HALAL-HARAM LAGU DAN MUSIK

Ada sejumlah ayat al-Quran dan hadis Nabi s.a.w. yang dapat dipahami – selintas – mengharamkan lagu dan musik. Sedangkan para ulama pun berbeda pendapat, apakah keharaman itu ada pada “dzat”nya (pada lagu dan musiknya sendiri), ‘illat (sebab yang melatarbelakanginya) atau (pada) dampak yang ditimbulkan olehnya, dalam pengertian “diharamkan” karena berdampak negatif (harâm li sad al-dzarî’ah). Dalam hal ini para ulama terpilah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama: mengharamkan secara mutlak; kelompok kedua: menenetapkan ketentuan hukumnya dengan melihat kemungkinan dampak yang diakibatkan olehnya.

Simaklah Hadis-hadis Nabi s.a. w. berikut:

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِي أَيَّامِ مِنَى تُدَفِّفَانِ وَتَضْرِبَانِ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَغَشٍّ بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا أَبُو بَكْرٍ فَكَشَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ أَيَّامُ مِنًى

Bahwasannya Abu Bakar r.a. masuk menemuinya (’Aisyah) dimana di sampingnya terdapat dua orang anak perempuan di hari Mina yang memukul duff. Adapun Nabi s.a.w. waktu itu dalam keadaan menutup wajahnya dengan bajunya. Ketika melihat hal tersebut, maka Abu Bakar membentak kedua anak perempuan tadi. Nabi s.a.w. kemudian membuka bajunya yang menutup wajahnya dan berkata : ”Biarkan mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya Mina” . Pada waktu itu adalah hari-hari Mina” [HR. Bukhari dari ‘Aisyah, no. 944].

عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ يَوْمَ بَدْرٍ حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ

Telah berkata Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz: ”Nabi s.a.w. datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (yaitu Khalid bin Dzakwaan – orang yang diajak bicara Ar-Rubayi’) dariku. Datanglah beberapa anak perempuan yang memainkan/memukul duff sambil menyebut kebaikan-kebaikan orang-orang yang terbunuh dari orang-orang tuaku pada waktu Perang Badr. Salah seorang dari mereka berkat : ”Di antara kami terdapat seorang Nabi s.a.w. yang mengetahui apa yang terjadi esok hari”. Maka Nabi s.a.w. berkata: ”Tinggalkan perkataan ini (karena perkataan anak-anak wanita tersebut tidak benar) dan ucapkanlah apa yang tadi engkau katakan (yaitu sebelum perkataan yang mengandung keharaman tadi)” [HR. Bukhari no. 4852].

Dalam beberapa kesempatan pengajian ibu-ibu dan remaja, penulis ditanya oleh para peserta pengajian tentang hukum “lagu dan musik”. Beragam jawaban sudah kami berikan kepada para ibu dan remaja. Tetapi karena sempitnya waktu, penulis tidak dapat menjawab secara rinci.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis ingin mengungkapkan beragam pendapat tentang masalah tersebut dengan sejumlah dalîl (alasan) nya, sehingga – diharapkan – para pembaca memahami kontroversi di seputar hukum lagu dan musik dalam khazanah fiqih (Islam).

Para faqîh (ulama fiqih) salaf (klasik) pada umumnya lebih bersikap keras untuk “melarang” (mengharamkan) semua jenis lagu, utamanya lagu yang diiringi alat-alat musik. Sedang para faqîh khalaf (kontemporer) pada umumnya bersikap lebih moderat dibanding para faqîh salaf , mereka (para faqîh salaf) memandang lagu dan musik merupakan masalah mu’amalah murni yang – pada dasarnya – mubâh.

Beberapa pertimbangan yang diambil oleh para faqîh ketika menetapkan status hukum lagi dan musik secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut:

Pertama: Kecenderungan Tekstual-Kontekstual dan Ikhtiyâth (Kehati-hatian)

Para faqîh berbeda — dalam menafsirkan teks-teks al-Quran dan hadis. –ada yang berkecenderungan memahaminya secara tekstual dan (ada yang berkecekenderungan memahaminya secara) kontekstual.

Kelompok tekstualis — pada umumnya – memahami bahwa teks adalah hukum itu sendiri, tanpa harus mempertimbangan ada atau tidaknya asbâb al-nuzûl (pada teks al-Quran) dan asbâb al-wurûd (pada teks hadis). Setiap teks (baik al-Quran maupun hadis) harus dipahami menurut apa yang dinyatakan olehnya. Sehingga, ketika al-Quran dan atau hadis menyatakan keharaman lagu dan musik, tidak boleh tidak harus dipahami bahwa keduanya memang “haram” secara mutlak. Mereka merujuk pada kaedah “al-‘ibrah bi ‘umûm al-lafzh, lâ bi khushûsh al-sabab” (sesuatu ungkapan harus dipahami berdasarkan pengertian umum ungkapan itu, bukan atas dasar sebab yang melatarbekangi adanya ungkapan itu).

Para faqîh salaf – di samping lebih berorientasi tekstualis — lebih banyak bersikap hati-hati (ikhtiyâth) atau bahkan cenderung (bersikap) keras. Hal ini bisa kita perhatikan dari perkembangan penjelasan fiqih dan fatwa sejak masa sahabat sampai abad pertengahan, sebelum munculnya kontroversi dari pandangan para Imam Madzhab (fiqih).

Sikap ikhtiyâth tersebut tidak hanya dimiliki oleh para faqîh salaf. Para faqîh khalaf pun mengedepankan sikap itu. Namun berbeda dalam memahami makna teks al-Quran dan hadis. Mereka – pada umumnya — memahami bahwa “teks”(baik al-Quran maupun hadis) tidak semuanya dapat dipahami menurut bunyi lafalnya. Adakalanya teks tersebut harus dipahami berdasarkan konteksnya.

Dalam kasus lagu dan musik, para faqîh khalaf memandang perlunya kontekstualisasi pemahaman atasnya. Mereka melihat bahwa teks al-Quran maupun hadis tentang lagu dan musik masing-masing memiliki asbâb al-nuzûl (pada teks al-Quran) dan asbâb al-wurûd (pada teks hadis). Bahkan dalam hal ini, mereka memandang bahwa teks al-Quran maupun hadis (tentang lagu dan musik) tersebut mengandung pesan-moral yang sangat bernilai dalam kerangka penciptaan mashlahah yang lebih luas daripada sekadar melarang lagu dan musik itu sendiri.

Oleh karena itu, menetapkan halal-haramnya lagu dan musik secara tekstual tanpa melihat ‘illât (sebab) dan maqâshid (tujuan) nya, bukan saja keliru, tetapi bisa bermakna salah-arah. Dengan merujuk pada kaedah “al-‘ibrah bi khushûsh al-sabab lâ bi ‘umûm al-lafzh” (sesuatu ungkapan harus dipahami berdasarkan kekhususan sabab nya, bukan dipahami berdasarkan pengertian umum ungkapan itu), mereka memandang bahwa lagu dan musik, sebagaimana masalah mu’amalah lainnya, pada dasarnya dapat dihukumi “mubah”. Perubahan hukum atasnya – menurut pendapat para faqîh khalaf — harus didasarkan pada ‘illat dan maqâshidnya. Sehingga, para faqîh khalaf memberikan kritik tajam terhadap pendapat para faqîh salaf yang menggeneralisasi hukum lagu dan musik tanpa melihat ‘illat dan maqâshidnya, dengan menyatakan “haram mutlak”.

Kedua: Penggunaan Hadis-hadis Dha’if

Hadis-hadis dha’if (lemah) dan bahkan maudhû’ (palsu) banyak terdapat pada kitab yang dapat dirujuk oleh para faqîh, selain bahwa tidak semua faqîh adalah para pakar hadis (khususnya krtikus hadis). Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa hadis-hadis dha’if dan bahkan maudhû’ kadang-kadang terpakai sebagai dasar hukum. Hal ini, menurut pengamatan Dr. Yusuf al-Qaradhawi — telah terjadi pada perdebatan tentang fiqih lagu dan musik. Bahkan hadis-hadis seperti itu menjadi sangat laku, terutama untuk mendukung pendapat-pendapat mereka, karena di samping ketidaktahuannya, juga – sangat dimungkinkan — karena fanatisme madzhabnya.

Para faqîh — yang pada umumnya – mengharamkan secara mutlak (hukum) lagu dan musik , menurut pengamatan Dr. Yusuf al-Qaradhawi, telah terjebak juga pada penggunaan hadis-hadis tersebut. Yang dikarenakan banyaknya pernyataan yang disandarkan pada Nabi saw (juga para sahabat), tanpa melihat keshahihan riwayatnya, mereka simpulkan bahwa lagu dan musik itu (hukumya) “haram-mutlak”, dengan seraya mengutip ayat-ayat al-Quran, antara lain: QS Luqmân, [31] 27; QS al-Qashash, [28] 32; QS al-Furqân, [25] 33; QS al-Isrâ’, [17] 34 dan QS an-Najm, [53] 35.

Ketiga: Pemaknaan Lagu dan Musik

Pada dasarnya lagu dan musik termasuk “umûr al-dunyâ” (urusan keduanian). Sebagaimana masalah mu’amalah yang lain, pada dasarnya lagu dan musik (status hukumnya) adalah “mubâh”. Tetapi, sebagaimana lazimnya sebuah karya seni, khazanah lagu dan musik dari waktu ke waktu memiliki dinamikanya sendiri. Saat ini, sejauh pengamatan penulis, mayoritas lagu dan musik sudah banyak menyimpang dan keluar dari batas etik dan moral. Inilah — menurut penulis – yang membuat para ulama mengambil sikap keras untuk melarang dan mengharamkannya Setidaknya ada sebuah realitas berkenaan dengan lagu dan musik dewasa ini, yang mempengaruhi ijtihad para faqîh. Yaitu maraknya pornografi dan pornoaksi pada industri lagu dan musik

Lagu dan musik yang mengarah pada pornografi dan pornoaksi telah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari industri musik kita, tidak terkecuali di negara kita tercinta “Indonesia”. Kehidupan nyata, bukan saja di kalangan elit, tetapi bahkan sudah merambah pada semua kalangan pecinta lagu dan musik, tenggelam dalam kelezatan duniawi, mengikuti syahwat, dan mencampuradukkan lagu dan musik dengan kemaksiatan. Bahkan aroma alkohol serta pengonsumsian narkoba sudah menjadi bagian dari keindahan lagu dan musik di beberapa tempat;. para artis (penyayi dan musisi) nya pun sudah menjadi bagain dari komoditas industri musik itu, Sehingga mendengarkan lagu dan musik – yang pada mulanya “mubâh”, dalam keadaan seperti ini dapat menimbulkan perbuatan maksiat.

Sehingga, dapat dimaklumi seandainya para faqîh menetapkan – dalam ijtihad kontemporernya – bahwa lagu dan musik idektik dengan kemaksiatan. Dan oleh karenanya dapat dihukumi “haram”. Bukan “harâm li dzâtih” tetapi “harâm li ‘illatih” atau “harâm li sad al-dzarî’ah”. Diharamkan bukan karena bukan karena dzat (lagu dan musik) nya semata-mata, tetapi karena motivasi dan atau akibat yang dapat ditimbulkan olehnya.

Meskipun sebenarnya tidak ada nash (al-Quran) maupun hadis yang shâhih al-tsubût (benar-benar otentik) sharîhud-dalâlah (jelas maknanya) yang mengharamkan lagu dan musik, pendapat ulama fiqih yang mengharamkan lagu dan musik karena pertimbangan ‘illât dan maqâshidnya dapat dipahami. Demikian juga, sendainya ada perubahan situasi dan kondisi, mungkin saja pendapat ulama fiqh tersebut bisa berubah. Mereka bisa menyatakan: mubâh, sebagaimana hukum asalnya, karena tidak adanya alasan untuk mengharamkannya.