Islamophobia‘, Mitos atau Realitas?

Sepuluh tahun silam tak seorangpun yang pernah mendengar ‘Islamophobia’. Kini setiap orang mulai dari pemimpin-pemimpin muslim, aktivis anti-rasial sampai para menteri ingin meyakinkan kita bahwa Inggris sedang dilanda rasa kurang senang terhadap Islam.

Tapi benarkah Islamophbia itu ada? Persoalan yang ditimbulkan adalah gagasan tersebut mengacaukan pengertian antara kebencian dan diskriminasi terhadap kaum Muslim di satu pihak dengan kritik terhadap Islam di pihak lain. Tuduhan adanya Islamophobia seringkali digunakan bukan untuk menyoroti rasisme tapi untuk membungkam kritik terhadap Islam, atau bahkan usaha kaum Muslim yang sedang memperjuangkan reformasi bagi komunitas mereka.

Dalam kenyataannya diskriminasi terhadap kaum Muslim tidaklah separah seperti yang sering dinyatakan. Ketika saya sedang membuat film tentang Islamophobia untuk Channel 4, saya menemukan jurang pemisah yang lebar antara persepsi dan kenyataan. Salah satu pokok persoalan adalah tindakan kepolisian yang mengganggu umat Muslim. Musim panas yang lalu kantor pusat mengeluarkan data yang menyatakan kenaikan 300 persen dalam jumlah warga keturunan Asia yang dicegat dan diperiksa di bawah undang-undang anti-teror kerajaan Inggris. Para jurnalis, pemimpin Muslim bahkan kantor pusat semuanya meneriakkan “Islamophobia”. “Seluruh komunitas Muslim dijadikan target oleh polisi,” klaim Khalid Sofi dari Dewan Muslim Inggris.

Angka kasar “kenaikan 300 persen” paling tidak menyiratkan adanya penanganan kepolisian yang tidak memadai. Tapi periksalah lebih dalam, dan datanya menunjukkan hanya terdapat 3.000 warga keturunan Asia yang dicegat dan diperiksa dalam tahun sebelumnya di bawah Undang-Undang Terorisme. Dari angka ini mungkin hanya setengahnya saja yang merupakan kaum Muslim. Dengan kata lain, hanya sekitar 1.500 orang dari seluruh populasi kaum Muslim yang berjumlah paling tidak 1,6 juta jiwa, yang dicegat di bawah undang-undang teror – sangat tidak mungkin ini merupakan kasus kepolisian yang sedang mengincar semua umat Muslim.

Jumlah totalnya teradapat 21.577 orang dari segala latar belakang yang dicegat dan diperiksa di bawah Undang-Undang Teror. Mayoritasnya, 14.429 orang, adalah warga kulit putih. Meskipun demikian ketika saya sedang mewancarai Iqbal Sacranie, sekretaris jenderal Dewan Muslim Inggris, dia bersikeras bahwa “95-98 persen dari mereka yang dicegat dan diperiksa di bawah undang-undang anti-teror adalah kaum Muslim.” Angka yang sebenarnya adalah 14 persen (untuk orang Asia).

Memang terdapat angka yang tidak proporsional dalam penanganan terhadap orang Asia: jumlah mereka adalah 5 persen dari seluruh populasi, tapi terdapat 14 persen orang Asia dari seluruh warga yang dicegat di bawah Undang-Undang Terorisme. Mungkinkah ini karena adanya prasangka anti-Muslim. Bisa jadi. Tapi lebih mungkin terjadi karena pemeriksaan anti teror terjadi di kawasan-kawasan – di dekat bandara Heathrow misalnya – di mana kebetulan terdapat banyak orang Asia yang tinggal. Hampir 2/3 dari seluruh pencegatan anti terorisme dan operasi pemeriksaan terjadi di London, di mana orang Asia membentuk 11 persen dari seluruh populasi.

Klaim adanya Islamophobia menjadi kurang bisa dipercaya jika kita mempertimbangkan seluruh pencegatan dan pemeriksaan. Hanya bagian kecil dari seluruh angka 869.164 pencegatan dan pemeriksaan yang dilakukan di bawah Undang-Undang Terorisme. Seandainya terdapat Islamophobia yang tersebar luas di kalangan kepolisian, kita pasti akan menemukan jumlah orang Asia yang tidak proporsional dalam semua data. Tapi ternyata tidak. Orang-orang Asia dicegat dan diperiksa dalam proporsi beragam dibanding populasi mereka, jika umur turut diperhitungkan.

Semua angka ini dapat diketahui oleh publik. Namun tak seorangpun jurnalis dengan reputasi yang menantang klaim bahwa orang Asia sedang dicegat dan diselidiki secara tidak proporsional. Islamophobia diterima begitu saja bahkan tak seorangpun yang mau repot-repot menyelidikinya apakah itu benar.

Dalam perdebatan mengenai pencegatan dan pemeriksaan terdapat data obyektif untuk membantah klaim adanya Islamophobia. Tapi mengenai serangan fisik, kebenarannya lebih sulit dilihat. Definisi mengenai serangan rasial telah berubah secara radikal selama 20 tahun terakhir. Sekarang ini apa saja mulai dari menyebut nama sampai serangan brutal termasuk dalam serangan rasial. Persoalan ini dipersulit oleh fakta bahwa, mengikuti peristiwa MacPherson yang menyelidiki kasuh pembunuhan Stephen Lawrence, polisi berkewajiban menerima persepsi korban atas sebuah serangan. Jika korban percaya bahwa itu adalah serangan rasial, polisi harus memperlakukan demikian, mengakibatkan terdapatnya elemen subyektif di dalam laporan.

Jika data statistik untuk serangan rasial sulit disusun, akan lebih sulit lagi untuk mentakrifkan serangan Islamophobia. Haruskah kita memperlakukan setiap serangan pada seorang Muslim sebagai gejala Islamophobia? Jika seorang sopir taksi Afghanistan diserang, apakah ini serangan rasial, insiden Islamophobia, ataukan sekedar kasus kekerasan biasa?

Ketidakpastian semacam itu memberi peluang untuk menjual segala macam klaim mengenai Islamiophobia. Menurut Iqbal Sacranie, kaum Muslim belum pernah menghadapi bahaya fisik yang lebih berat daripada sekarang ini. Editor Muslim News, Ahmed Versi, juga memiliki keyakinan serupa bahwa, ” Setelah peristiwa 11 September, kami menghadapi jumlah serangan pada kaum Muslim yang paling besar daripada yang pernah ada.”

Pengalaman pribadi dan data statistik yang ada menentang klaim ini. Saat saya tumbuh pada tahun 1970-an dan 1980-an, rasisme memang keji dan seringkali fatal. Penusukan dan pengeboman rutin terjadi di bagian-bagian tertentu wilayah Inggris. Pada Mei 1978, lebih dari 7.000 warga keturunan Bengali berbaris dari Whitechapel menuju Whitehall sebagai protes atas pembunuhan pekerja garmen Altab Ali di dekat Brick Lane – salah satu dari 8 pembunuhan rasial pada tahun tersebut. Pada dekade berikutnya, terdapat paling tidak 45 pembunuhan serupa. Bagi kaum Muslim, akhir dekade 1980 – mulai dari kasus Rushdie hingga Perang Teluk – memang benar-benar berat. Saya dulu biasa mengorganisasi patroli di wilayah pemukiman London timur untuk melindungi keluarga Asia dari serangan rasial.

Inggris kini telah menjadi lebih baik – bahkan bagi kaum Muslim. Memang masih ada serangan rasial. Awal bulan desember, 3 orang pemuda Muslim dipukuli di Manchester oleh gerombolan berjumlah 15 orang yang kuat dalam sebuah peristiwa yang digambarkan polisi sebagai serangan rasial yang menakutkan. Tapi kita telah banyak berubah sejak tahun 1970-an dan 1980-an, dan saya melihat mengecilnya intensitas rasial yang muncul berikutnya.

Data statistik yang tersedia cenderung membenarkan persepsi pribadi ini. Uni Eropa begitu peduli atas serangan pada kaum Muslim mengikuti peristiwa 11 September hingga Uni Eropa mengangkat laporan khusus. Dalam waktu 4 bulan setelah terjadi serangan atas World Trade Centre, Uni Eropa menemukan terdapat sekitar 12 serangan serius pada kaum Muslim Inggris. Angkan 12 memang terlalu banyak, tetapi itu tidak membuktikan adanya Islamophobia.

Bahkan organisasi-organisasi Muslim yang berkampanye melawan Islamophobia menemukan kesulitan untuk membuktikan bahwa rutin terjadi serangan pada kaum Muslim. Komisi Hak Asasi Islam memantau adanya 344 serangan pada kaum Muslim pada tahun setelah peristiwa 11 September 2001. Kebanyakan adalah insiden kecil seperti mendorong atau meludah.

Bagi pemimpin-pemimpin Muslim, melambungkan ancaman Islamophobia membantu mereka mengkonsolidasi basis kekuatan mereka, baik dalam komunitas mereka sendiri maupun dalam cakupan masyarakat yang lebih luas. Kaum Muslim Inggris telah lama melihat dengan perasaan iri akan kekuatan politik yang dimiliki oleh komunitas Yahudi, dan akan kedudukan yang diberikan kepada Dewan Perwakilan Yahudi-Inggris. Salah satu alasan untuk membentuk Dewan Muslim Inggris adalah untuk berusaha menandingi sukses politik perwakilan Yahudi tersebut. Pemimpin-pemimpin Muslim berbicara tentang menggunakan Islamophobia, dengan cara yang sama seperti yang mereka rasakan pemimpin-pemimpin Yahudi telah mengeksploitasi ketakutan terhadap perasaan anti-Semit.

Melebih-lebihkan prasangka anti-Muslim juga berguna bagi para politisi yang berpengaruh, dan khususnya bagi pemerintah Partai Buruh yang telah menghadapi pukulan politis karena dampak perang melawan Irak dan undang-undang anti-terornya. Menjadi sensitif terhadap Islamophobia memberi peluang bagi mereka untuk memperoleh kembali landasan moral yang tinggi (gains them a ‘high moral ground‘). Hal itu juga mengijinkan para politisi Partai Buruh untuk mendapatkan suara kaum Muslim. Kaum Muslim merasa dikhianati oleh meletusnya Perang Irak, menteri perdagangan Mike O’Brien menulis baru-baru ini di Muslim Weekly, tetapi “Pemerintahan Partai Buruh sedang berusaha menyampaikan agenda yang menunjukkan perhatian dan rasa hormat terhadap kaum Muslim.”

Menurut O’Brien: Iqbal Sacranie, sekretaris jenderal Dewan Muslim, meminta Tony Blair untuk menyatakan bahwa pemerintah akan memperkenalkan undang-undang yang baru yang melarang diskriminasi keagamaan. Dua minggu kemudian, dalam pidatonya kepada konggres Partai Buruh, Tony Blair berjanji bahwa Pemerintah Partai Buruh berikutnya akan melarang diskriminasi keagamaan.”

Berpura-pura bahwa kaum Muslim sedang menghadapi masa yang paling berat mungkin bisa mendukung bagi para pemimpin komunitas dan menolong para politisi memperoleh suara, tapi hal itu menimpa kita semua, Muslim atau non-Muslim, tanpa terkecuali. Makin yakin kaum Muslim kebanyakan bahwa mereka sedang berada di bawah serangan yang terus-menerus, makin marah mereka, menutup diri dan makin terbuka pada ekstrimisme.

Dalam perjalanan membuat dokumentasi saya, saya bertanya pada sejumlah kaum Muslim kebanyakan di seluruh penjuru negeri tentang pengalaman mereka atas Islamophobia. Semua orang yakin bahwa kekerasan polisi sudah biasa terjadi, meskipun tak seorangpun yang pernah dicegat dan diperiksa. Semua orang yakin bahwa serangan fisik telah tersebar luas, meski hanya sedikit yang pernah diserang atau mengetahui seseorang yang pernah diserang. Apa yang sedang diciptakan di sini adalah budaya akibat-buruk-sebagai-korban di mana “Islamophobia” telah menjadi satu-satunya penjelasan bagi semua problem yang dihadapi kaum Muslim.

Pertimbangkanlah masalah sosial yang menimpa komunitas Muslim. Warga keturunan Bangladesh dan Pakistan yang merupakan 2/3 dari populasi Muslim di negara ini, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk menjadi pengangguran dibandingkan warga kulit putih; penghasilan rata-rata pria Muslim hanya 68 persen dibandingkan pria non-Muslim; 65 persen warga keturunan Bangladesh adalah pekerja manual semi-terampil dibandingkan 23 persen di antara minoritas etnik lainnya dan 15 persen di antara keturunan Briton berkulit putih; 54 persen keluarga keturunan Pakistan dan Bangladesh menerima bantuan sosial; pada tahun 2000, 30 persen siswa keturunan Pakistan memperoleh lima atau lebih GCSE yang baik, dibandingkan dengan jumlahnya yang 50 persen dari seluruh populasi. Sudah jamak untuk menyalahkan semua ini pada Islamophobia. Menurut Muslim News, “reportase media tentang Islam dan kaum Muslim memiliki dampak besar terhadap kesempatan kerja bagi kaum Muslim.”

Namun pengangguran, kemiskinan dan rendahnya pendidikan bukanlah fenomena baru dalam komunitas Muslim di negara ini, penyebabnya banyak dan beragam. Rasisme memang memainkan peranan. Tapi demikian juga kelas sosial. Kelas sosial warga keturunan Pakistan dan Bangladesh lebih dekat dengan keturunan Afro-Caribia daripada dengan etnis India dan China. Sementara etnis India dan China berasal dari kelas menengah, kebanyakan keturunan Bangladesh, Pakistan dan Afro-Caribia berasal dari kelas pekerja kasar dan daerah pedesaan.

Beberapa orang juga mempersalahkan praktek kultural dalam komunitas Muslim tertentu. “Pada umumnya ,” jurnalis Yasmin Alibhai-Brown mengakui,” Komunitas dengan penghasilan terendah di negara ini adalah Muslim. Jika engkau membicarakannya dengan orang-orang mengapa hal ini terjadi, satu-satunya alasan yang mereka berikan adalah Islamophobia.” Ini bukanlah argumen yang diterima oleh Alibhai-Brown. “Bukanlah Islamophobia jika ada orang tua yang meminta anak gadis mereka yang berusia 14 tahun untuk meninggalkan sekolah dan menikah dengan seorang buta huruf.”

Alibhai-Brown tidak setuju dengan pendapat ini tentang taraf Islamophobia, ia mempercayai bahwa Islamophobia memang merupakan kekuatan besar yang membentuk kehidupan kaum Muslim. Meskipun demikian, ia menambahkan, itu juga bisa dijadikan “label yang nyaman, menyerupai daun ara…dan seringkali digunakan untuk memeras masyarakat.”

Semua ini menyarankan diperlukannya pembicaraan yang terbuka dan jujur tentang kaum Muslim dan hubungannya dengan masyarakat Inggris yang lebih luas. Kemungkinan untuk pembicaraan yang terbuka dan jujur seperti itu nampaknya tidaklah terlalu tinggi. “Islamophobia” bukan saja telah menjadi gambaran akan prasangka anti-Muslim – tapi juga menjadi rumusan bagi apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan tentang Islam. Setiap tahunnya, Komisi Hak Asasi Islam menyelenggarakan acara pemberian hadiah untuk mengolok-olok “Tokoh Islamophobia Tahun Ini (kononnya).” Tahun lalu terdapat dua orang Inggris yang menjadi pemenang. Yang pertama adalah Nick Griffin dari Partai Nasional Inggris.

Yang kedua adalah kolumnis Guardian, Polly Toynbee. Pembelaan Toynbee atas sekularisme dan hak asasi wanita, dan kritiknya terhadap Islam, dinyatakan oleh Komisi Hak Asasi Islam (IHRC) tidak dapat diterima. Bukankah ini benar-benar absurd, tanya saya pada Massoud Shadjareh dari IHRC, untuk menyamakan seorang anti-rasis liberal seperti Polly Toynbee dengan pemimpin partai berhaluan neo-fasis? Sama sekali tidak, jawabnya. Kami memang perlu bekerja sama dan berbicara. Tetapi ada batasnya untuk itu.” Sungguh sulit untuk membayangkan kerja sama dan pembicaraan seperti apa yang bisa terlaksana jika tokoh-tokoh pemimpin Muslim tidak bisa membedakan antara kritik liberal dan serangan neo-fasis. Akan sangat mudah untuk mengesampingkan IHRC sebagai organisasi pinggiran.

Tapi ternyata tidak. Ia adalah badan konsultasi PBB. Karya mereka telah dipuji oleh Komisi Untuk Persamaan Ras. Lebih penting lagi, argumennya – bahwa dalam masyarakat plural, kebebasan berpendapat dibatasi oleh kebutuhan untuk tidak menghina agama tertentu atau kelompok-kelompok kultural lain – telah secara luas diterima.

Jadi pemerintah saat ini sedang merancang undang-undang yang baru untuk melarang hal-hal yang memicu kebencian keagamaan. Rancangan undang-undang kejahatan dan kepolisian yang serius dan terorganisasi akan menjadikannya sebuah pelanggaran “dengan secara sengaja menggunakan kata-kata, tingkah laku atau bahan lainnya untuk mengancam, melecehkan atau menghina dengan maksud atau dampak serupa untuk menimbulkan kebencian terhadap kelompok masyarakat yang dijadikan sasaran karena kepercayaan agama mereka.” Para pendukung undang-undang ini menyatakan bahwa undang-undang ini akan menjangkau kaum Muslim maupun kelompok keagamaan lainnya, seperti halnya perlindungan terhadap kelompok rasial yang sudah mereka miliki. Kaum Sikh dan Yahudi dilindungi oleh Undang-Undang Hubungan Rasial. Undang-undang yang baru ini dirancang untuk memenuhi kepentingan kaum Muslim yang belum tercakup.

Tapi sebenarnya sudah merupakan sebuah pelanggaran untuk memicu kebencian keagamaan. Undang-Undang Ketertiban Umum tahun 1986 yang telah diamandemen pada tahun 1998 untuk memuat pelanggaran “gangguan keagamaan”. Seseorang dinyatakan melakukan pelanggaran jika dia “mempertontonkan tulisan, simbol atau representasi visual lainnya yang mengancam, melecehkan atau menghina, yang dapat didengar atau dilihat oleh seseorang yang dapat menimbulkan gangguan, ketakutan atau bahaya.” Pelanggaran tersebut “bisa dilakukan di tempat umum maupun pribadi.” Tak lama setelah peristiwa 11 September, Mark Norwood, seorang anggota BNP, dihukum di bawah undang-undang ini setelah dia meletakkan poster di jendelanya dengan gambar gedung World Trade Centre yang terbakar dengan slogan “Islam keluar dari Inggris.”

Bagaimanapun juga, terdapat perbedaan yang fundamental antara ras dan agama. Engkau tak bisa memilih warna kulitmu; engkau bisa memilih kepercayaanmu. Agama adalah serangkaian kepercayaan. Aku bisa menjadi tidak suka terhadap kepercayaan lain. Jadi mengapa aku tidak bisa merasa tidak suka terhadap agama?

Beberapa pendukung undang-undang ini bersikeras bahwa undang-undang ini akan tetap mengijinkan kita berseloroh dan mengkritik agama-agama. Tapi dalam prakteknya, undang-undang ini akan menjadi mimpi buruk untuk diperlakukan. Semua pemimpin muslim yang saya ajak berbicara ingin menggunakan undang-undang ini untuk melarang The Satanic Verses [Ayat-ayat Setan]. Ahmed Versi, editor Muslim News, berpikir bahwa Margaret Thatcher harusnya dituntut karena berpendapat bahwa setelah peristiwa 11 September 2001 tidak terdapat cukup kutukan atas terorisme dari ulama Muslim.

Sepuluh tahun lalu, pemerintah Tory menolak undang-undang serupa karena para menteri takut bahwa hal itu akan digunakan untuk melarang The Satanic Verses. Sekarang ini, para menteri kantor pusat dan direktur tuntutan publik meyakinkan semua orang bahwa ini tak mungkin terjadi.” Kita masih akan bebas untuk saling berseloroh,” kata direktur tuntutan publik, Ken Macdonald kepada saya. Ini berarti banyak kaum Muslim yang tidak akan merasa puas. Setelah mendukung ketakutan yang dibesar-besarkan atas prasangka anti-Muslim dan mengajak kaum Muslim percaya bahwa undang-undang yang baru telah dirancang untuk memenuh kepentingan mereka, para menteri mungkin akan kesulitan untuk mengecewakan harapan kaum Muslim. Apa yang nampak di ruang persidangan sekarang ini adalah segala bahan yang bisa menimbulkan kerusuhan umum dipandang sebagai memicu kebencian rasial atau keagamaan. Jadi undang-undang yang baru ini dapat memicu menciptakan ketidaktertiban umum karena kelompok-kelompok yang merasa kurang puas berusaha menyensor apa yang mereka anggap sebagai penghinaan. Pemandangan di Birmingham di luar Sikh mempermainkan Behzti mungkin akan terulang berkali-kali.

Ketika Islamophobia Landa Amerika

FEISAL Abdul Rauf, 62 tahun, sekarang jadi sasaran caci-maki di Amerika Serikat.  Soalnya, warga Amerika berdarah Kuwait inilah pemimpin Cordoba Initiative , bersama istrinya, Daisy Khan, dan  pengusaha real estate Sharif al-Gamal. Mereka punya ide membangun Cordoba House.

Itulah pusat komunitas Islam – berupa gedung 13 lantai — yang direncanakan terdiri dari masjid berkapasitas 2000-an jemaah, pusat kesenian  (performing arts center) berkapasitas 500 pengunjung, restauran, lapangan basket, kolam renang, pusat kebugaran (fitness center),  sekolah, toko buku,  dan berbagai aktivitas lain. Biaya pembangunannya ditaksir mencapai 100 juta dollar (sekitar Rp 900 milyar). Cukup wah.

Pusat komunitas itu akan berdiri di bekas bangunan gudang  di Park Place (biasa disebut Park 51),  yang mereka beli seharga 5 juta dollar tahun lalu. Semua izin yang diperlukan sudah diperoleh. Walikota New York Michael Bloomberg sejak awal memang mendukung rencana ini.

Tempat itu terpaut cuma dua blok dari Ground Zero, lokasi tempat berdirinya dulu menara kembar World Trade Center (WTC) di Mahattan, New York. Kini World Trade Center hanya tinggal nama setelah dirubuhkan serangan teroris pimpinan Usamah Bin Laden pada 11 September 2001.

Feisal Abdul Rauf mau pun teman-temannya di Cordoba Initiative tentu saja tak ada hubungan dengan Usamah, putra konglomerat Arab Saudi yang kini jadi buron nomor satu Amerika Serikat itu.

Tapi lokasi Cordoba House dekat Ground Zero, dijadikan alasan oleh sejumlah tokoh konservatif dan Kristen ekstrem untuk menantang pembangunan pusat komunitas itu. Tokoh-tokoh politik dari Partai Republik yang beroposisi bersama organisasi kemasyarakatan pendukungnya Tea Party, tampaknya memanfaatkan situasi demi keuntungan politik.

Maklumlah November ini,memilih sebagian Gubernur, sebagian anggota Senat dan seluruh anggota DPR (House of Representative). Partai Republik yang minoritas di Senat mau pun DPR tampaknya ingin membalikkan keadaan.

Sarah Palin, bekas Gubernur Alaska, calon Wapres Partai Republik yang gagal dalam pemilihan presiden lalu, menulis di Twitter bahwa pembangunan masjid di Ground Zero adalah tindakan provokasi yang tak perlu. “Itu menusuk hati,” tulisnya.

Bekas Ketua DPR (House Speaker), juga dari Partai Republik,  Newt Gingrich, menulis bahwa tak akan ada masjid di dekat Ground Zero selama tak ada gereja atau sinagog di Saudi Arabia.

Apa kaitan Cordoba Initiative dengan Kerajaan Saudi Arabia? Tak ada. Para pengurus panitia pembangunan Cordoba House semua warga negara Amerika Serikat, bukan Saudi Arabia. Artinya: bukan  pemerintah Arab Saudi yang akan membangun masjid di Manhattan, maka sungguh tak relevan menghubungkan pembangunan Cordoba House dengan eksistensi gereja atau sinagog di Saudi Arabia.

Muslim Jadi Hantu

Tapi Gingrich terus berkoar-koar, menurut sementara pengamat, untuk meningkatkan popularitas karena ia ingin mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pemilu mendatang.

Malah pemakaian nama Cordoba, oleh Gingrich, dituduh hanya untuk mengingatkan orang bahwa Islam pernah menundukkan dan menjajah Kristen di Spanyol. Cordoba  adalah ibu kota Kerajaan Islam di Spanyol dulu.

Padahal panitia menggunakan nama Cordoba untuk simbol perdamaian karena di Cordoba dulu orang Islam, Kristen, dan Yahudi, hidup berdampingan dengan damai sepanjang ratusan tahun.

Tokoh Partai Republik lainnya, Gubernur Minnesota Tim Pawlenty mengatakan pembangunan masjid akan menurunkan martabat dan kehormatan kawasan Ground Zero. Pernyataan ini lebih aneh lagi. Sebab di Manhattan selama ini sudah ada setidaknya 2 masjid dan sebuah sinagog, selain klub malam, café, studio tari telanjang, pelacuran homo, dan bermacam tempat maksiat.

Salah satu adalah Masjid Manhattan berdiri tahun 1970 di Warren Street atau kira-kira 4 blok dari Ground Zero. Yang satu lagi berdiri 1985, Masjid al-Farah di West Broadway sekitar 12 blok terpaut dari Ground Zero.

Feisal Abdul Rauf sejak lama menjadi imam di Masjid al-Farah sampai belakangan ini ia sibuk di Cordoba Initiative. Ide mendirikan masjid baru karena kedua masjid tadi sudah terlalu kecil oleh bertambahnya jemaah.

Bekas Gubernur Massachusetts dan salah satu kandidat calon presiden dari Partai Republik dalam Pemilu lalu, Mitt Romney, menentang pembangunan masjid itu dengan dalih mengikuti keinginan keluarga para korban peristiwa teror 11 September. Selain ia melihat masjid itu berpotensi menjadi tempat rekrutmen dan propaganda global kelompok ektremis.

Padahal sesungguhnya, keluarga korban 11 September terpecah: sebagian menolak pembangunan Cordoba House, sebagian lagi mendukungnya.

Tapi yang jelas, serangan para tokoh itu segera bergaung ke seantero negeri dalam bentuk gelombang kebencian kepada Islam (Islamophobia) dan menyebabkan kaum Muslim Amerika Serikat terancam.

Sejumlah bus kota di New York kini terlihat berkeliling dengan iklan menempel di dinding,  menggambarkan sebuah pesawat udara sedang menukik menuju menara World Trade  Center yang diberi nama ‘’Mega Mosque’’ — masjid mega. Lalu ada pertanyaan: ‘’Why there?’’ Mengapa di sana?

Iklan yang mengaitkan serangan teroris 11 September dengan pembangunan masjid itu dipesan sebuah kelompok penentang pembangunan Cordoba House yang menamakan diri American Freedom Defence Initiative.

Azeem Khan dari The Islamic Circle of  North America, mengatakan iklan itu hanya untuk menyebarkan ketakutan dan kebencian pada kaum Muslim Amerika Serikat. ‘’Mereka ingin Islam dan kaum muslim jadi hantu sekarang,’’ katanya seperti ditulis koran online Inggris, guardian.co.uk, 12 Agustus lalu.

Presiden Barack Obama berusaha mengubah keadaan dengan menyatakan dukungan tegas atas pembangunan masjid itu. Kata Obama, ummat Islam memiliki hak yang sama untuk mempraktekkan agamanya sebagaimana warga lainnya . ‘’Itu termasuk hak membangun rumah ibadah dan pusat komunitas di Lower Manhattan sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku. Ini Amerika. Komitmen kita kepada kebebasan beragama tak bisa digoyahkan,’’ kata Obama dalam acara buka puasa bersama (iftar) di Gedung Putih, pertengahan Agustus.

Apa pun kata Obama, yang jelas, membangun masjid tak gampang di Amerika Serikat, negeri kampiun demokrasi dan paling suka menggurui negeri lain dalam mempraktekkan kebebasan beragama.

Terbukti setelah dukungannya, Obama malah dicurigai sebagai pemeluk Islam. Survei yang dilakukan kemudian menunjukkan meningkatnya jumlah orang Amerika yang percaya – kini satu di antara lima orang Amerika — Obama seorang pemeluk Islam. Gedung Putih pun sibuk membantahnya sekalian menegaskan Obama seorang Kristen yang mempraktekkan ajaran Kristen.

Sekarang bukan hanya Cordoba House yang jadi masalah – walau semua izin yang diperlukan sudah diperoleh – tapi juga sejumlah masjid atau Islamic center di tempat lain. Tantangan selalu muncul dari kelompok sayap kanan yang konservatif, apakah karena fanatisme agama Kristen atau kepentingan politik. Para tokoh Partai Republik terlihat menunggangi isu itu.

Di Murfreesboro, kota berpenduduk 100.000 jiwa di Tennessee, rencana pembangunan Islamic center di lokasi seluas 15 acre  mendapat tentangan keras dari kelompok ekstrem Kristen pendukung Partai Republik. Mereka menuduh kompleks itu akan jadi tempat pelatihan teroris untuk menjatuhkan pemerintahan Amerika Serikat dan memberlakukan syariat Islam.

‘’Itu bukan agama. Mereka adalah grup militer politis,’’ kata Bob Shelton, 76 tahun, pensiunan yang tinggal di dekat areal itu, seperti disiarkan kantor berita Associated Press, 9 Agustus lalu.

Shelton adalah salah satu dari ratusan demonstran yang memperotes pembangunan Islamic center itu. Banyak di antara mereka memakai baju oblong dengan tulisan ‘’Vote for Jesus’’, sembari membawa poster ‘’No Sharia law for USA’’ (Tak ada hukum syariah untuk Amerika Serikat).  Akibat demo-demo itu penduduk muslim setempat terpaksa minta perlindungan polisi untuk melaksanakan ibadah di masjid.

Bom Pipa Meledak

Beberapa bulan sebelumnya, di Temecula, selatan California, kelompok Tea Party membawa beberapa anjing galak untuk menghadang umat Islam setempat yang  sedang melaksanakan salat Jumat. Mereka melakukannya sebagai protes atas rencana pembangunan masjid baru di areal kosong di situ.

Beberapa peristiwa mirip terjadi di  berbagai daerah lain seperti di Texas atau Wisconsin.  Di Sheboygan, Wisconsin, sejumlah pendeta terlibat polemik seru dengan sekelompok muslim yang  ingin membuka sebuah masjid. Dulunya masjid itu adalah toko makanan kesehatan, lalu dibeli seorang dokter yang muslim karena ingin menjadikannya masjid.

Di Texas, jemaah Masjid An-Noor nyaris baku hantam dengan sekelompok orang yang menamakan diri  ‘’Operation Save America’’ (operasi selamatkan Amerika) yang tiba-tiba mengepung masjid sembari berteriak-teriak menyemburkan kalimat-kalimat yang penuh kebencian.

Masih di Texas, di Kota Arlington, kompleks Dar El Eman Islamic Center akhir Juli lalu dirusak dan dibakar orang tak dikenal. Kerusakan cukup parah di bagian permainan anak-anak  (play ground). Sampai sekarang polisi belum berhasil menangkap orang yang bertanggung jawab atas perbuatan anarkis ini.

Di Islamic Center Jacksonville, Florida, awal Mei lalu, sebuah bom pipa meledak. Tak ada  korban. Tapi  peristiwa itu sangat mengejutkan para jemaah masjid.

Yang paling gila adalah program yang direncanakan sebuah gereja di Gainesville, Florida, dipimpin Pendeta Terry Jones. Mereka akan mengadakan upacara pembakaran kitab suci al-Quran di gereja itu pada 11 September 2010, melalui sebuah upacara yang mereka juluki “The International Burn A Quran Day’’ (Hari pembakaran Quran internasional). Upacara itu dimaksudkan untuk memperingati serangan teroris ke WTC, 11 September 2001.

Berbagai persiapan telah dilakukan di gereja  miik The Dove World Outreach Center itu. Antara lain dengan membuat facebook yang memuat berbagai alasan pembenaran atas rencana mereka.

Sekarang di facebook itu bisa ditemukan pengumuman ini: On September 11th, 2010, we will burn the Koran on the property of  Dove World Outreach Center in Gainesville, FL, in remembrance of the fallen victims of 9/11 and to stand against the evil of Islam. Islam is of the devil (Pada 11 September 2010, kami akan membakar Quran di properti Dove World Outreach Center di Gainesville, FL, untuk memperingati korban yang gugur pada 11 September dan menyiapkan diri melawan kejahatan Islam. Islam dari setan).

Kalimat terakhir itu, Islam is of the devil (Islam dari Setan), diambil dari judul buku yang ditulis Pendeta Terry Jones. Isi buku itu sudah bisa ditebak hanya hujatan terhadap Islam dan muslim. ‘’Tujuan semua protes ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada muslim untuk bertobat,’’ kata pendeta itu (Huffington Post, 28 Juli 2010).

Majelis Tertinggi Al-Azhar di Kairo dalam pernyataannya 12 Agustus lalu, mengutuk rencana gereja di Florida itu dan menuduhnya sebagai tindakan menghasut, menyebarkan kebencian dan diskriminasi. Al-Azhar mengimbau gereja lain di Amerika Serikat untuk mengutuk rencana itu (Associated Press, 12 Agustus 2010).

Selain dari Al-Azhar, reaksi kelompok Islam yang lain belum terdengar.  Yang jelas bila kelak rencana ini terlaksana, bearti upacara pembakaran al-Quran itu dilaksanakan tepat ketika ummat Islam melaksanakan perayaan Idul Fitri.

Memang sikap Islamophobia yang penuh kebencian dari Pendeta Terry Jones tak bisa disebut sebagai gambaran sikap seluruh ummat Kristen Amerika Serikat terhadap Islam. Tapi menurut Profesor John Esposito, ahli studi Islam paling terkemuka di Amerika Serikat dari Georgetown University, Washington, banyak orang Amerika menerima pikiran-pikiran Pendeta Terry Jones.

Pertentangan dalam rencana pembangunan masjid di Ground Zero, menjadi tameng bagi orang-orang untuk melampiaskan kebencian terhadap Islam secara lebih terbuka setelah serangan 11 September yang traumatis.

Setelah 11 September, apa yang terlihat sebagai peristwa lokal telah mengglobal dan menjadi payung sehingga orang tiba-tiba merasa bebas terbuka dengan keberatannya terhadap orang Islam. “Menurut sejarahnya memang ada problem di Mississippi atau Georgia, atau New York, atau di mana pun ketika orang ingin mendirikan masjid,’’ kata Esposito (lihat guardian.co.uk, 12 Agustus 2010).

Maka perusakan masjid sering terjadi. Sekadar contoh, Maret lalu, hakim menjatuhkan hukuman 183 bulan penjara (15 tahun lebih) kepada Eric Ian Baker, 34 tahun, karena bersalah membakar masjid di Islamic Center of Columbia di Tennessee. Baker bersama dua temannya, Februari 2008, membakar masjid tadi dengan menggunakan bom Molotov.

Selain Baker, dua temannya telah dibawa ke pengadilan. Seorang di antaranya, Michael Corey Golden, dijatuhi hukuman 171 bulan penjara. Temannya, Jonathan Edward Stone, telah dinyatakan bersalah oleh hakim tapi hukumannya belum dijatuhkan.

Pengusiran Imigran China

Ditaksir penduduk muslim di Amerika Serikat sekarang tak sampai 5 juta. Tapi Islam di sana termasuk agama yang sedang tumbuh. Sekitar 10 tahun lalu, jumlah masjid di negeri itu hanya 1200. Sekarang, seperti dikatakan Profesor Ihsan Bagby, ahli studi Islam di University of Kentucky, sudah tumbuh menjadi 1900 masjid. Termasuk di dalamnya sejumlah Islamic center – seperti di New York, California, atau Tennessee – yang  dapat menampung jumlah jemaah lebih banyak.

Ada pendapat yang mengatakan banyaknya pembangunan masjid itu berkaitan dengan banyaknya imigran di antara ummat muslim di sana. Mereka datang dari India, Pakistan, negeri-negeri di Afrika, atau Timur Tengah. Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center tiga tahun lalu, menemukan bahwa 39% dari penduduk dewasa Islam adalah imigran yang datang ke Amerika Serikat sejak 1990.

Imigran itu, menurut Diana Eck, Profesor dalam perbandingan agama di Harvard University, punya kecendrungan ingin membangun sesuatu.  Dengan itu, mereka merasa tak lagi sekadar penumpang di negeri baru. ‘’Sebagian, itu menyebabkan komunitas menancapkan akarnya dan menjadikan Amerika rumah mereka,’’ kata Diana Eck (artikel Travis Loller, Associated Press, 9 Agustus 2010).

Pembangunan masjid atau Islamic Center memang tak  berjalan mulus karena sering mendapat protes dari masyarakat. Itu tak aneh karena seperti dikatakan Profesor John Esposito tadi, sejumlah daerah di Amerika Serikat memang punya sejarah menolak pembangunan masjid.

Bila dilihat sejarah, bukan hanya Islam atau muslim yang mengalami penolakan seperti ini di Amerika Serikat. Di tahun 1800-an, muncul agama Mormon (sekarang gerejanya bernama the Church of Jesus Christ of Later-Day Saints) dengan Joseph Smith sebagai nabi.

Apa yang terjadi? Kelompok agama baru ini diburu dan nabinya ditangkap. Belum cukup. Pada 27 Juni 1844, ratusan massa menyerbu penjara di Missouri dan membunuh Joseph Smith dan pembantunya yang ditahan di sana.

Penolakan juga terjadi ketika agama Katolik masuk dan berkembang di Amerika Serikat. Terjadi konflik dan kerusuhan. Mereka mengalami diskriminasi . Sejarah Amerika Serikat juga dikotori oleh peristiwa pembunuhan dan pengusiran imigran China.

Bila diamati apa yang terjadi di sana maka kita di Indonesia jauh lebih menghargai kelompok mintoritas. Pada Hari Raya Nyepi di Bali, misalnya, pendud uk muslim atau Kristen ikut berkurung bersama ummat Hindu karena semua toko, pasar, bahkan lapangan terbang harus ikut ‘’nyepi’’.

Pemerintah memberlakukan hari libur pada semua hari besar agama, tak terbatas hari besar agama mayoritas seperti yang terjadi di Amerika Serikat atau Eropa atau Australia. Dan umat Islam sebagai mayoritas menerimanya dengan ikhlas.

Kembali cerita pembangunan masjid di Gound Zero. Kini Feisal Abdul Rauf sudah dituduh sebagai ulama ekstrem, bahkan pendukung terorisme. Kelemahannya mulai dicari-cari. Misalnya, sekarang dipersoalkan  ceramah Feisal Abdul Rauf pada 2004 di Masjid al-Farah di West Broadway, Manhattan.

Ketika itu Feisal  mengatakan, dalam peperangan Islam tak membunuh orang-orang sipil tak berdosa. ‘’Adalah orang Kristen di dalam Perang Dunia II yang mengebom orang-orang sipil tak berdosa di Dresden (Jerman) dan Hiroshima (Jepang), sekali pun kedua daerah itu bukan sasaran militer,’’ katanya.

Belum sebulan terjadi peristiwa serangan 11 September, Feisal diwawancara dalam acara TV, CBS’s 60 Minutes. Ketika itu ia mengatakan bahwa pimpinan teroris Usamah Bin Laden adalah buatan Amerika Serikat (“Osama Bin Laden is made in the USA’’).

Sarah Palin, Rick Lazio, bekas anggota DPR (Partai Republik) dan kini calon Gubernur New York, atau bekas Gubernur New York dari Partai Republik, Rudy Giuliani, menjadikan pernyataan tadi sebagai alasan untuk menuduh Feisal Abdul Rauf sebagai pendukung kelompok radikal dan bersimpati kepada teroris Islam.

Tentu Rauf membantahnya, sebagaimana ia juga membantah dituduh sebagai anggota Ikhwanul Muslimun, organisasi di Mesir, yang mempromosikan Quran dan Hadis sebagai basis paling tepat bagi masyarakat.

Tugas Deplu ke Timur Tengah

Memang sampai sekarang belum satu pun tuduhan kepada ulama sufi ini bisa dibuktikan. Malah berbagai pernyataannya tadi sebenarnya punya cukup alasan.  “Usama made ini USA’’, misalnya, bisa dibaca di berbagai buku yang sudah terbit selama ini.

Antara lain, Good Muslim, Bad Muslim, America, the Cold War, and the Roots of Terror (Three Leaves Press, Doubleday, New York 2005) yang ditulis Profesor Mahmood Mamdani, Direktur Studi Afrika Columbia University, New York. Atau bisa dilihat buku House of Bush, House of Saud (Scribner 2004) yang ditulis wartawan Crigh Unger.

Di kedua buku itu diungkapkan bahwa Usamah Bin Laden dan kawan-kawan Mujahidin-nya berjuang di Afghanistan mengusir tentara pendudukan Uni Soviet di tahun 1980-an, dengan bantuan  badan intelijen Amerika Serikat, CIA. Setidaknya diketahui CIA membantu mereka 3 milyar dollar ditambah rudal jinjing Stinger buatan Amerika yang banyak digunakan merontokkan heli tempur Uni Soviet.

Dari seluruh dunia, CIA mendatangkan para pejuang muslim – termasuk dari Indonesia – yang kemudian dilatih bertempur untuk menghadapi tentara Uni Soviet. Seperti diketahui Uni Soviet bisa dikalahkan dan harus menarik mundur pasukannya dari Afghanistan. Akibat kekalahan ini, antara lain, Uni Soviet kemudian terpecah-pecah.

Jadi kalau disebutkan Usamah Bin Laden buatan Amerika Serikat, memang ada benarnya. Karena CIA-lah yang melatih Usamah dan kawan-kawannya untuk bertempur dan mengenal berbagai model bahan peledak yang menjadi modal mereka dalam gerakan terorisme.

Belakangan, mereka menggemparkan dunia setelah berhasil merubuhkan Menara Kembar WTC di Manhattan, New York, 11 September 2001, memakan korban sekitar 3000 orang, hampir 10% di antaranya adalah muslim.

Di dalam House of Bush, House of Saud, Crigh Unger malah mengungkap bahwa keluarga Bin Laden dan keluarga Bush saling kenal dan bersahabat. George Bush atau ayahnya, George H.W.Bush, keduanya adalah mantan Presiden Amerika Serikat.

Selain itu, adalah fakta  ketika Feisal Abdul Rauf mengatakan bahwa Amerika Serikat mengebom habis-habisan Dresden sehingga banyak orang sipil tak berdosa menjadi korban. Adalah fakta pula Amerika menjatuhkan bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima yang  memakan korban banyak penduduk sipil di akhir Perang Dunia II.

Feisal adalah seorang sufi. Sebagai Imam Masjid al-Farah di Manhattan, ia dikenal moderat. Ia punya misi yang terus diperjuangkannya secara konsisten: membangun jembatan yang menghubungkan masyarakat Amerika, masyarakat muslim Amerika, dan masyarakat muslim dunia.

Untuk itulah, pada 1997, bersama istrinya, Daisy Khan yang berprofesi sebagai desain interior, ia mendirikan the American Society for Muslim Advancement, organisasi sipil yang bertujuan mempromosikan hubungan baik masyarakat Amerika dengan masyarakat muslim Amerika. Dalam kaitan itu pula Feisal telah menulis tiga buku, salah satu di antaranya What’s Right with Islam is What’s Right with America.

Wanita penulis terkenal dari Inggris yang banyak menulis tentang Islam, Karen Amstrong, memujinya sebagai figur jembatan karena ia memiliki akar yang dalam di dua dunia itu (Islam dan Barat). Ia belajar di Mesir, Inggris, Malaysia, dan Amerika Serikat, dan lalu memimpin masjid di Manhattan, New York.

Ketika terjadi peristiwa 11 September, menurut Karen Amstrong, banyak orang bertanya kepadanya, “Mana muslim moderat? Mengapa mereka sekarang tak bicara? Dengan Imam Rauf, kita memiliki muslim yang bisa bicara kepada orang Barat dengan bahasa yang bisa mereka mengerti,’’ tulis Amstrong dalam kata pengantar di sebuah buku Rauf.

Fareed Zakaria, wartawan dan kolomnis Majalah Newsweek itu, memuji pernyataan Feisal yang menyejukkan dalam hubungan antar-kepercayaan. Begitu pula Walter Isaacson, pemimpin Aspen Institute, organisasi yang membangun kerja sama muslim-kristen-yahudi. “Ia seorang yang konsisten menolak Islam radikal dan terorisme, mempromosikan Islam yang moderat dan toleran,’’ ujar Isaacson.

Karena itulah setelah peristiwa 11 September, atas permintaan polisi federal Amerika Serikat, FBI, Feisal melakukan pelatihan kebudayaan terhadap ratusan agen FBI. Tampaknya pelatihan itu untuk memberi pengenalan tentang muslim dan Islam bagi para agen FBI.

Selain itu, Feisal mendapat penugasan dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk menjelaskan kondisi ummat Islam Amerika Serikat dan hubungannya dengan pemerintahan negeri itu kepada masyarakat Timur Tengah. Ia sudah dua kali mengelilingi Timur Tengah di tahun 2007, di zaman pemerintahan Presiden George Bush.

Kemudian untuk tahun 2010, mulai 20 Agustus lalu, Feisal kembali mengelilingi Timur Tengah. Direncanakan ia akan menghabiskan waktu sekitar 15 hari berkeliling di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Kunjungan itu ia mulai dengan memimpin shalat Jumat, 20 Agustus lalu, di sebuah masjid di Manama, ibukota Bahrain. Dalam sebuah acara televisi ia mengatakan bahwa ancaman keamanan terhadap Barat dan dunia muslim adalah ekstremisme. Tapi Feisal menolak mendiskusikan penolakan masyarakat Amerika  atas rencananya membangun Islamic center di dekat Ground Zero.

Tampaknya kalau ia membicarakan masalah itu, tak lain yang bisa ia sampaikan bahwa penolakan pembangunan masjid di Ground Zero menunjukkan masyarakat Amerika Serikat  menderita  Islamophobia, rasis, dan tak toleran. Pernyataan seperti itu tentu bertentangan dengan misinya dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk mengelilingi Timur Tengah.

(Dikutip dan diselaraskan seperlunya untuk kepentingan “Kajian Keislaman” Internal, dari tulisan Amran Nasution, 24 August 2010, Mantan Redaktur GATRA dan TEMPO, Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta, dalam http://www.hidayatullah.com/kolom/sudut-pandang/13080-ketika-islamophobia-landa-amerika)