwa al-Khâlith  min al-Mu′âsharah fîh, Juz V, Hadis Nomor 4901, hal. 1994.

[45]Hafizh Firdaus Abdullah, Kaedah Memahami Hadis-Hadis Musykil (Kuala Lumpur: Jahabersa, 2003), hal. 71-72.

[46]Abdul Halim Muhammad Abu Shuqqah, op.cit, Juz I, hal. 274.

[47]QS at-Tahrîm, 66: 6.

[48]Ahmad bin Ali bin Hajar al-′Asqalani, Fath al-Bâri, Juz I (Beirut: Dar al-Ma′rifah, 1379 H.), hal. 422.