Indahnya Etos Kerja Ala Islam

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS at-Taubah, 9:105).

Istilah ”kerja” dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang ataupun malam, dari pagi hingga sore, terus-menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencangkup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat sekelilingnya serta negara. Dengan kata lain, orang yang bekerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain. Oleh karena itu, Al-Qur’an menggariskan golongan yang baik lagi beruntung (Al-Falâh) itu adalah orang yang banyak takwa kepada Allah, khusyu shalatnya, baik tutur katanya, memelihara pandangan dan kemaluannya serta menunaikan tanggung jawab sosialnya seperti mengeluarkan zakat dan lainnya (QS al-Mu’minûn, 23: 1-11). Nah, tentunya bagaimana kita bisa menabung pahala dengan mengeluarkan zakat dan menginfakkan harta benda kita kepada mereka yang berhak menerima jika kita tidak memiliki sumber penghasilan untuk itu?

Maka, marilah kita bersama-sama meningkatkan etos kerja kita namun tetap terfokus pada nilai-nilai Islami agar kesuksesan bisa kita peroleh secara halal dan barokah, dimana apa yang kita hasilkan dari pekerjaan mampu memberi manfaat bagi kita dan orang lain.

Simak saja kisah teladan berikut:

Suatu hari Rasulullah SAW. berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. ”Kenapa tanganmu?” tanya Rasul kepada Sa’ad. ”Wahai Rasullullah,” jawab Sa’ad, ”Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, ”Inilah tangan yang yang tidak akan pernah tersentuh api neraka”.

Dalam kisah lain disebutkan :

Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasullullah SAW. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya: ”Wahai Rasullullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabillillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab: ”Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabillillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabillillah.” (HR. Ath-Thabrani).

Dua kisah tersebut bisa kita petik hikmahnya, bahwa alangkah mulianya ketika seseorang bekerja bukan mengejar kekuasaan, hawa nafsu, namun sebagai bekal yang halal untuk penghidupan keluarganya agar mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Pun begitu, Islam juga menganjurkan agar umatnya bekerja dengan memiliki target dan tujuan, karena kesuksesan orang lain tergantung dari usahanya sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

… إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ …

”… sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib manusia sebelum mereka mengubah apa yang ada pada dirinya…” (QS ar-Ra’d, 13:11).

وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

”Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS an-Najm, 53: 39).

Nah, lantas apa sajakah rahasia kesuksesan karier dan pekerjaan Rasullullah SAW yang bisa kita teladani di dunia pekerjaan kita?

1. Bekerja dengan cara yang terbaik dan professional, seperti sabda beliau: ”Sesungguhnya Allah menginginkan jika salah seorang darimu bekerja, maka hendaklah meningkatkan kualitasnya”.
2. Memiliki manajemen yang baik, perencanaan yang jelas dan bertahap, serta memiliki skala prioritas sehingga meminimalisir kesalahan yang berakibat fatal.
3. Tidak menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun. ”Barang siapa yang dibukakan pintu kebaikan, hendaknya dia mampu memanfaatkannya, karena ia tahu kapan ditutupkan kepadanya,” demikian sabda beliau.
4. Memperhitungkan masa depan (visioner) sehingga proses pekerjaan terarah dan terfokus.
5. Rasul tidak pernah menangguhkan pekerjaan. Beliau bekerja secara tuntas dan berkualitas.
6. Rasul bekerja secara berjamaah / tim yang solid.
7. Rasul adalah pribadi yang sangat menghargai waktu.

Selain itu, untuk mencapai kesuksesan kerja, hendaknya kita meneladani beberapa sifat berikut :

  1. Shiddiq, jujur pada diri sendiri dan orang lain. Dalam hal ini, kita berani mengakui kesalahan dan berkomitmen tidak mengulanginya.
  2. Istiqomah, dimana konsisten dan teguh pada tujuan bekerja, yaitu untuk menjadi pribadi mandiri dan sanggup mencukupi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungan dengan cara-cara kebajikan dan mendasari niat bekerja untuk beribadah.
  3. Fathanah, cerdas dalam melihat potensi diri serta menangkap peluang yang ada tanpa meremehkan hal sekecil apapun.
  4. Amanah, dimana sanggup mengemban kepercayaan dan menjalankan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya tanpa mengutamakan keserakahan mencari keuntungan pribadi karena akan menjadi senjata makan tuan bagi dirinya.
  5. Tabligh, dimana ketika seseorang berada di posisi pemimpin, maka ketika bekerja dengan tim, bisa mengaplikasikan semboyan ki hajar dewantara :  ing ngarsa sung tuloadha (mampu member contoh kinerja yang baik), ing madya mangun karsa (bekerja dengan solid dan mampu menyatukan ide dan inisiatif dengan bawahan atau rekannya), serta tut wuri handayani (bisa mendorong motivasi dan semangat kerja bawahannya).

Demikian, kiranya semoga ulasan di atas mampu meningkatkan etos kerja dan senantiasa menjadikan pekerjaan kita mendapat barokah dari Allah SWT.

Âmîn.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Lia Istifhama, S.Sos, S.H.I, dalam http://masjidchenghoo.org/?cat=11)