Ilmu dan Koruptor

Rasulullah SAW bersabda: ”Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Hadis tersebut menjadi landasan akan pentingnya berilmu pengetahuan bagi manusia.Sementara dalam hadis lain disebutkan, ”Barang siapa yang menghendaki dunia maka hendaklah berbekal ilmu pengetahuan dan barang siapa yang menghendaki akhirat maka dengan ilmu. Dan, barang siapa menghendaki keduanya maka hendaklah berbekal ilmu pengetahuan.”

Dari catatan sejarah (dan tercatat dalam Alquran), Nabi Adam AS sebagai nabi pertama diberikan keistimewaan oleh Allah SWT dibandingkan makhluk lain, seperti malaikat, yakni diajari ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuannya itu, Adam lantas diamanati agar menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi. Keistimewaan itu membuat malaikat pun harus bersujud (sebagai bentuk penghormatan atas keistimewaan Adam).

Salah satu fungsi ilmu pengetahuan adalah hendaknya memberi manfaat bagi sekalian umat manusia. Ilman nafi’an (ilmu yang bermanfaat) adalah ilmu yang membuat manusia sadar akan hakikat penciptaannya. Sadar akan tanggung jawabnya, tidak saja tanggung jawab terhadap Tuhannya, tetapi juga tanggung jawab terhadap sesama manusia. Akhir-akhir ini kita sering melihat banyaknya pelaku korupsi yang dijebloskan ke penjara. Padahal, mereka adalah orang pandai yang berilmu. Lantas, bagaimana kita melihat fenomena ini? Jelaslah bahwa kemanfaatan ilmunya patut dipertanyakan.

Kelakuan koruptor berarti mencuri hak orang lain untuk menikmati haknya. Merampas anggaran negara yang sepatutnya dialokasikan untuk kemaslahatan rakyat. Ini membuat rakyat miskin tidak mampu merasakan pendidikan yang layak. Dan, masih ada efek negatif lainnya.Menjelang pergantian pemimpin nasional (pemilu) nanti, hendaknya kita lebih teliti memilih calon pemimpin yang benar-benar berilmu. Nasib 210 juta jiwa lebih penduduk Indonesia akan sangat ditentukan oleh pemimpin yang terpilih nanti.

Jadikan pemimpin yang benar-benar berilmu dan bertakwa sebagai imam bangsa ini sehingga segenap rakyat Indonesia akan terbebas dari jurang kesengsaraan dan kenistaan di antara bangsa dunia lainnya. Wallahu a’lam bisshawab.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Mujahid, “Opini”, Republika, Senin, 12 Januari 2009)