Jokowi, Benarkah Seorang Leader Sejati?

Siapa pun tidak bisa memungkiri, bahwa Jokowi ‘kini’ sedang dipuji banyak orang bak seorang pangeran. Bahkan ada yang menengarai sebagai “Sang Satrio Piningit”.

Peran media sangat luar biasa dalam mendongkrak popularitasnya, ditambah peran mesin politik partai ‘Moncong Putih’ yang selalu mau bekerja keras untuk menjualnya.

Fenomena ‘Jokowi’ itu — memang — bagi para pendukung setianya adalah sebuah harapan dan bahkan cita-cita. Tetapi bagi (partai) sebagian orang, bisa jadi adalah sekadar sebuah pentas sandiwara. Sandiwara? Ya, karena mereka melihat ‘Jokowi’ selalu dielu-elukan dan disanjung, seolah tanpa cacat oleh banyak kalangan, yang bisa jadi di balik itu ‘ada’ skenario besar untuk menjadikannya sebagai ‘wayang’ atau ‘boneka ganteng’ yang sangat mudah diarahkan kemana saja.

Mereka, para pengeritik Jokowi, bahkan ada yang menyatakan bahwa Jokowi — kini — tengah diperankan dengan peran ‘calon raja’, agar mendapat tepuk tangan dari penonton (rakyat). Nah, ketika sudah naik tahta, cepat atau pelan-pelan digerakkan ke arah kemauan para dalang (pemilik wayang) atau para tuan (pemilik boneka), atau suatu waktu diturunkan, karena sudah tak layak lagi untuk dimainkan dalam lakon yang relevan.

Bagi para politikus yang tak mengedepankan etika, semua itu bukan merupakan aib. Sebab mereka adalah sejumlah orang yang hanya berpolitik untuk sekadar meraih posisi mapan dan meraup kenikmatan duniawi. Mereka — dengan tanpa beban — bisa bersandiwara agar tetap berkuasa. Tetapi, bagi mereka yang masih mengedepankan etika, berpolitik tidak sekadar berupaya untuk meraih kekuasan. Tetapi, bahkan — lebih dari itu — mengartikulasikan nilai-nilai luhur dalam setiap langkah untuk menuju kemenangan sejati: “mengibarkan bendera kebenaran dan keadilan”.

Nah, apakah Jokowi benar-benar ‘figur’ leader (pemimpin) sejati, yang dalam ruang dan waktu yang berbeda mau dan bisa diajak untuk bersama-sama berjihad dalam menegakkan kebenaran dan keadilan di negeri kita tercinta ini? Wallahu A’lam.

Kalau ‘nanti — pada saatnya — benar-benar terpilih, karena mayoritas rakyat di negeri kita tercinta telah memilihnya, kita tunggu kiprahnya. Buktikan, apakah dia benar-benar seorang leader sejati, atau sekadar wayang milik para dhalang atau boneka milik para pemain boneka.

Wait and See!