HADIS SHAHIH, HASAN DAN DHA’IF: Pengertian, Ciri-ciri dan Kehujahannya

HADIS SHAHIH, HASAN DAN DHA’IF:

Pengertian, Ciri-ciri  dan Kehujahannya

 

Penelitian terhadap hadis Ahad, pada akhirnya menghasilkan beberapa kesimpulan. Antara lain penilaian terhadap keabsahan sebuah atau serangkaian hadis yang telah diteliti. Ada hadis yang maqbûl (diterima) sebagai hujjah, yang disebut dengan dua istilah: shahîh dan hasan. Dan ada pula hadis yang dinyatakan mardûd, kerena tidak memenuhi kualifikasi shahîh maupun hasan, yang disebut dengan istilah dha’îf.

  1. A.    Hadis Shahih
  1. Definisi Hadis Shahih

Kata Shahih (الصحيح) dalam pengertian bahasa, diartikan sebagai orang sehat antonim dari kata as-saqîm (السقيم) =  orang yang sakit. Jadi yang dimaksud hadis shahih adalah hadis yang sehat dan benar tidak terdapat penyakit dan cacat.

هُوَ مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ ضَبْطاً كَامِلاً عَنْ مِثْلِهِ وَ خَلاَ مِنَ الشُّذُوْذِ وَ الْعِلَّةِ

 “Hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh orang ‘adil dan dhabith (kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya, selamat dari kejanggalan (syadz), dan cacat (‘illat)”.

Imam As-Suyuthi mendifinisikan hadis shahih dengan “hadis yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh ar-râwiy (periwayat) yang ‘adil dan dhabith, tidak syadz dan tidak ber‘illat”.

Definisi hadis shahih secara konkrit baru muncul setelah Imam asy-Syafi’i memberikan penjelasan tentang riwayat yang dapat dijadikan hujah, yaitu:

Pertama, apabila diriwayatkan oleh para ar-râwiy (periwayat) yang dapat dipercaya pengamalan agamanya, dikenal sebagai orang yang jujur mermahami hadis yang diriwayatkan dengan baik, mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafazhnya; mampu meriwayatkan hadis secara lafad, terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafad, bunyi hadis yang Dia riwayatkan sama dengan hadis yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari tadlîs (penyembuyian cacat),

Kedua, rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi s.a.w., atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi.

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim membuat kriteria hadis shahih sebagai berikut:

  1. Rangkaian ar-râwiy (periwayat) dalam sanad itu harus bersambung mulai dari ar-râwiy (periwayat) pertama sampai ar-râwiy (periwayat) terakhir.
  2. Para ar-râwiy (periwayat)nya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal siqat, dalam arti ‘adil dan dhabithh,
  3. Hadisnya terhindar dari ‘illat (cacat) dan syadz (janggal), dan
  4. Para ar-râwiy (periwayat) yang terdekat dalam sanad harus sejaman.
  1. Syarat-Syarat Hadis Shahih

Berdasarkan definisi hadis shahih di atas, dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadis shahih dapat dirumuskan sebagai berikut:

1)      Sanadnya Bersambung

Maksudnya adalah tiap-tiap ar-râwiy (periwayat) dari ar-râwiy (periwayat) lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya, dari sejak awal hingga akhir sanadnya.

Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad, biasanya ulama’ hadis menempuh tata kerja sebagai berikut:

1)      mencatat semua periwayat yang diteliti,

2)      mempelajari hidup masing-masing periwayat,

3)      meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang   terdekat dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddatsanî, haddatsanâ, akhbaranâ, akhbaranî, ‘an, anna, atau kata-kata lainnya.

2)      Ar-râwiy (periwayat)-nya Bersifat ‘Adil

Maksudnya adalah tiap-tiap ar-râwiy (periwayat) itu seorang muslim, berstatus mukallaf  (baligh), bukan fâsiq dan tidak pula jelek prilakunya.

Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakuakan dengan salah satu teknik berikut:

1)      keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat ‘adil,  sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab jarh wa at-ta’dil.

2)      ketenaran seseorang bahwa ia bersifast ‘adil, seperti imam empat: Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal.

Khusus mengenai ar-râwiy (periwayat) hadis pada tingkat sahabat, jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah ‘adil. Pandangan berbeda datang dari golongan muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ali dianggap fâsiq, dan periwayatannya pun ditolak.

3)      Ar-Râwiy (periwayat)-nya Bersifat Dhabith

Maksudnya masing-masing ar-râwiy (periwayat)-nya sempurna daya ingatannya, baik berupa kuat ingatan (في الصدور) maupun dalam tulisan (في السّطور).

Dhabith dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan, sejak ia maneriama hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain, sedang, dhabith dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan.

Adapun sifat-sifat kedhabithan periwayat (الراوي), nmenurut para ulama, dapat diketahui melalui:

1)      kesaksian para ulama

2)      berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedhabithhannya.

4)      Tidak Syadz

Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak syadz, dalam arti bertentangan atau menyelesihi orang yang terpercaya dan lainnya.

Menurut asy-Syafi’i, suatu hadis tidak dinyastakan sebagai mengandung syudzûdz, bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah, sedang periwayat yang tsiqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. Artinya, suatu hadis dinyatakan syudzudz, bila hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang tsiqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat tsiqah.

5)      Tidak Ber’illat

Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya, dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat mencederai pada ke-shahih-an hadis, sementara zhahirnya selamat dari cacat.

‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matn (matan/teks) atau pada keduanya secara bersama-sama. Namun demikian, ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad (السند), seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’ atau mursal.

  1. Pembagian Hadis Shahih

Para ahli hadis membagi hadis shahih kepada dua bagian, yaitu shahîh li-dzâtihi (صحيح لذاته) dan shahîh li-ghairihi (صحيح لغيره). perbedaan antara keduanya terletak pada segi hafalan atau ingatan ar-râwiy (periwayat)nya. pada shahîh li-dzâtihi, ingatan ar-râwiy (periwayat)nya sempurna, sedang pada hadis shahîh li-ghairihi, ingatan ar-râwiy (periwayat)nya kurang sempurna.

1)      Hadis Shahîh Li Dzâthihi

Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti adanya,bukan dia itu terputus tetapi shahih dalam hakikat masalahnya, karena bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan.

2)      Hadis Shahih Li Ghairihi

Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis shahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian. Bukan berarti sama sekali dusta, mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah.

Hadis shahîh li-ghairihi, adalah hadis hasan li-dzâtihi apabila diriwayatkan melalui jalan yang lain oleh ar-râwiy (periwayat) yang sama kualitasnya atau yang lebih kuat dari padanya.

  1. Kehujjahan Hadis Shahih

Hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis shahih wajib diamalkan sebagai hujjah atau dalil syara’ sesuai ijma’ para uluma hadis dan sebagian ulama ushul dan fiqih. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu, tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah.

Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qath’i, yaitu al-Quran dan hadis mutawatir. oleh karena itu, hadis ahad tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan aqidah.

  1. Tingkatan Hadis Shahih

Perlu diketahui bahwa martabat hadis shahih itu tergantung tinggi dan rendahnya kepada ke-dhabith-an dan ke’adilan para ar-râwiy (periwayat)-nya. Berdasarkan martabat seperti ini, para muhadisin membagi tingkatan sanad menjadi tiga yaitu:

Pertama, ashah al-asânîd yaitu rangkaian sanad yang paling tinggi derajatnya. seperti periwayatan sanad dari Imam Malik bin Anas dari Nafi’ maulâ (مولى = budak yang telah dimerdekakan) dari Ibnu Umar.

Kedua, ashah al-asânîd (أصح الأسانيد), yaitu rangkaian sanad hadis yang yang tingkatannya di bawah tingkat pertama di atas. Seperti periwayatan sanad dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas.

Ketiga. adh’af al-asânîd (أضعف الأسانيد), yaitu rangkaian sanad hadis yang tingkatannya lebih rendah dari tingkatan kedua. seperti periwayatan Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah.

Dari segi persyaratan shahih yang terpenuhi dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan, yang secara berurutan sebagai berikut:

  1. Hadis yang disepakati oleh al-Bukhari dan muslim (muttafaq ‘alaih متفق عليه),
  2. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari saja,
  3. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja,
  4. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan al-Bukhari dan Muslim,
  5. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan al-Bukhari saja,
  6. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja,
  7. Hadis yang dinilai shahih menurut ulama hadis selain al-Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyaratan keduanya, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan lain-lain.

Kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis shahih secara berurutan sebagai berikut:

  1. Shahih al-Bukhari (w.250 H).
  2. Shahih Muslim (w. 261 H).
  3. Shahih Ibnu Khuzaimah (w. 311 H).
  4. Shahih Ibnu Hiban (w. 354 H).
  5. Mustadrak al-hakim (w. 405).
  6. Shahih Ibn as-Sakan.
  7. Shahih al-Albani.

B. Hadis Hasan

1.   Pengertian Hadis Hasan

Secara bahasa, hasan berarti al-jamâl, yaitu: “indah”. Hasan juga dapat juga berarti sesuatu sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sedangkan para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis hasan karena melihat bahwa ia meupakan pertengahan antara hadis shahih dan hadis dha’if, dan juga karena sebagian ulama mendefinisikan sebagai salah satu bagiannya. Sebagian dari definisinya yaitu:

  1. Al–Khaththabi: “hadis yang diketahui tempat keluarnya, dan telah masyhur ar-ruwât/ الرواة(para periwayat) dalam sanadnya, dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis, dan yang diterima kebanyakan ulama, dan yang dipakai oleh umumnya fuqahâ’”.
  2. At-Tirmidzi: “semua hadis yang diriwayatkan, dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta, serta tidak ada syadz (kejangalan), dan diriwatkan dari selain jalan sepereti demikian, maka dia menurut kami adalah hadis hasan”.
  3. Ibnu Hajar: “hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang ‘adil, sempurna ke-dhabith-annya, bersanbung sanadnya, tidak cacat, dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahîh li-dzâtihi, lalu jika ringan ke-dhabith-annya maka dia adalah hadis hasan li-dzâtihi”.

Kriteria hadis hasan sama dengan kriteria hadis shahih. Perbedaannya hanya terletak pada sisi ke-dhabith-annya. yaitu hadis shahih lebih sempurna ke-dhabith-annya dibandingkan dengan hadis hasan. Tetapi jika dibandingkan dengan ke-dhabith-an ar-râwiy (periwayat) hadis dha’if tentu belum seimbang, ke-dhabith-an ar-râwiy (periwayat) hadis hasan lebih unggul.

2.   Macam-Macam Hadis Hasan

Sebagaimana hadis shahih yang terbagi menjadi dua macam, hadis hasan pun terbagi menjadi dua macam, yaitu hasan li-dzâtihi dan hasan li-ghairihi;

  1. a.      Hasan Li Dzâtihi

Hadis hasan li-dzâtihi adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan yang telah ditentukan.

  1. b.     Hasan Li-Ghairihi

Hadis hasan li-ghairihi ialah hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. Dengan kata lain, hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if, akan tetapi karena adanya sanad atau matn (matan/teks) lain yang menguatkannya[1] (syahid atau tâbi’/mutâbi’), maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi hadis hasan li-ghairih.

3.   Kehujahan Hadis Hasan

Hadis hasan sebagai mana halnya hadis shahih, meskipun derajatnya dibawah hadis shahih, adalah hadis yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal. Para ulama hadis, ulama ushul fiqih, dan fuqaha’ sepakat tentang ke-hujjah-an hadis hasan.

C. Hadis Dha’if

1.   Definisi Hadis Dha’if

Pengertian hadis dha’if secara bahasa. Hadis dha’if berarti hadis yang lemah. Para ulama memiliki dugaan kecil bahwa hadis tersebut berasal dari Rasulullah s.a.w.. Dugaan kuat mereka hadis tersebut tidak berasal dari Rasulullah s.a.w.. Adapun para ulama memberikan batasan bagi hadis dha’if sebagai berikut: “Hadis dha’if ialah hadis yang tidak memuat/menghimpun sifat-sifat hadis shahih, dan tidak pula menghimpun sifat-sifat hadis hasan”.

2.   Macam-macam Hadis Dha’if

Hadis dha’if dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : hadis dha’if karena gugurnya ar-râwiy dalam sanadnya, dan hadis dha’if karena adanya cacat pada ar-râwiy atau matn (matan/teks).

a.   Hadis Dha’if Karena Gugurnya ar-Râwiy (Periwayat)

Yang dimaksud dengan gugurnya ar-râwiy adalah tidak adanya satu atau beberapa ar-râwiy, yang seharusnya ada dalam suatu sanad, baik pada permulaan sanad, maupun pada pertengahan atau akhirnya. Ada beberapa nama bagi hadis dha’if yang disebabkan karena gugurnya ar-râwiy, antara lain yaitu :

1)      Hadis Mursal

Hadis mursal menurut bahasa, berarti hadis yang terlepas. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis mursal adalah hadis yang gugur ar-râwiy nya di akhir sanad. Yang dimaksud dengan ar-râwiy di akhir sanad ialah ar-râwiy pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadis dari Rasulullah s.a.w.. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari ar-râwiy yang terdekat dengan imam yang membukukan hadis, seperti al-Bukhari, sampai kepada ar-râwiy yang terdekat dengan Rasulullah s.a.w.). Jadi, hadis mursal adalah hadis yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai ar-râwiy yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah s.a.w..

Contoh hadis mursal :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَرْمَلَةَ الأََسْلَمِيِّ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ :« بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمُنَافِقِينَ شُهُودُ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ, لاَ يَسْتَطِيعُونَهُمَا ».

 “Antara kita dan kaum munafik (ada batas), yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh; mereka tidak sanggup menghadirinya”.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik, dari Abdurrahman  bin Harmalah al-Aslami, dan selanjutnya dari Sa’id bin Musayyab (salah seorang dari generasi tabi’in)). Siapa sahabat Nabi s.a.w. yang meriwayatkan hadis itu kepada Sa’id bin Musayyab, tidak disebutkan dalam sanad hadis di atas.

Kebanyakan ulama memandang hadis mursal ini sebagai hadis dha’if, karena itu tidak bisa diterima sebagai hujjah atau landasan dalam beramal. Namun, sebagian kecil ulama termasuk Abu Hanifah, Malik bin Anas, dan Ahmad bin Hanbal, dapat menerima hadis mursal menjadi hujjah asalkan para ar-râwiy bersifat ‘âdil.

2)      Hadis Munqathi’

Hadis munqathi’ menurut etimologi ialah hadis yang terputus. Para ulama memberi batasan bahwa hadis munqathi’ adalah hadis yang gugur satu atau dua orang ar-râwiy tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila ar-râwiy di akhir sanad adalah sahabat Nabi, maka ar-râwiy menjelang akhir sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadis munqathi’ bukanlah ar-râwiy di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in. Bila dua ar-râwiy yang gugur, maka kedua ar-râwiy tersebut tidak beriringan, dan salah satu dari dua ar-râwiy yang gugur itu adalah tabi’in.

Contoh hadis munqathi’ :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ، عَنْ لَيْثٍ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أُمِّهِ ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَقُولُ : بِسْمِ اللهِ ، وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي , وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ ، وَإِذَا خَرَجَ , قَالَ : بِسْمِ اللهِ ، وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي ، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ.

“Rasulullah s.a.w. bila masuk ke dalam mesjid, membaca “dengan nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah dosaku dan bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”.

Hadis di atas diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Ismail bin Ibrahim dan Abu Mu’awiyah, dari Laits, dari Abdullah bin al-Hasan, dari Ibunya (Fatimah binti al-Husain), dan selanjutnya dari Fathimah Az-Zahra. Menurut Ibnu Majah, hadis di atas adalah hadis munqathi’, karena Fathimah Az-Zahra (putri Rasul) tidak berjumpa dengan Fathimah binti Al-Husain. Jadi ada ar-râwiy yang gugur (tidak disebutkan) pada tingkatan tabi’in.

3)      Hadis Mu’dhal

Menurut bahasa, hadis mu’dhal adalah hadis yang sulit dipahami. Batasan yang diberikan para ulama bahwa hadis mu’dhal adalah hadis yang gugur dua orang ar-râwiy (periwayat)-nya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya.

Contoh; Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannaf (5/286), dan juga Ibnu Abi Dun-ya di dalam kitab Dzimmu al-Malahi (80), dari jalan Qatadah, ia berkata;

ذكر لنا أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال : « الكَعْبَتَانِ مِنْ مَيْسِرِ الْعَجَمِ »

Disebutkan kepada kami bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “kedua mata kaki adalah kemudahan Bangsa ‘Ajam (non-Arab)”. Qatadah yang dimaksud di sini adalah Qatadah ad-Di’amah as-Sadusi. Riwayatnya dari  tabi’in besar sangat agung, pendapat yang lebih kuat, dalam  sanad ini beliau telah menghilangkan setidaknya dua orang ar-râwiy (periwayat), yaitu seorang tabi’in  dan seorang shahabat. Maka hadis yang demikian ini dinamakan  mu’dhal. Dan hadis mu’dhal (معضل) derajatnya di bawah mursal (مرسل) dan munqathi’ (منقطع), karena banyaknya  ar-râwi (periwayat) yang hilang dari sanad secara berurutan.

4)      Hadis Mu’allaq

Menurut bahasa, hadis mu’allaq berarti hadis yang tergantung. Batasan para ulama tentang hadis ini ialah hadis yang gugur satu ar-râwiy (periwayat) atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua ar-râwiy (periwayat)-nya digugurkan (tidak disebutkan).

Contoh :

Contoh; Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitabnya  ash-Shahih, Kitab al-Iman, Bab: Husnu Islami al-Mar’i (1/17), ia mengatakan,

قَالَ مَالِكٌ: أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَسَارٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلاَمُهُ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلَفَهَا ، وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِئَةِ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلاَّ أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهَا.

“Telah berkata Malik, telah memberitakan kepada kami Zaid bin Aslam, bahwa ‘Atha’ bin Yasar memberitahu kepadanya, bahwa Abu Sa’id al-Khudri memberitahu kepadanya, bahwasannya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda; Apabila seseorang  masuk Islam, dengan keislaman yang bagus maka Allah akan menghapuskan semua kejahatannya yang telah lalu. Setelah itu balasan terhadap suatu kebaikan sebanyak sepuluh kali sampai 700 kali lipat dari kebaikan itu, dan balasan kejahatan sebayak kejahatan itu sendiri, kecuali pelanggaran tehadap Allah.”

Al-Bukhari tidak menyebutkan nama gurunya, padahal ia meriwayatkan hadis dari Imam Malik melalui perantara seorang ar-râwiy (periwayat).

Contoh lain; dikeluarkan oleh al-Bukhari di dalam kitabnya  al-Jâmi’ ash-Shahîh, Kitab ath-Thahârah, Bab Mâ Jâ’a fî Ghusli al-Baul, (1/51).

وَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لِصَاحِبِ الْقَبْرِ كَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ

“Rasulullah s.a.w. bersabda kepada penghuni kubur, dahulu dia tidak membersihkan kencingnya”.

Al-Bukhari menghilangkan semua sanadnya, dan hanya mengatakan, “Nabi s.a.w. bersabda”.

b.   Hadis Dha’if Karena Cacat pada Matn (Matan/Teks) atau ar-Râwiy (Periwayat)

Banyak macam cacat yang dapat menimpa ar-râwiy (periwayat) ataupun matan. Seperti pendusta, fâsiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat ‘adil pada ar-râwiy (periwayat). Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi ar-ruwât (para periwayat) yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada ar-râwiy (periwayat). Adapun cacat pada matan, misalnya terdapat sisipan di tengah-tengah lafazh hadis atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafazh yang sebenarnya.

Contoh-contoh hadis dha’if karena cacat pada matn (matan/teks) atau ar-râwiy (periwayat):

1)   Hadis Maudhu’

Menurut bahasa, hadis ini memiliki pengertian hadis palsu atau dibuat-buat. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadis yang bukan berasal dari Rasulullah s.a.w.. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Golongan-golongan pembuat hadis palsu yakni musuh-musuh Islam dan tersebar pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam, yakni kaum yahudi dan nashrani, orang-orang munafik, zindiq, atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya, madzhabnya, atau kebangsaannya .

Hadis maudhû’ merupakan seburuk-buruk hadis dha’if. Peringatan Rasulullah s.a.w. terhadap orang yang berdusta dengan hadis dha’if serta menjadikan Rasululullah s.a.w. sebagai sandarannya.

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya dalam neraka”.

Berikut dipaparkan beberapa contoh hadis maudhu’:

a)      Hadis yang dikarang oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam; ia katakan bahwa hadis itu diterima dari ayahnya, dari kakeknya, dan selanjutnya dari Rasulullah s.a.w.. berbunyi: “Sesungguhnya bahtera Nuh berthawaf mengelilingi ka’bah, tujuh kali dan shalat di maqam Ibrahim dua rakaat”. (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Irwâ’ al-Ghalîl fî Takhrîji Ahâdîts Manâr as-Sabîl, Juz V, Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1985, h. 222)[2] Makna hadis tersebut tidak masuk akal”.

b)      Adapun hadis lainnya : “anak zina itu tidak masuk surga tujuh turunan”. (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahâdîts adh-Dha’îfah wa al-Maudhû’ah wa Atsaruhâ as-Sayyi’ fi al-Ummah, Juz I, Riyadh: Dar al-Ma’arif, 1992, h. 447)[3] Hadis tersebut bertentangan dengan al-Quran. ” Pemikul dosa itu tidaklah memikul dosa yang lain”. (QS al-An’âm/6: 164 )

c)      “Siapa yang memeroleh anak dan dinamakannya Muhammad, maka ia dan anaknya itu masuk surga”. (As-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Lâlî al-Mashnû’ah fi al-Ahâdîts al-Maudhû’ah, Juz I, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., h. 97)[4] “Orang yang dapat dipercaya itu hanya tiga, yaitu: aku (Muhammad), Jibril, dan Muawiyah”. (As-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Lâlî al-Mashnû’ah fi al-Ahâdîts al-Maudhû’ah, Juz I, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., h. 282)[5]

Demikianlah sedikit uraian mengenai hadis maudhu’. Masih banyak hadis-hadis lainnya yang sengaja dibuat oleh pihak kufar. Sedikit sejarah, berdasarkan pengakuan dari mereka yang memalsukan, seperti Maisarah bin Abdi Rabbin Al-Farisi, misalnya, ia mengaku telah membuat beberapa hadis tentang keutamaan al-Quran dan 70 buah hadis tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib. Abdul Karim, seorang ’zindiq’, sebelum dihukum pancung ia telah memalsukan hadis dan mengatakan : “aku telah membuat 3000 hadis; aku halalkan barang yang haram dan aku haramkan barang yang halal”.

2)   Hadis matrûk atau hadis mathrûh

Hadis ini, menurut bahasa berarti hadis yang ditinggalkan/dibuang. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis matrûk adalah hadis yang diriwayatkan oleh ”orang-orang yang pernah dituduh berdusta (baik berkenaan dengan hadis ataupun mengenai urusan lain), atau pernah melakukan maksiat, lalai, atau banyak wahamnya”.

Contoh hadis matrûk:

أخبرنا القاضى أبو القاسم نا أبو علي نا عبدالله بن محمد ذكر عبدالرحمن بن صالح الأزدى نا عمرو بن هاشم الجنى عن جوبير عن الضحاك عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال عَلَيْكُمْ بِاصْطَنَاعِ المَعْرُوفِ فَإِنَّهُ يَمْنَعُ مَصَارِعَ السُّوءِ وَعَلَيْكُمْ بِصَدَقَةِ السِّرِّ فَإِنَّهَا تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ

أخرجه ابن أبى الدنيا فى قضاء الحوائج (ص ٢٥ ، رقم ٦)

“Hendaklah kalian berbuat ma’ruf, karena ia dapat menolak kematian yang buruk, dan hendaklah kamu bersedekah secara tersembunyi, karena sedekah tersembunyi akan memadamkan murka Allah SWT”.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dari Ibnu Abbas. Di dalam sanad  ini terdapat rawi yang bernama Juwaibir bin Sa’id al-Azdiy. An-Nasa’i, ad-Daruquthni, dan lain-lain mengatakan bahwa hadisnya ditinggalkan (matrûk). Ibnu Ma’in berkata, “لاَ بَأْسَ بِهِ (Ia tidak ada apa-apanya)”, menurut Ibnu Ma’in ungkapan (tidak ada apa-apanya), ini berarti ia “الْمُتَّهَمُ بِالْكَذِبِ (tertuduh berdusta)”.

3)   Hadis Munkar

Hadis munkar, secara bahasa berarti hadis yang diingkari atau tidak dikenal. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadis munkar ialah: hadis yang diriwayatkan oleh ar-râwiy (periwayat) yang lemah dan menyalahi ar-râwiy (periwayat) yang kuat, contoh:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ ، نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، نا مَعْمَرٌ ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ ، عَنِ الْعَيْزَارِ بْنِ حُرَيْثٍ ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ ، أَتَاهُ الْأَعْرَابُ , فَقَالَ : ” مَنْ أَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَحَجَّ الْبَيْتَ وَقَرَى الضَّيْفَ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ *

“Barangsiapa yang mendirikan shalat, membayarkan zakat, mengerjakan haji dan menghormati tamu, niscaya masuk surga.” (HR Abu Ishaq dari Abdullah bin Abbas)”

Hadis di atas memiliki ar-ruwât (para periwayat) yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadis yang lebih kuat.

4)   Hadis Mu’allal

Menurut bahasa, hadis mu’allal berarti hadis yang terkena ‘illat . Para ulama memberi batasan bahwa hadis ini adalah hadis yang mengandung sebab-sebab tersembunyi, dan ‘illat yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad, matan, ataupun keduanya.

Contoh:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا

“(Rasulullah s.a.w. bersabda): “penjual dan pembeli boleh berkhiyar, selama mereka belum berpisah”.

Hadis di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan ats-Tsauri, dari ‘Amru bin Dinar, dan selanjutnya dari Ibnu Umar. Matan hadis ini sebenarnya shahih, namun setelah diteliti dengan seksama, sanadnya memiliki ‘illat. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar.

5)   Hadis Mudraj

Hadis ini memiliki pengertian hadis yang dimasuki sisipan, yang sebenarnya bukan bagian dari hadis itu.

Contoh:

أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ

“Saya adalah za’im (dan za’im itu adah penanggung jawab) bagi orang yang beriman kepadaku, dan berhijrah, dengan tempat tinggal di taman surga …” (HR Al-Bazzar dari Fadhalah bin ‘Ubaid)

Kalimat akhir dari hadis tersebut (بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ) adalah sisipan, karena tidak termasuk sabda Rasulullah s.a.w..

6)   Hadis Maqlûb

Menurut bahasa, berarti hadis yang diputarbalikkan. Para ulama menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama ar-râwiy (periwayat) dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain.

Contoh:

فَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ مِنْ شَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَمَا نَهَيْتُكُمْ فَانْتَهُوْا

“(Rasulullah s.a.w. bersabda): Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah dia; apabila aku melarang kamu dari sesuatu, maka jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu”. (Hadis Riwayat ath-Thabrani dari al-Mughirah)

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, semestinya hadis tersebut berbunyi, Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang aku larang kamu darinya, maka jauhilah ia, dan apa yang aku suruh kamu mengerjakannya, maka kerjakanlah ia sesuai dengan kesanggupan kamu”.

7)   Hadis Syadz

Secara bahasa, hadis ini berarti hadis yang ganjil. Batasan yang diberikan para ulama, hadis syadz adalah hadis yang diriwayatkan oleh ar-râwiy (periwayat) yang dipercaya, tapi hadis itu berlainan dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah ar-râwiy (periwayat) yang juga dipercaya. Hadisnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadis-hadis lain yang kuat. Keganjilan itu bisa pada sanad, pada matan, ataupun keduanya.

Contoh :

أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ الْفَاكِهِيُّ بِمَكَّةَ ثَنَا أَبُو يَحْيَى بْنُ أَبِي مَيْسَرَةَ ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِيُّ ثَنَا مُوسَى بْنُ عُلَىِّ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : يَوْمُ عَرَفَةَ وَ يَوْمُ النَّحْرِ وَ أَيَّامُ التَشْرِيْقِ عِيْدُنَا أَهْلُ الْإِسْلَامِ وَ هُنَّ أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ

(Rasulullah bersabda): “Hari ‘Arafah, hari Nahr dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya bagi umat Islam, dan hari-hari itu adalah hari-hari makan dan minum.” (HR al-Hakim dari Musa bin Ali bin Rabah)

Hadis di atas diriwayatkan oleh Musa bin Ali bin Rabah dengan sanad yang terdiri dari serentetan ar-ruwât (para periwayat) yang dipercaya, namun matn (matan/teks) hadis tersebut ternyata ganjil, jika dibandingkan dengan hadis-hadis lain yang diriwayatkan oleh ar-ruwât (para periwayat) yang juga dipercaya. Pada hadis-hadis lain tidak dijumpai ungkapan tersebut. Keganjilan hadis di atas terletak pada adanya ungkapan tersebut, dan merupakan salah satu contoh hadis syadz pada matn (matan/teks)-nya. Lawan dari hadis ini adalah hadis mahfûzh.

3.   Kehujahan Hadis Dha’if

Khusus hadis dha’if, maka para ulama hadis kelas berat semacam Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa hadis dha’if boleh digunakan, dengan beberapa syarat:

a.   Level Ke-‘dha’if’-annya Tidak Parah

Ternyata yang namanya hadis dha’if itu sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati shahih atau hasan.

Maka menurut para ulama, masih ada di antara hadis dha’if yang bisa dijadikan hujjah, asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). Hadis yang level ke-dha’if-annya tidak terlalu parah, boleh digunakan untuk perkara-perkara (perilaku-perilaku) yang memiliki nilai keutamaan (فَضَائِلُ الْأَعْمَالِ).

b. Berada di bawah Nash (Teks)Lain yang Shahih

Maksudnya hadis yang dha’if itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadhâil al-a’mâl (فَضَائِلُ الْأَعْمَالِ), harus didampingi dengan hadis lainnya. Bahkan hadis lainnya itu harus shahih. Maka tidak boleh hadis dha’if dijadikan sebagai pegangan pokok, tetapi dia (hadis dha’if tersebut) harus berada di bawah nash (teks) hadis yang shahih, atau (minimal) hasan.

  1. c.       Ketika Mengamalkannya, Tidak Boleh Meyakini Ke-Tsâbit-annya

Maksudnya, ketika kita mengamalkan hadis dha’if itu, kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah s.a.w.perbuatan atau taqrîr (ketetapan) beliau. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah s.a.w..

4        Sikap Ulama Terhadap Hadis Dha’if

Sebenarnya kalau kita mau jujur dan objektif, sikap ulama terhadap hadis dha’if itu sangat beragam. Setidaknya kami mencatat ada tiga kelompok besar dengan pandangan dan hujjah mereka masing-masing. Dan menariknya, mereka itu bukan orang sembarangan. Semuanya adalah orang-orang besar dalam bidang ilmu hadis serta para spesialis.

Maka posisi kita bukan untuk menyalahkan atau menghina salah satu kelompok itu. Sebab dibandingkan dengan mereka, kita ini bukan apa-apanya dalam konstelasi para ulama hadis.

a.   Kalangan Yang Menolak Mentah-mentah Hadis Dha’if

Namun harus kita akui bahwa di sebagian kalangan, ada juga pihak-pihak yang ngotot tetap tidak mau terima kalau hadis dha’if itu masih bisa ditoleransi.

Bagi mereka hadis dha’if itu sama sekali tidak akan dipakai untuk apa pun juga. Baik masalah keutamaan (fadhîlah), kisah-kisah, nasihat atau peringatan. Apalagi kalau sampai masalah hukum dan aqidah. Pendeknya, tidak ada tempat buat hadis dha’if di hati mereka.

Di antara mereka terdapat nama Al-Imam al-Bukhari, al-Imam Muslim, Abu Bakar al-‘Arabi, Yahya bin Ma’in, Ibnu Hazm dan lainnya. Di zaman sekarang ini, ada tokoh seperti al-Albani dan para pengikutnya.

b.   Kalangan Yang Menerima Semua Hadis Dha’if

Jangan salah, ternyata ada juga kalangan ulama yang tetap menerima semua hadis dha’if. Mereka adalah kalangan yang boleh dibilang mau menerima secara bulat setiap hadis dha’if, asal bukan hadis palsu (maudhu’). Bagi mereka, sedhai’f-dha’if-nya suatu hadis, tetap saja lebih tinggi derajatnya dari akal manusia dan logika.

Di antara para ulama yang sering disebut-sebut termasuk dalam kelompok ini antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali. Madzhab ini banyak dianut saat ini antara lain di Saudi Arabia. Selain itu juga ada nama Al-Imam Abu Daud, Ibnul Mahdi, Ibn al-Mubarak dan yang lainnya.

Al-Imam As-Suyuthi mengatakan bawa mereka berkata, bahwa bila kami meriwayatkan hadis masalah halal dan haram, kami ketatkan. Tapi bila meriwayatkan masalah fadhîlah dan sejenisnya, kami longgarkan.”

c.   Kalangan Moderat

Mereka adalah kalangan yang masih mau menerima sebagian dari hadis yang terbilang dha’if dengan syarat-syarat tertentu. Mereka adalah kebanyakan ulama, para imam madzhab yang empat serta para ulama salaf (mutaqaddimîn) dan khalaf (mutaakkkhirîn).

Syarat-syarat yang mereka ajukan untuk menerima hadis dha’if antara lain, sebagaimana diwakili oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan juga Al-Imam an-Nawawi, adalah:

1)      hadis dha’if itu tidak terlalu parah ke-dha’if-annya. Sedangkan hadis dha’if yang ar-râwiy (periwayat)-nya sampai ke tingkat pendusta, atau tertuduh sebagai pendusta, atau parah kerancuan hafalannya tetap tidak bisa diterima.

2)      hadis itu punya asal yang menaungi di bawahnya

3)      hadis itu hanya seputar masalah nasihat, kisah-kisah, atau anjuran amal tambahan. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah, juga bukan masalah hukum.

4)      ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas tsubut-nya hadis itu, melainkan hanya sekadar berhati-hati.

D. Kesimpulan

Pada materi hadis dha’if ini, dapat kita petik kesimpulan bahwa kajian ke-islaman itu sangatlah luas. Menunjukkan betapa maha kuasanya Allah dalam memberikan kepahaman terhadap hamba-hambanya.

وَاللّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yûsuf/12: 21)

Meskipun ada sebagian kaum muslimin mengingkari al-Quran dan Hadis (terlebih hadis dha’if), kita harus tetap berupaya untuk meluruskan bersama. Karena Allah SWT. berfirman :

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلاَّ ظَنًّا إَنَّ الظَّنَّ لاَ يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلَيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

 “(Dan) kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS Yûnus/10:  36).

وَ الْعَصْرِ (۱) إِنَّ الْإِنْسانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ وَتَواصَوْا بِالْحَقِّ وَتَواصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nesehat-menasihati supaya menetapi kebenaran”. (QS al-‘Ashr/103: 1-3)

Terbaginya hadis dha’if dalam dua bagian; karena gugurnya ar-râwiy (periwayat) dan atau karena cacat ar-ruwat (para periwayat) atau matn (matan/teks) semakin memudahkan kita untuk mengetahui sebab-sebab mengapa hadis-hadis menjadi dha’if, baik dari segi ar-râwiy (periwayat)-nya (orang yang meriwayatkan), sanad, maupun matn (matan/teks)-nya.

Setiap Muslim diperintahkan untuk memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islamiyyah). Kepribadian Islam itu mencakup cara berpikir islami (’aqliyyah islâmiyyah) dan pola sikap islami (nafsiyyah islamiyyah). Dengan ‘aqliyyah islâmiyyah seseorang dapat mengeluarkan keputusan hukum tentang benda, perbuatan, dan peristiwa sesuai dengan hukum-hukum syariah. Dia dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang terpuji dan mana yang tercela berdasarkan syariah Islam. Melalui ‘aqliyyah islâmiyyah seorang Muslim juga akan memiliki kesadaran dan pemikiran yang matang, mampu menyatakan ungkapan yang kuat dan tepat, serta mampu menganalisis berbagai peristiwa dengan benar. Namun, ‘aqliyyah islâmiyyah saja tidak cukup. Banyak ilmu saja tidak cukup. Tidak jarang, orang pintar bicara, pandai berdebat tentang dalil, tetapi apa yang diomongkan berbeda dengan apa yang dilakukan.

Karena itu, kepribadian Islam tidak cukup dengan ‘aqliyyah islâmiyyah melainkan harus dipadukan dengan nafsiyyah .

Dengan mengetahui Ilmu Hadis (di sini lebih dikhususkan hadis dha’if), tentu akan membuat ‘aqliyyah kita menjadi semakin terpacu untuk berpikir dan menggali pengetahuan secara lebih mendalam serta dilandasi nafsiyyah (sikap) keimanan dan ketakwaan yang mantap, termotivasi untuk terus mencari dan mengamalkannya karena pembahasan dalam makalah ini hanyalah berisi sebagian kecilnya saja.

 

DAFTAR PUSTAKA

Fadlil Said, Qawâid al-Asasiyyah Fî ‘Ilm Mushthalâh al-Hadîts, Alih Bahasa, Surabaya: Al-Hidayah, 2007.

http://www. eramuslim.com

http://ronyramadhanputra.blogspot.com/2009/04/hadis-dhaif.html

http://fastion.multiply.com/journal/item/4/Ulumul_hadis

http://onetspawn.wordpress.com/2010/04/18/pengertian-ciri-ciri-kehujahan-hadis-shahih-hasan-dhaif/

Khon, Abdul Majid., Ulumul Hadis, Jakarta: Ahzam, 2008.

Mahmud Thahhan, ‘Ulumul Hadis Studi Kompleksitas Hadis Nabi, Yogyakarta: Titian Ilahi Pres, 1997.

Mohammad Nor Ichwan, Studi Ilmu Hadis, Semarang: Rasail, 2007.

Ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi., Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999.


[1]Pengertian Mutâba’ah. Ada yang menyamakan Mutâbi’ dengan Syâhid, tetapi ada juga yang membedakan. Adapun yang membedakannya mendefinisikan pengertian mutabâ’ah atau mutâbi’ adalah suatu riwayat yang mengikuti periwayatan orang lain dari guru yang terdekat atau gurunya guru. Atau dengan pengertian hadis mutâbi’ adalah hadis yang diriwayatkan oleh periwayat lebih dari satu orang dan terletak bukan pada tingkat sahabat Nabi s.a.w.. Riwayat mutâbi’ biasanya berada pada tingkat tabi’in, oleh karenanya disebut dengan mutâbi’ kalau penguat tersebut ada pada tabi’in.
Mutâbi’ di sini biasanya menjadi penguat bagi riwayat hadis lain yang kurang kuat.

 

Pembagian Mutâba’ah, Riwayat mutâbi’ terbagi menjadi dua macam, yaitu: (1) Mutâbi’ Tâm, yaitu apabila periwayat yang lebih dari satu orang itu menerima hadis tersebut dari guru yang sama. Atau apabila periwayatan mutâbi’ itu mengikuti periwayatan guru (mutâba’ah) dari yang terdekat sampai guru yang terjauh. (2) Mutâbi’ Qashr, yaitu apabila para periwayat tersebut menerima hadis itu dari guru yang berbeda-beda atau apabila periwayatan mutâbi’  itu mengikuti periwayatan guru yang terdekat saja, tidak sampai mengikuti gurunya guru yang jauh sama sekali.

 

Pengertian Syawâhid. Riwayat syawâhid adalah riwayat lain yang diriwayakan dengan cara meriwayatkannya dengan sesuai maknanya. Ada yang mendefinisikan, syâhid adalah hadis yang periwayat di tingkat sahabat Nabi s.a.w. terdiri dari lebih seorang. Syawâhid ini pada intinya juga sebagai riwayat penguat atas riwayat yang lain, tetapi biasanya penguat tersebut ada pada tingkat sahabat.

 

Syawâhid ini terbagi menjadi dua, yaitu: (1) Syâhid bi al-Lafzh, yaitu apabila matan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang lain sesuai dengan redaksi  dan maknanya dengan hadis yang dikuatkan. (2) Syâhid bi al-Ma’nâ, yaitu apabila matn (matan/teks) hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang lain, namun hanya sesuai dengan maknanya secara umum.

[2] إن سفينة نوح طافت بالبيت , وصلت خلف المقام ركعتين

[3] ” لا يدخل ولد الزنا الجنة، ولا شيء من نسله، إلى سبعة آباء ”

[4]  من ولد له مولود فسماه محمدا تبركا به كان هو ومولوده في الجنة

[5] الأمناء عند الله ثلاث قيل من هم يا رسول الله قال جبريل وأنا ومعاوية

Tags: