Homeschooling:

“Menjadikan Anak Menjadi Dirinya Sendiri”

Setiap anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Dan, setiap anak sedapat mungkin memperoleh pendidikan yang layak bagi diri mereka. Namun dalam pengalaman dilapangan menunjukan bahwasanya banyak anak mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan selama bersekolah. Sebut saja, kasus Bullying, bentakan dan kekerasan dari guru bahkan pemasungan kreatifitas anak. Pengalaman-pengalaman yang kurang berkesan tersebut menimbulkan phobia terhadap sekolah (school phobia) bagi anak dan orang tua.

Kemudian, upaya penyeragaman kemampuan dan keterampilan semua anak untuk seluruh bidang turut mematikan minat dan bakat anak yang tentunya berbeda-beda, karena setiap anak adalah unik. Lebih jauh lagi, kurikulum yang terlalu padat dan tugas-tugas rumah yang menumpuk membuat kegiatan belajar menjadi suatu beban bagi sebagian anak. Melihat kondisi ini, maka perlu dicarikan solusi alternatif bagi anak-anak yang kurang cocok dengan sistem pendidikan formal, salah satu bentuknya adalah kegiatan homeschooling. Berdasarkan alasan inilah maka kami membangun komunitas sekolah yang disebut dengan fikarhomeschooling sebagai sebuah institusi pendidikan alternatif yang senantiasa memperhatikan hak anak atas pendidikan.

Sekolah Rumah (Homeschooling), Alternatif Solusi:  “Tak Seharusnya Diinstitusikan”

Pengamat pendidikan, Darmaningtyas, mengatakan, homeschooling saat ini menjadi pilihan sebagian orangtua untuk pendidikan buah hatinya. Akan tetapi, ia melihat ada sesuatu yang melenceng dari ide awal sekolah rumah ini. Menurutnya, ada kecenderungan “menginstitusikan” homeschooling sehingga berbiaya mahal dan hanya menjangkau kalangan tertentu.

Homeschooling menyimpang karena ada beberapa tokoh yang menginstitusikan itu. Sebetulnya, sesuai dengan konsep awal, homeschooling harus mampu menjadi alternatif untuk semua kalangan memperoleh akses pendidikan.

Homeschooling menyimpang karena ada beberapa tokoh yang menginstitusikan itu. Sebetulnya, sesuai dengan konsep awal, homeschooling harus mampu menjadi alternatif untuk semua kalangan memperoleh akses pendidikan. Jika kemudian lebih mahal, ini kan lucu,” kata Darmaningtyas, kepada Kompas.com, pekan lalu.

Oleh karena itu, ia menekankan, perlu dilakukan evaluasi terhadap biaya, metodologi, dan jam belajarnya. Seharusnya, kata Darmaningtyas, selain belajar, anak-anak homeschooling juga harus bersosialisasi dan membangun jaringan.

Secara terpisah, pemerhati pendidikan dan guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Arief Rachman berpendapat, harga mahal untuk homeschooling sebagai suatu hal yang sangat wajar. Menurut dia, homeschooling memerlukan tenaga pengajar yang sama ahlinya dengan sekolah formal. Ia menambahkan, homeschooling juga harus memiliki standar yang bisa mensiasati agar anak-anak homeschooling tetap bisa bersosialisasi sehingga dapat memiliki banyak teman dan dapat terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Homeschooling boleh saja, selama anak dapat mengikuti proses belajar dengan senang. Saya bukan orang yang anti homeschooling. Tapi saya pikir, mungkin saja homeschooling adalah wujud kekecewaan segelintir orang pada sistem pendidikan kita. Tetapi kita juga harus sadar, kita berada di negara yang sistemnya belum 100 persen ideal. Jika mereka kecewa, maka harus berani untuk mengambil resiko,” ujarnya.

Siapa Bilang Mahal?

Sementara itu, praktisi homeschooling, Mella Fitriansyah mengatakan, anggapan bahwa homeschooling mahal karena adanya pihak-pihak yang kemudian menyediakan tenaga pengajar untuk diundang ke rumah dan dengan kurikulum yang harus dibayar mahal. Padahal, menurut dia, esensi dari homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga.

“Kalau bisa dibilang, bimbel (bimbingan belajar) tapi menamakan diri sebagai homeschooling. Ini mengubah esensi homeschooling, yang seharusnya ditangani oleh keluarga yang lebih mengetahui pembelajaran bagi anaknya,” kata Mella, kepada Kompas.com, Kamis (11/8/2011).

Ia mengatakan, dengan mengundang guru pengajar, maka homeschooling hanya sekedar “memindahkan” proses pembelajaran dari sekolah ke rumah. “Bahkan, kadang anak-anak ini juga harus ke sekolah, misal tiga kali dalam seminggu. Padahal, homeschooling itu murah,” ujar dia.

Mella mencontohkan, banyak kurikulum homeschooling yang bisa didapatkan secara gratis di dunia maya. Beberapa juga ada yang berbayar dengan besaran yang masih terjangkau dan jauh lebih murah daripada sekolah formal.

“Ada kurikulum yang berbayar, sekitar 1 juta rupiah per tahun. Tetap lebih murah. Menjadi mahal karena banyak bimbel yang mematok biaya jutaan. Pada homeschooling, orangtua seharusnya menjadi fasilitator dan menyediakan fasilitas apa yang dibutuhkan untuk pembelajaran anaknya,” ujar ibu dua anak ini.

Homeschooling, Karena Keluarga Pusat “Tata Surya”

Keputusan menerapkan homeschooling bukanlah keputusan yang diambil dalam sekejap oleh pasangan Faizal Kamal dan Mella Fitriansyah. Mereka sudah menyiapkan jauh sebelum putra sulungnya, Aiansyah Husayn Kamal (5) lahir. Kini, Husayn, dan adiknya yang berusia tiga tahun, Aliansyah Haidar Kamal, menjalani proses pendidikan “sekolah rumah” alias homeschooling yang di-handle langsung oleh Faizal dan Mella. Apa alasan keluarga ini memilih homeschooling?

Ibaratnya, kita sudah dikasih batu atau kayu oleh Allah, dan diminta mengukirnya. Tetapi, kemudian kita menyerahkannya ke orang lain atau lembaga lain untuk mengukirnya.

Mella mengungkapkan, bukanlah sebuah awal yang mudah untuk memulainya. Pilihan homeschooling ibarat mendobrak kemapanan dan tembok sistem yang sudah berjalan selama ini. Tak membawa anak ke sekolah formal, awalnya dipertanyakan. Terutama oleh keluarga besarnya, yang berlatarbelakang pendidik. Tetapi, dengan persiapan dan kesamaan visi, Mella dan suaminya tetap menerapkan sekolah rumah kepada anak-anaknya. Prinsip dasar yang dipegang adalah keyakinan bahwa keluarga merupakan pusat “tata surya” dalam pembentukan karakter dan persiapan masa depan anak.

“Kami menganggap bahwa keluarga adalah pusat ‘tata surya’. Saat ini, kebanyakan keluarga masih menjadikan pekerjaan sebagai pusat ‘tata surya’nya. Ibaratnya, kita sudah dikasih batu atau kayu oleh Allah, dan diminta mengukirnya. Tetapi, kemudian kita menyerahkannya ke orang lain atau lembaga lain untuk mengukirnya. Aku tidak mau itu terjadi pada anak-anakku,” ujar Mella, saat dijumpai Kompas.com, Kamis (11/8/2011), di Jakarta.

Lagipula, menurutnya, homeschooling membuat hubungan antara anak dan orangtua menjadi sangat dekat. “Aku dan suami sangat get connect dengan anak-anak karena kami secara penuh meng-handle pembelajaran mereka,” katanya.

Ya, Mella dan Faizal menjadi konseptor bagi kurikulum dan pola pembelajaran yang diterapkan kepada Husayn dan Ali. Informasi mengenai kurikulum dan metode-metode homeschooling didapatkan dengan melakukan pencarian melalui dunia maya dan bertukar informasi dengan sesama keluarga homeschooling. Ada milis yang menjadi pintu informasi bagi keluarga homeschooling, yaitu milis “sekolah rumah”.

“Kita beruntung sekarang ada internet, ada facebook, jadi kita bisa bertukar cerita. Selain itu, sesama keluarga homeschooling sering berbagi informasi tentang kurikulum, yang banyak juga berasal dari luar negeri,” kisah Mella.

Kini, Mella merasa, buah perjuangannya bersama suami sudah mulai diakui. Keluarga yang tadinya mempertanyakan, sekarang mengapresiasi perkembangan Husayn dan Ali.

“Husayn belum aku ajarin baca. Ak memilih better late than early. Kalau nanti dia matang akan lebih cepat mengajarkan. Ngapain memaksakan anak, sementara itu belum umurnya. Aku enggak mau masuk dalam arus itu. tetapi, ajaibnya, meski belum diajarkan, Husayn sudah bisa membaca namanya, dan beberapa kata,” katanya.

Ia menekankan, hal yang harus diutamakan ada menanamkan skill kepada anak. Mella menilai, skill yang dikuasai sang anak akan menjadi bekalnya di masa depan. “Aku lebih menekankan anak menguasai skill yang sesuai dengan dirinya daripada memaksakannya menguasai banyak hal seperti yang berlaku di sekolah formal. Buatku, skill ini yang akan menjadi bekal hidupnya,” ujar Mella.

Sampai umur berapa Husayn dan Ali akan menjalani sekolah rumah? “Sampai mereka nanti tiba saatnya masuk kuliah,” kata dia.

Saat ini, tak ada persoalan legalitas bagi anak-anak homeschooling. Mereka yang tak menjalani sekolah formal bisa mendapatkan ijazah dengan mengikuti ujian paket A, B, dan C. Untuk persiapannya, komunitas homeschooling kerap melakukan pembekalan bersama.

“Dan percaya enggak percaya, anak-anak homeschooling lulus kok kalau mengikuti ujian ini. Jadi apa yang harus ditakutkan?,” kata Mella.

Tips Sukses “Homeschooling

Belajar apa saja yang diminati. Belajar di mana saja yang disukai. Belajar kapan saja yang diinginkan. Belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Karena belajar itu hak, bukan kewajiban. Belajar itu menyenangkan, bukan membebani.

Kata-kata di atas menjadi “penyapa”, saat Anda berkunjung ke situs web www.rumahinspirasi.com. Website ini digagas oleh Sumardiono (Aar) dan istrinya, Mira Julia (Lala). Mereka menerapkan homeschooling bagi ketiga anaknya, Yudhis (10), Tata (6), dan Duta (3). Di situs web itulah, Aar dan Lala menuangkan berbagai aktivitas belajar ketiga buah hatinya.

Lala menekankan, homeschooling bukanlah saingan sekolah formal. Bukan pula alternatif karena tak ada pilihan, tetapi sebuah pilihan yang patut dipertimbangkan. Nah, dalam perbincangan Kompas.com, dengan Aar dan Lala, Selasa (9/8/2011), terangkum sejumlah poin yang bisa diterapkan agar homeschooling yang diterapkan berjalan efektif dan membuahkan hasil yang memuaskan. Yuk, disimak!

1. Jangan Hanya ikut-ikutan tren

Beberapa orang ingin agar anaknya menempuh pendidikan secara homeschooling hanya karena tren. Jika menerapkan homeschooling karena ingin “gaya-gayaan” supaya terlihat seperti keluarga ‘eksklusif’, tentunya tidak akan sukses. Homeschooling itu pilihan dan Anda juga harus bertanggung jawab atas perkembangan anak Anda ke depannya..

2. Orangtua = Kepala Sekolah

Memilih homeschooling artinya Anda yang bertanggung jawab atas segala proses belajar anak Anda. Dengan kata lain, orangtua berada dalam posisi kepala sekolah yang mengatur jadwal dan menentukan perkembangan anak Anda dari waktu ke waktu. Ingat, Anda yang mengatur, jadi segala pilihan ada di tangan Anda. Entah mengikutkan anak ke kursus, atau Anda yang akan mengajarinya sendiri. Intinya, jangan sampai lupa dengan jadwal Anak karena sibuk kerja atau hal-hal lainnya. Kesuksesan anak homeschooling berasal dari orangtuanya.

3. Orangtua harus ikut belajar

Gagal atau suksesnya anak homeschooling berasal dari orangtua. Maka, sebagai orangtua,  Anda pun mau tidak mau harus ikut belajar. Perkaya diri Anda dengan membaca buku, atau browsing internet sehingga jika ada pertanyaan yang dilontarkan anak, Anda dapat menjelaskan kepada mereka. Jangan malu untuk belajar hal-hal seperti Matematika atau Fisika Dasar kembali, karena belajar itu proses, tidak terbatas pada umur saja.

4. Perluas jaringan dengan praktisi homeschooling lainnya

Banyak metode dan cara pembelajaran dalam homeschooling. Maka, Anda harus memperluas jaringan dengan keluarga-keluarga yang juga menerapkan homeschooling. Ikutlah milis-milis atau klub-klub yang merupakan perkumpulan dari keluarga yang menerapkan homeschooling.

Tujuannya, agar Anda dapat bertukar ide cara belajar dengan yang lain. Salah satu contoh perkumpulan homeschooling adalah Klub Oase yang dibentuk oleh Sumardiono dan Lala. Buka wawasan Anda kalau banyak cara pembelajaran di dunia ini selain yang Anda praktikkan. Jangan pelit juga berbagi dengan teman Anda jika mendapatkan trik atau pembelajaran yang sukses Anda terapkan bagi anak.

5. Manfaatkan internet sebaik-baiknya

Bahan-bahan pembelajaran untuk homeschooling dapat Anda peroleh di internet. Mulai dari Matematika, Fisika, Kimia, Geografi, bahkan belajar tentang tulang,  bisa Anda dapatkan di dunia maya. Tinggal bagaimana Anda menggunakannya dengan baik.

Carilah situs-situs yang menarik untuk bahan belajar anak Anda. Misalnya, gambar gunung 3 dimensi, atau anatomi tubuh manusia. Situs-situs ini juga bakal Anda temukan lewat teman-teman, jika Anda mengikuti tips nomor 4.

6. Pertemukan anak dengan teman-teman homeschooling lainnya

Agar anak Anda tidak bosan, ajaklah mereka untuk bertemu dengan anak-anak yang juga menjalani homeschooling. Selain menambah teman, mereka juga bisa sharing satu sama lain. Buatlah kegiatan yang menarik untuk anak Anda dan temannya seperti memasak bersama, membuat prakarya, dan lainnya.

Pendidikan adalah journey, bukan kompetisi. Pendidikan adalah perjalanan di mana Anda menemukan nilai-nilai di dalamnya. Nikmatilah proses belajar anak Anda. Dengan begini, anak-anak homeschooling juga pasti akan sukses. Bagaimana pun, pilihan ada di tangan Anda!

Konsep Homeschooling = “Qaryah Thayyibah

Seorang teman di Facebook yang baik sekali, Mbak Iim N., memberitahukan aku tentang artikel di situs majalah Ummi, yang mengangkat sebuah sekolah alternatif bernama Qaryah Thayyibah di Salatiga. Kalau masih tayang, berita itu ada di sini.

Sekolah itu tidak menggunakan kurikulum, betul-betul memberikan kebebasan penuh bagi para siswanya untuk menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Hasilnya ternyata luar biasa, anak-anak ikut memberikan solusi terhadap permasalahan di masyarakat (diceritakan mereka membangun peternakan belut untuk menyediakan makanan bergizi tetapi murah untuk orang-orang desanya), ada anak yang menerbitkan buku, ada yang belajar gitar secara otodidak sampai bisa rekaman, dan sebagainya. Sekolah itu menganut keyakinan: anak-anak harus menjadi pembelajar mandiri. Guru-guru di sana bukanlah guru yang berceramah sepanjang hari sementara anak-anak duduk diam, melainkan bersifat sebagai pembimbing atau pendamping belajar anak menuju tujuan yang diinginkan masing-masing anak itu sendiri. (Lalu bagaimana ya ijazahnya? Barangkali pakai ijazah kesetaraan yang juga dimanfaatkan keluarga homeschooling?)

Sampai di sini aku berpikir, itu kan sama persis dengan ilmu ‘homeschooling‘ yang diturunkan Pak Sumardiono, Ibu Ines Setiawan, dan Ibu Yayah Komariah dalam Seminar Homeschooling lalu?

Namun di artikel tersebut malah dituliskan begini:

Konsepnya mirip dengan homeschooling, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Pertama, homeschooling masih memiliki kurikulum dan mata pelajaran yang harus dipelajari siswa. Sedang di QT tidak ada acuan mata pelajaran. Semua siswa bebas menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Kedua, pelaksanaan homeschooling sering dikritik membatasi interaksi anak dengan orang lain. Sedangkan di QT, lingkungan sekitar dan masyarakatnya adalah ‘sekolah’ bagi siswa QT. Jadi model pendidikan alternatif dijamin tidak akan mengisolasi siswa dari lingkungannya. Justru mendorong siswa untuk terlibat aktif di lingkungannya.

Sebagai pendukung homeschooling, aku cukup sensitif kalau ada pemberitaan keliru mengenai konsep homeschooling sehingga aku menuliskan komentar di sana. Tetapi berhubung aku juga tidak tahu kapan komentar itu akan muncul, karena sepertinya disensor dulu oleh pengelola situs, aku akan menuliskan lagi tanggapanku di sini. (Lagipula kolom komentarnya kecil, aku tidak bisa menulis banyak.)

Pertama, homeschooling belum tentu memakai kurikulum. Di antara banyak metode homeschooling, ada metode tanpa kurikulum yang disebut unschooling. Metode unschooling betul-betul berpatokan pada minat anak yang bersangkutan saja. Selain itu, keluarga praktisi homeschooling juga banyak yang membangun kurikulum sendiri di sekitar minat dan bakat anak-anaknya. Dan kalaupun memakai metode school-at-home yang memakai kurikulum sekolah dan cara belajar seperti sekolah, kegiatan belajar-mengajar satu-lawan-satu yang sangat efektif itu akan menyisakan porsi waktu yang banyak untuk menggali minat dan bakat anak-anak (yang mungkin tidak terfasilitasi oleh kurikulum yang dipakai).

Kedua, homeschooling tidak membatasi interaksi anak-anak dengan lingkungan. Dalam hal ini, homeschooling sama dengan Qaryah Thayyibah, yang menggunakan lingkungan dan masyarakat sekitar sebagai lingkungan sosialisasi. Homeschooling bukan berarti orangtua mengurung anak-anaknya di dalam rumah, tanpa boleh ke mana-mana. “Diisolasi dari masyarakat…”, kok kesannya anak-anak homeschooling dikurung saja di rumah. Aku rasa orangtua homeschooling malah lebih waspada (dan sebagai orangtua mungkin ada perasaan was-was juga) yang membuat mereka dengan sadar berusaha memberikan kesempatan bersosialisasi lebih banyak dan lebih bermutu bagi anak-anak.

Aku sering berjumpa orangtua yang anak-anaknya sekolah, yang anak-anak itu tidak bisa bergaul dengan lingkungan sekitar rumahnya, dan kadang-kadang anak-anak tersebut tidak diberikan izin juga oleh orangtuanya untuk bergaul dengan tetangga dengan berbagai macam alasan. Dan barangkali dari sinilah datangnya pemikiran, bahwa kalau tidak sekolah berarti tidak bergaul.

Padahal kan, kalau homeschooling malah bebas jalan-jalan ke mana-mana (field trip), bebas berinteraksi dengan banyak orang. Coba deh ke Seminar Homeschooling kapan-kapan… bisa ketemu dengan anak-anak homeschooling yang percaya diri dan pintar-pintar.

Sebelum ini aku pernah tahu nama sekolah Qaryah Thayyibah, dari cerita Bu Guru Lea Kesuma yang menerapkan homeschooling di Salatiga. Hebat ya inisiatornya Pak Bahruddin yang berhasil mewujudkan konsep pendidikan yang dipersonalisasi menjadi suatu sekolah alternatif. Sekolah tanpa konsep sekolah.Beliau membuktikan juga, ternyata sekolah bermutu nggak perlu biaya mahal-mahal, nggak perlu berstandar internasional, bahkan nggak perlu guru-guru bersertifikasi.  Yang perlu itu kecintaan dan kepercayaan pada anak-anak.

Aku merasa kok tidak banyak ya… orangtua yang mampu percaya penuh pada anak-anaknya. Bisa jadi ada banyak orangtua meragukan konsep sekolah tanpa kurikulum itu. Mereka mungkin berpikir, akan jadi apa anakku, kalau di sekolahnya suka-suka begitu, nggak ada kurikulum yang bisa dipertanggungjawabkan, guru-gurunya nggak mengajar? Anak-anak disekolahkan kan untuk belajar yang susah-susah, bukan main-main saja… Aku pikir QT menarik bagi mereka yang meyakini konsep pendidikan mandiri dan disesuaikan untuk tiap-tiap anak, sehingga belum tentu menarik bagi semua orangtua. Seperti juga konsep homeschooling belum tentu menarik untuk semua orang.

Sekolah alternatif sangat perlu. Anak-anak perlu lebih banyak pilihan metode pendidikan selain sekolah konvensional. Tidak semua anak bisa bertumbuh kembang dengan baik dalam lingkungan sekolah konvensional. Selama ini kita juga sudah mengetahui hal itu tetapi tidak terbayang alternatif solusinya selain memaksa anak-anak untuk sekolah, cocok atau pun tidak.

Meskipun QT bisa jadi gambaran ideal sekolah, tidak semua orang bisa dengan serta merta pindah rumah ke Salatiga demi menyekolahkan anak-anak di sana, sedangkan homeschooling bisa diterapkan di mana-mana.

Homeschooling Itu Fleksibel

Homeschooling itu fleksibel. Homeschooling itu bisa menjadi seberat atau semudah yang kamu mau. Kalau kamu merasa kewalahan, kurangi beban kurikulum yang kamu pilih itu. Kalau kamu merasa kurang tantangan, ya cari tambahan kegiatan lain. Semudah itu. Sesuaikan saja kegiatan homeschooling kita dengan kondisi anak dan keluarga kita sendiri.

Jadi ketika ada seorang ibu yang curhat dengan sangat ceria bahwa dia gagal homeschooling setelah mencoba, jangan langsung percaya homeschooling itu sulit! Bukankah aneh ya, gagal kok bangga? Jangan-jangan homeschooling-nya juga cuma sebulan, dia bilang ‘sudah mencoba’? Homeschooling seperti apa yang dia coba jalankan itu? Kenapa dia tidak mencoba membuat penyesuaian, malah sangat berbahagia menghentikan homeschooling-nya begitu saja? Barangkali dari awal yang ngotot homeschooling itu hanya suaminya, sedangkan dia sendiri tidak siap mental dan ingin menggagalkan dengan segala cara?

Bobot homeschooling itu bisa disesuaikan, dan malah harus disesuaikan, dengan kondisi anak, dan faktor-faktor lain. Apakah ada ya satu-satunya cara homeschooling yang benar? Tidak ada. Orang-orang pelakunya berbeda, kondisi keluarga berbeda, pengalaman-pengalaman kita berbeda, dan… tempat yang kita tuju juga berbeda-beda. Coba saja lihat 100 blog keluarga homeschooling di satu hari yang sama, pasti ada catatan tentang 100 kegiatan belajar yang berbeda.

Kalau kamu sudah sering membantu anakmu mengerjakan PR sekolah, kamu tahu homeschooling tidak perlu menjadi lebih kompleks dari itu. Tahu nggak, kegiatan-kegiatan percobaan sains yang ada di buku teks pelajaran Sains itu? Meskipun ada sih satu-dua yang dilakukan di kelas dengan panduan guru di kelas, tetapi lebih banyak yang tidak. Bahkan besar kemungkinan tidak dilakukan sama sekali. Guru di kelas memperlakukan semua kegiatan ekstra itu sebagai “saran”, bukan kewajiban. Jadi kalau homeschooling, tidak perlu merasa bersalah kalau tidak semua kegiatan sains di buku kita lakukan.

Selama anak-anak kita terlihat bahagia dan bersemangat belajar, kita sudah berhasil. Tetap berikan lingkungan belajar terbaik yang bisa kita berikan untuk mereka, tetap berikan cinta dan perhatian yang mereka butuhkan, berdoa, dan yakinlah semua akan beres dengan sendirinya dengan seizin Yang Kuasa. Mereka tidak butuh cinta dari guru di sekolah, mereka butuh cintamu. Kalau anakmu lebih memilih bersama guru daripada ibunya, itu pertanda adanya masalah yang harus diselesaikan, bukan untuk diumumkan dengan bahagia sebagai alasan untuk ‘menggagalkan’ homeschooling. Apalagi ngajak-ngajak orang lain untuk berhenti homeschooling juga.

Selamat mencermati dan berpikir untuk memulai atau menolak sama sekali.

(Ditulis dan diselaraskan dari sekumpulan artikel dan berita, utamanya dari “Kompas” dan “Kompasiana“, untuk kepentingan diskusi internal)