HUKUM SMS BERHADIAH

  Fikih Kontemporer   5 Februari 2012

HUKUM SMS BERHADIAH

  1. A.     Muqaddimah

Short Message Service (SMS) berhadiah adalah suatu model pengiriman SMS mengenai berbagai masalah tertentu, yang disertai dengan janji pemberian hadiah, baik melalui undian ataupun melalui akumulasi jumlah (frekuensi) pengiriman SMS yang paling tinggi, sementara biaya pengiriman SMS di luar ketentuan normal, dan sumber hadiah tersebut berasal dari akumulasi hasil perolehan SMS dari peserta atau sebagiannya berasal dari sponsor. Pengundian hadiah di media massa (Koran, majalah), maupun media audio visual (televisi) serta kuis dalam  bentuk SMS saat ini memang sedang booming di Indonesia dan menjadi fenomena tersendiri. Hampir setiap acara yang disiarkan secara live di televisi mengikutsertakan kuis dalam bentuk SMS dan undian berhadiah di sepanjang acara. Kuis SMS seakan-akan menjadi bumbu penyedap yang menjadikan suatu acara menjadi terasa kurang lengkap tanpa adanya kuis SMS.

Penyelenggara kuis SMS berhadiah berani menawarkan hadiah dalam jumlah yang besar seperti emas, uang dan barang-barang berharga  lainnya supaya dapat menarik perhatian para pengguna telepon genggam untuk ikut berpartisipasi dalam kuis yang diselenggarakan dan kemudian pemenang akan ditentukan dengan pengundian dan metode tertentu dan pihak penyelenggara pun dapat memperoleh keuntungan dari peserta kuis tersebut.

Akan tetapi bagaimana Islam memandang persoalan tersebut? Apakah terdapat dalil- dalil dari nash yang berkaitan? Lalu apakah bertentangan dengan prinsip maqasid as-syari’ah atau sebaliknya jika dipandang dari segi maslahah dan mafsadahnya?.

Atas dasar itulah, penulis mencoba untuk memaparkan dan menganalisis masalah tersebut  dengan beberapa metode nalar seperti nalar Bayani, Ta’lili dan Istishlahi sehingga dapat menghasilkan kesimpulan hukumnya.

  1. B.     Pembahasan: Analisis Hukum
    1. 1.   Metode nalar Bayani

Dalam al-Qur’an Allah swt berfirman:

y7tRqè=t«ó¡o„ ÇÆtã ̍ôJy‚ø9$# Ύţ÷yJø9$#ur ( ö@è% !$yJÎgŠÏù ÖNøOÎ) ׎Î7Ÿ2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 !$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 štRqè=t«ó¡o„ur #sŒ$tB tbqà)ÏÿZムÈ@è% uqøÿyèø9$# 3 šÏ9ºx‹x. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbr㍩3xÿtFs? ÇËÊÒÈ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah:  yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (QS. Al-baqarah (2): 219)

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_͑ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ

 Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah (5): 90)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa perjudian merupakan dosa dan termasuk perbuatan syetan, sehingga hukumnya adalah haram.

Menurut mayoritas ulama salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, judi (al-maisir) adalah semua perkara yang melibatkan taruhan, baik melalui permainan dadu, catur, dan lain sebagainya.  Imam Malik membagi  judi (al-maisir) menjadi dua, yaitu maisir al-laghw dan maisir al-qimaar. Yang termasuk maisir al-laghw adalah catur dan permainan dadu, sedangkan maisir al-qimaar adalah semua hal yang memberikan dampak buruk kepada manusia dan semua hal yang di dalamnya melibatkan taruhan. Imam Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa al-maisir adalah al-qimaarAl-qimaar adalah mengambil harta manusia untuk dipertaruhkan, baik ia berhasil mendapatkan taruhannya atau tidak. Ibnu Qudamah, dalam kitab al-Mughniy mendefinisikan judi (al-maisir) dengan kullu la’b fiihi qimaar (setiap permainan yang di dalamnya ada taruhan).

Berbeda halnya dengan al-Rihaan. Al-rihaan adalah hadiah yang dipertaruhkan dalam suatu perlombaan. Al-rihaan diperbolehkan selama dalam persaingan atau perlombaan yang baik dan dibolehkan oleh syara’.

Hampir semua bentuk perjudian dideskripsikan dengan sejumlah fakta berikut: setiap peserta judi memasang taruhannya di atas meja judi; kemudian mereka membuat suatu permainan yang bersifat spekulatif untuk menentukan siapa di antara mereka yang berhak mengambil taruhan yang ada di meja judi tersebut. kadang-kadang perjudian tersebut melibatkan seorang bandar yang berkewajiban membayar sejumlah uang kepada peserta judi dan ia berhak mengambil uang taruhan dari peserta judi.

Berdasarkan fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam perjudian terdapat unsur-unsur berikut: (1) peserta judi saja, atau peserta judi dan bandar (2) uang taruhan yang dikumpulkan dari peserta judi, (3) undian atau spekulasi, (4) pihak yang dirugikan dan pihak yang diuntungkan.

Sama halnya dengan perjudian, SMS berhadiah termasuk  dalam konteks dua ayat di atas karena SMS berhadiah termasuk bentuk atau seni dari perjudian yang ada pada masa sekarang.

Pada umumnya, kuis SMS berhadiah diselenggarakan oleh sebuah perusahaan maupun individu-individu tertentu bekerjasama dengan operator ponsel. Selanjutnya, pihak penyelenggara mengajukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Ini ditujukan agar peserta tertarik untuk mengirim sms sebanyak-banyaknya. Setelah itu, penyelenggara kuis SMS mengundi pemenangnya dengan metode tertentu. Adakalanya peserta diberi nomor pin terlebih dahulu. Selanjutnya nomor pin diacak dan diundi untuk menentukan siapa yang berkesempatan menjawab pertanyaan dari penyelenggara kuis.  Bila ia mampu menjawab pertanyaan, ia akan mendapatkan hadiah.  Jika tidak bisa menjawab, ia gagal memperoleh hadiah.  Ada pula yang langsung mengundi pemenangnya berdasarkan nomor telepon yang masuk.
Berdasarkan fakta di atas,  dapat disimpulkan bahwa kuis SMS berhadiah melibatkan fakta-fakta berikut: (1) pengirim SMS yang berspekulasi ingin mendapatkan hadiah dari kuis SMS. (2) penyelanggara kuis SMS yang berkewajiban membayar hadiah kepada pemenang kuis, sekaligus berhak mengambil semua keuntungan yang diambil dari peserta kuis, (3) spekulasi (undian) untuk menentukan siapa pemenangnya, (4) hadiah yang diambil dari peserta kuis SMS, bukan dari pengeluaran pribadi dari penyelenggara kuis SMS, (5) ada pihak yang dirugikan, dan ada pihak yang diuntungkan.  Melihat fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa kuis SMS ini sama dengan perjudian yang dilarang oleh Islam.

SMS berhadiah yang diharamkan dapat berbentuk bisnis kegiatan kontes, kuis, olahraga, permainan (games), kompetisi dan berbagai bentuk kegiatan lainnya, yang menjanjikan hadiah yang diundi diantara para peserta pengirim SMS baik dalam bentuk materi (uang), natura, paket wisata dan lain sebagainya.

  1. 2.   Metode nalar Ta’lili

Illat dari diharamkannya perjudian selain karena dapat menyebabkan kerugian di salah satu pihak juga karena perjudian akan membiasakan seseorang tidak mau melakukan usaha dalam mencari keuntungan dan hanya menggantungkan kepada nasib. Dan ini tidak sesuai dengan syari’at Islam karena Islam mencintai dan mengajak untuk berusaha dalam mencapai hasil yang mulia.

Begitu pula dengan SMS berhadiah. Diharamkannya SMS berhadiah karena mempunyai illat yang sama dengan perjudian.

  1. 3.   Metode nalar Istishlahi

SMS berhadiah dapat menimbulkan mafsadah bagi para peserta. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kerugian di salah satu pihak karena tidak semua peserta mendapatkan hadiah yang disediakan oleh penyelenggara, bahkan hanya sedikit dari peserta yang mendapatkan hadiah tersebut sedangkan seluruh peserta sudah mengeluarkan pembayarannya.
  2. Ighra’, yaitu membuat angan-angan kosong dimana konsumen dengan sendirinya akan terus  berharap mendapatkan hadiah. Akibatnya, menimbulkan mental malas bekerja dan cukup menunggu hasil dari undian tersebut.
  3. Israf, yaitu pemborosan, dimana peserta mengeluarkan uang diluar kebutuhan yang wajar.
  4. Menimbulkan sifat konsumerisme, yaitu peserta  terus ikut berpartisipasi dalam kuis tersebut meskipun harus mengeluarkan biaya yang besar karena sebelumnya telah menjadi pemenang dengan harapan akan menjadi pemenang kembali.

Itulah di antaranya mafsadah yang timbul dari kuis SMS berhadiah tersebut. Sekalipun dari segi lain terdapat maslahah, akan tetapi mafsadah yang timbul lebih besar dari pada maslahahnya, sehingga pertimbangan mafsadah harus didahulukan dari pada maslahah Sesuai dengan kaidah dar’ul mafasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih (menolak kerusakan harus didahulukan dari pada menarik manfaat).

  1. C.     Penutup dan Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa SMS berhadiah tidak diperbolehkan baik itu dengan analisis melalui pendekatan Bayani, Ta’lili maupun Istishlahi karena dalam SMS berhadiah terdapat unsur-unsur yang ada dalam perjudian yang sudah jelas dilarang oleh syari’at. Akan tetapi hukum tersebut dikecualikan jika sama sekali tidak ada kontribusi biaya dari peserta untuk ikut undian berhadiah seperti dari pihak sponsor, maka kuis tersebut diperbolehkan.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Oleh: Nurul Sa’diah, yang ditulis dalam rangka tugas akhir Fikih Kontmporer)