IMAN DAN NILAINYA DALAM KEHIDUPAN

1. Mukadimah

Tak diragukan lagi bahwa siapapun ingin hidup bahagia. Masing-masing dalam hidup ini mendambakan ketenangan, kedamaian, kerukunan dan kesejahteraan. Namun di manakah sebenarnya dapat kita peroleh hal itu semua?

Sesungguhnya menurut ajaran Islam, hanya iman yang disertai dengan amal shaleh yang dapat menghantarkan kita, baik sebagai individu maupun masyarakat ke arah itu.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki-laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS a-Nahl, 16: 97)

Dengan iman umat Islam generasi pendahulu mencapai kejayaan berhasil mengubah keadaan duni dari kegelapan menjadi terang benderang. Dengan iman masyarakat mereka menjadi masyarakat adil dan makmur. Para umara’ melaksanakan perintah Allah para ulama beramar ma’ruf dan nahi mungkar dan rakyat saling tolong-menolong atas kebajikan dan kebaikan. Kalimatul Haq mereka junjung tinggi tiada yang mengikat antarmereka selain tali persaudaraan iman.

Namun setelah redup cahaya iman di hati kita, lenyaplah nilai-nilai kebaikan di antara kita. Masyarakat kita pun menjadi masyarakat yang penuh dengan kebohongan, kesombongan, kekerasan, individualisme, keserakahan, kerusakan moral dan kemungkaran.

Perhatian peringatan Allah dalam QS ar-Ra’d, 13: 11,

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Tuhan tidak akan mengubah keadaan mereka, selama mereka tidak mengubah sebab-sebab kemunduran mereka, Allah sekali-kali tidak mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Maka apabila kita ingin mencapai apa yang telah dicapai para salaf apabila kita ingin mewujudkan apa yang telah dijanjikan oleh Allah SWT kepada para hambaNya yang beriman, maka hendaklah kita memperbaharui iman dan melaksanakan apa yang menjadi konsekuensinya.

Dengan memohon ma’unah Allah makalah singkat ini mencoba menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan topik tersebut di atas.

2. Pengertian Iman

Iman secara etimologis berasal dari kata âmana – yu’minu berarti tashdîq yaitu membenarkan mempercayai. Dan menurut istilah, Iman ialah “Membenarkan dengan hati diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan.”

Imam Ahmad bin Hanbal mendefinisikannya dengan “Qaulun wa amalun wa niyyatun wa tamassukun bis Sunnah.” Yakni Ucapan diiringi dengan ketulusan niat dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada Sunnah .

Sahl bin Abdullah at-Tustari ketika ditanya tentang apakah sebenarnya iman itu, beliau menjawab demikian “Qaulun wa amalun wa niyyatun wa Sunnatun.” Artinya Ucapan yang disertai dengan perbuatan diiringi dengan ketulusan niat dan dilandasi dengan Sunnah. Kata beliau selanjutnya “Sebab iman itu apabila hanya ucapan tanpa disertai perbuatan adalah kufur, apabila hanya ucapan dan perbuatan tanpa diiringi ketulusan niat adalah nifaq, sedang apabila hanya ucapan perbuatan dan ketulusan niat tanpa dilandasi dengan sunnah adalah bid’ah.

Dengan demikian iman itu bukan sekadar pengertian dan keyakinan dalam hati; bukan sekadar ikrar dengan lisan dan bukan sekadar amal perbuatan saja, tetapi hati dan jiwanya kosong. Imam Hasan Basri mengatakan “Iman itu bukanlah sekadar angan-angan dan bukan pula sekadar basa-basi dengan ucapan, akan tetapi sesuatu keyakinan yang terpatri dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

3. Posisi Dan Kedudukan Iman Dalam Dienul Islam

Iman dalam Dienul Islam menempati posisi amat penting dan strategis sekali. Karena iman adalah asas dan dasar bagi seluruh amal perbuatan manusia. Tanpa iman tidaklah sah dan diterima amal perbuatannya. Firman Allah SWT dalam QS an-Nisâ’, 4: 124,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Juga dalam QS al-Isrâ’ , 17: 19,

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia dengan mukmin, maka mereka itu dengan orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”

Disebutkan dalam hadis dari Al-Bara’ ibn ‘Azib r.a., bahwa ada seorang kafir datang dengan bertopeng sambil membawa sepotong besi kemudian memohon kepada Rasulullah SAW agar diperkenankan pergi bersama kaum Muslimin untuk ikut berperang. Maka beliau bersabda kepadanya:

أَسْلِمْ ثُمَّ قَاتِلْ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَاتَلَ فَقُتِلَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَمِلَ قَلِيلاً وَأُجِرَ كَثِيرًا.

“Masuklah Islam kemudian pergilah berperang!” Lalu iapun masuk Islam dan ikut pergi berperang sehingga terbunuh. Rasulullah SAW pun bersabda “Dia beramal sedikit tetapi dibalas dengan pahala yang banyak.” (HR al-Bukhari dari Abu Ishaq)

Disebutkannya iman dalam al-Quran lebih dari 840 kali, tiada lain menunjukkan posisi dan kedudukannya dalam Islam menurut Allah SWT.

4. Korelasi Antara Iman dan Islam

Iman dan Islam adalah dua sejoli yang tidak boleh dipisahkan. Kedua-duanya ibarat dua sisi uang logam. Tidak ada Iman tanpa Islam dan tidak ada Islam tanpa Iman. Tetapi dengan demikian bukan berarti Islam itu adalah Iman dan Iman adalah Islam.

Iman apabila disebutkan bersama-sama dengan Islam, maka menunjukkan kepada hal-hal batiniah; seperti Iman kepada Allah SWT iman kepada Malaikat iman kepada hari akhir dan seterusnya. Dan Islam apabila disebutkan bersama-sama dengan Iman, maka menunjukkan kepada hal-hal lahiriah; seperti Syahadat, shalat, puasa dan seterusnya. Dasarnya adalah QS al-Hujurât, 49: 14; Hadis Jibril riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الإِيمَانُ قَالَ « أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الآخِرِ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الإِسْلاَمُ قَالَ « الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الإِحْسَانُ قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لاَ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

“Suatu hari , ketika Rasulullah SAW sedang berada dalam kerumunan orang, datanglah seorang laki-laki dan bertanya kepadanya. Ya Rasulullah, apa yang dimakud dengan iman itu. Rasulullah pun menjawab: “Percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,, berjumpa denganNya, Rasul-rasulnya dan hari akhir”. Lalu dia bertanya lagi. Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan Islam? Rasulullah pun  menjawab, Islam ialah: beribadan kepada Allah tabnpa syirik, menegakkan shalat yang ditentukan, menunaikan zalat yang diwajibkan. Berpuasa ramadhan. Lalu laki-laki itu pun bertanya lagi. Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan Ihsan? Rasulullah pun menjawab, “Ihsan ialah: “beribadah kepada Allah seolah-olha engkau melihatNya, kalaupun engkau tidak melihatnya, maka Dia pasti melihatmu. Lalu laki-laki itu pun bertanya lagi. Ya Rasulullah, apa  kapan datangnya kimat? Rasulullah pun menjawab: “Yang bertanya lebih tahu daripada yang ditanyai”.

Namun Iman apabila disebutkan tersendiri tanpa dengan Islam maka mencakup pengertian Islam dan tidak terlepas darinya; karena iman menurut definisinya dengan keyakinan ucapan dan perbuatan. Demikian pula Islam apabila disebutkan tersendiri tanpa dengan Iman, maka mencakup pengertian Iman dan tidak boleh dipisahkan darinya. Karena Islam pada hakikatnya yaitu: “Berserah diri lahir dan batin kepada Allah SWT dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.” Dasarnya QS al-Anfâl, 8: 2 – 3,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman [maksudnya: orang yang sempurna imannya] ialah mereka yang bila disebut nama Allah [yang dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”.

QS al-Mu’minûn, 23: 1 – 9,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki [Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya].Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu [Maksudnya: zina, homoseksual, dan sebagainya], maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.

dan QS Âli-‘Imrân, 3: 19 dan 85.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab [Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum al-Quran] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi”.

5.            Konsekuensi Dan Ciri-ciri Iman

Segala pengakuan ada konsekwensinya dan mempunyai ciri-ciri yang menunjukkan kebenarannya. Demikian pula iman. Adapun konsekuensi dan ciri-cirinya antara lain:

1- Mempercayai segala yang datang dari Allah SWT dengan yakin tanpa ragu-ragu lagi.

2. Mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya melebihi dari yang lain.

3. Patuh dan tunduk kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

4. Senantiasa berhukum kepada syariat-Nya.

5. Ber-Amar Ma’ruf – Nahi Mungkar.

6. Berda’wah dan Jihad di jalan Allah SWT.

7. Walâ’ (mengikatkan diri) kepada kaum Mu’minin dan Barâ’ (Berlepas Diri) dari orang-orang kafir.

8. Ridha kepada segala takdir-Nya.

Dipublikasikan oleh Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia, dari sumber file al_islam.chm, http://blog.re.or.id/iman-dan-nilainya-dalam-kehidupan.htm, dan dipublikasikan lebih lanjut dengan beberapa modifikasi untuk keperluan kajian internal.