IBADAH:

Antara Simbol dan Substansi

Simbol itu penting. Tetapi, yang lebih penting adalah: “substansinya”. Itulah pernyataan ‘klise’ yang selalu kita dengan. Ungkapan ini sering dinyatakan juga ketika orang berkeinginan untuk melihat kesalehan seorang. Ada kesalehan simbolik, dan ada juga kesalehan substantif. Kesalehan simbolik ada pada sesuatu yang tampak, sedangkan kesalehan substantif ada pada keseluruhan sikap dan tindakan yang dilandasi oleh keimanan dan dibalut dengan keikhlasan. Begitu juga dengan “ibadah” (al-‘ibâdah) yang digambarkan oleh para ulama sebagai wujud perpaduan antara sikap khauf (kekhawatiran atau rasa takut) dan rajâ’ (harapan), tidak mugkin hanya dipahami sebagai sesuatu yang hanya bersifat simbolik, tetapi harus menyata menjadi sesuatu yang bersifat substantif, karena ibadah merupakan perwujudan dari nilai-nilai keislaman yang hadir dalam diri setiap muslim sehingga melibatkan setiap muslim dalam ranah konsekuensial, “keadaan yang menggambarkan sejauhmana perilaku seseorang terkait dengan nilai-nilai keislamannya”.

Secara umum, hampir semua ibadah di dalam Islam terbagi dalam dua varian utama: simbol (syakl) dan substansi (jauhar). Simbol mengajarkan tentang gerakan ritual, cara, jumlah, waktu, dan tempat yang harus dilakukan dalam setiap ibadah. Sedangkan substansi mengajarkan tentang tujuan yang ada di balik gerakan ritual tersebut

Simbol syahadat adalah mengucapkan dua kalimat syahadat sedangkan substansinya adalah menyerahkan diri dengan totalitas kepada Allah. Simbol shalat adalah menggerakkan badan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. sedangkan substansinya adalah mencegah seseorang dari perbuatan mungkar dan keji. Simbol zakat adalah mengeluarkan harta sedangkan substansinya adalah peduli terhadap orang miskin. Simbol shaum adalah menahan lapar dan dahaga dari pagi hingga petang sedangkan substansinya adalah menahan syahwat, perkataan kotor, dan mengajak seorang Muslim untuk mencapai derajat takwa. Masih banyak lagi simbol dan substansi lain dalam ibadah.

Jika Islam mengajarkan simbol dan substansi dalam ibadah, lantas mana yang harus dikedepankan, simbol atau substansi? Selintas, simbol dan substansi kadang paradoks. Paradoks sering menjadi besar ketika misalnya dalam kehidupan sehari-hari kita melihat seorang Muslim yang shalat tetapi masih mengerjakan kemungkaran, berzakat tetapi apatis terhadap kezaliman sosial, dan sebagainya.

Jika kita meneliti teks-teks yang ada di dalam al-Quran dan as-Sunnah, kedua pilihan dari pertanyaan tersebut tidak baik semuanya. Karena, yang diinginkan oleh Islam adalah simbol dan substansi sekaligus. Meninggalkan simbol dan melakukan substansi saja sama dengan menciptakan ‘agama baru’. Sedangkan melakukan simbol tetapi meninggalkan substansi adalah keberagamaan sia-sia. Menurut Islam, tipe keberagamaan yang pertama adalah heresy (bid’ah), sedangkan tipe keberagamaan yang kedua adalah mendustakaan agama (QS al-Mâ’ûn, 107: 1-7). Kedua tipe keberagamaan tersebut sama-sama dikecam oleh Islam.

Simbolik versus Substantif

Meskipun Islam mengajarkan simbol, tetapi ia mengajarkan bahwa tujuan dalam beragama adalah substansi, bukan simbol. Puncak dari hal itu adalah ketika Islam mengajarkan bahwa beragama bukanlah menghadapkan jasad ke timur dan barat, tetapi beragama adalah beriman kepada Allah, malaikat, kitab suci, para Nabi, mengeluarkan harta kepada keluarga, anak yatim, dan seterusnya (QS al-Baqarah, 2: 177). Ayat ini dengan jelas mengajarkan bahwa tujuan luhur dalam beragama bukanlah simbol, tetapi substansi.

Dengan demikian, jika ada seorang Muslim yang melakukan kemungkaran dalam shalat, tidak menahan syahwat dalam shaum, tidak berakhlak baik meskipun telah haji, berarti ia telah menghilangkan dan menyia-nyiakan substansi di dalam Islam. Meskipun secara kasat mata ia patuh dalam menjalankan simbolisme ibadah ritual.

Jika kita melihat sikap keberagamaan umat Islam di zaman modern ini, hampir semuanya memberikan volume yang sangat besar ke dalam simbol. Umat Islam selalu merasa cukup jika telah melaksanakan ibadah ritual. Mereka tidak pernah melirik kembali tujuan yang ada di balik simbol ibadah. Karena lebih menitikberatkan simbol, agama pun bagaikan aktivitas rutin harian yang sangat kering. Akibatnya, agama tidak bisa mengubah individu yang saleh, keluarga yang harmonis, masyarakat yang toleran, dan negara yang tenteram. Dengan kata lain, ibadah semakin marak maksiat jalan terus.

Karena banyak yang menaruh perhatian kepada simbol, jauh-jauh hari Rasulullah s.a.w. telah ‘mewanti-wanti’ (memberi peringatan dini/warning):

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَ الْعَطَشِ, وََ كَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ.

“Banyak orang yang mengerjakan shaum (berpuasa) tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari shaum-nya kecuali hanya rasa lapar dan dahaga. Serta, banyak orang melaksanakan shalat malam tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lelah saja.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Hal ini menunjukkan bahwa banyak umat Islam yang melaksanakan ibadah ritual-simbolik tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari ibadah tersebut kecuali hanya gerakan fisik dan aktivitas rutin. Bahkan, al-Quran mengecam tipe keberagamaan seperti ini dengan sangat keras, yaitu menyebut tipe tersebut dengan sebutan ‘mendustakan agama’.

Dalam bukunya yang berjudul Ash-Shahwah al-Islâmiyyah min al-Murâhaqah ilâ ar-Ruysd (Kairo: 2000), Yusuf al-Qaradhawi menyebut keberagamaan seperti itu sebagai keberagamaan ‘anak kecil’ (al-murâhaqah). Persis seperti anak kecil yang merasa asyik dan puas dengan dunianya jika diberi mainan.

Simbolisme ibadah hanya mengajarkan gerakan fisik, sedangkan substansinya mengajarkan amalan-amalan hati. Tentu saja, yang diinginkan oleh Allah SWT bukan gerakan fisik, tetapi amalan hati. Dalam sebuah hadits dengan sangat tegas Rasulullah s.a.w. menerangkan bahwa tempat takwa adalah hati, bukan fisik (HR Muslim dan Ahmad). Bahkan, yang datang kepada Allah SWT di hari kiamat dalam keadaan selamat adalah orang yang hatinya bersih, bukan ibadahnya banyak (QS asy-Syu’arâ’, 26: 87-89). Karena, hati yang bersih adalah cermin dari ibadah yang benar, sedangkan ibadah yang banyak belum tentu menghasilkan hati yang bersih.

Untuk itulah, di hari akhir nanti, yang Allah perhatikan adalah substansi yang dipetik dari ibadah ritual, bukan simbol ibadah. Yang Allah perhatikan bukan orang yang shalat berjam-jam, zakat yang berlipat-lipat, shaum yang berlapar-lapar, haji yang berkali-kali, dan hijab yang sangat rapat. Namun, yang diperhatikan oleh Allah adalah shalat yang khusyu, zakat yang ikhlas, shaum yang menjadikan takwa, haji yang mabrur, dan hijab yang menutup aurat luar-dalam.

Kita memang harus menjaga simbol agama, karena ia adalah bukti ketaatan kita kepada Allah. Menurut Islam, menciptakan simbol ibadah adalah wewenang Allah saja. Ulama Fikih membuat sebuah kaedah bahwa dasar dalam ibadah adalah terlarang kecuali ada perintah dari Allah. Namun, menjaga simbol bukan berarti harus meninggalkan substansi yang menjadi tujuan ibadah simbolik tersebut.

(Dikutip dan dielaborasi dari artikel  Arif Munandar Riswanto. Arif Munandar Riswanto, dala “Republika”,  Jumat, 27 Oktober 2006, untuk kepentingan kajian internal)