Hukum Menelpon Lawan Jenis

 

  1. Pendahuluan

Dewasa  ini, fasilitas komunikasi sudah semakin canggih  dan mudah dijangkau berbagai kalangan baik muda tua, kaya miskin diantara alat komunikasi itu salah satunya adalah handphone (HP). Dahulu  ruang dan waktu merupakan jarak yang memisahkan antara mereka untuk berkomunikasi  namun dengan teknologi modern tersebut seolah tidak ada jarak ruang dan waktu untuk bisa membangun keakraban dalam berkomunikasi.

Pada dasarnya setiap insane ingin diperhatikan, ia akan merasa sedih, merana, dan sakit hati tatkala dirinya diacuhkan. Dan komunikasi merupakan salah satu bentuk perhatian yang mampu menghilangkan kesedihan semua itu walaupun tak semuanya begitu.

Dalam pada itu, komunikasi ternyata tidak hanya melibatkan sesama jenis insan namun ia juga melibatkan lawan jenis. Kegiatan komunikasi tidak terbatasi oleh usia, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Namun pada masa sekarang yang sering terkena sindrom komunikasi melalui hp adalah dari kalangan para remaja baik putra maupun putri.

Permasalahan yang ada dalam kenyataan ini, banyak sekali antara kaum adam dan kaum hawa dengan bebasnya berkomunikasi tanpa batas. Baik yang membicarakan tentang kebaikan ataukah yang hanya sebatas menuruti nafsu belaka.

Perbuatan seperti inilah yang perlu dikhawatirkan, karena apa? Karena secara tidak  langsung mampu menjerumuskan pada pelakunya kepada perilaku yang dapat menimbulkan fitnah bahkan zina. Ini merupakan madharat yang timbul dari komunikasi antara putra dan putri. Melihat dari sini maka perlu diperhatikan kunci solusinya adalah dengan menimbang mashlahah dan madharatnya.

 

  1. Pembahasan

Sebelum membahas mengenai bagaimanakah hukum menelpon lawan jenis maka penulis memaparkan  terlebih dahulu hal-hal yang perlu dijelaskan lebih gamblang, antaranya adalah tadi disebutkan akan menimbulkan fitnah. Fitnah apakah yang dimaksud dalam hal ini?

Makna fitnah dalam bahasa Arab tidak sama dengan fitnah dalam bahasa Indonesia. Apa yang sering disebut fitnah dalam bahasa Indonesia adalah gosip sedangkan dalam bahasa Arab makna fitnah bisa berari batu ujian, penyakit, cobaan, kesesatan serta aib.[1] Namun makna dominannya adalah ujian atau cobaan. Oleh karena itu dunia dan seisinya sering dikatakan fitnah, maksudnya adalah dunia ujian bagi manusia.[2] Tetapi yang lebih pas kaitannya dengan permasalahan ini adalah yang bermakna penyakit. Dan untuk selanjutnya fitnah akan berarti suatu hal yang perbuatan yang dilarang Allah.

Selain itu, Allah SWT juga  telah memberikan peringatan kepada kita, agar jangan sampai kita mendekati perbuatan zina. Hal ini tercantum dalam QS. Al Isra’ : 32

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kamu sekalian mendekati zina, karena sesungguhnya ia merupakan perbuatan yang keji dan sejelek-jeleknya jalan. (al Isra’ : 32)

 

Allah menggunakan laa nafi dalam ayat tersebut, dalam kajian ushul fiqih huruf laa nafi termasuk kategori an nahyu, al ashlu fi an nahyi li tahriim (pada dasarnya larangan itu untuk mengharamkan). Mendekati saja tidak boleh apalagi melakukannya, begitulah kira-kira mafhum dari ayat tersebut.

Terlepas dari haramnya perbuatan zina, berkomunikasi pada dasarnya suatu yang mubah dikarenakan dia merupakan tindakan mu’amalah. Dalam kaedahnya telah ditetapkan :

الأصل في الأشيإ الإباحة

Pada dasarnya sesuatu adalah boleh

Kaidah tersebut tidak hanya berhenti sampai disitu, karena jika hanya terpotong sampai disitu maka hal ini akan berakibat fatal. Tidak ada batasan hukum yang mengawasinya, oleh karena itu kaedah tersebut disempurnakan bahwa segala sesuatu (yang bersifat mua’malah) adalah mubah hingga ada dalil yang mengharamkannya.

Komunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahram kadang kali sangat berpotensi untuk menjerumuskan pada hal-hal yang haram, dan ini merupakan tipu daya syetan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

ما  تركت بعدي فتنة أضر علي الرجل من النساء

Tidaklah aku meninggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita. (HR. Muslim)

Pendekatan ta’lili

Sebagai permisalan, seorang anak perempuan menelpon teman lelakinya dalam waktu yang lama dan hanya membicarakan hal-hal yang sepele. Dari sini kita lihat, sebenarnya apa motif dari si anak perempuan menelphon teman lai-lakinya, setelah itu kita analisis. Jika ternyata niatnya dalam menghubungi teman laki-lakinya hanya menghabiskan bonus telephon, maka ini lebih baik dihindari. Sebab diketika illat yang mendasari ini tidak  mengandung manfaat maka sudah sebaiknya tidak usah dilaksanakan dan sebaliknya.

Lain halnya jika melakukan komunikasi antar lawan jenis, dalam rangka berda’wah pada kebaikan atau bemu’amalah yang nantinya akan berujung pada adanya kemashlahatan yang dicapai maka hal ini boleh-boleh saja,

 

Ada kaidah

للوسائل  حكم المقصد

Dalam suatu perbuatan, sebab musabab dari perbuatan tersebut pastilah ada. Dikarenakan adanya illat itu sebelum adanya hukum. Sehingga diperlukan analisa mengenai hal itu. Berkomunikasi pada dasarnya boleh saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang mubah. Hanya saja hukumnya menjadi berubah ketika illat dan  maqshodnya juga telah berubah. Misalnya saja ada seorang anak perempuan menelpon lawan  jenisnya, awalnya ia hanya berkeinginan memberitahu kabar tentang temannya yang sakit, namun lama kelamaan arah pembicaraannya mulai menjurus pada hal-hal yang tidak sesuai dengan niat pertama. Oleh karena dengan berubahnya maqshod yang ada dalam komunikasi ini maka berubah pula hukumnya yang awalnya mubah  menjadi makruh.

Begitupula dengan berubahnya illat maka berubah pula hukumnya, dikarenakan hokum berputar pada ada atau tidaknya illat. Menentukan ada atau tidaknya illat dalam suatu perbuatan tidaklah mudah, dikarenakan tidak semua perbuatan mempunyai illat oleh sebab itu marilah kita kaji pembahasan ini lebih lanjut.

Disekarang ini orang tidak bisa lepas dengan namanya komunikasi apalagi melalui handphone, semua kalangan dari yang miskin sampai yang kaya raya telah memilikinya. Karenanya tidak bisa dihindari lagi terjadinya komunikasi lawan jenis dengan mudahnya melalui alat modern ini. Namun tidak menutup kemungkinan juga semakin tersebarnya kebaikan melalui handphone ini. Yang menjadi permasalahan adalah jika alat komunikasi ini dijadikan sebagai media untuk melancarkan perbuatan yang menjerumuskan kepada hal-hal yang dilarang agama.

Menelpon lawan jenis tidak semuanya bisa dihukumi haram secara mutlak. Dikarenakan di dalamnya terdapat illat yang mempengaruhi hukumnya. Jika niatnya baik dan masih pada tahap yang dibolehkan maka hukumnya mubah. Namun jika niatnya sudah mencapai taraf kepada hal yang dilarang maka hukumnya haram. Begitu juga jika niatnya diantara yang baik namun lebih baik ditinggalkan maka hukumnya menjadi makruh.

Pendekatan ishtishlahi

Setelah dijelaskan bagaimana hukum menelpon lawan jenis melalui pendekatan ta’lili maka pada bagian ini akan diuraikan bagaimanakah hukum menelpon lawan jenis ditinjau dari mashlahah dan madharat yang akan ditimbulkan. Sebelum melakuan sebuah tindakan sebaiknya pikirkan akibat yang akan ditimbulkan setelahnya. Setiap kejadian pastilah ada hikmah yang terkandung di dalamnya. namun di sini yang diperhatikan adalah tidak hanya setelah kejadian tapi potensi yang terkandung dalam perbuatan tersebut.

Mashlahah dan madharat apakah yang ditimbulkan dari menelpon lawan jenis? Di sini akan dilihat dari waktu, siapa yang ditelpon. Sehingga lebih jelas arah pembicaraannya. Sebagai contoh seorang anak perempuan mencoba menghubungi dosennya laki-laki dimana tidak ada dosen lainnya yang dapat menolong untuk mendapatkan informasi kecuali hanya dosen tersebut. Dalam kondisi seperti ini maka anak perempuan ini akan mendapat madharat jika tidak menelpon dosen laki-laki tersebut. Melihat kasus seperti ini kebolehan menelpon lawan jenis dikarenakan menghindari madharat demi mendapatkan sebuah mashlahah yang kan diperoleh.

Jika yang ditelpon adalah bapaknya, yang mana bapak juga termasuk lawan jenis. Maka hukum dari menelpon disini adalah mubah bahkan sunnah. Dikarenakan dengan adanya komunikasi antara anak dan bapak akan menambah keakraban dan mempererat kasih sayang sehingga kemashlatan yang dapat dari adanya komunikasi ini sangat besar. Bahkan bisa jadi dengan tidak ada hubungan komunikasi melalui handphone antara anak dan bapak bisa menjadi renggang dikarenakan jarak yang memisahkannya.

Bagaimanakah jika yang ditelepon adalah teman lelakinya, bagaimanakah hukumnya? Dikarenakan sekarang ini banyak ditemukan bahwa muda-mudi menelpon satu sama lain tidak mengenal waktu. Pagi nelpon siang nepon bahkan tengah malam pun masih menelpon juga. Sungguh ironis sekali keadaan seperti, apakah hidup ini dihabiskan hanya untuk menelpon?

Menelpon setiap kapan pun dan dimana pun tidak ada hukum yang secara qath’I melarangnya, namun hal itu akan masuk ke dalam ranah etika. Jangan sampai menelpon seseorang sampai melalaikan kewajiban terhadap Allah.

 

  1. Penutup

 

Bahwa hukum menelpon lawan jenis sebenarnya tidak bisa dihukumi secara hitam putih, namun secara abu-abu. Dilihat dari segi manfaat dan madharat yang akan ditimbulkan. Diketika seorang perempuan menelpon lawan jenis untuk memberikan informasi yang baik maka hal ini boleh – boleh saja , namun harus disadari dengan adanya upaya menjaga diri dengan memperhatikan waktu ketika urusannya telah selesai maka sudah selayaknya segera diakhiri agar nantinya tidak menimbulkan fitnah.

 

(Ditulis dan diselaraskan dari tulisan Bashiroh Titik Mawarti, yang ditulis dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Fikih Kontemporer, pada PUTM Yogyakarta)


[1] AW Munawwir. Kamus Al Munawwir Arab Indonesia Terlengkap. Surabaya. Pustaka Progressif: 1997. Hal. 1033