PENGAJIAN JUMAT PETANG BA’DA MAGHRIB
KAJIAN HADITS TEMATIK
MASJID MARGO RAHAYU NAMBURAN KIDUL YOGYAKARTA

“Istidrâj”

Jika ada di antara kita, saat ini bergelimang harta dan kemewahan atau meraih tahta dan menduduki jabatan bergengsi, jangan terburu-buru untuk mengucapkan alhamdulillâh, sebagai ungkapan syukur, melainkan (hendaknya) ia bermuhâsabah (berkaca diri dan melakukan introspeksi). Sebab, apabila semua itu didapat – misalnya — dari tindakan –korupsi, suap atau cara-cara haram lainnya, semua kemewahan dunia dan jabatan yang nyaman itu bukanlah ni’mah (nikmat) yang harus disyukuri, melainkan justeru merupakan niqmah (malapetaka) yang seharusnya diwaspadai. Dalam terminologi syar’i (Islam) hal ini disebut dengan istidrâj.
Istidrâj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidrâj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Sebagaimana yang telah ditegaskan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Uqbah bin ‘Āmir radhiyyallâhu ‘anhu,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}

“Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidrâj”. Kemudian Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam membaca [QS al-An’âm/6: 44, pen.], “maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa ” (Hadits Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz IV, hal 145, no. 17349, Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabîr, juz XII, hal. 300, hadits no. 14327, dari ‘Uqbah bin ‘Āmir radhiyyallâhu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitab As-Silsilah ash-Shahîhah, juz I, hal. 412, hadits no. 414; Ibnu Katsir mengutipnya dalam kitab tafsirnya, Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, juz. III, hal. 256).

Hadits dan ayat di atas menggariskan sunnatullah dalam kehidupan pendosa (pelaku perbuatan dosa) dan pelaku maksiat. Terkadang Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ membukakan beragam pintu rezeki dan pintu kesejahteraan hidup serta kemajuan dalam banyak aspek kehidupan seperti termaktub dalam redaksi ayat di atas, “Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka”. Bisa berbentuk kemajuan di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, militer, kesehatan, kebudayaan, stabilitas keamanan dan lain sebagainya.

Ini (semuanya) merupakan istidrâj (mengulur-ulur) dan imlâ’ (penangguhan) dari Allah bagi mereka, sebagaimana firman Allah,

فَذَرْنِي وَمَن يُكَذِّبُ بِهَـٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٤٤﴾ وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ ﴿٤٥﴾

“Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh” (QS al-Qalam/68: 44-45).

Jadi, ketika ada orang yang tidak menegakkan shalat, tidak menunaikan ibadah puasa Ramadhan, hidup dalam kubangan maksiat, namun hidupnya makmur, sejahtera dan bergelimang kemewahan, ini — ‘mungkin saja’ — adalah istidrâj.

Ketika ada kelompok atau organisasi menghidupi kelompok dan organisasinya dengan uang haram, tetapi ‘kelihatannya’ tambah maju dengan semakin bertambah banyaknya anggota dan pendukungnya serta semakin meluasnya pengaruh dan cabang-cabangnya, ini pun — ‘mungkin saja’ — termasuk istidrâj.

Ketika seseorang bisa meraih pangkat dan jabatan atau kemenangan dengan cara-cara yang zhalim dan menghalalkan segala cara, sesungguhnya hal ini juga – ‘mungkin saja’ — merupakan istidrâj.

Demikian pula, kalau ada sebuah ‘sistem kekuasaan’ (baca: pemerintah, pen.) yang ‘kufur’ kepada Allah, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, melegalkan beragam bentuk maksiat, memerangi orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, membatasi atau melarang berbagai aktivitas dakwah, namun secara zhahir (lahiriah) tampak maju di dalam beragam aspek kehidupan, hal ini — ‘mungkin saja’ — termasuk dalam kategori istidrâj.

Begitu bahayanya istidrâj, sampai-sampai Umar bin al-Khaththab radhiyallâhu ‘anhu pernah berdoa,

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أَكُونَ مُسْتَدْرَجًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu menjadi mustadraj (orang yang ditarik dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan)” (Imam asy-Syafi’i, Al-Umm, juz IV, hal. 157).

Oleh karena itu, waspadalah terhadap istidrâj, karena ia adalah kenikmatan yang membinasakan.

Na’ûdzbillâhi min dzâlik.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, M.A., Rabu, 19 Juni 2013, 03:00 WIB, dalam http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/06/18/mol4dl-Istidrâj)