Integritas, Apa Itu?

Saya – saat ini – sedang asyik membaca buku-buku Tasawuf, yang oleh sebagian orang dicurigai sebagai buku-buku yang berpotensi ‘menyesatkan’. Tetapi, justeru karena ‘stigma’ itulah saya menjadi semakin penasaran untuk membacanya. Dan di antara sekian banyak tema yang ada di dalam buku itu, tema yang sedang saya cermati adalah tema: ‘jujur dan istiqâmah’. Karena dari kedua tema itu saya mendapatkan sebuah gagasan tentang urgensi (artipenting) integritas.

Integritas – sebagaimana pengertian yang saya pahami selama ini – adalah: konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan; definisi lain dari integritas yang saya peroleh adalah: suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan  nilai dan prinsip. Dalam kajian etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan  kebenaran dari tindakan seseorang. Lawan kata dari integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik).  Seorang dikatakan “memunyai integritas” apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya  Mudahnya, ciri seorang yang berintegritas ditandai oleh satunya kata dan perbuatan bukan seorang yang kata-katanya tidak dapat dipegang.

Seorang yang memunyai integritas bukan tipe manusia  dengan banyak wajah dan penampilan yang disesuaikan dengan motif dan kepentingan pribadinya. Integritas menjadi karakter kunci bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang memunyai integritas akan mendapatkan kepercayaan (trust) dari pegawainya. Pimpinan yang berintegritas  dipercayai karena apa yang menjadi ucapannya juga menjadi  tindakannya.

Dari selancar di internet saya menemukan ungkapan yang menarik tentang integritas:

“When you are looking at the characteristics on how to build your personal life, first comes integrity; second, motivation; third, capacity; fourth, understanding; fifth, knowledge; and last and least, experience. Without integrity, motivation is dangerous;without motivation, capacity is impotent; without capacity, understanding isl imited; without understanding, knowledge is meaningless; without knowledge, experience is blind. Experience is easy to provide and quickly put to good use by people with all other qualities. Make absolute integrity the compass that guides you in everything you do. And surround your self only with people of flawless integrity.”

Ungkapan yang saya cetak tebal menurut saya sangat inspirasional: Tanpa integritas, motivasi menjadi berbahaya; tanpa motivasi, kapasitas menjadi tak berdaya; tanpa kapasitas, pemahaman menjadi terbatas; tanpa pemahaman pengetahuan tidak ada artinya; tanpa pengetahuan, pengalaman menjadi buta.

Kesimpulannya, integritas adalah kompas yang mengarahkan perilaku seseorang. Integritas adalah gambaran keseluruhan pribadi seseorang (integrityis who you are).

Setelah membaca tentang makna integritas, saya berpendapat kriteria integritas sebagai persyaratan pertama dalam memilih pimpinan, baru berikutnya menyusul syarat kapabilitas intelektual dan manajerial.

Semakin banyak tipe manusia dengan integritas yang tinggi akan menentukan maju mundurnya suatu lembaga dan lebih luas lagi akan menentukan masa depan suatu negara. Jika demikian halnya, saya jadi bertanya-tanya kalau Indonesia sampai saat ini masih berkutat dalam upaya melepaskan diri dari jerat korupsi yang sedemikian sistemik, apakah ini ada kaitannya dengan integritas para pemegang jabatan negara? Di antara begitu banyaknya pemimpin negara di kelembagaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, siapa-siapa saja yang menunjukkan seorang pemimpin yang berkarakter dan berintegritas tinggi, sehingga mampu menumbuhkankan trust di hati banyak warga bangsa Indonesia?  Kalau mencari pemimpin yang berpendidikan tinggi (bahkan yang bergelar Prof.Dr.) yang ahli atau pakar dalam bidangnya tentunya ‘kita tidak akan kesulitan menemukannya’. Indonesia berlimpah dengan Sarjana. Magister, Doktor, dan Professor. Dan setiap tahun juga semakin bertambah jumlahnya. Apalagi dengan maraknya‘selebrasi gelar’ yang semakin tak terkendali, dengan misalnya pemberian gelar ‘Doktor Honoris Causa’, yang kalau tidak hati-hati bisa terpeleset menjadi: Doktor Humoris Causa. Namun, kalau kita mau menjawab sebuah pertanyaan: “Siapakah pemimpin yang betul-betul berintegritas? Tentunya tidaklah sebanyak jumlah para pakar yang bergelar dan populer itu.

Sungguh celaka kalau ternyata pemimpin yang berintegritas itu sulit ditemukan, dan sebaliknya yang banyak justeru tipe sebaliknya yakni tipe hipocricy . Jika begitu maka Indonesia sungguh-sungguh dalam ancaman bahaya.  Bahaya yang mengancam ini bukan main-main. Karena pemimpin yang tidak jujur, lebih mengutamakan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan akan cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Lembaga atau Negara  yang mengalami krisis  integritas akan mengalami kemerosotan akibat proses pembusukan dari dalam unsur-unsur organisasi atau negara itu sendiri.

Saya berdoa agar Indonesia tercinta ini tidak akan menghadapi ancaman bahaya krisis integritas. Kalau pun kita tidak dapat berharap banyak pada generasi saat ini, kita masih bisa meletakkan harapan dan impian kita di pundak generasi mendatang. Kuncinya ada di pendidikan. Nilai-nilai apa yang ditanamkan di benak generasi mendatang dan teladan apa yang dicontohkan akan membentuk karakter mereka.

Bicara integritas, maka nilai kejujuran dan pentingnya meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan menjadi nilai yang utama. Sudahkah nilai-nilai ini kita tanamkan dan kita contohkan pada anak-anak Indonesia saat ini?  Jika belum atau bahkan yang ditanamkan adalah nilai-nilai yang mengunggulkan dan mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya sendiri dan yang dicontohkan adalah perilaku yang tidak konsisten dengan yang diucapkan dan dikhutbahkan, maka jangan berharap akan banyak lahir manusia-manusia berintegritas di bumi Indonesia.

(Dikutip dan diselaraskan – dengan bahan bacaan tambahan: Madârijus Sâlikîn [IbnuQayyim al-Jauziyah] dan Ihyâ ‘Ulûmiddîn [Al-Ghazali],  dari http://definisimu.blogspot.com/2012/09/definisi-integritas.html)