Jadilah Manusia yang Memiliki
Rasa Malu Kepada Allah

Banyak orang, yang saat ini sudah memiliki ‘banyak’ hal, tetapi minus satu hal, yaitu ‘malu’. Rasa malu, kini ditengarai telah hilang dari dalam diri banyak orang. Benarkah sinyalemen itu?

Dalam konteks penjagaan diri, Rasulullah s.a.w. pun pernah bersabda, untuk mengingatkan umatnya:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ.

”Sesungguhnya sebagian yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah, ‘Bila kamu tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu’.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari ‘Abu Mas’ud, Shahîh al-Bukhâriy, IV/215, hadits no. 2483)

Malu, atau tepatnya rasa malu, kini teramat mahal. Konon kabarnya sudah tidak banyak dimiliki orang, utamanya rasa malu untuk berbuat maksiat. Seolah-olah orang sudah tidak lagi memiliki rasa ‘ewuh-pekewuh’, sungkan, tidak merasa enak dilihat orang lain ketika berbuat salah. Apalagi merasa dilihat oleh Allah. Manusia telah banyak kehilangan sikap “murâqabah”, sudah tak merasa lagi diawasi oleh Allah, Tuhannya.

Di mana-mana orang lebih banyak menuntut hak daripada menjalankan kewajiban. Dan ironisnya sudah menjadi salah kaprah, sebenarnya ‘salah’, tapi dianggap ‘benar’, karena didukung oleh banyak orang. Terlalu banyak orang yang menyatakan bahwa menuntut hak harus diutamakan, sementara yang mengutamakan untuk menjalankan kewajiban terlalu sedikit. Ketika diminta untuk bekerja, mereka katakan “nanti dulu”, sementara untuk urusan ‘gaji’, upah atau kompensasi, mereka teriakkan: “mana hak kami?”.

Malu rasanya melihat fenomena ini. Tapi, apa hendak dikata: “semuanya sudah terjadi”, dan nampaknya akan terus terjadi dan menjadi pemandangan biasa. Dan karena sudah biasa, bisa jadi dianggap benar. Orang sudah terbiasa untuk membenarkan yang “biasa”, dan masih sulit untuk membiasakan yang “benar”. Di samping karena minus kemauan, juga tidak ada ‘nyali’ (keberanian).

Malu – menurut pernyataan Nabi s.a.w. — adalah salah satu ciri keistimewaan akhlak Islam. Katanya: setiap agama memiliki keistimewaan akhlak dan, keistimewaan akhlak Islam adalah malu.” Bahkan, kata beliau,

الْحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ

”Malu adalah sebagian daripada iman.“ (Hadits Riwayat al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, I/12, hadits no. 16 dan Muslim, Shahîh Muslim, I/46, 163 dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab bin Nufail)

Maksudnya, tidak sempurna iman seseorang kalau dia tidak memiliki sifat malu. ”Malu dan iman keduanya selalu berkaitan. Apabila salah satu di antaranya lenyap, yang lainnya pun akan lenyap pula.” Karena, ”Malu tidak akan pernah mendatangkan apa-apa, kecuali kebaikan.”. Dan bahkan beliau pun bersabda: ”Sesungguhnya sebagian yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah, ‘Bila kamu tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu’.” Inilah hadis Nabi s.a.w. yang terlacak dalam Soft-Ware al-Maktabah al-Syâmilah, Edisi Terakhir, yang antara lain diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Rasa malu memang bisa mejadi kendali, alat kontrol diri yang paling ampuh untuk mengarahkan perilaku kita. Bahkan, kalau kita mengacu pada sejumlah hadis di atas, sekiranya tidak ada rasa malu pada diri kita, tentu apa yang diisyaratkan hadis di atas akan benar-benar terjadi. Kita akan melakukan apa saja yang diinginkan tanpa determinasi (batas) apa pun. Kita menjadi kehilangan kendali untuk melangkah ke arah tujuan hidup kita: “beribadah hanya kepada Allah”. Kalau sudah seperti itu kondisinya, bukan tidak mungkin berbagai penyelewengan dan penyimpangan hampir pasti akan kita lakukan tanpa adanya perasaan bersalah.

Kini tampak jelas, ‘cetho welo-welo” (kata orang Jawa), berbagai penyimpangan itu yang dikhawatirkan akan terjadi, benar-benar terjadi dengan kemasan indah, dikemas dalam tampilan yang kesalehan semua dan dan seolah-olah “agamis”. Bulan-bulan – pada tahun kampanye — menjelang pemilu banyak orang yang piawai mengemas kesalehan dengan bungkus-bungkus simbol keagamaan yang pekat. Tanpa adanya rasa malu, apa yang tidak layak tiba-tiba menjadi “pantas”, dan apa yang terlarang sekonyong-konyong menjadi “boleh” dan dipandang baik oleh banyak orang karena tampilan kosmetikal para badut politik masa kini.

Rasanya teramat penting untuk dipahami, utamanya oleh pemeluk Islam, yang kini tengah sibuk untuk mencitrakan dirinya sebagai yang patut dipuji, dicinta dan dihormati karena sedang berproses untuk menuju singgasana idaman, bahwa rasa malu seharusnya benar-benar (harus) dimiliki, dan diarahkan pada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Katakan – dengan lantang –yang salah adalah salah, dan yang buruk adalah buruk.

Sebaliknya tampilkan nyali kita untuk menyatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang baik adalah baik. Jangan terlalu banyak memakai topeng untuk bersandiwara. Memang, tidak semestinya seseorang malu untuk menuntut apa yang memang menjadi haknya. Namun, ingat juga bahwa ia seharusnya malu jika mengambil apa-apa yang bukan haknya, walaupun tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui perbuatannya. Karena, seberapa canggih orang memanipulasi sikap dan tindakannya, “Allah tidak pernah tidak tahu”.

Kita masih ingat tentang cerita kaum Luth, kaum Syu’aib, kaum Tsamud, kaum Nuh, kaum Musa dan bahkan “Si Qarun” (Si Tamak Harta) yang ketika mereka tidak pernah merasa malu untuk berbuat salah, akhirnya harus menghadapi azab Tuhan mereka, Allah Yang Maha Perkasa, yang keperkasaannya tak pernah tertandingi oleh si apapun dalam konteks apa pun.

Nabi Luth a.s. (dan juga para nabi yang lain) selalu mengingatkan kaumnya (yang menyimpang dari aturan Tuhan) ketika mereka datang berbondong-bondong dan dengan bekal dorongan hawa nafsu untuk meraih kenikmatan duniawi. Mereka yakin dan begitu percaya diri akan meraihnya. Namun, apa hendak dikata, dengan rasa malu mereka kepada Allah (Tuhan mereka) yang sudah hilang dari diri mereka untuk melampiaskan ‘nafsu’ sesuka mereka, akhirnya Allah menurunkan azab atas diri mereka. Mereka telah berbuat sesuatu dengan sia-sia, karena ketidakmauannya untuk ingat kepada Allah. Mereka telah kehilangan rasa malu, atau atau malu kepada Sang Khaliq.

Berbeda dengan para Nabi dengan seluruh pengikut setianya, yang selalu memiliki rasa malu yang kuat kepada Allah, sehingga – dengan rasa malu mereka itu — tertuntun ke arah perilaku yang serba positif. Dan setiap saat setan menggoda di hadapan mereka, mereka selalu berkata “tidak”, mirip dengan kampanye ‘vulgar’ salah satu partai politik peserta pemilu (kita) pada tahun 2014 ini, dengan hati yang bergetar mereka bisikkan rangkaian kata: ”sungguh saya malu pada Allah untuk berbuat yang salah.” Dan mereka pun berani berteriak: “say no to satan (katakan tidak pada setan), termasuk di dalamnya (untuk) menolak terhadap seluruh bisikan dan bujuk-rayu mereka”

Akhirnya harus kita katakan: “andaikata semua orang bisa menyatakan hal yang sama, ketika rasa malu sudah menjadi karakter kolektif bangsa ini, dan menjadi bagian dari budaya mereka, ‚budaya malu‘.“ Di ketika semua pihak berkesadaran untuk saling mengingatkan, sebagaimana pesan moral al-Quran dalam surat al-‘Ashr, agar semua orang – utamanya umat Islam — merasa malu setiap kali terdorong melakukan hal yang salah. Maka “rasa malu”, yang selama ini tersimpan di lubuk hati setiap manusia, akan menjadi ”obat panasea” yang akan memberikan kesembuhan bagi masyarakat luas yang kini tengah terjangkiti penyakit “tidak punya rasa malu”. Insyaallah seluruh lapisan masyarakat kita — yang semula tidak atau minimal kurang memiliki rasa malu, dengan kesadaran baru untuk membuang penyakit “tidak merasa malu kepada Allah ketika berbuat salah”, akan menjadi manusia-manusia “sehat”, penuh rasa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat.

Seharusnya para pemimpin kita yang tengah mendapatkan amanah dari rakyat benar-benar berbekal “malu”. Malu ketika belum mampu berbuat “yang terbaik” untuk rakyat, malu sebelum mampu memberdayakan rakyat, apalagi sampai tega “memperdayai” rakyat. Para ulama atau cendekiawan yang berfungsi sebagai penyejuk hati umat, juga seharusnya berbekal diri dengan “rasa malu”. Malu bila mau diperalat penguasa, malu bila tidak bisa memberikan masukan yang positif bagi rakyat, dan malu bila menyembunyikan ilmu yang dimiliki. Kita pun selalu berdoa, semoga Allah SWT selalu menuntun, membimbing, dan melindungi seluruh rakyat di negeri ini dengan “rasa malu” yang sama. Malu ketika belum menjadi orang yang sadar untuk menjadi “yang terbaik” di sisi Allah, menjadi orang-orang yang benar bertakwa kepada Allah.

Namun, hingga saat saat ini kita kita pun masih pantas bertanya: “Apakah masih ada rasa malu di hati kita?” Barangkali pertanyaan inilah yang akan menggugah kesadaran dan perhatian kita untuk menjadi penyelamat umat, negara dan bangsa ini, kini dan masa yang akan datang.