Indonesia, My Beloved Country; “Don’t Fear, Nothing is Impossible!

Pada awal tulisan ini saya mengajak pembaca untuk memejamkan mata sejenak, tarik nafas dalam-dalam, kosongkan pikiran dan coba kembalilah pada kehidupan Anda di masa-masa yang lalu. Tengoklah ke belakang, 5, 10, 20 atau 30 tahun yang lalu. Bayangkan saat itu ibu bapak Anda bercerita tentang seputar Indonesia tercinta. Apa persepsi Anda tentang Indonesia saat itu?

Sekedar mengingat-ingat masa lalu yang mungkin saat ini masih terngiang. Hampir setiap kesempatan kita disuguhi dengan cerita-cerita indah nan memukau seputar Indonesia, tanah air tercinta. Saat menjelang tidur ibu bapak kita senantiasa menyajikan cerita pengantar tidur yang membuat terlena, bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya, subur dan makmur. Indonesia memiliki aneka hasil tambang yang berlimpah yang bisa digunakan sepanjang masa, mulai dari emas, perak, tembaga, bijih besi, timah, nikel, bauksit dan sejenisnya. Indonesia memiliki aneka obyek wisata yang menjanjikan keindahan dan kesejukan. Indonesia memiliki lautan yang sangat luas yang didalamnya terkandung berbagai hasil laut yang bernilai seperti mutiara, permata, ikan, udang, tiram, rumput laut dan semacamnya. Bumi Indonesia diliputi hutan-hutan dan aneka tumbuh-tumbuhan yang menghijau membentang dari sabang sampai merauke.

Tidak hanya itu, dalam dokumen-dokumen pendidikan di sekolah-sekolah pun kita menemukan informasi-informasi semisal yang membenarkan cerita ibu bapak kita tersebut. Semasa itu kita pasti hafal istilah zamrud khatulistiwa. Sebuah istilah untuk menggambarkan betapa indah dan kayanya nusantara. Kita juga kenal istilah negara kepulauan untuk penyebutan Indonesia karena memang secara geografis memiliki ribuan pulau. Setidaknya ada sekitar 17.504 buah pulau yang terdiri dari 7.870 pulau telah memiliki nama dan 9.634 pulau belum bernama . Saat itu tentunya tidak asing bagi kita sebuah lagu nasional karya R.Suharjo, Dari sabang sampai merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia. Ada lagi istilah yang sangat akrab kita dengar yaitu negara maritim yang biasa juga kita sebut negara kelautan, karena secara geografis Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas yaitu 3.257.483 km² atau 12 mil zona resmi diukur dari batas daratan Indonesia yang luasnya 1.922.570 km². Satu lagi istilah yang paling mudah “dipolitisir”, yaitu negara agraris yang menggambarkan bahwa Indonesia merupakan wilayah potensial untuk mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan.

Sekarang mari kita kembalikan memori kita pada kondisi saat ini. Benarkah Indonesia memang seperti cerita-cerita tersebut? Jika Anda menjawab salah, berarti cerita-cerita orang tua dan guru-guru kita tersebut adalah kebohongan belaka. Berarti ada kesalahan fatal dalam buku-buku referensi pendidikan di sekolah-sekolah. Jika Anda menjawab benar, tapi mengapa sekarang kita lihat Indonesia tidak seindah dalam cerita-cerita tersebut. Justru kita lihat banyak ketimpangan di sana sini. Kemiskinan dan kelaparan terjadi di mana-mana. Pengangguran telah menjadi pekerjaan tetap. Perkampungan kumuh kita jumpai di mana-mana. Hutan-hutan telah menjadi gundul. Sehingga jangan heran jika ada istilah yang sangat kontras, Kemiskinan di Zamrud Khatulistiwa

Kemana perginya keindahan aliran sungai dan samudra yang bernyanyi riang memecah kesunyian? Kemanakah gerangan bersembunyinya mutiara dan permata yang tersimpan di dasar samudra? Kemanakah gerangan larinya emas, perak, intan, tembaga dan teman-temannya dari bumi Indonesia? Kemanakah menghilangnya tanah-tanah yang subur? Kemana pula pudarnya warna hijau bumi Indonesia?. Masih pantaskah Indonesia mendapat gelar zamrud khatulistiwa?

Ironis, mungkin itulah yang terjadi dengan Indonesia saat ini. Namun bukan berarti tidak akan pernah ada perbaikan di bumi Indonesia. Kita semua yang adalah agen perbaikan itu, termasuk yang saat ini sedang membaca tulisan ini. Ada beberapa prinsif yang mesti kita tanamkan dalam diri kita dan generasi yang akan datang untuk meretas perbaikan di bumi Indinesia. Setidaknya ada tiga prinsif yang efektif, yaitu keyakinan, perubahan dan kesungguhan.

1. Keyakinan (belief)

Keyakinan adalah sumber kekuatan yang tiada batas (unlimited power) dalam diri setiap manusia. Dengan keyakinan yang mantap seseorang bisa melakukan apa saja sesuai apa yang diyakini tersebut. Bahkan hanya karena keyakinan seseorang rela mengorbankan apa saja yang dimiliki termasuk jiwanya. Keyakinan mutlak diperlukan pertama kali dalam mewujudkan perbaikan di bumi Indonesia. Sebab, keyakinan akan menumbuhkan rasa percaya diri (confidence) yang akan mengantarkan pada terpupuknya tekat dan semangat juang (spirit) yang terus berkobar.

Indonesia saat ini memiliki jutaan manusia yang potensial untuk perbaikan. Hanya saja potensi mereka masih belum ”dimunculkan”. Mereka laksana singa yang masih tertidur. Untuk membangunkan singa tersebut tidak mudah, perlu power yang besar. Pertama, harus diyakini bahwa kita adalah bangsa yang merdeka baik secara fisik maupun mental. Kemerdekaan yang kita miliki bukan hanya sekedar kamuflase, tetapi sebuah kekuatan yang dahsyat. Keyakinan akan kemerdekaan harus bisa menumbuhkan semangat untuk senantiasa melawan segala bentuk penjajahan, berupa penjajahan ideologi, politik, ekonomi kapitalis, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Kita adalah bangsa yang merdeka, yang mempunyai kedudukan sejajar dengan negara-negara besar semisal Amerika, German, Inggris, Belanda, Jepang dan lainnya. Oleh karena itu tidak ada alasan sedikitpun bagi bangsa Indonesia mengorbankan kemerdekaan demi keuntungan para kapitalis dunia.

Kedua, kita harus yakin bahwa bangsa Indonesia mempunyai potensi yang sangat luar biasa, baik potensi sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Semua potensi tersebut adalah asset yang tidak boleh kita gadaikan untuk mengeruk keuntungan semu (apparent profit) dengan mengorbankan masa depan bangsa dan negara. Maka dari itu tidak dibenarkan bagi bangsa Indonesia melakukan pengkerdilan ilmuwan, penjualan aset-aset strategis negara, eksploitasi tenaga-tenaga kerja wanita dan pembodohan masyarakat. Kita harus percaya diri dengan potensi yang kita miliki untuk kemudian mengoptimalkannya untuk menyongsong perbaikan Indonesia.

Ketiga, harus diyakinkan dalam diri bahwa tiada yang mustahil di dunia ini (nothing is impossible). Oleh karena itu jangan sekali-kali takut untuk ”bermimpi”, don’t fear to dream, karena boleh jadi mimpi tersebut tidak mustahil akan terwujud. Mari kita senantiasa memimpikan Indonesia ke depan yang lebih baik.

2. Perubahan (change)

Ada sebuah ungkapan yang cukup menarik untuk kita renungkan. ”Setiap perubahan tidak selalu menuju pada perbaikan, tetapi setiap perbaikan dimulai dari perubahan”. Perubahan ke arah yang lebih baik, itulah yang kita harapkan untuk bangsa ini. Bukan justru perubahan ke arah yang lebih buruk dari saat ini. Mungkinkah itu bisa terwujud? Jawabnya sangat mungkin karena nothing is impossible. Hanya saja, apa peran yang bisa kita sumbangkan untuk perbaikan tersebut? Akankah kita jadi ”pemain” atau cukup sebagai ”penonton”? Itu pilihan dan kita bebas memilihnya.

Kembali ke permasalahan, bahwa perbaikan Indonesia yang kita cita-citakan senantiasa dimulai dari perubahan. Jika kita telah membulatkan tekat memilih menjadi pemain, maka tidak boleh tidak kita harus melakukan perubahan. Langkah pertama untuk melakukan perubahan adalah dengan memperbaiki paradigma berpikir, menggeser atau bahkan merubahnya. Kebanyakan kita berpandangan bahwa memperbaiki negeri ini adalah tugas pemerintah saja bukan tugas kita. Inilah paradigma yang salah, yang mesti kita geser. Perbaikan negeri ini adalah tugas kita semua karena itu merupakan percerminan dari cinta tanah air. Bukankah cinta tanah air adalah bagian dari iman?

Ada juga sebagian kita yang memandang bahwa selamanya Indonesia tidak akan pernah bisa diperbaiki, tidak ada harapan lagi untuk kejayaan Indonesia. Siapa yang bilang? Ada lagi yang senantiasa puas dengan ”kenyamanan” semu yang mereka rasakan saat ini sehingga tidak ada kemauan untuk merubah diri padahal sebenarnya mereka tertekan kebebasannya. Paradigma-paradigma semacam itulah yang saat ini membelenggu bangsa kita sehingga perbaikan yang diimpikan menjadi semakin jauh.

Langkah berikutnya adalah adanya kemauan menerima perbedaan. Kita sadar bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, suku dan ras. Itu semua adalah perbedaan yang riil kita temui di sekitar kita. Perbedaan itu ada bukan untuk saling menjelekkan atau mengunggulkan kelompoknya masing-masing, tetapi perbedaan yang ada justru untuk dianyam menjadi ikatan yang kokoh untuk mewujudkan perbaikan di bumi Indonesia. Tidak ada tempat bagi nurani kita memperturutkan nafsu keangkuhan dan menganggap diri kita yang paling benar. Jika perbedaan yang ada tidak bisa kita terima secara sadar maka sampai kapanpun perubahan tidak akan pernah terwujud, apalagi perbaikan Indonesia.

3. Kesungguhan (seriousness)

Setelah keyakinan dan perubahan menyatu dalam diri (build-in) maka harus ditopang dengan kesungguhan (seriousness). Keyakinan tanpa perubahan adalah sebuah angan-angan kosong. Sedangkan keyakinan dan perubahan tanpa adanya kesungguhan adalah laksanan sebuah kesia-siaan yang akan hilang di tengah jalan. Jalan kita menuju perbaikan amatlah panjang. Diperlukan kesungguhan yang tinggi untuk meraihnya.

Sebagai bangsa Indonesia yang senantiasa menghendaki perbaikan, maka sudah sepantasnya kita bersungguh-sungguh ikut menjadi ”pemain” dalam mengupayakan perbaikan tersebut. Kesungguhan bisa kita mulai dari hal-hal yang kecil yang ada disekitar kita. Kesungguhan memperbaiki diri, memperbaiki keluarga dan mendidik anak adalah bagian dari proyek besar perbaikan Indonesia ke depan. Kemudian dilanjutkan sedikit-demi sedikit memperbaiki masyarakat, bangsa dan negara. Tugas kita sebagai generasi muda masih sangat banyak. Diantaranya, menghijaukan bumi Indonesia dari kegersangan, menjaga mutiara dan permata di lautan Indonesai yang luas terbantang, mengembalikan hasil-hasil tambang bumi Indonesai untuk kemakmuran rakyat Indonesia bukan untuk para penjajah ekonomi, menyuburkan kembali tanah-tanah pertanian dan mengembalikannya kepada para petani agar mereka bahagia dengannya, mengembalikan aset-aset strategis negara yang saat ini pergi entah kemana, mengembalikan gelar Indonesia menjadi zamrud khatulistiwa. Sehingga tiada lagi kita dengar adanya kemiskinan di zamrud khatulistiwa.

Keyakinan, perubahan dan kesungguhan itulah modal dasar kita untuk mewujudkan perbaikan di negeri ini. Mari kita bulatkan tekat, eratkan tangan, satukan langkah menuju mimpi besar kita, INDONESIA ADIL SEJAHTERA

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Multazimah, January 28, 2009, http://multazimah.blogsome.com/)