Jadilah Wanita Sejati

Berapa waktu yang lalu, penulis berdiskusi dengan beberapa orang yang dengan semangat ‘kesetaraan jender’-nya menyatakan bahwa kami, para wanita, harus terus berjuang untuk mendapatkan hak-hak kami telah terampas. Siapa yang dianggap telah merampasnya, mereka tidak menyebutnya secara eksplisit. Tetapi, patut diduga mereka telah menuduh bahwa kaum laki-lakilah yang telah melakukannya.

Saya, yang sejak lama telah beberapa kali menyatakan bahwa Islam benar-benar menghargai kewanitaan wanita dan (Islam pun) menganggap wanita sebagai unsur penyempurna bagi kaum laki-laki, sebagaimana laki-laki adalah penyempurna bagi wanita. Dan sama sekali mereka itu bukanlah pesaing yang saling-mengancam eksistensi masing-masing. Wanita adaalh mitra bagi kaum laki-laki dan begitu juga sebaliknya.

Itulah yang disinggung oleh al-Quran,

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS adz-Dzâriyât, 51: 49)

Para mufassir menyatakan bahwa laki-laki dan wanita itu bak sebuah kaleng dengan tutupnya, yang saling membutuhkan, dan tak seharusnya saling menafikan. Tanpa harus dinyatakan siapa yang menjadi kaleng dan siapa tutupnya. Peran keduanya tak bisa saling digantikan dan menggantikan, tetapi selalu harus ada. Bahkan mereka menjelaskan bahwa sejak Allah SWT menciptakan Adam, Allah pun menciptakan ‘mitra’-nya yang bernama Hawa, agar keduanya mendapatkan sakinah, karena mawaddah dan rahmahnya yang terbangun dalam interaksi mereka.

Wanita diciptakan oleh Allah untuk menjadi dirinya dengan segala potensi kewanitaannya, demikian pula laki-laki. Sesuatu tidak bisa sempurna tanpa peran yang lain. Karena itu al-Quran menyatakan, “Bukanlah laki-laki itu seperti wanita (وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى).” (QS Âli ‘Imrân, 3: 36). Sebagaimana arus positif itu bukanlah arus negatif, demikian juga sebaliknya. Akan tetapi betapa pun demikian wanita tidak diciptakan untuk menjadi ‘musuh’ laki-laki, demikian juga sebaliknya, tetapi “ba’dhukum min ba’dh“, sebagian merupakan bagian dari sebagian yang lain, mereka (wanita dan laki-lalki) saling membutuhkan.

Karena wanita diciptakan untuk menjadi mitra laki-laki, dan begitu juga sebaliknya, maka saatnya ‘kini’ wanita bersyukur dengan posisi kewanitaannya, dan memfungsikan perannya dengan seluruh potensi kewanitaannya sebagaimana semangat emansipasi yang digagas oleh Kartini yang tidak harus dimaknai sebagai sebuah perlawanan terhadap kaum laki-laki, tetapi – lebih dari itu – adalah sebuah perjuangan untuk memerankan diri secara proporsional. Hingga wanita dan laki-laki bisa bersatu dan menyatukan langkah untuk menjadi yang terbaik, tanpa harus saling menafikan.

Para wanita tidak perlu merasa terampas hak-haknya sebagai wanita, dan tidak perlu juga merampas hak-hak laki-laki. Karena mereka tidak diciptakan oleh Allah untuk saling-merampas hak masing-masing, tetapi, bahkan (diciptakan) untuk saling memberi, dengan memerankan diri masing-masing, selaras dengan kodrat masing dan melangkah dengan semangat masing-masing untuk menjadi dirinya tanpa mengusik keberadaan yang lain.

Untuk itu, hai para wanita: “jadilah wanita sejati”, sebagaimana laki-laki pun harus menjadi “laki-laki sejati” yang berkemauan dan berkemampuan untuk saling menghargai member arti.