Islam, Iman dan Ihsan: “Trilogi Ajaran Ilahi”

Islam, Iman dan Ihsan

“Trilogi Ajaran Ilahi”

A. Prawacana

Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman, Islam  dan  ihsan.  Berdasarkan  sebuah  hadis yang terkenal, ketiga istilah itu memberi  umat  Islam  (Sunni)  ide  tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir (The Omnipresent) dalam hidup.  Dalam penglihatan itu terkesan adanya semacam kompartementalisasi antara  pengertian  masing-masing  istilah  itu,   seolah-olah setiap  satu  dari  ketiga  noktah  itu  dapat dipahami secara tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.

Sudah tentu hakikatnya tidaklah demikian. Setiap pemeluk Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam (al-Islâm) tidak absah tanpa iman (al-îman), dan  iman  tidak sempurna  tanpa ihsan (al-ihsân).  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin  tanpa  inisial  Islam (al-Islâm).  Dalam  telaah lebih lanjut oleh para ahli, ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait satu dengan yang lain,  bahkan  tumpang tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam  dan ihsan, dalam Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.

Trilogi  itu  telah mendapatkan ekspresinya dalam banyak segi budaya Islam. Arsitektur masjid Indonesia yang banyak diilhami oleh, dan pinjam dari, gaya arsitektur kuil Hindu, mengenal adanya seni arsitektur atap bertingkat tiga. Seni  arsitektur itu  sering ditafsirkan kembali sebagai lambang tiga jenjang perkembangan  penghayatan  keagamaan  manusia,  yaitu  tingkat dasar  atau  permulaan  (purwa),  tingkat menengah (madya) dan tingkat akhir yang maju dan tinggi (wusana). Dan ini  dianggap sejajar dengan jenjang vertikal Islam, iman, dan ihsan, selain juga ada tafsir kesejajarannya dengan syarî’ah,  tharîqah  dan ma’rifah.  Dalam bahasa simbolisme,  interpretasi  itu hanya berarti penguatan pada apa yang secara laten telah ada  dalam masyarakat.

Berikut  ini  kita  akan  mencoba, berdasarkan pembahasan para ulama, apa pengertian ketiga istilah itu dan bagaimana wujudnya dalam hidup keagamaan seorang pemeluk Islam. Diharapkan  bahwa  dengan  memahami  lebih   baik   pengertian istilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan.

Pembahasan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas – pertama Islam, kemudian iman dan akhirnya ihsan – dilakukan tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori yang terpisah — sebagaimana sudah diisyaratkan — melainkan karena keperluan untuk memudahkan pendekatan analitis belaka. Dan  di akhir  pembahasan  ini  kita  akan  mencoba  melihat relevansi nilai-nilai keagamaan dari iman,  Islam  dan  ihsan  itu bagi hidup modern, dengan mengikuti pembahasan oleh seorang ahli psikologi yang sekaligus seorang pemeluk  Islam  yang  percaya pada  agamanya  dan mampu menerangkan bentuk-bentuk pengalaman keagamaan Islam.

B. Makna Dasar Islam

Ada indikasi bahwa Islam adalah  inisial  seseorang  masuk  ke dalam  lingkaran  ajaran  Ilahi.  Sebuah  Ayat Suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah  beriman  tapi Nabi s.a.w. diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-Islam,  sebab  iman  belum masuk  ke  dalam  hati  mereka  (lihat, QS al-Hujurât, 49: 14):

« قالَتِ الْأَعْرابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَ لكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنا وَ لَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَ إِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَ رَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمالِكُمْ شَيْئاً إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ».

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jadi, iman lebih mendalam daripada Islam, sebab dalam  konteks firman  itu,  kaum  Arab  Badui tersebut barulah tunduk kepada Nabi s.a.w.  secara lahiriah, dan itulah  makna  kebahasaan  perkataan “Islam”,  yaitu  “tunduk” atau “menyerah.”

Tentang hadis yang terkenal yang menggambarkan  pengertian  masing-masing  Islam, iman  dan  ihsan,  Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa agama memang terdiri dari tiga unsur: Islam, iman  dan  ihsan,  yang  dalam ketiga  unsur  itu  terselip  makna  kejenjangan: orang mulai dengan Islam, berkembang ke  arah  iman, dan memuncak dalam ihsan. Ibn Taimiyah menghubungkan pengertian ini dengan firman Allah,

« ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ ».

“Kemudian  Kami  (Allah)  wariskan  Kitab  Suci   pada kalangan para hamba Kami yang Kami pilih, maka dari mereka ada yang (masih) berbuat  zalim,  dari  mereka  ada  yang  tingkat pertengahan  (muqtashid),  dan  dari  mereka ada yang bergegas dengan berbagai  kebijakan  dengan  izin  Allah.”  (QS  Fâthir, 35: 32).

Menurut  Ibn Taimiyah, orang yang menerima warisan Kitab  Suci (yakni, mempercayai dengan berpegang pada ajaran-ajarannya)  namun masih juga berbuat zalim (zhâlim)adalah orang yang baru ber-Islam, menjadi seorang muslim, suatu tingkat permulaan pelibatan dari dalam kebenaran. Ia bisa berkembang menjadi seorang yang beriman, menjadi  seorang  mu’min,  untuk mencapai  tingkat  yang  lebih  tinggi, yaitu tingkat menengah (muqtashid), yaitu orang yang telah  terbebas  dari  perbuatan zalim,  namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja. Dalam tingkatnya yang lebih tinggi, pelibatan diri  dalam  kebenaran itu  membuat  ia tidak saja terbebas dari perbuatan jahat atau zhalim dan berbuat baik,  bahkan  ia  “bergegas”  dan  menjadi “pelomba” atau “pemuka” (sâbiq) dalam berbagai kebaikan, dan itulah orang yang telah ber-ihsân,  mencapai  tingkat  seorang muhsin.  Orang  yang  telah  mencapai tingkat muqtashid dengan îmânnya dan tingkat sâbiq dengan ihsân-nya, kata Ibn Taimiyah, akan masuk surga tanpa terlebih dulu mengalami azab. Sedangkan orang yang pelibatannya dalam kebenaran baru mencapai tingkat ber-Islâm  sehingga masih sempat berbuat zalim (zhâlim), ia akan masuk surga setelah terlebih dulu merasakan azab akibat dosa-dosanya itu.  Jika  ia tidak bertobat tidak diampuni Allah (Lihat, Ibn Taimiyah, al-Îmân  [Kairo:  Dâr  al-Thibâ'ah  al-Muhammadiyyah, tt.], hal. 11).

Pada  saat ini, tentu saja, kata-kata “al-Islâm” telah menjadi nama sebuah agama,  khususnya  agama  yang  dibawa  oleh  Nabi Muhammad s.a.w. yaitu agama Islam. Tetapi, secara generik, “Islam” bukanlah nama dalam arti kata sebagai nama jenis  atau  sebuah proper noun. Dan ini melibatkan pengertian tentang istilah itu yang lebih mendalam, yang justeru banyak  diketemukan  dalam Kitab  Suci.  Perkataan  itu,  sebagai  kata benda verbal yang aktif, mengandung pengertian sikap pada sesuatu, dalam hal ini sikap  pasrah  atau  menyerahkan  diri kepada Tuhan. Dan sikap itulah yang disebutkan sebagai sikap keagamaan yang benar  dan diterima  Tuhan:

« إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ».

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab [maksudnya ialah: Kitab-kitab yang diturunkan sebelum al-Quran] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS Âli-‘Imrân,  3:19).

Maka  selain dapat  diartikan sebagai nama sebuah agama, yaitu agama Islam, perkataan al-Islâm dalam firman ini bisa  diartikan secara lebih  umum, yaitu menurut makna asal atau generiknya, yaitu “pasrah kepada Tuhan,” suatu semangat ajaran  yang  menjadikan karakteristik  pokok  semua  agama  yang  benar.  Inilah dasar pandangan dalam al-Quran bahwa semua agama yang benar adalah agama Islam, dalam pengertian semuanya  mengajarkan  sikap pasrah kepada Tuhan, sebagaimana antara lain bisa  disimpulkan dari firman-Nya:

« وَ لا تُجادِلُوا أَهْلَ الْكِتابِ إِلاَّ بِالَّتي هِيَ أَحْسَنُ إِلاَّ الَّذينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَ قُولُوا آمَنَّا بِالَّذي أُنْزِلَ إِلَيْنا وَ أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَ إِلهُنا وَ إِلهُكُمْ واحِدٌ وَ نَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ».

Dan  janganlah  kamu sekalian berbantahan dengan para penganut Kitab Suci (Ahl al-Kitâb) melainkan dengan  yang  lebih  baik, kecuali  terhadap  mereka  yang zhalim. Dan nyatakanlah kepada mereka itu, “Kami beriman kepada Kitab  Suci  yang  diturunkan kepada kami dan kepada yang diturunkan kepada kamu; Tuhan kami dan  Tuhan  kamu  adalah  Maha  Esa,  dan  kita  semua  pasrah kepada-Nya (muslimûn) .” (QS al-’Ankabût, 29: 46).

Sama dengan perkataan “al-Islâm” di atas, perkataan “muslimûn” dalam firman itu lebih tepat diartikan menurut makna generiknya, yaitu “orang-orang yang pasrah kepada Tuhan.” Jadi seperti diisyaratkan  dalam firman  itu,  perkataan  muslimun dalam  makna  asalnya  juga  menjadi  kualifikasi para pemeluk agama lain, khususnya para penganut Kitab Suci. Ini juga diisyaratkan dalam firman-Nya:

« أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (٨٣) قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (٨٤) وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٨٥) ».

Apakah  mereka  mencari  (agama)  selain  agama Tuhan? Padahal telah pasrah (aslama – “ber-Islam”) kepada-Nya mereka yang ada di  langit  dan di bumi, dengan taat atau pun secara terpaksa, dan kepada-Nya-lah semuanya akan kembali.  Nyatakanlah,  “Kami percaya kepada Tuhan, dan kepada ajaran yang diturunkan kepada kami, dan yang  diturunkan  kepada  Ibrahim,  Isma’il,  Ishaq, Ya’qub  serta  anak  turun mereka, dan yang disampaikan kepada Musa dan ‘Isa serta para Nabi yang  lain  dari  Tuhan  mereka. Kami  tidak  membeda-bedakan mereka itu, dan kita semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. Dan barang siapa menganut agama  selain sikap  pasrah  (al-Islâm)  itu, ia tidak akan diterima, dan di akkirat termasuk orang-orang  yang  merugi.  (QS  Âli-’lmrân, 3: 83-85).

Ibn   Katsir   dalam  tafsirnya  tentang  mereka  yang  pasrah (muslimûn) itu mengatakan yang dimaksud ialah: “mereka dari kalangan  umat  ini  yang percaya pada semua Nabi yang diutus, pada semua Kitab Suci yang diturunkan, mereka tidak mengingkarinya sedikitpun, melainkan menerima kebenaran segala sesuatu yang diturunkan dari sisi Tuhan dan dengan semua  Nabi yang  dibangkitkan oleh Tuhan” (Tafsîr Ibn Katsîr [Beirut: Dâr al-Fikr,  1404  H/1984  M),  jilid 1, hal. 380). Sedangkan al-Zamakhsyari  memberi  makna  pada perkataan Muslimun sebagai "mereka yang bertauhid dan mengikhlaskan diri  pada-Nya,"  dan mengartikan al-Islâm sebagai sikap memaha-esakan (ber-tauhid) dan  sikap pasrah diri kepada Tuhan" (Tafsîr al-Kasysyâf [Teheran:  Intisyârât-e  Aftâb,  tt.] jilid 1, hal. 442). Dari berbagai keterangan itu dapat ditegaskan bahwa beragama tanpa sikap pasrah kepada Tuhan, betapapun seseorang mengaku sebagai “muslim” atau penganut “Islam”, adalah tidak benar  dan  tidak bakal diterima oleh Tuhan.

Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman, Islam  dan  ihsan.  Berdasarkan  sebuah  hadis yang terkenal, ketiga istilah itu memberi  umat  Islam  (Sunni)  ide  tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir (omnipresent) dalam hidup.  Dalam penglihatan  itu  terkesan  adanya semacam kompartementalisasi antara  pengertian  masing-masing  istilah  itu,   seolah-olah setiap satu dari ketiga noktah itu dapat dipahami secara tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.

Sudah tentu hakikatnya tidaklah demikian. Setiap pemeluk Islam mengetahui  dengan pasti  bahwa  Islam (al-Islâm) tidak absah tanpa iman (al-îmân), dan iman tidak sempurna  tanpa ihsan (al-ihsân).  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin  tanpa inisial  Islam.  Dalam  telaah lebih lanjut oleh para ahli, ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait satu  dengan  yang  lain,  bahkan  tumpang tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam dan ihsan, dalam Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.

Trilogi  itu  telah  mendapatkan ekspresinya dalam banyak segi budaya Islam. Arsitektur masjid Indonesia yang banyak diilhami oleh, dan pinjam dari, gaya arsitektur kuil Hindu, mengenal adanya seni arsitektur atap bertingkat tiga. Seni  arsitektur itu  sering ditafsirkan kembali sebagai lambang tiga jenjang perkembangan  penghayatan  keagamaan  manusia,  yaitu  tingkat dasar  atau  permulaan  (purwa),  tingkat menengah (madya) dan tingkat akhir yang maju dan tinggi (wusana). Dan ini  dianggap sejajar dengan jenjang vertikal Islam, iman, dan ihsan, selain juga ada tafsir kesejajarannya dengan syarî’ah, tharîqah, haqîqah dan ma’rifah.  Dalam  bahasa  simbolisme,  interpretasi  itu hanya berarti penguatan pada apa yang secara laten telah  ada  dalam masyarakat.

Berikut  ini  kita  akan  mencoba, berdasarkan pembahasan para ulama, apa pengertian ketiga istilah itu dan bagaimana wujudnya dalam hidup keagamaan seorang pemeluk Islam. Diharapkan  bahwa  dengan  memahami  lebih   baik   pengertian istilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan.

Pembahasan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas — pertama Islam, kemudian iman dan akhirnya ihsan – dilakukan tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori yang terpisah — sebagaimana sudah diisyaratkan – melainkan karena keperluan untuk memudahkan pendekatan analitis belaka. Dan  di akhir  pembahasan  ini  kita  akan  mencoba  melihat relevansi nilai-nilai keagamaan dari iman,  Islam  dan  ihsan  itu bagi kehidupan modern, dengan  mengikuti pembahasan oleh seorang ahli psikologi yang sekaligus seorang pemeluk  Islam  yang  percaya pada  agamanya  dan mampu menerangkan bentuk-bentuk pengalaman keagamaan Islam.

Selanjutnya, penjelasan yang  sangat  penting  tentang makna ” al-Islâm ” ini juga diberikan oleh Ibn Taimiyah. Ia mengatakan bahwa  ” al-Islâm ” mengandung dua makna adalah: pertama, ialah sikap tunduk dan patuh, jadi tidak sombong; kedua, ketulusan dalam  sikap tunduk kepada satu pemilik atau penguasa, seperti difirmankan Allah, “wa rajulan salâman li rajulin”  (Dan seorang  lelaki  yang  tulus  tunduk kepada satu orang lelaki) (QS al-Zumar, 39: 29).

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Jadi orang yang tulus itu tidak musyrik, dan ia adalah  seorang hamba yang berserah diri hanya kepada Allah, Tuhan sekalian alam, sebagaimana Allah firmankan:

« وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (۱٣۰) إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (۱٣۱) وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (۱٣۲) ».

“Dan siapalah yang tidak  suka  kepada  agama  Ibrahim  kecuali orang  yang  membodohi  dirinya  sendiri. Padahal sungguh Kami telah memilihnya di dunia, dan ia di akhirat pastilah termasuk orang-orang  yang  salih.  Ketika Tuhannya bersabda kepadanya, “Berserah dirilah engkau!’, lalu ia  menjawab,  “Aku  berserah diri  (aslam-tu)  kepada Tuhan seru sekalian alam.” Dan dengan ajaran itu Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub.   “Wahai   anak-anakku,   sesungguhnya   Allah   telah memilihkan agama untuk kamu sekalian,  maka  janganlah  sampai kamu   mati   kecuali  kamu  adalah  orang-orang  yang  pasrah -muslimun- (kepada-Nya).” (QS al-Baqarah, 2: 130-132).

« قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (۱٦۱) قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (۱٦۲) لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (۱٦٣) ».

“Katakanlah (hai Muhammad), “Sesungguhnya  aku  telah  diberi petunjuk  oleh  Tuhanku  ke arah jalan yang lurus. Yaitu agama yang tegak, ajaran  Ibrahim,  yang  hanif,  dan  tidaklah  dia termasuk  orang-orang  musyrik.”  Katakan juga (hai Muhammad), “Sesungguhnya sembahyangku, darmabaktiku, hidupku dan  matiku adalah untuk Allah seru sekalian alam, tiada serikat bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan, dan aku adalah yang pertama  dari kalangan orang-orang yang pasrah.” (QS al-An’âm, 6: 161-163).

(« وَ أَنيبُوا إِلى رَبِّكُمْ وَ أَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ ».

“Dan  kembalilah  kamu  semua  kepada  Tuhanmu,  serta berserah dirilah kamu semua (aslimu)  kepada-Nya  sebelum  tiba  kepada kamu  azab,  lalu  kamu  tidak  tertolong  lagi.” (QS al-Zumar, 39: 54).

Demikian itu  sebagian  dari  penjelasan  yang  diberikan  Ibn Taimiyah  tentang  makna al-Islâm [lihat, Ibn Taimiyah, al-Amr bi al-Ma'rûf wa al-Nahy 'an al-Munkar  (Beirut:  Dar  al-Kitab al-Jadid,  1976, hal. 72-3). Berdasarkan pengertian-pengertian itu juga harus dipahami penegasan dalam al-Quran bahwa  semua agama  para  Nabi  dan  Rasul adalah agama Islam. Yakni, agama yang mengajarkan sikap tunduk dan patuh, pasrah  dan  berserah diri  secara  tulus  kepada  Tuhan  dengan  segala  qudrat dan iradat-Nya. Maka sebagai  misal,  mengenai  Nabi  Ibrahim  a.s. ditegaskan  bahwa  dia bukanlah seorang penganut agama komunal seperti Yahudi atau Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang tulus  mencari dan mengikuti kebenaran (hanîf) dan yang pasrah kepada Tuhan (muslim) (QS Âli 'Imrân, 3: 67).

« مَا كَانَ إبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ ».

"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi Dia adalah seorang yang lurus [Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.] lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah Dia Termasuk golongan orang-orang musyrik.”

Demikian agama seluruh Nabi s.a.w. keturunan Ibrahim,  khususnya anak-cucu Ya’qub atau Bani Israil, sebagaimana dilukiskan dalam penuturan Kitab Suci, demikian:

« أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ».

“Adakah kamu menyaksikan tatkala maut datang kepada Ya’qub, dan ketika ia bertanya kepada anak-anakuya, “Apakah yang akan kamu sekalian sembah   sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami menyembah Tuhanmu dan  Tuhan  leluhurmu,  Ibrahim, Isma’il  dan Ishaq,  yaitu  Tuhan  Yang Maha Esa, dan kepada-Nya kamu semua pasrah (muslim).” (QS al-Baqarah, 2: 133).

Kemudian tentang Nabi  Musa  a.s.  digambarkan  melalui  ucapan pertobatan  Fir’aun  bahwa dia, Nabi Musa, membawa ajaran agar manusia pasrah (muslim) kepada Tuhan. Dengan begitu,  agamanya pun sebuah  agama Islam. Kata Fir’aun, yang berusaha bertobat setelah melihat kebenaran,

« وَ جاوَزْنا بِبَني إِسْرائيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَ جُنُودُهُ بَغْياً وَ عَدْواً حَتَّى إِذا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لا إِلهَ إِلاَّ الَّذي آمَنَتْ بِهِ بَنُوا إِسْرائيلَ وَ أَنَا مِنَ الْمُسْلِمينَ ».

“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS  Yûnûs, 10: 90).

Demikian pula, sebuah ilustrasi tentang Nabi ‘Isa a.s. dan para pengikutnya, menunjukkan bahwa  agama  yang  diajarkannya pun adalah sebuah agama Islam, dalam arti agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada-Nya:

!« فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ».

“Maka ketika ‘Isa merasakan adanya  sikap  ingkar  dari  mereka (kaumnya),  ia  berkata,  “Siapa yang akan menjadi pendukungku kepada Allah?” Para pengikut setianya (al-Hawariyyun) berkata, “Kamilah  para  pendukung  (menuju) Allah, kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah  bahwa  kami  adalah  orang-orang  yang pasrah -muslimun- (kepada-Nya).” (QS ‘Âli ‘Imrân, 3: 52).

Karena  semua  agama  yang benar adalah agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan, maka tidak  ada  agama  atau  sikap keagamaan yang bakal diterima Tuhan selain sikap pasrah kepada Tuhan atau Islam itu. Dan karena Islam pada dasarnya bukanlah suatu proper name untuk  sebuah  agama tertentu (para Nabi, Rasul dan umat terdahulu yang  digambarkan  dalam  Kitab  Suci sebagai  orang-orang  yang  pasrah  kepada Tuhan itu pun tidak menggunakan lafal harfiah  “Islam”  atau  pun  “muslim”)  maka orang  pemeluk  Islam sekarang ini, juga seorang muslim, masih tetap dituntut untuk mengembangkan dalam dirinya kemampuan dan kemauan  untuk  tunduk  patuh  serta  pasrah dan terserah diri kepada Tuhan dengan setulus-tulusnya. Hanya dengan  itu  agama dan keagamaan bakal diterima Allah, dan di akhirat tidak bakal termasuk mereka yang merugi. Inilah yang  sebenarnya  dimaksud oleh  firman  Allah,

« إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ».

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab [maksudnya ialah: Kitab-kitab yang diturunkan sebelum al-Quran] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS  Âli ‘Imrân,  3: 19),

serta  firman Allah:

« وَ مَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ ديناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَ هُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخاسِرينَ ».

“Dan barangsiapa menganut selain al-Islâm (sikap pasrah kepada Allah) sebagai agama maka ia tidak akan diterima, dan di akhirat ia akan termasuk mereka yang menyesal.” (QS Âli ‘Imrân,  3: 85).

Sudah  terang bahwa Islam dalam  pengertian  ini  mustahil  tanpa iman, karena ia dapat tumbuh hanya kalau seseorang  memiliki  rasa  percaya kepada Allah yang tulus dan penuh.

C. Pengertian Dasar Iman

Kita telah mengetahui pengertian iman secara umum, yaitu sikap percaya, dalam hal ini khususnya  percaya  pada  masing-masing rukun iman yang enam (menurut akidah Sunni). Karena percaya pada masing masing rukun iman itu  memang  mendasari  tindakan seorang maka sudah tentu pengertian iman yang umum dikenal itu adalah wajar dan benar.

Namun, dalam dimensinya yang lebih mendalam, iman tidak cukup hanya dengan sikap batin yang percaya atau mempercayai sesuatu belaka, tetapi menuntut perwujudan    lahiriah     atau eksternalisasinya  dalam  tindakan-tindakan.  Dalam pengertian inilah kita memahami sabda Nabi s.a.w.  bahwa iman  mempunyai  lebih dari  tujuh  puluh  tingkat,  yang  paling tinggi ialah ucapan Tiada Tuhan selain Allah dan yang paling rendah  menyingkirkan bahaya di jalanan:

Juga  dalam  pengertian  ini  kita  memahami sabda Nabi s.a.w.,

« وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ قِيلَ، وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ ».

“Demi Allah, ia tidak beriman! Demi Allah, ia tidak  beriman!”  Lalu orang  bertanya,  “Siapa, wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab, “Orang  yang  tetangganya  tidak  merasa  aman  dari  kelakuan buruknya.”  Lalu  orang  bertanya lagi, “Tingkah laku buruknya apa?” Beliau Jawab, “Kejahatan dan sikapnya yang menyakitkan.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Syuraih)

Juga sabda Nabi s.a.w.,

« لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».

“Demi Dia yang diriku ada di Tangan-Nya, kamu tidak  akan  masuk  surga sebelum kamu beriman, dan kamu tidak beriman sebelum  kamu  saling mencintai.  Belumkah  aku  beri petunjuk  kamu  tentang  sesuatu  yang jika kamu kerjakan kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah perdamaian di antara sesama kamu!” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Keterpaduan   antara   iman   dan  perbuatan  yang  baik  juga dicerminkan dengan jelas dalam sabda  Nabi s.a.w.,

« لاَ يَجْتَمْعُ الْإِيْمَانِ وَالْكُفْرِ فِي قَلْبِ امْرِئٍ وَلَا يَجْتَمِعُ الصِّدْقُ وَالْكَذِبُ جَمِيْعاً وَلَا تَجْتَمِعُ الخْيِاَنَةِ وَالْأَمَانَةِ جَمِيْعاً ».

“Iman dan kufur selamanya tidak akan bertemu di dalam hati seseorang, dan tidak pula bertemu antara kejujuran dan kebohongan secara keseluruhan, dan tidak pula bertemu antara khianat dan amanah secara keseluruhan”. (Hadis Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah)

« لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَ لاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَحِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَ لاَ يَنْتَهِبُ النَُهْبَةُ يَرْفَعُ النَّاسَ إِلَيْهِ وَ هُوَ مُؤْمِنٌ ».

“Bahwa  orang  yang berzina,  tidaklah  beriman  ketika ia berzina, dan orang yang meminum arak tidaklah beriman  ketika  ia  meminum  arak,  dan orang  yang  mencuri  tidaklah  beriman ketika ia mencuri, dan seseorang yang merampas tidak  akan  merampas dengan cara mengambil hak  orang lain jika memang ia beriman”.

Tiadanya  iman  dari orang yang sedang melakukan kejahatan itu ialah   karena   iman   itu   terangkat   dari   jiwanya   dan “melayang-layang di atas kepalanya seperti bayangan.” Demikian itu keterangan tentang iman yang  dikaitkan  dengan  perbuatan baik  atau  budi pekerti luhur. (Lihat, Ibn Taimiyah, al-Îmân, hal. l2-13).

Berdasarkan itu, maka sesungguhnya makna  iman  dapat  berarti sejajar  dengan  kebaikan  atau  perbuatan baik. Ini dikuatkan oleh adanya riwayat tentang orang yang  bertanya  kepada  Nabi s.a.w. tentang  iman,  namun  turun  wahyu  jawaban tentang kebajikan (al-birr), yaitu:

« لََيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ».

“Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah Timur  atau  pun  Barat.  Tetapi  kebajikan  ialah  jika orang beriman kepada Allah, hari kemudian, para malaikat, Kitab Suci dan para Nabi. Dan jika orang mendermakan hartanya, betapa pun cintanya kepada harta itu, untuk kaum kerabat, anak-anak yatim orang-orang  miskin,  orang terlantar di perjalanan, dan untuk orang yang terbelenggu perbudakan.  Kemudian  jika  orang  itu menegakkan  shalat  dan  mengeluarkan  zakat. Juga mereka yang menepati janji jika  membuat  perjanjian,  serta  tabah  dalam kesusahan,  penderitaan  dan  masa-masa  sulit.  Mereka itulah orang-orang yang tulus, dan  mereka  itulah  orang-orang  yang bertaqwa.” (QS al-Baqarah, 2: 177).

Oleh karena itu perkataan iman yang digunakan dalam Kitab Suci dan  sunnah Nabi s.a.w. sering  memiliki  makna  yang  sama  dengan perkataan  kebajikan  (al-birr), taqwa, dan kepatuhan (al-dîn) pada  Tuhan  (al-dîn)  (Lihat  Ibn  Taimiyah,  al-Iman,   hal. 162-153).

D. Pengertian Dasar Ihsan

Dalam hadis yang disinggung di atas, Nabi s.a.w. menjelaskan, “Ihsan ialah  bahwa  engkau  menyembah   Allah   seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau engkau  tidak  melihat-Nya,  maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” Maka ihsan  adalah  ajaran tentang  penghayatan  pekat  akan  hadirnya Tuhan dalam hidup, melalui penghayatan diri sebagai sedang menghadap  dan  berada di depan hadirat-Nya ketika beribadat. Ihsan adalah pendidikan atau latihan untuk mencapai dalam  arti  sesungguhnya.  Karena itu,  seperti  dikatakan  Ibn  Taimiyah di atas, ihsan menjadi puncak tertinggi keagamaan manusia. Ia  tegaskan  bahwa  makna ihsan  lebih meliputi daripada iman, dan karena itu, pelakunya adalah lebih khusus daripada  pelaku  iman,  sebagaimana  iman lebih  meliputi  daripada  Islam,  sehingga  pelaku iman lebih khusus daripada pelaku Islam. Sebab dalam  Ihsan sudah terkandung Iman  dan  Islam,  sebagaimana  dalam  iman  sudah terkandung Islam (Lihat, Ibn Taimiyah, al-Îmân, hal. 11).

Kemudian, kata-kata ihsan itu sendiri secara  harfiah  berarti “berbuat baik.” Seorang yang ber-ihsan disebut muhsin, sebagai seorang  yang  ber-iman  disebut  mu’min  dan  yang  ber-Islam disebut muslim. Karena itu, sebagai bentuk jenjang penghayatan keagamaan, ihsan terkait erat sekali dengan pendidikan berbudi pekerti luhur atau berakhlaq mulia. Disabdakan oleh Nabi s.a.w. bahwa “yang paling utama di kalangan kaum beriman ialah  yang  paling baik  akhlaqnya”,  sebagaimana  disebutkan  dalam  sebuah hadis nyang diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad:

« أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ».

Dirangkaikan dengan sikap pasrah kepada  Allah atau  Islam,  orang yang ber-ihsan disebutkan dalam Kitab Suci sebagai orang yang paling baik keagamaannya:

« وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا ً».

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan (aslama) dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan (muhsin), dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus yang secara tulus mencari kebenaran (hanîfan) ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan (khalîl)-Nya.” (QS an-Nisâ’: 4: 125).

Ihsan dalam arti akhlaq mulia atau pendidikan ke  arah  akhlaq mulia   sebagai  pucak  keagamaan  dapat  dipahami  juga  dari beberapa hadis  terkenal  seperti:

« إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ ».

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk   menyempurnakan   berbagai  keluhuran  budi.”  (Hadis Riwayat al-Baihaqi dari Abu Hurairah)

Dan  sabda  Beliau  (Nabi s.a.w.) lagi  yang diriwayatlkan oleh al-hakim dari Abu Hurairah, yang  paling banyak (bias) memasukkan  orang  ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi pekerti.”

« أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ: التَّقْوَى وَ حُسْنُ الْخُلُقِ ».

“Yang  paling banyak (biasa) memasukkan  orang  ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi pekerti.”

Jika kita renungkan lebih jauh, sesungguhnya makna-makna di atas itu tidak berbeda jauh dari yang secara umum dipahami oleh orang-orang  muslim,  yaitu bahwa dimensi   vertikal pandangan hidup kita (iman dan taqwa, habl min al-Lâh, dilambangkan oleh takbir pertama atau takbirat al-Ihrâm  dalam shalat)  selalu, dan seharusnya, melahirkan dimensi horizontal pandangan hidup kita  (amal  saleh,  akhlaq  mulia,  habl  min al-nâs,  dilambangkan oleh ucapan salam atau taslim pada akhir shalat).  Jadi  makna-makna  tersebut  sangat  sejalan  dengan pengertian  umum  tentang  keagamaan.  Maka sebenarnya di sini hanya dibuat penjabaran sedikit lebih mendalam  dan  penegasan sedikit lebih kuat terhadap makna-makna umum itu.

E. Ihsan, Tasawuf dan Psikoterapi

Dalam  kaitannya  dengan  pendidikan akhlaq mulia kita melihat hubungan ihsan dengan ajaran kesufian  atau  tasawuf.  Menurut K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, dengan mengutip Kitab Futuhât al-Ilâhiyyah, ada delapan  syarat  yang  harus  dipenuhi  oleh orang yang bakal menjalankan tharîqah: 1) al-qashd  al-shahîh, artinya, dalam  menjalani  tharîqah  itu  ia  harus  mempunyai tujuan  yang benar, yaitu niat menjalaninya sebagai ibadah (al-haqq al-ubûdiyyah), yakni penghambaan diri kepada Tuhan Yang Maha Benar (al-Haqq), dan  berniat  memenuhi  al-haqq al-rubûbiyyah, yakni hak Ketuhanan Allah Ta’ala, bukan untuk meraih keramat atau pangkat, juga bukan untuk memperoleh hasil yang bersifat nafsu seperti ingin dipuji orang lain dan seterusnya;  2)  ash-shidq- asy-syarîf,  artinya kejujuran  yang tegas, yaitu bahwa murid harus membenarkan dan memandang gurunya sebagai memiliki rahasia keistimewaan  (as-sirr al-khushûshiyyah)  yang akan membawa muridnya ke hadapan Ilahi atau  hadhrah  al-ilâhiyyah;  3)  al-adab  al-mardhiyyah,   artinya, tatakrama  yang  diridhai,  yaitu  bahwa  orang yang mengikuti tharîqah harus menjalankan tatakrama yang dibenarkan ajaran agama, seperti sikap kasih sayang  kepada orang yang lebih rendah,  menghormati  orang  lain  sesamanya  dan  yang  lebih tinggi, sikap jujur, adil dan lurus terhadap diri sendiri, dan tidak memberi  pertolongan kepada orang lain hanya karena kepentingan diri  sendiri; 4) akwal zakiyyah artinya, tingkah laku yang bersih, yaitu bahwa orang  masuk tharîqah tersebut tingkah lakunya dan  ucapan-ucapannya  harus sejalan dengan syarî’ah Nabi  Muhammad  s.a.w.; 5) hifz al-hurmah, artinya, menjaga  kehormatan, yaitu bahwa orang yang mengikuti tharîqah harus menghormati gurunya, hadir atau  gaib,  hidup  atau  pun mati, dan menghormati sesama saudara pemeluk Islam, tabah atas sikap-sikap permusuhan saudara, dengan menghormati orang  yang lebih  tinggi  dan cinta kasih kepada orang yang lebih rendah; 6) husn al-khidmah, artinya, orang yang masuk tarekat (tharîqah) harus mempertinggi mutu  pelayanannya  kepada  guru,  pada sesama saudara pemeluk  Islam, dan kepada Allah SWT. Dengan menjalankan segala   perintah-Nya   dan   menjauhi   segala larangannya al-shiddîqûn  dan  itulah  al-maqshûd  al-a’zham (tujuan agung) mengikuti tharîqah; 7) raf’ al-himmah, artinya, mempertinggi mutu tekad hati, yaitu bahwa orang masuk tharîqah tidak  karena  tujuan-tujuan  dunia  dan  akhirat  tapi karena hendak mencapai ma’rifah khâshshah (ma’rifah atau  pengetahuan khusus  atau  istimewa) tentang Allah SWT;  8)  nufudz al-’azîmah, artinya, kelestarian tekad dan tujuan, yaitu bahwa orang  yang masuk tharîqah harus menjaga kelestarian tekad dan tujuannya, memelihara kelanjutan menjalankan tharîqahnya, demi meraih ma’rifah  khâshshah  tentang Allah Ta’ala, dan bila melakukan kebajikan maka ia melakukannya dengan lestari sehingga berhasil  (Lihat, Muhammad Hasyim Asy’ari, al-Durrar al-Muntatshirah fi al-Masa’il al-Tis’ al’Asyarah (tanpa tempat penerbitan, 1359 H/1940  M,  hal. 16-17). KH. Hasyim Asy’ari juga menegaskan bahwa tujuan  menjalankan tharîqah ialah mempertinggi tatakrama, abad atau akhlaq. Ia mengutip sebuah syair dari Kitab al-Mabâhits al-Ashliyyah, demikian:

« وَ الْقَصْدُ مِنْ هَذِهِ الطَّرِيْقِ الأَدَبُ مِنْ كُلِّ حَالٍ مِنْهُ هَذَا الْمَذْهَبُ ».

“Tujuan  tharîqah  ialah  pendidikan  tatakrama,  dalam  segala tingkah laku, dan itulah madzhabnya”.

Dengan  mengutip  Abu al-Hasan al-Syadzili, KH. Hasyim Asy’ari mengetengahkan empat  tatakrama  yang  seseorang  tidak  dapat disebut  pengikut  tharîqah jika tidak menjalaninya, betapapun luasnya  pengetahuan  orang  tersebut.  Empat  tatakrama  atau akhlaq  itu  ialah: 1) menjauhi  semua  orang yang bertindak zhalim, seperti penguasa atau orang kaya  yang  berlaku  tidak adil  pada  orang  lain;  2) menghormati orang yang memusatkan perhatiannya pada akhirat; 3) menolong kaum melarat; 4) selalu melakukan  shalat  berjama’ah  dengan orang banyak (ibid., hal. 17).

Kata K.H. Hasyim Asy’ari selanjutnya, “Telah berkata Imam Muhy al-Din Ibn  al’Arabi, r.a. Adapun empat akhlak itu, maka siapa saja yang menjalankan keempat-empatnya,  ia  sungguh  telah menggabungkan  semua  kebajikan,  yaitu:  1)  ta’zhîm hurumât al-muslimîn, artinya, menjunjung kehormatan semua orang Islam; 2)  khidmat  al-fuqarâ’  wa  al-masâkîn, artinya, melayani kaum fakir-miskin; 3) wa al-inshâf min nafsihi, artinya,  jujur  dan adil   mengenai  diri sendiri; 4) tark al-intishâr lahâ, artinya, tidak memberi  pertolongan hanya semata karena kepentingan diri sendiri.” (ibid., hal. 18).

Selanjutya, KH. Hasyim Asy’ari, dengan mengutip Suhrawardi, menjelaskan  bahwa  jalan   kaum   sufi   ialah   niat   untuk membersihkan  jiwa  dan  menjaga  hawa  nafsu,  serta  untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk  ‘ujub,  takabbur,  riya’ dan  hubb  al-dunya  (kagum  pada  diri sendiri, sombong, suka pamrih, dan cinta kehidupan  duniawi), dan lain sebagainya, serta menjalani budi pekerti yang bersifat kerohanian, seperti ikhlas,  rendah hati (tawadhdhu’),  tawakkal  (bersandar  dan percaya  kepada  Tuhan),  selalu memberikan perkenan hati pada setiap  kejadian  dan  terhadap  orang   lain (ridha), dan seterusnya, serta karena hendak memperoleh ma’rifah dari Allah dan tatakrama di hadapan Allah (ibid., hal. 18).

Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa menurut banyak  ulama,  tasawuf mengandung berbagai hakikat dan keadaan tertentu yang membahas segi-segi kelakuan dan akhlaq para pengamalnya.  Ada  kalangan yang  mengatakan  bahwa  seorang  sufi ialah orang yang bersih (shafâ) dari  kekotoran, penuh  dengan  pemikiran,  dan  yang baginya  sama saja antara nilai emas dan batu-batuan. Kemudian mereka  lanjutkan  kesufian  itu  mencapai  makna  orang  yang berkata  benar  (al-shiddîq), dan semulia-mulia manusia setelah para nabi ialah orang-orang yang berkata benar  itu,  seperti difirmankan  Allah,

« وَ مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَ الرَّسُولَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَ الصِّدِّيقينَ وَ الشُّهَداءِ وَ الصَّالِحينَ وَ حَسُنَ أُولئِكَ رَفيقاً ».

“Mereka itulah orang-orang yang diberikan nikmat kebahagiaan oleh Allah, yang terdiri  dari  para  Nabi s.a.w., orang-orang  yang berkata benar, para syuhada, dan orang-orang shalih. Sungguh baik mereka itu dalam perkawanan.” (QS al-Nisâ’, 4: 69).

Karena  itu,  bagi  mereka sesudah para nabi tidak ada yang lebih mulia daripada kaum sufi. Namun  sesungguhnya  kaum sufi  termasuk jenis tertentu kelompok orang-orang yang benar, yaitu orang yang benar dalam zuhud atau asketisme  dan  ibadat menurut  cara  yang  mereka ijtihadkan. Jadi orang sufi adalah al-shiddîq dalam arti di  kalangan  para  pengamal  zuhud  dan ibadat  itu,  sebagaimana  juga adanya al-shiddîq di kalangan para ulama, al-shiddiq-u di kalangan para umara’ (pejabat), dan seterusnya.  Mereka  belum tentu mencapai derajat al-shiddîq mutlak, yang sempurna  kualitas  kebenarannya  dalam  berkata, yang  terdiri  dari  para  sahabat Nabi, kaum Tabi’un dan kaum pengikut Tabi’un itu [Ibn Taimiyah, al-Shûfiyyah wa al-Furuqa', (Kairo: al-Manar, 1348 H.), hal. 17-18].

Kesufian  merupakan  cabang  keagamaan dalam Islam yang sering kontroversial.  Beberapa  tokohnya  menjadi  sasaran   kritik, bahkan  penyiksaan atau pembunuhan, disebabkan pendirian atau praktik mereka yang dianggap menyimpang dari agama yang benar. Sekalipun KH. Hasyim Asy’ari, seperti terbukti dari keterangan di atas demikian menghargai tasawuf dan kaum  sufi,  namun ia dikenal sangat keras terhadap setiap gejala penyimpangan dalam amalan tharîqah. Sikap ini ia ungkapkan dalam risalahnya  yang ia tulis pada tahun 1360 H. Al-Tibyân fi al-Nahy ‘an Muqatha’ât al-Arhâm  wa  al-Aqârîb  wa  al-Ikhwân  (Surabaya:  Percetakan Nahdlatul Ulama, tt.).

Ibn  Taimiyah  melacaki  sejarah munculnya kaum sufi dan paham tasawuf itu dari  orientasi  keagamaan  yang  tumbuh  di  kota Basrah,   Irak,  yang  menunjukkan  ciri-ciri  kezuhudan  yang tinggi. Berbeda dengan  para  ulama  kota  Kuffah  yang  lebih banyak  mencurahkan  perhatian  pada bidang  hukum dan mengembangkan keahlian di bidang fiqh, para ulama kota  Basrah menghayati agama dalam spiritualisme yang pekat dan menumbuhkan  amalan-amalan  guna   mempertinggi   pengalaman keagamaan yang mendalam. Mereka dikenal sebagai para pengamal ubudiah  (al-’ubbâd),  para  pengamal  kezuhudan  (al-zuhhâd), dengan  titik orientasi keagamaan yang berbeda dari para ulama Kuffah.  Namun,  menurut  Ibn  Taimiyah,  kedua  kelompok  itu sama-sama  berhak  memperoleh sebutan al-shiddîq, hanya saja masing-masing menempuh jalan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya menurut ijtihad yang mereka lakukan.

Tetapi, lanjut  Ibn  Taimiyah  dalam  penjelasannya,  karena di kalangan mereka terjadi banyak ijtihad dan perbedaan pendapat, maka masyarakat pun berselisih dalam menilai kaum sufi. Sekelompok orang memandang mereka sebagai kaum pembuat  bid’ah dan  menyimpang dari  sunnah,  dan  banyak  dikutip  orang pernyataan serupa itu dari  kalangan  para  ulama  yang  sudah dikenal. Pandangan serupa ini banyak dianut oleh kalangan ahli fiqh dan kalam. Kemudian segolongan masyarakat lain berlebihan dalam  penilaian  positif  mereka pada kaum sufi. Golongan ini melihat kaum sufi sebagai  makhluk  paling  utama  dan  paling mulia  setelah  para Nabi. Ibn Taimiyah menegaskan bahwa kedua pandangan yang ekstrem itu tercela.  Yang  benar  ialah  bahwa kaum  sufi  adalah  orang-orang  yang berijtihad dalam menaati Allah, sebagai golongan  lain  yang  taat  kepada  Allah  juga melakukan  ijtihad. Maka di  kalangan kaum sufi ada golongan pemuka (al-sâbiq) yang memperoleh kedekatan (al-muqarrab) kepada Allah setingkat  dengan ijtihadnya. Juga ada golongan yang sedang-sedang saja (al-muqtashid), yang termasuk kelompok ahl al-yamîn  (“kelompok  kanan”  seperti  disebutkan  QS al-Wâqi’ah, 56: 38). Dan pada masing-masing golongan itu ada yang  melakukan  ijtihad  lalu  membuat kesalahan, ada  yang berdosa dan kemudian bertobat atau tidak bertobat. Dari kalangan mereka yang mengikuti kaum sufi juga ada orang-orang yang zalim dan membangkang pada Tuhannya (ibid., hal.  19-20). “Dan”,  tandas Ibn Taimiyah, “barang siapa menganggap tercela, terhina dan terkutuk setiap orang yang melakukan ijtihad dalam usaha taat kepada  Allah  namun pada membuat kesalahan dalam beberapa perkara, maka ia keliru, sesat dan pembuat  bid’ah (ibid.,  hal.  16). Anggapan serupa itu, menurut Ibn Taimiyah, adalah pendirian kaum ekstremis. Lalu ia tegaskan  bahwa  “Ahl al-Sunnah  wa al-Jama’ah menganut pandangan seperti disebutkan dalam  Kitab, sunnah  dan  ijma’  yaitu  bahwa  seorang  yang beriman, berdasarkan janji  Allah dan kemurahan-Nya, berhak atas pahala untuk kebaikan-kebaikannya dan berhak atas siksa untuk  kejahatan-kejahatannya, dan bahwa dalam diri satu orang tergabung sesuatu (kebaikan) yang bakal  mendapat  pahala  dan sesuatu  (kejahatan)  yang  bakal  mendapat siksa,  juga  ada sesuatu yang terpuji dan ada sesuatu yang tercela, sebagaimana juga  ada sesuatu yang menyenangkan dan ada sesuatu yang tidak menyenangkan, dan begitu seterusnya.” (ibid., hal. 17). Jadi  ihsan  yang  diwujudkan  secara  nyata  dalam   tasawuf, kemudian  yang  dipraktikkan  melalui  ajaran  tharîqah,  pada analisa terakhir  adalah  sebuah wawasan tentang kebulatan, kebenaran, atau kebenaran dalam dimensinya yang utuh. Kemampuan menangkap kebenaran yang utuh  itulah  tingkat  yang paling  sulit  dicapai  oleh  manusia, bahkan juga yang paling sulit dipahami. Sebabnya ialah,  kebenaran dalam dimensinya yang utuh, justeru dalam dirinya mengandung paradoks, dan orang dapat belajar menangkap keutuhan  kebenaran  itu jika ia terlatih  melihat paradoks-paradoks dan berusaha menangkap apa hakikat yang ada di balik penampakkan lahiriahnya itu.

Pembahasan  tentang  kebenaran  yang  utuh dalam  wujud  yang paradoksal itu biasanya dilakukan dengan merujuk pada kisah dalam Kitab Suci tentang Nabi Musa a.s., dengan  seorang  yang dilukiskan sebagai seorang hamba Allah yang memperoleh ‘ilmu ladunni, yaitu ilmu yang diberikan langsung oleh Allah.  Tokoh ini dalam literatur kesufian biasa diidentifikasi sebagai Nabi Khidlir (al-Khidhr), yang agaknya  merupakan  nama  perlambang akan  kebenaran  yang  selalu hijau agar dan tidak pernah mati (khidhr artinya hijau). Dalam kisah itu  dituturkan  bagaimana seorang  Nabi  yang  hebat seperti Musa a.s.  tidak  tahan,  dan memprotes keras sekali-kali melihat  tingkah  laku  orang  tua yang  bijak dan menjadi gurunya itu, seperti tindaknya merusak perahu milik  seorang  nelayan  miskin,  membunuh  bocah  yang sedang  asyik  bermain dan menegakkan tembok rumah yang hampir roboh di sebuah desa yang  penduduknya  bersikap  tidak  ramah pada  mereka  berdua. Dan barulah Musa paham akan tingkah laku aneh gurunya itu ketika ia memperoleh keterangan  saat  mereka hendak berpisah: guru itu merusak perahu nelayan miskin, ialah justeru untuk menyelamatkan miliknya yang berharga itu dari bahaya  perampok yang memilih perahu-perahu –yang nampak baik dan utuh; ia bunuh bocah itu karena ia tahu dari  Allah  bahwa anak  itu  akan tumbuh menjadi penjahat dan membuat sengsara orang tuanya, padahal orang tuanya adalah lelaki-perempuan yang  saleh,  dan  ia juga tahu Allah akan menggantinya dengan anak yang lebih suci; ia tegakkan  tembok  rumah  yang  hendak roboh  itu,  karena di dalamnya terdapat harta anak yatim yang kini tinggal di kota dan ia bermaksud melindungi harta itu sehingga dapat  dimanfaatkan oleh anak  yatim  tersebut dan selamat dari gangguan pencurian penduduk desa  yang  akhlaqnya rendah itu.

Penampilan  paradoksal  tokoh-tokoh kesufian sudah  cukup terkenal. Bahkan dalam anggapan  yang  sangat  umum,  keanehan sering  justeru  dianggap  sebaga  bagian  dari  kualtias tokoh tersebut sebagai “orang suci” atau kekasih Allah (wali). Namun justeru  di sini  letak  masalahnya  yang paling pelik, yaitu, menurut para filsuf kesufian sendiri, tidak ada  seorang  wali yang mengaku sebagai wali, apalagi melakukan hal-hal yang aneh agar disebut sebagai wali, apalagi melakukan hal-hal yang aneh agar  disebut sebagai seorang wali. Juga tak ada yang tahu bahwa seseorang itu wali kecuali seorang wali sendiri. Seperti dikatakan  oleh  penulis kitab Natâ’ij  al-Afkâr sebagaimana dikutip oleh KH. Hasyim Asyari:

Seorang wali tidak akan membuka pintu ketenaran dan pengakuan, bahkan kalau seandainya ia  mampu mengubur dirinya tentu ia akan lakukan  hal  itu.  Maka  siapa  saja  yang menginginkan dirinya menonjol, tidaklah dia  termasuk  golongan tharîqah sedikit pun juga,  malah  sebaliknya,  dia  berlawanan  dengan tingkah laku  mereka  (golongan  tharîqah). (Muhammad Hasyim Asy’ari, Al-Durar  antara  lain  Muntatsirah  fî  al-Masâ’il al-Tis’ al-’Asyarah,” dalam op cit., hal. 8-9)

Pandangan tentang keutuhan kebenaran yang mengandung paradoks ini juga dicerminkan dalam keterangan tentang sifat atau sikap Allah  sendiri,  seperti  misalnya,  bahwa Dia adalah Awal dan yang Akhir, yang Lahir dan yang Batin, dan  bahwa  Dia  adalah Maha  Pengampun  dan  Maha  Penyayang,  tapi juga Maha Dahsyat azab-Nya:

« نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمُ ».

“Beritahukan kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku  Yang Maha  Pengampun  dan  Maha  Penyayang,  dan bahwa sesungguhnya azabku adalah azab yang amat pedih.” (QS al-Hijr, 15: 49-50).

Oleh karena Tuhan adalah Maha Esa (ahad;  wâhid),  maka  tidak mungkin  Wujud-Nya  terdiri  dari  dua bagian, pertama sebagai Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan kedua sebagai yang azab-Nya  amat pedih. Paradoks itu hanyalah suatu wujud nisbi, sedangkan wujud mutlaknya berada di balik paradoks  itu,  yang justeru  karena  kemutlakannya  maka  manusia  tidak akan mampu menangkapnya. Manusia hanya harus melatih diri  untuk  melihat paradoks-paradoks,  den  mencoba memperoleh cita rasa (menurut istilah  al-Ghazali,  dzawq)  kebenaran  yang  utuh  di  balik paradoks-paradoks,  tanpa  mesti  mengetahui  hakikatnya  yang mutlak dan tak mungkin diraih yang nisbi itu.

Dengan mengutip al-Risâlah al-Qusyayriyyah dan syarahnya, KH. Hasyim Asy’ari  bahwa  tauhid mengenal tigajenjang: pertama penilaian bahwa Allah satu adanya; kedua, pengetahuan (dengan  ilmu  dan teori) bahwa Allah itu satu adanya; den ketiga, timbulnya cita rasa penglihatan pada Yang Maha Benar (al-Haqq). Yang pertama, adalah  tauhid  kaum  awam; yang kedua, tauhid para ulama kaum eksoteris (ahl al-zhâhir); dan yang ketiga, adalah tauhid kaum sufi yang telah mencapai ma’rifah dan yang memiliki pengalaman tentang hakikat. (Hasyim Asy’ari, “Al-Durrar,” dalam op. cit., hal. 10-11).

F. Penutup

Hukum  paradoks  yang  oleh  kaum  sufi dicoba dihayati secara intens itu  adalah sesungguhnya hukum atau Sunnah Allah (Sunnatullâh)  juga,  seperti  disebutkan  dalam firman Allah:

« وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ».

“Dan dari  segala  sesuatu  Kami  ciptakan  wujud  berpasangan (yakni,  terdiri  dari  dua bagian yang paradoksal), agar kamu renungkan.” (QS al-Dzâriyât 51: 49).

« سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لا يَعْلَمُونَ ».

“Maha  Suci  Dia  yang   telah   menciptakan   segala   sesuatu berpasang-pasangan; dari segala sesuatu yang ditumbuhkan bumi, dari diri mereka (manusia) sendiri, dan dari hal-hal lain yang tidak  kamu  ketahui  (yakni,  tidak dapat kamu pahami).” (QS Yâsîn, 36: 36)

Sebuah pendapat ulama menyebutkan  tentang  adanya  riwayat yang disandarkan kepada Nabi  s.a.w., meskipun ketika dikaji ulang, ternyata tidak terbukti sebagai hadis Nabi s.a.w.

« تَخَلَّقُوْا بِأَخْلاَقِ اللهِ (شرح سنن أبي داود ـ عبد المحسن العباد – ۲۲ / ٤۷۷) ».

“Berakhlaq kamu dengan akhlaq Allah.”

Berkenaan dengan masalah hukum paradoksal ini, sabda pernyataan itu tentunya juga dimaksudkan antara  lain agar kita mempunyai sikap menghayati melalui cita rasa, akan kebenaran yang  utuh, yang mungkin terdiri dari paradoks-paradoks, dengan mencoba menerima hikmah yang ada di belakang, seperti  (seharusnya)  sikap  Nabi  Musa a.s. terhadap tingkah laku gurunya, al-Khidhr.

Dengan menerima kenyataan-kenyataun paradoksal sambil meyakini adanya hikmah di balik penampakan lahiriahnya, seseorang  akan mengalami   ketenteraman,  atau  gejolak  untuk  “memberontak” akibat sikap  menolak  paradoks-paradoks dapat  ditekan. Ini dapat mempunyai dampak penyembuhan dan  penyehatan jiwa, seperti saat sekarang  mulai banyak digunakan   dalam teknik-teknik  penyembuhan  psikoterapis. Dikatakan oleh Prof. Muhammad Shaalan,  Guru   Besar   den   ketua  Departemen Neuro-pschiciatry  Universitas Al-Azhar, Kairo, yang melihat kaitan pengalaman kesufian dengan psikologi modern aliran C.G. Jung:

The  use paradox is not explicitly described as a technique in jungian therapy, but the basis of it is there. Recently it has been  given a name and clarified as technique. Paradoxes serve to bring out a person from complacency of accepting  either  I or   concepts   so  that  a  different  and  higher  state  of consciousness is attained immediately. With the sufi,  the  use  of  paradox  is  not  restricted  to technique  but  is  a  genuine  expression  of  his  state  of consciousness. By example and action rather than by  preaching and  teaching, a sufi conveys directly to the intuition of his follower the paradoxical naure of truth  (Prof. Dr.  Muhammad Shaalan, “Some Parallel between Sufi Practices and the path of individucation”, dalam J. Marvin Spiegelman,  Ph.D.,  et  al., ed.,   Sufism,   Islam  and  Jungian  Psychology  [Scottsdale, Arizona: Falcon Press, 1991], hal. 88).

(Penggunaan paradoks tidak dengan  jelas  digambarkan  sebagai suatu  teknik  — penyembahan –  dalam  terapi  ala Jung, tetapi dasarnya ada di sana. Baru-baru ini paradoks itu telah  diberi sebuah  nama  dan  dijelaskan sebagai teknik. Paradoks berguna untuk melepaskan seseorang dari rasa puas diri dalam  menerima konsep-konsep  yang  bersifat  ya atau tidak, sehingga tingkat kesadaran yang berbeda den lebih tinggi dapat segera dicapai. Dengan seorang Sufi, penggunaan paradoks tidak dibatasi  hanya sebagai  teknik tetapi merupakan suatu ekspresi sejati tingkat kesadaran Sufi itu.  Melalui  percontohan  dan  tindakan,  dan bukannya  melalui wejangan dan pengajaran, seorang sufi secara langsung menyajikan intuisi pengikutnya sifat paradoksal  dari kebenaran).

Sebuah   ayat   menegaskan  bahwa  kita  harus  bersifat  adil sekaligus melakukan ihsan yaitu  firman  Allah:

« إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسانِ وَ إِيتاءِ ذِي الْقُرْبى وَ يَنْهى عَنِ الْفَحْشاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ».

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS al-Nahl 16: 90)

Dari  berbagai  kemungkinan  tafsir atas firman Allah itu, melakukan keadilan  terhadap segala suatu ialah  memahaminya dalam kerangka pandangan yang berkeseimbangan (‘adl sendiri artinya seimbang) antara bagian-bagian yang nampak  paradoksal,  tanpa berat  sebelah,  dan dengan sikap menerima menurut apa adanya. Kemudian ihsan dapat diartikan sebagai usaha  penuh  ketulusan untuk mengapresiasikan segi hikmah di balik paradoks-paradoks. Maka sikap tulus dan pasrah, yaitu Islam, tidak mungkin  tanpa sikap  percaya  pada  Allah,  yaitu  iman,  yang  menghasilkan pandangan positif-optimis pada-Nya dan ciptaan-Nya. Dari  sini juga  nampak  dengan  jelas bahwa Islam akan membawa kita pada kedamaian (salâm) dan keselamatan  (al-salâmah),  dan  iman  akan menghantarkan  kita ke rasa aman (al-amn) dan rasa terlindung atau  proteksi (al-amânah), kemudian, akhirnya ihsân akan membingungkan kita menuju hidup yang bahagia (al-hasanah).

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Nurcholish Madjid dalam http://media.isnet.org sebagaimana tertulis dalam Nurcholish Madjid, “Islam, Iman dan Ihsan Sebagai Trilogi Ajaran Ilahi”, dalam Budhy Munawar-Rachman (Ed.) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Cetakan I (Jakarta: Paramadina, 1994)

Tags: