HUKUM BERKEBUN EMAS

  Fikih Kontemporer   1 Februari 2012

HUKUM BERKEBUN EMAS

1. Pendahuluan

Manusia tidak bisa dipisahkan dari interaksi dengan manusia lainnya. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia juga melakukan transaksi dengan manusia lainnya. Salah satu fenomena yang tidak luput dari sejarah manusia adalah adanya transaksi gadai. Gadai telah dikenal manusia sejak lama. Secara sederhana gadai merupakan bentuk transaksi seseorang dengan manusia yang lain untuk meminjamkan sejumlah uang kepada orang lain yang sedang memiliki kebutuhan yang mendesak dengan memberikan jaminan atas hutangnya.

Islam sebagai agama yang syumul (baca:konprehensif) telah mengatur bagaimana seharusnya umat Islam bertransaksi dengan saudaranya, termasuk mengatur bagaimana seharusnya transaksi gadai dijalankan. Hal ini semata-mata untuk kemaslahatan umat manusia dan agar tidak ada yang terdzalimi maupun mendzalimi satu sama lain. Namun masih banyak manusia, termasuk umat Islam, yang tidak memahami bagaimana konsep gadai yang sebenarnya sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah. Atau minimal, umat Islam tidak hanya memahami konsep gadai secara umum, tidak menyeluruh.

Akibat dari tidak adanya pemahaman yang menyeluruh mengenai gadai dalam Islam ini, ada di antara manusia yang melakukan transaksi gadai dengan melanggar prinsip-prinsip syari’ah. Hal ini bahkan dilakukan oleh lembaga yang berlabel syari’ah. Salah satu fenomena yang membuat umat Islam tidak bisa menutup mata adalah gadai emas yang dalam beberapa kasus gadai emas ini beralih fungsi dan orientasi menjadi kebun emas. Gadai emas yang pada awalnya berfungsi untuk memberikan pinjaman kepada orang yang memiliki kebutuhan mendesak, kini menjadi transaksi yang memiliki fungsi investasi.

Munculnya kebun emas di tengah-tengah umat Islam tidak urung memunculkan perdebatan seputar halal-haramnya transaksi tersebut. Hal ini karena kebun emas menimbulkan permasalahan perekonomian yang cukup besar. Adanya kebun emas menyebabkan sektor riil tidak berkembang karena para penanam emas mengandalkan keuntungan dari fluktuasi harga emas.

Sebagian orang berpendapat bahwa berkebun emas halal karena tidak ada dalil yang melarangnya. Mereka juga menguatkan pendapat mereka dengan adanya fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang gadai emas.

Sebaliknya, sebagian umat Islam yang lain menyatakan praktek berkebun emas adaah haram karena mengandung unsur riba yakni dengan beberapa persen dari emas (sebagai barang gadai) untuk dibayarkan kepada bank yang menerima gadai. Selain itu berkebun emas  tidaklah sama dengan menggadai emas yang dimaksudkan oleh syariah Islam maupun fatwa MUI No. 26/DSN-MUI/III/2002 tersebut. Karena berkebun emas sudah tidak lagi membawa spirit membantu orang yang sedang membutuhkan melainkan mencari keuntungan dari berinvestasi emas. Di sisi lain, praktek berkebun emas mengandung unsur spekulasi, karena keuntungan rahin (penggadai) ditentukan oleh meningkatnya harga emas dalam tempo tertentu. Sedangkan harga emas sendiri bersifat fluktuatif, tidak dapat dipastikan.

Makalah ini akan mencoba mengkaji lebih mendalam mengenai berkebun emas yang menjadi perdebatan di kalangan umat Islam ini. Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini ialah dengan melakukan penelusuran terhadap sumber-sumber kepustakaan yang berkaitan dengan kebun emas yang kemudian dilakukan analisis sedalam mungkin sebagai upaya untuk menjawab kegelisahan umat Islam mengenai hukum berkebun emas.

2.      Pembahasan

Sejatinya, dalam proses transaksi kebun emas, masyarakat tidak menggunakan kata ‘kebun emas’, namun mereka biasa menyebutnya gadai emas. Sebagian orang menyatakan kehalalan praktek berkebun emas dengan alasan bahwa berkebun emas sama dengan gadai emas yang dalam fatwa DNS-MUI No. 26/DNS-MUI/III/2002 bahwa gadai emas adalah halal. Sebelum membahas bagaimana hukum berkebun emas, perlu dipaparkan terlebih dahulu mengenai istilah-istilah yang berkaitan dengan berkebun emas.

a.      Gadai

Definisi rahn dalam istilah syariat, dijelaskan para ulama dengan ungkapan, “Menjadikan harta benda sebagai jaminan utang, agar utang bisa dilunasi dengan jaminan tersebut, ketika si peminjam tidak mampu melunasi utangnya[1].”

Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan barang tersebut atau dari nilai barang tersebut, apabila orang yang berutang tidak mampu melunasinya[2].

Mayoritas ulama memandang bahwa rukun ar-rahn (gadai) ada empat, yaitu:

  1. Ar-rahn atau al-marhun (barang yang digadaikan).
  2. Al-marhun bih (utang).
  3. Shighah.
  4. Dua pihak yang bertransaksi, yaitu rahin (orang yang menggadaikan) dan  murtahin (pemberi utang).
  1. b.      Gadai emas

Gadai emas adalah produk bank syariah berupa fasilitas pembiayaan dengan cara memberikan utang (qardh) kepada nasabah dengan jaminan emas (perhiasan/lantakan) dalam sebuah akad gadai (rahn). Bank syariah selanjutnya mengambil upah (ujrah, fee) atas jasa penyimpanan/penitipan yang dilakukannya atas emas tersebut berdasarkan akad ijarah (jasa). Jadi, gadai emas merupakan akad rangkap (uqud murakkabah, multi-akad), yaitu gabungan akad rahn dan ijarah. (lihat Fatwa DSN MUI No 26/DSN-MUI/III/2002 tentang gadai emas)[3].

Menggadai emas sekarang sudah tidak asing lagi bagi  masyarakat. Selain bank syariah, gadai emas juga bisa dilakukan di pegadaian syariah[4].

Ketika melakukan transaksi gadai emas di pegadaian syariah, ada empat macam komponen perhitungan, antara lain taksiran, uang pinjaman, ijaroh, dan biaya administrasi.

  1. Taksiran  adalah perkiraan harga jual emas yang kita miliki yang ditentukan oleh pihak pegadaian secara sepihak.
  2. Uang pinjamana adalah jumlah dana yang bisa kita pinjam berdasarkan barang yang kita gadaikan (85%-90% dari nilai taksiran).
  3. Biaya administrasi adalah biaya yang harus kita keluarkan untuk mendapatkan transaksi gadai emas ini. Besarnya biaya administrasi tergantung dari nilai peminjaman.
  4. Ijaroh merupakan biaya gadai yang menjadi hak pihak pemilik dana, dalam hal ini adalah pihak pegadaian. Besarnya ijaroh di pegadaian syariah memiliki rumus sendiri yang dihitung setiap 10 hari, dengan rumus :

Ijaroh = (taksiran/10.000) x tarif x (jangka waktu/10 hari)

Jika sudah masuk hari ke 11 peminjaman berarti biaya gadai sudah bertambah dan begitu seterusnya.[5]

  1. c.       Riba

Riba didefinisikan sebagai tambahan atas pembayaran hutang. Dalam hal ini penggadai harus membayar uang tambahan sebagai uang pemeliharaan emas yang dititipkannya kepada bank. Riba hukumnya haram berdasarkan nash al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ umat Islam.

  1. d.      Berkebun emas

Berkebun emas pada dasarnya adalah berinvestasi emas. Yakni seseorang memiliki sejumlah dana tertentu yang kemudian uang tersebut digunakan untuk membeli emas. Emas ini kemudian digadaikan di bank dengan harapan akan mendapatkan keuntungan yang besar setelah berlalunya masa tertentu, dengan spekulasi bahwa harga emas akan naik sekian persen.

Sistem berkebun emas bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama: cara biasa, ialah berkebun emas yang dilakukan sebagai berikut:

-         Anda memiliki modal sebesar 24 juta.

-         Harga emas pergram = 360 ribu.

-         24 juta = 66,66 gram.

-         Ketika dalam satu tahun harga emas naik 30% menjadi 468 ribu pergram, maka total harga 66,66 gram x 468 ribu = 31.196.880

-         Biaya penitipan = 2.500/gram/bulan => 1 tahun=2.500 x 66,66 x 12 =

-         Keuntungan yang diperoleh oleh penggadai

=> total harga emas- (modal+biaya penitipan satu tahun)

=> 31.196.880 – (24.000.000+750.000) = 6.446.880

Cara kedua, disebut sebagai cara cerdas dalam berinvestasi emas / berkebun emas:

-         Investasi rutin 25 gram:

-         Harga emas 25 gram = 9 juta

-         Nilai gadai 80% dari harga taksir

-         Harga taksir bank 300rb/gram

-         Biaya penitipan 2500/gram/bulan

-         Beli emas batangan 25 gram, gadaikan anda dapat dana segar 6 jt. 6 juta ini diperoleh dari => Harga taksir x nilai gadai x berat emas yang dititipkan = 300rb x 80%  x 25gram = 6 juta.

-         setor biaya titipan 1 tahun, 2500x25x12 bulan=750.000

-         Posisi investasi anda menjadi:

  1.  25 gram -> 6jt, tambah 3 jt dana segar = 9jt -> beli emas lagi | 750rb -> biaya titip
  2. 25 gram

-         Kalau sudah ada dana tambahan 3.75 jt ulangi langkah diatas lagi, begitu seterusnya sesuai kebutuhan. Kalau sudah lima kali maka posisi menjadi:

1. 25 gram -> 6jt, tambah 3 jt dana segar = 9jt -> beli emas lagi | 750rb -> biaya titip

2. 25 gram -> 6jt, tambah 3 jt dana segar = 9jt -> beli emas lagi | 750rb -> biaya titip

3. 25 gram -> 6jt, tambah 3 jt dana segar = 9jt -> beli emas lagi | 750rb -> biaya titip

4. 25 gram -> 6jt, tambah 3 jt dana segar = 9jt -> beli emas lagi | 750rb -> biaya titip

5. 25 gram (disimpan)

-         Perhatikan biaya pembelian emas ke-2 dst, 2/3 modal adalah dari bank.

-         Setelah waktu berlalu, harga naik 30 persen, jadi emas batangan 25 gram sekarang nilainya 12jt, inilah saatnya seorang nasabah kebun emas panen, langkahnya cukup dibalik saja yaitu:

-         Jual emas nomor 5, maka anda mendapatkan dana segar 12 jt, dana segar ini anda pakai untuk menebus 2 emas lainnya. Ulangi sampai semua emas ditebus, dan jual semuanya.

-         Maka posisinya:

-         penjualan emas 5 x 12 jt = 60 jt

-         tebus gadai 4 x 6 jt     = 24 jt

-         sisa                     = 36 jt ——> sub total 1

-         Berapa modal anda?

-         1. beli emas pertama          =  9 jt

-         2. beli emas ke 2-5 = 3jt x 4 = 12 jt

-         3. biaya titip 750rb x 4      =  3 jt

-         total modal                   = 24 jt ——> sub total 2

-         Keuntungan anda:

-         [{sub total 1 - sub total 2 = 36 jt - 24 jt = 12 jt}

Total keuntungan dari berkebun emas dengan cara kedua lebih banyak daripada berkebun emas dengan cara pertama.

Jika dilihat dari paparan di atas, dalam praktek kebun emas, pelaku kebun emas menggunakan 2/3 modal dari bank. Kemudian ia belikan emas lagi, kemudian digadaikan lagi pada beberapa bank. Bahkan menurut Bank Indonesia skema 'kebun emas' merupakan skema gadai yang memberikan pinjaman dana sekitar 90 – 100 persen dari nilai emas itu sendiri. Uang gadai tersebut kemudian dibelikan emas lagi, kemudian digadaikan kembali pada beberapa bank[6].

Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan tampaknya sudah melihat kejanggalan atas investasi ini. Itu sebabnya, otoritas moneter dan perbankan ini secara resmi melarang adanya pembiayaan bank atas gadai emas, terutama oleh perbankan syariah. Kegiatan ini dianggap kegiatan spekulatif. Ketika harga emas turun maka nasabah tidak mau membayar biaya tambahan karena harga emas yang berfluktuasi[7].

 

PRAKTEK KEBUN EMAS DALAM PANDANGAN SYARI’AH

Melihat beberapa fakta di atas, maka unsur-unsur berkebun emas dapat dianalisis sehingga dapat diketahui hukum berkebun emas dalam kaca mata Islam.

Kebun Emas Mengandung Unsur Riba

Sejatinya yang terjadi pada berkebun emas hanyalah menghutangkan sejumlah uang, atau menghutangkan sejumlah uang dengan memberikan sejumlah bunga. Tidak diragukan itu adalah riba. Karena riba hakikatnya ialah tambahan pada suatu benda ribawi dalam proses tukar menukar barang maupun dalam hutang piutang, dengan adanya kesepakatan di awal.

Terlebih lagi bila diingat bahwa sejatinya emas dan uang adalah alat tolak ukur nilai barang, dan sebagai alat transaksi. Dengan demikian bila emas dan uang digadaikan dengan mengambil keuntungan maka itu adalah riba[8].

Dalam praktek gadai emas sebenarnya ada bunga yang diberlakukan kepada orang yang menggadaikan emasnya, meskipun dengan istilah yang berbeda, namanya mungkin biaya sewa, biaya bulanan, biaya pemeliharaan, biaya jasa penitipan dan lain-lain sebagainya. Padahal mengambil keuntungan dari pinjam-meminjam disebut riba.

Allah telah melarang riba dalam beberapa ayat al-Qur’an:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَالَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275)

 

Orang-orang yang makan (mengambil) ribatidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. al-Baqarah[2]:275)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (130)

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali Imran[3]:130)

 

Adanya Spekulasi Dalam Berkebun Emas

Dari sistem tersebut kita tahu juga bahwa ada sifat spekulasi dalam transaksi tersebut, kalau harga emas naik berarti untung, kalau harga emas turun berarti rugi, meskipun kecenderungan harga emas naik, tetapi tidak ada yang dapat memastikan akan selalu naik.

Spekulasi, keuangan dalam artian sempit yaitu termasuk membeli, memiliki, menjual, dan menjual short saham, obligasi, komoditi, mata uang, koleksi, real estate, derivatif, ataupun instrumen keuangan lainnya dengan tujuan untuk memperoleh keuantungan dari fluktuasi harga dimana pembelian tersebut bukannya untuk digunakan sendiri atau untuk memperloeh penghasilan yang timbul dari deviden atau bunga . Benjamin Graham seorang pakar analisis sekuriti memberikan definisi dari spekulasi ditinjau dari sudut investasi yaitu ” adalah investasi yang dilakukan dengan cara melakukan analisis keuangan secara seksama, menjanjikan keamanan modal dan kepuasan atas tingkat imbal hasil . Kegiatan yang tidak memenuhi prasyarat tersebut adalah merupakan tindakan spekulatif.[9]

Dalam bahasa Arab, spekulasi disebut sebagai gharar yang diterjemahkan sebagai risiko, sesuatu yang tidak pasti, atau ketidakpastian (uncertainty), sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَشْتَرُوا السَّمَكَ فِي الْمَاءِ فَإِنَّهُ غَرَرٌعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَشْتَرُوا السَّمَكَ فِي الْمَاءِ فَإِنَّهُ غَرَرٌ

Dari Abdullah Bin Mas’ud ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, Janganlah kalian membeli ikan di dalam air (laut), karena perbuatan semacam itu termasuk gharar ( tidak pasti) .” (HR. Ahmad)[10]

Yang pasti diuntungkan adalah bank, karena bank mendapatkan bunga dari transaksi tersebut. Dan pemilik emas hanya bisa menanti dari tahun ke tahun mengharap harga emas naik sambil menanggung biaya bulanan (bunga) yang harus dibayar[11].

 

Tidak berkembangnya sektor riil dengan adanya praktek kebun emas

Dalam penetapan hukum Islam, Allah telah memberi hikmah yang begitu banyak bagi manusia yang mau mengambilnya. Di balik hukum yang ditetapkan pada manusia, ada kemaslahatan yang besar bagi manusia itu sendiri. Pengambilan keputusan hukum yang berkaitan dengan muamalah tidak seharusnya hanya dilihat secara sempit, namun dikaitkan dengan efek ekonomi secara luas. Artinya, tidak sebatas  melihat dzahir dalil  nash an sich. Jika rahn kebun emas dibiarkan meluas akan berakibat pada buruknya aktifitas sektor riil. Padahal sektor riil merupakan jargon dari ekonomi syariah. Di samping itu, maksud yang terkandung dalam larangan riba adalah bahwa Allah menghendaki sektor riil hidup dan berkembang. Begitu juga dengan semangat dalam larangan penimbunan emas dan perak yang tidak ditunaikan zakatnya[12].

 

  1. 3.      Penutup

 

Dari paparan di atas, maka kita bisa  menarik beberapa kesimpulan:

  1. Rahn emas / gadai emas yang dilakukan dengan niat untuk meminjam sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhannya dan bukan untuk berinvestasi hukumnya mubah (boleh). Sedangkan jika gadai emas dilakukan karena adanya keperluan yang mendesak hukumnya menjadi sunnah. Bahkan gadai emas bisa menjadi wajib ketika seseorang sangat membutuhkan dana dan jika dana tersebut tidak didapatkan bisa berakibat fatal, dengan kata lain seseorang yang menggadaikan emasnya tersebut dalam keadaan darurat.
  2. Berkebun emas merupakan penyalahgunaan gadai emas secara fungsional dari membantu orang yang mempunyai keperluan mendesak kepada tujuan investasi yang mengandung spekulasi hukumnya haram karena melanggar prinsip-prinsip syari’ah. Wallahu a’lam.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Ain NurWS, Thalibah PUTM Yogyakarta, Ditulis dalam rangka memenuhi tugas UAS Fikih Kontemporer)


[2] ibid.

[4]http://gadaiemas.net/, akses tanggal 24 Januari 2012.

[5] http://gadaiemas.net/, akses tanggal 24 Januari 2012.

[8] http://sofianonline.com/hukum-kebun-emas , akses tanggala 20 Januari 2012.

[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Spekulasi akses tanggal 24 Januari 2012.

[10] Ahmad Bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad Bin Hanbal, (Mu’assasatu ar-Risalah, 1999), Juz 6 hlm. 197

[11] http://www.PengusahaMuslim.com akses tanggal 22 Januari 2012.

Tags: