Jangan Katakan ‘Uf’

Oleh: Muhsin Hariyanto

Birrul Wâlidain, itulah salah satu ajaran penting dalam Islam yang disebut secara eksplisit oleh Allah di dalam beberapa ayat al-Quran, juga dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w. berkali-kali dalam sabdanya. Bahkan karena artipentingnya beliau memosikannya sebagai salah satu amal shalih yang paling utama, di samping Shalat dan Jihad.

Abdullah bin Mas’ud, salah satu sahabat Rasulullah s.a.w., pernah bertanya kepada beliau: “Perbuatan apa yang paling utama? Beliau (Rasulullah s.aw.) pun menjawab: “Shalat tepat pada waktunya”. Abdullah bin Mas’ud bertanya lagi (untuk yang kedua kali), kemudian apa lagi? Beliau pun menjawab: “Birrul Wâlidain (Berbuat baik kepada kedua orang tua)”. Abdullah bin Mas’ud bertanya lagi (untuk yang ketiga kali), kemudian apa lagi? Beliau pun menjawab: “Berjuang di jalan Allah”. (Hadis Riwayat Muslim).

Bahkan ada riwayat lain yang menyatakan: “Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah s.a.w.. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku memunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku. Maka jawab Rasulullah, “dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orang tuamu.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah).

Seperti itulah, Rasulullah s.a.w. mengajarkan kepada kita (baca: umat Islam) tentang “betapa besar hak-hak orang tua atas anaknya”. Bahkan ketika sang Anak sudah berkeluarga dan hidup mandiri, kedua orang-tuanya tetap memiliki hak penuh untuk dihormati sebagaimana ketika sang Anak masih berada dalam pengasuhan kedua orangtuanya. Sehingga tak mengherankan – kata para mufassir — bila Allah memerintahkan kepada kita untuk berbakti kepada orang tua, dengan menempatkan ajaran berbakti kepada orang-tua pada posisi ke dua setelah perintah beribadah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “uf (ah)” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil”. (QS al-Isrâ’, 17: 23-24)

Mengucapkan kata ‘uf (ah) kepada orang tua ‘saja’ tidak diperkenankan, apalagi mengucapkan kata-kata atau memerlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu. Karena setiap ucapan ‘uf’ yang diucapkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya berpotensi untuk ‘menyakiti hati keduanya’. Atau, dengan kata lain, Allah – dalam ayat ini berpesan: “jangan kau ucapkan sesuatu ucapan (apa pun bentuknya) yang berpotensi untuk ‘menyakiti hati kedua orang tua kita’.

Durhaka kepada orang tua (‘uqûqul wâlidain) termasuk dalam kategori dosa besar. Bentuknya bisa berupa tidak mematuhi perintah, mengabaikan, menyakiti, meremehkan, memandang dengan marah, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan perasaan, sebagaimana disinggung dalam al-Qur’an: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan ‘uf’ [ah] kepada kedua orang tua.” (QS al-Isrâ’, 17: 23). Jika berkata ‘uf/ah saja tidak diperkenankan, apalagi yang lebih kasar daripada perkataan itu.

Lalu, pertanyaan berikutnya, Birrul Wâlidain yang dikehendaki oleh Allah dan Rasulullah s.a.w. itu seperti apa? Itulah pertanyaan yang sering terlontarkan dalam beberapa kesempatan ‘perbincangan’ tentang artipenting ‘berbakti kepada kedua orang tua’.

Berkaitan dengan pertanyaan krusial ini, para ulama pun menjelaskan bahwa “sebagai anak”, sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengekspresikan bakti dan hormat kita kepada kedua orang tua kita. Memandang dengan rasa kasih sayang dan bersikap lemah lembut kepada mereka pun termasuk di dalamnya. Imam al-Bukhari – misalnya — dalam kitabnya “Adab al-Mufrad”, menjelaskan makna firman Allah “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang” tersebut di atas dengan kalimat: “Kita – seharusnya — tunduk dan patuh di hadapan kedua orang tua kita, sebagaimana seorang hamba sahaya tunduk patuh di hadapan tuannya yang garang, bengis, lagi kasar”.

Berbakti kepada orang tua tak terbatas ketika mereka masih hidup, bahkan harus tetap dilakukan setelah keduanya wafat. Hal itu pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah s.a.w.. Atas pertanyaan itu pun Rasulullah s.a.w. pun menjawab, “Yakni dengan mengirim doa dan memohonkan ampunan, menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan kedua orang tua, memelihara silaturahim serta memuliakan kawan dan kerabat orang tuamu.” (Hadis Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dari Abu Asid Malik bin Rabi’ah Ash-Sha’idi).

Meski kita diperintah untuk taat dan patuh kepada mereka, namun ketika keduanya memerintahkan kepada kita untuk menyekutukan Allah dan/atau bermaksiat kepada-Nya, sebagaimana larangan Allah dalam al-Quran, Rasulullah s.a.w. bersabda: ”Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (Hadis Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Ali bin Abi Thalib)

Kita tentu ingat kisah seorang sahabat, Sa’ad bin Abi Waqash yang diberi dua buah opsi oleh ibunya yang masih musyrik: “kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan dan minum sampai mati”. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, beliau (Sa’ad bin Abi Waqash) pun berkata: ”Wahai Ibuku, seandainya Ibu memiliki seribu jiwa kemudian satu per-satu lepas dari diri ibu, tetaplah aku tidak akan perbah meninggalkan agama baruku (Islam). Karena itu, terserah Ibu, mau segera makan-minum atau tidak sama sekali.” Melihat sikap anaknya (Sa’ad bin Abi Waqash) yang tegas itu, maka ibunya pun menghentikan aksinya. Sehubungan dengan peristiwa itu – menurut para mufassir — Allah menurunkan ayat: “Dan jika keduanya memaksamu untuk memersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS Luqmân, 31:15).

Sebagaimana Sa’ad bin Abi Waqash, meskipun kita bisa saja menolak permintaan keduanya, sebagai anak ‘kita’ tetap berkewajiban untuk berikap santun kepada keduanya”. Jangan sampai hanya karena ketidaksabaran kita, kita terjerumus ke dalam perilaku ‘uqûqul wâlidain – meskipun hanya sekadar dengan berkata ‘uf’ — yang berakibat pada ‘sakit-hati’ kedua orang tua kita, yang pada akhirnnya bisa berakibat pada kemurkaan Allah. Karena Rasulullah s.a.w. pernah berpesan: “Keridhaan Allah berada dalam keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orang tua” (HR al-Baihaqi dari Abdullah bin ‘Amr ibn al-‘Ash)

Simpulan pentingnya, ketika masih ada waktu dan kesempatan, tunjukkanlah cinta, kasih-sayang, hormat dan perhatian penuh kita kepada kedua orang tua kita, dengan satu tujuan: “meraih ridha keduanya”, dalam rangka “meraih ridha Allah”.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI UM Yogyakarta dan Dosen Tidak Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta