Hormat Bendera, Bolehkah?

Sutardi, kepala Sekolah SMP Al-Irsyad Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, mengeluarkan pendapat yang terbilang berani. Menurutnya, mengangkat tangan untuk menghormati sang saka Merah Putih, bendera nasional Indonesia, tergolong musyrik dan tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Pendapat kepala sekolah itu pun menggelinding ke mana-mana dan mendapat respons yang beragam dari berbagai kalangan.

Sikap-sikap melecehkan simbol negara sendiri bukanlah hal baru. Salah satu yang masih lekat di lekuk ingatan kita adalah apa yang dilakukan oleh Abdur Rauf, warga Amerika keturunan Afrika (Afro-Amerika), pada Maret 1996 silam. Ia menolak berdiri ketika lagu kebangsaan Amerika diperdengarkan sebelum pertandingan bola basket NBA dimulai. Menurutnya, lagu kebangsaan Amerika-dan juga bendera nasionalnya- merepresentasikan sejarah penindasan dan perbudakan warga Amerika terhadap keturunan Afrika. Baginya, berdiri untuk menghormati simbol penindasan dan perbudakan tersebut melukai perasaannya sebagai seorang Muslim dan keturunan Afrika.

Berselang dua empat jam kemudian, Abdur Rauf meralat pendapatnya dan meminta maaf. Kendati demikian, pengelola liga basket profesional Amerika tidak bisa menoleransi dan segera menjatuhkan sanksi, yakni melarang Abdur Rauf berkiprah di liga basket Amerika. Waktu kejadian itu, Abdur Rauf bermain untuk Vancouver Grizzlies, klub basket yang bermain di kasta tertinggi liga basket Amerika (NBA). Setelah kejadian tersebut, ia hijrah dan bermain basket di Turki (Pagarah, 2011: 194-195).

Kontan saja perbuatan Abdur Rauf itu menyulut perdebatan panjang di Amerika dan berbagai negara Muslim. Di tengah pro-kontra itu, di Amerika muncul sebuah organisasi keagamaan yang menamakan dirinya SAS (The Society for Adherence of Sunnah) atau Masyarakat Taat Sunnah. Melalui sebuah fatwa, organisasi keagamaan yang dipimpin A Idris Palmer dan berpusat di Washington DC itu membenarkan sikap Abdur Rauf. Menurut SAS, Islam melarang kaum Muslim menghormati simbol-simbol non-Muslim.

Bila dicermati, wacana Islam kontemporer, terutama yang diperlihatkan kaum puritan atau Islam populer, terbuhul pada dua tema besar, yakni perlawanan terhadap segala simbol Barat/tidak Islami dan menggusur perempuan dari ranah publik. Untuk mendukung pendapatnya, mereka lebih banyak bersandar pada tradisi kenabian dan para sahabatnya ketimbang dari Alquran.

Dalam pelbagai kitab hadis, riwayat-riwayat yang melarang menggerakkan anggota tubuh kepada selain Allah SWT, berasal dari Anas ibn Malik, Abu Umamah al-Bahili, dan Abu Mijlaz. Menurut para ulama, riwayat-riwayat yang bersumber dari Anas dan Abu Umamah itu secara kualitas dan kuantitas mengidap permasalahan, yakni bertransmisi tunggal dan janggal bagi perawi tertentu.

Dalam studi hadis, riwayat seperti itu tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah-masalah mendasar, kecuali ada dukungan dari riwayat yang lebih kuat. Sementara riwayat-riwayat dari Abu Mijlaz, termasuk dalam “hadis-hadis politik” karena banyak memoles sosok Muawiyah sebagai orang yang tidak haus terhadap kekuasaan. Menurut Fazlur Rahman (1994: 113), “hadis-hadis politik”, meskipun termuat dalam kompedium Bukhari-Muslim, belum tentu benar-benar berasal dari Nabi karena sangat kecil beliau berperan dalam proses kemunculannya.

Abou El Fadl mengevaluasi suara kepengarangan Nabi dan mengidentifikasi sejauh mana peran beliau melahirkan riwayat-riwayat tersebut. Setelah melakukan evaluasi dan identifikasi, ia berkesimpulan bahwa Nabi tidak berperan dan tidak terlibat dalam proses kelahiran hadis-hadis yang melarang menggerakkan anggota tubuh kepada selain Allah SWT.

Abou El Fadl melanjutkan, andaipun riwayat-riwayat tersebut otentik, tidak serta-merta dapat diterapkan langsung dalam kehidupan. Menurutnya, setidaknya ada tiga hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, ditinjau dari struktur, terutama yang dikaitkan dengan Muawiyah, hadis tersebut ditujukan kepada pemimpin, bukan kepada bawahan. Disebutkan bahwa siapa yang senang  orang lain berdiri untuknya, ia akan celaka dan tempatnya kelak di neraka. Menurut Iman Thabari dan Iman Nawawi, hadis ini sesungguhnya meminta para pemimpin untuk bersikap rendah hati dan tidak meminta bawahannya menghormatinya secara berlebihan.

Kedua, hadis tentang larangan berdiri berkaitan dengan masalah tata krama, bukan dengan masalah ibadah. Perlu diketahui, hadis tersebut hanya terdapat dalam kompedium Turmudzi dan ditaruh dalam bab mengenai tata krama. Dengan demikian, berdiri untuk menghormati seseorang, kecuali dalam pemakaman, sebenarnya tidak termasuk dalam subjek penelitian hukum. Ringkasnya, hadis berdiri ini sesungguhnya tidak berkaitan dengan masalah hukum haram atau makruh.

Ketiga, berkaitan dengan logika hukum yang digunakan. Terlepas riwayat-riwayat tersebut termasuk kategori ibadah atau tata krama, sebenarnya ada persoalan lain yang harus dijawab, yakni dapatkah riwayat-riwayat itu dijadikan dalil bagi boleh tidaknya seseorang berdiri untuk menghormati lagu kebangsaan dan bendera nasionalnya?

Di sini akan digunakan dua penalaran hukum yang jamak digunakan dalam tradisi hukum Islam, yakni analogi berdasarkan kesamaan sebab operatifnya dan analogi berdasarkan kesamaan tujuannya. Jika diperhatikan, analogi yang digunakan dalam masalah ini tidak sama sebab operatifnya karena alasan berdiri untuk menghormati seseorang, seperti Nabi dan sahabat, tidaklah sama dengan berdiri untuk menghormati musik, lagu, ataupun bendera. Begitu juga bersujud atau membungkuk untuk menghormati seseorang tidaklah sama dengan membungkuk atau bersujud untuk menghormati lagu kebangsaan atau lagu nasional.

Selain mengkritisi dalil-dalil yang dijadikan sandaran pendapat dan memeriksa logika berpikir yang digunakan, Abou El Fadl juga membeberkan peristiwa-peristiwa ‘menggerakkan anggota tubuh kepada selain Allah SWT’ yang terjadi pada zaman Nabi. Diriwayatkan, para sahabat kerap berdiri untuk menyambut kedatangan Nabi maupun melepas kepergiannya. Nabi pun pernah menginstruksikan Bani Quraizhah berdiri menyambut kedatangan Sa’ad ibn Mu’adz.

Di samping itu, beliau pun berdiri untuk menyambut kedatangan Fatimah, ‘Ikrimah ibn Abu Sufyan, saudara sesusuannya, dan rombongan jenazah. Bahkan, dalam sebuah riwayat yang populer disebutkan Nabi berdiri ketika pemakaman perempuan Yahudi. Ketika diberi tahu bahwa yang meninggal seorang Yahudi, jawaban Nabi, “Tetapi, bukankah ia juga seorang makhluk Tuhan!”

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Yusriandi Pagarah, Pengamat Sosial-Keagamaan
Koordinator Sumpur Kudus Institute Yogyakarta, “Opini”, Republika, Senin, 13 Juni 2011)