HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI WANITA

  Akhlak, Fikih   30 Mei 2011

HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI WANITA

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang boleh berziarah kubur bagi laki-laki. Namun berbeda hal bila berkenaan dengan wanita. Mereka terbagi dalam tiga pendapat dalam menetapkan hukumnya:

Pertama: Makrûh, tidak haram. Demikian satu riwayat dari pendapat Al-Imam Ahmad r.a. dengan dalil hadis Ummu ‘Athiyyah r.a.:

كُنَّا نُنْهى عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا

“Kami dilarang untuk mengikuti jenazah namun tidak ditekankan terhadap kami.”

Mayoritas pengikut madzhab Syafi’iyyah dan sebagian pengikut madzhab Hanafiyyah berpendapat seperti ini.

Kedua: Mubâh tidak makrûh. Demikian pendapat mayoritas Hanafiyyah, Malikiyyah dan riwayat lain dari Al-Imam Ahmad.  Berdalil dengan:

  1. Hadis dari Buraidah r.a. yang telah disebuntukan di atas.
  2. Hadis ‘Aisyah r.a. tentang ziarah ke kubur saudara Abdurrahman bin Abi Bakar r.a..
  3. Hadis ‘Aisyah r.a. juga yang dikeluarkan Al-Imam Muslim tentang doa ziarah kubur yang diajarkan Rasulullah s.a.w. kepada ‘Aisyah ketika ia berkata: “Apa yang aku ucapkan bila menziarahi mereka wahai Rasulullah?”

Beliau mengajarkan: “Katakanlah:

السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ يَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْن

“Salam sejahtera atas penghuni negeri ini dari kalangan mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yang belakangan. Insya Allah kami akan menyusul kalian.”

4. Hadis Anas bin Malik r.a., ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ: اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِيْ. قَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّيِ فَإِنَّكَ لَمْ تُصِبْ بِمُصِيْبَتِيْ. وَلَمْ تَعْرِفْهُ. فَقِيْلَ لَهَا: إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِيْنَ فَقَالَتْ: لَمْ أَعْرِفْكَ. فَقَالَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدَمَةِ الأُولَى

“Nabi s.a.w. melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur mk Nabi pun menasehati si wanita: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.’Wanita itu menjawab dalam keadaan ia belum mengenali siapa yang menasehatinya: “Biarkan aku karena engkau tidak ditimpa musibah seperti musibahku ”Dikatakanlah kepada si wanita: “Yang menasehatimu adalah Nabi s.a.w..”Wanita itu bergegas mendatangi Nabi s.a.w. dan tidak didapati penjaga pintu di sisi Nabi s.a.w.. “Aku tadi tidak mengenalmu” kata menyampaikan uzur. Nabi s.a.w bersabda: “Hanyalah kesabaran itu pada goncangan yang pertama.”

Ketiga: Haram. Demikian pendapat sebagian pengikut madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanafiyyah serta pendapat ketiga dari Al-Imam Ahmad dan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan (muridnya) Al-’Allamah Ibnul Qayyim dengan dalil berikut:

1. Abu Hurairah r.a. berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Sesungguh Rasulullah s.a.w. melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah ke kuburan.”

Ada hadis lain yang datang tidak dalam bentuk mubâlaghah yaitu hadis Ibnu ‘Abbas r.a. ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ..

“Sesungguh Rasulullah s.a.w. melaknat wanita-wanita yang berziarah ke kuburan.”

Namun sanad hadis ini dha’if sebagaimana diterangkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam kitab Adh-Dha’îfah ketika membawakan hadis no. 225.

2. Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash r.a. berkata: “Kami mengubur mayat bersama Rasulullah s.a.w.. Setelah selesai Rasulullah s.a.w. kembali (pulang) dan kami pun pulang bersama beliau. Ketika beliau bersisian dengan pintu rumah beliau berdiri. Tiba-tiba kami melihat ada seorang wanita yang datang dan ternyata dia adalah Fathimah putri Rasulullah s.a.w.. Beliau bertanya:

مَا أَخْرَجَكِ مِنْ بَيْتِكِ يَا فَاطِمَةُ؟ قَالَتْ: أَتَيْتُ أَهْلَ هَذَا الْبَيْتِ فَتَرَحَّمْتُ إِلَيْهِمْ وَعَزَّيْتُهُمْ بِمَيِّتِهِمْ. قَال: لَعَلَّكِ بَلَغْتِ مَعَهُم الْكُدَى! قَالت: مَعَاذَ اللهِ أَنْ أَكُوْنَ بَلَغْتُهَا وَقَدْ سَمِعْتُكَ تَذْكُرُ فِي ذلِكَ مَا تَذْكُرُ! فَقَال لَها: لَوْ بَلَغْتِهَا مَعَهُم مَا رَأَيْتِ الْجَنَّةَ حَتّى يَرَاهَا جَدُّ أَبِيْكِ!

“Apa yang membuatmu keluar dari rumahmu wahai Fathimah?” “Ya Rasulullah aku mendatangi keluarga orang yang meninggal di rumah itu untuk mendoakan rahmat bagi mereka dan menghibur mereka ” jawab Fathimah. “Mungkin engkau sampai ke kuburan bersama mereka” kata Rasulullah. “Aku berlindung kepada Allah dari melakukan hal itu. Sungguh aku telah mendengar apa yang engkau sabdakan dalam masalah itu” jawab Fathimah. “Seandai engkau sampai mendatangi kuburan bersama mereka niscaya engkau tidak akan melihat surga sampai surga itu bisa dilihat oleh kakek ayahmu” sabda beliau s.a.w.”

Dalam pandangan saya, yang râjih (kuat) dari perselisihan yang ada — wallâhu a’lam — adalah pendapat yang membolehkan ziarah kubur bagi wanita, bahkan hukumnya mustahab, sebagaimana laki-laki, dengan beberapa alasan yang akan kami bawakan pada pertemuan mendatang.

Insyâ Allâh.

(Dikutip dan disempurnakan dari beberapa situs internet mengenai Kajian Keislaman, dengan beberapa modifikasi untuk kepentingan Pengajian Rutin di Masjid Margo Rahayu, Namburan Kidul, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta, pada hari Jumat Sore, tanggal 3 Juni 2011).

Tags: