Jual-Beli Kredit Dalam Pandangan Hukum Islam

Jual-Beli Kredit Dalam Pandangan Hukum Islam

Jual Beli Kredit (sell or buy on credit/installment) dalam bahasa Arabnya disebut Bai’ bit Taqsîth yang pengertiannya menurut istilah syari’ah, ialah: “menjual sesuatu dengan pembayaran yang diangsur dengan cicilan tertentu, pada waktu tertentu, dan lebih mahal daripada pembayaran kontan/tunai.” (Syarh Majallah al-Ahkâm, no 157, vol III/110, Majallah asy-Syari’ah wad Dirâsah Al-Islâmiyyah, Fak Syari’ah, Kuwait University, edisi VII, Sya’ban 1407, hal. 140, Al-Maurid, hal. 354, Lisanul ‘Arab, vol VII/377-378)

Jumhur ulama membolehkan praktik jual beli kredit (bai’ bit taqsîth) tanpa bunga, di antaranya adalah Imam Al-Khaththabi dalam Syarh Mukhtashar Khalîl (IV/375), Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ah Fatawâ (XXIX/498-500), Imam Syaukani dalam Nailul Authâr (V/249-250), Ibnu Qudamah dalam Al-Mughnî, dengan menukil pendapat Thawus, Hakam dan Hammad yang membolehkannya (IV/259).

Demikian pula ulama mutaakhkhirin, seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullâh dalam majalah al-Iqtishâd al-Islâmiy, I/42 no. 11 th. 1402H di mana beliau mengatakan: “Saya pernah ditanya tentang hukum jual-beli sekarung gula pasir dan sebagainya, yang dicicil sampai pada waktu yang telah ditentukan dengan ketentuan harga yang lebih tinggi daripada kontan. Maka saya jawab, mu’amalah ini sah. Sebab jual-beli kontan berbeda dengan jual-beli kredit, sementara seluruh umat Islam mengamalkan mu’amalah ini. Jadi, mereka telah sepakat atas bolehnya jual-beli ini.” Syekh Abdul Wahhab Khallaf pun, seperti dimuat dalam majalah Liwâ’ul Islâm, no. 11 hlm. 122, juga memandangnya halal.

Fatwa Muktamar pertama Al-Mashraf al-Islâmiy di Dubai yang dihadiri oleh 59 ulama internasional, fatwa Direktorat Jenderal Riset, Dakwah dan Ifta’ serta Komisi Fatwa Kementrian Waqaf dan Urusan Agama Islam Kuwait semua sepakat bahwa tidak ada larangan bagi penjual menentukan harga secara kredit lebih tinggi daipada ketentuan harga kontan. Penjual boleh saja mengambil keuntungan dari penjualan secara kredit dengan ketentuan dan perhitungan yang jelas. (Majallah asy-Syarî’ah, Kuwait, Rajab 1414, hlm.264, Majallah al-Iqtishâd al-Islâmiy, I/3 th 1402, hlm. 35, Majallah al-Buhûts al-Islâmiyyah, no. 6 Rabi’ Tsani, 1403H, hlm.270)

Dalil syari’ah dalam membolehkan akad jual-beli kredit (bai’ bit taqsîth) diambil dari dalil-dalil al-Qur’an yang menghalalkan praktik bai’ (jual-beli) secara umum, di antaranya firman Allah:

… وَ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَ حَرَّمَ الرِّبا4 …

“…Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…” (QS al-Baqarah/2: 275)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya …” (QS al-Baqarah/2 : 282)

Namun para ulama ketika membolehkan jual-beli secara kredit dengan ketentuan selama pihak penjual dan pembeli mengikuti kaidah dan syarat-syarat keabsahannya sebagai berikut:

  1. Harga barang ditentukan jelas dan pasti diketahui pihak penjual dan pembeli.
  2. Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari parktik bai’ gharar, (‘bisnis penipuan’).
  3. Harga semula yang sudah disepakati bersama tidak boleh dinaikkan lantaran pelunasannya melebihi waktu yang ditentukan, karena dapat jatuh pada praktik riba.
  4. Seorang penjual tidak boleh mengeksploitasi kebutuhan pembeli dengan cara menaikkan harga terlalu tinggi melebihi harga pasar yang berlaku, agar tidak termasuk kategori bai’ mudhtharr (‘jual-beli dengan terpaksa’) yang dikecam Nabi s.a.w..

Menganai pertanyaan tentang jual-beli mobil secara kredit yang banyak dilakukan orang dengan bunga tertentu, fatwa Direktorat Jenderal Riset, Dakwah dan Ifta’ menjelaskan bahwa jika dalam jual-beli kredit terdapat kenaikan harga (bunga) lantaran terlambatnya pelunasan dari pihak pembeli, maka menurut ijma’ ulama tidak sah, karena di dalamnya terkandung unsur riba jahiliyah yang diharamkan Islam. (Majallah al-Buhûts al-Islâmiyah, no. 6 Th. 1403, hlm 270)

Kalaupun terpaksa harus membeli secara kredit dari penjual barang yang memberlakukan sistem bunga ini, maka pembeli realitasnya harus yakin mampu mencicil dan melunasinya tepat waktu tanpa harus terjerat pembayaran bunga tunggakan, agar terhindar dari laknat Rasulullah s.a.w. karena membayar uang riba.

Kartu kredit pada hakikatnya sebagai sarana mempermudah proses jual-beli yang tidak tergantung kepada pembayaran kontan dengan membawa uang tunai yang sangat riskan. Status hukumnya menurut fiqih kontemporer adalah sebagai objek atau media jasa kafâlah (jaminan). Perusahaan perbankan dalam hal ini yang mengeluarkan kartu kredit (bukti kafâlah) sebagai penjamin (kafîl) bagi pengguna kartu kredit tersebut dalam transaksi jual beli. Oleh karena itu berlaku di sini hukum masalah ‘kafâlah’.

Para ulama membolehkan sistem dan praktik kafâlah dalam mu’amalah berdasarkan dalil al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’. Allah berfirman:

وَلِمَن جَاء بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَاْ بِهِ زَعِيمٌ

“… dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.” (QS. Yusuf/12: 72)

‘Abdullah ibn ‘Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “za’îm” dalam ayat tersebut adalah “kafîl”. Sabda Nabi saw.:

الزَّعِيمُ غَارِمٌ

Az-Za’îm Ghârim” artinya; orang yang menjamin berarti berutang (sebab jaminan tersebut). (HR. Abu Dawud, at-Tirmudzi, Ibnu Hibban). Ulama sepakat (ijma’) tentang bolehnya praktik kafâlah karena lazim dibutuhkan dalam mu’amalah. (Lihat, Subulus Salâm, III/62, Al-Mabsuth, XIX/160, Al-Mughni, IV/534, Mughnil Muhtâj, II/98).

Kafâlah pada dasarnya adalah akad tabarru’ (suka-rela) yang bernilai ibadah bagi penjamin karena termasuk kerjasama dalam kebajikan (ta’âwun ‘alal birri), dan penjamin berhak meminta gantinya kembali kepada terutang, sepantasnyalah ia tidak meminta upah atas jasanya tersebut, agar aman/jauh dari syubhat. Tetpi kalau terutang sendiri yang memberinya sebagai hadiah atau hibah untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya, maka sah sah saja.

Tetapi jika penjamin sendiri yang mensyaratkan imbalan jasa (semacam uang iuran administrasi kartu kredit dan sebagainya) tersebut dan tidak mau menjamin dengan sukarela, maka dibolehkan bagi pengguna jasa jaminan memenuhi tuntutan tersebut bila diperlukan seperti kebutuhan yang lazim dalam perjalanan studi, bisnis, kegiatan sosial, urusan pribadi dan sebagainya.

Tetapi bisnis jasa kartu kredit tersebut boleh selama dalam prakteknya tidak bertransaksi dengan sistem riba yaitu memberlakukan ketentuan bunga bila pelunasan utang kepada penjamin lewat jatuh tempo pembayaran atau menunggak. Disamping itu ketentuan uang jasa kafalah tadi tidak boleh terlalu mahal sehingga memberatkan pihak terutang atau terlalu besar melebihi batas rasional, agar terjaga tujuan asal dari kafalah, yaitu jasa pertolongan berupa jaminan utang kepada merchant, penjual barang atau jasa yang menerima pembayaran dengan kartu kerdit tertentu. (Lihat, Dr. Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islâmiy wa Adillatuh, vol. V/130-161)

Dengan demikian dibolehkan bagi umat Islam untuk menggunakan jasa kartu kredit (credit card) yang tidak memakai sistem bunga. Namun bila terpaksa atau tuntutan kebutuhan mengharuskannya menggunakan kartu kredit biasa yang memakai ketentuan bunga, maka demi kemudahan transaksi dibolehkan memakai semua kartu kredit dengan keyakinan penuh menurut kondisi finansial dan ekonominya mampu membayar utang dan komitmen untuk melunasinya tepat waktu sebelum jatuh tempo agar tidak membayar utang.

Hal itu berdasarkan prinsip fiqih ‘Saddudz Dzarî’ah’, artinya sikap dan tindakan prefentif untuk mencegah dari perbuatan dosa. Sebab, hukum pemakan dan pemberi uang riba adalah sama-sama haram berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud bahwa:

لَعَنْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَشَاهِدَيْهَ وَكَاتِبَهُ.

“Rasulullah s.a.w. melaknat pemakan harta riba, pembayar riba, saksi transaksi ribawi dan penulisnya.” (HR. al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ali ibn Abi Thalib).

Wallâhu A’lam, wa Billâhit Taufîq wal Hidâyah.

(Dikutip dan diselraraskan dari tulisan Dr. Setiawan Budi Utomo, Lc,, M,A. dalam http://www.eramuslim.com/konsultasi/fikih-kontemporer/hukum-jual-beli-kredit.htm)

Tags: