Kajian Hadis Tentang Ilmu

  Wawasan as-Sunnah   16 Desember 2011

Kajian Hadis Tentang Ilmu

1. Carilah Ilmu Sekalipun Di Negeri Cina

Dalam sebuah majalah yang pernah penulis baca, dikisahkan bahwa ada seorang mubaligh dari Cina berceramah di hadapan jama’ah Indonesia. Dia mengemukakan hadis ini seraya berkomentar: “Bapak-bapak, ibu-ibu, seharusnya banyak bersyukur karena bapak ibu tidak perlu repot-repot pergi ke Cina, karena orang Cina-nya sudah datang ke sini.”

Sepanjang ingatan penulis pula, hadis ini tercantum dalam buku pelajaran kurikulum Madrasah Tsanawiyah pada masa penulis, entah kalau sekarang. Akan tetapi, ketika ada seorang kawan menyampaikan hadis ini sewaktu latihan ceramah, ada seorang ustadz yang menegur: “Untuk apa menuntut ilmu ke Cina? Ilmu apa yang mau dicari di sana? Ilmu dunia atau agama?”

Yang patut ditanyakan, apakah hadis yang kondang ini shahih dari Nabi Muhammad s.a.w.? Inilah yang akan menjadi pembahasan kita.

Teks Hadis

اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ

“Carilah ilmu sekalipun di negeri Cina.”

Derajat Hadis: “Bâthil”

Hadis di atas diriwayatkan oleh: Ibnu Adi (2/207), Abu Nu’aim (Akhbâr Ashbahan: 2/106), al-Khatib (Târîkh: 9/364 dan ar-Rihlah: 1/2), al-Baihaqi (al-Madkhal: 241, 324), Ibnu Abdil Barr (Jami’ Bayanil ‘Ilmi: 1/7-8) dari jalan Hasan bin Athiyah (ia berkata): Menceritakan kepada kami Abu A’tikah Tharif bin Sulaiman dari Anas secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah s.a.w.). Mereka semunya menambahkan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”

Kecacatan hadis ini terletak pada Abu A’tikah. Dia telah disepakati akan kelemahannya. Al-Bukhari berkata: “Munkarul Hadîts.” An-Nasa‘i berkata: “Tidak terpercaya.” Abu Hatim berkata: “Hadisnya hancur.”

Al-Marwazi bercerita: “Hadis ini pernah disebutkan di sisi Imam Ahmad, maka beliau mengingkarinya dengan keras. Ibnul Jauzi mencantumkan hadis ini dalam al-Maudhû’ât (1/215) dan berkata: Ibnu Hibban berkata: ‘Hadis batil, tidak ada asalnya.’ Dan disetujui as-Sakhawi.” (al-Maqâshid al-Hasanah, hlm. 63)

Kesimpulannya, hadis ini adalah “hadis bâthil” dan tidak ada jalan lain yang menguatkannya. (Lihat Silsilah Ahâdits adh-Dha’îfah: 416)

Kritik Matan Hadis

Syaikh Abdul Aziz bin Baz —setelah menjelaskan kelemahan hadis ini—berkata:

“Seandainya hadis ini shahih maka ia tidaklah menunjukkan tentang keutamaan negeri Cina dan penduduknya karena maksud hadis ini—kalaulah memang shahih—adalah anjuran untuk menuntut ilmu sekalipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh (1). Alasannya, menuntut ilmu merupakan perkara yang sangat penting karena ilmu merupakan penyebab kebaikan dunia dan akhirat bagi orang yang mengamalkannya. Jadi, bukanlah maksud hadis ini adalah negeri Cina itu sendiri melainkan karena Cina adalah negeri yang jauh dari tanah Arab, maka Nabi s.a.w. menjadikannya sebagai permisalan. Hal ini sangat jelas bagi orang yang mau memperhatikan hadis ini.” (at-Tuhfatul Karîmah Fî Bayâni Ba’dhi Ahâdîts Maudhû’ah wa Saqîmah, hlm. 60)

Tambahannya Shahih?

Adapun tambahan dalam hadis ini dengan lafazh:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”

Tentang tambahan di atas Syaikh al-Albani berkata: “Lafazh ini diriwayatkan dalam banyak sekali jalur dari Anas r.a. sehingga bisa terangkat ke derajat hasan sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh al-Mizzi. Saya telah mengumpulkan hingga sekarang sampai delapan jalur. Selain Anas, hadis juga diriwayatkan dari sejumlah sahabat lainnya seperti: Ibnu Umar, Abu Sa’id, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan Ali. Saya sekarang sedang mengumpulkan jalur-jalur lainnya dan menelitinya sehingga bisa menghukumi statusnya secara benar baik shahih, hasan, atau lemah. Setelah itu, saya mempelajarinya dan mampu mencapai kurang lebih dua puluh jalur dalam kitab Takhrij Musykilah al-Faqr (48-62) dan saya menyimpulkan bahwa hadis ini derajatnya hasan.” (at-Tuhfatul Karîmah Fî Bayâni Ba’dhi Ahâdîts Maudhû’ah wa Saqîmah, hlm. 60)

Al-Hafizh as-Suyuthi juga telah mengumpulkan jalur-jalur hadis ini dalam sebuah risalah khusus, Juz Thuruqi Hadîts Thalabil ‘Ilmi Farîdhatun ’Ala Kulli Muslimin, yang disunting Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dan dicetak oleh Dar Ammar, Yordania.

Namun, perlu kami ingatkan di sini, bahwa hadis ini memiliki tambahan yang populer padahal tidak ada asalnya yaitu lafazh “dan muslimah”.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah.”

Tambahan lafazh وَمُسْلِمَةٍ tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadis. Syaikh al-Albani berkata: “Hadis ini masyhur pada zaman sekarang dengan tambahan وَمُسْلِمَةٍ padahal tidak ada asalnya sedikit pun. Hal ini ditegaskan oleh al-Hafizh as-Sakhawi. Beliau berkata dalam al-Maqâshid al-Hasanah (hlm. 277): ‘Sebagian penulis telah memasukkan hadis ini dengan tambahan وَمُسْلِمَةٍ padahal tidak disebutkan dalam berbagai jalan hadis sedikit pun.’” (Takhrîj Musykilatul Faqr, hlm. 48-62)

Walaupun begitu, makna tambahan ini benar, karena perintah menuntut ilmu mencakup kaum pria dan wanita. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Hadis menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim juga mencakup wanita dengan kesepakatan ulama Islam, sekalipun tidak ada tambahan lafazh dan muslimah. Akan tetapi, matan-nya adalah shahih dengan kesepakatan ulama.” (Huqûq an-Nisâ’ Fil Islâm, hlm. 18)

Semoga Allah merahmati al-Hafizh Ibnul Jauzi tatkala berkata:
“Saya selalu menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu agama karena ilmu adalah cahaya yang menyinari. Hanya, saya memandang bahwa para wanita lebih utama dengan anjuran ini dikarenakan jauhnya mereka dari ilmu dan menguatnya hawa nafsu pada diri mereka.” Lanjutnya: “Wanita adalah manusia yang dibebani seperti kaum pria, maka wajib atasnya menuntut ilmu agar dapat menjalankan kewajiban dengan penuh keyakinan.” (Ahkâm Nisâ‘, hlm. 8-11)

Sejarah telah mencatat nama-nama harum para wanita yang menjadi para ulama dalam bidang agama, al-Qur‘an, hadis, syair, kedokteran, dan sebagainya. (Lihat kisah-kisah mereka dalam kitab Huqûq Mar‘ah, Nawwal binti Abdullah, hlm. 285-293, ’Inâyah an-Nisâ‘ Bil Hadîts an-Nabawi, Syaikh Masyhur Hasan Salman)

2. Hadis-Hadis Lemah Tentang Ilmu

Tidak diragukan lagi bahwa menuntut ilmu merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim. Namun, bukanlah hal itu berarti kita menganjurkan mereka dan memompa semangat mereka dengan hadis-hadis dusta yang disandarkan kepada Nabi ShollAllahu ‘Alaihi wa Sallam yang mulia seperti yang dilakukan oleh banyak penceramah dan penulis. Misalnya hadis:

اطْلُبُوْا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ

“Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur.”

Derajat Hadis: “Lâ Ashla Lahu (Tidak Ada Asalnya)”. Demikianlah yang ditegaskan Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz. (Lihat Ahâdits Mardûdah, Sa’id bin Shalih al-Ghamidi, hlm. 12)

Juga:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barang siapa yang menghendaki dunia maka hendaknya dia berilmu. Dan barang siapa yang menghendaki akhirat maka hendaknya dia berilmu. Dan barang siapa yang menghendaki dunia dan akhirat maka hendaknya dia berilmu.”

Derajat Hadis: “Lâ Ashla Lahu (Tidak Ada Asalnya)”. Yang benar ini adalah ucapan Imam asy-Syafi’i bukan ucapan Nabi s.a.w..

Dan masih banyak lagi hadis lemah lainnya yang sering dibawakan untuk menganjurkan manusia agar bersemangat menuntut ilmu. Sekali lagi, kita tidak butuh kepada hadis-hadis lemah. Cukuplah bagi kita dalil-dalil dari al-Quran, hadis yang shahih, dan ucapan para ulama. (Lihat kitab Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Imam Ibnu Abdil Barr dan Miftâh Dâr Sa’âdah, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah)

Bolehkah Menggunakan Hadis-hadis Dha’if Untuk Fadhâilul A’mâl?

Sebagian ulama berpendapat bahwa dibolehkannya menyampaikan Hadis-Hadis dhaif dalam urusan nasihat dan bimbingan, dan dari apa-apa yang disitilahkan dengan fadhâilul a’mâl. Sampai-sampai banyak yang mengklaim bahwa ulama telah sepakat terhadap pendapat ini.

Tidak ragu lagi, ini adalah salah besar. Sejumlah besar para ulama muhaqqiq (peneliti) berpendapat bahwa tidak boleh mengamalkan hadis dhaif dalam fadhâilul a’mâl dan lainnya. Ini adalah pendapat Imam Bukhari dan dikuatkan oleh Syaikh al-Albani pada masa kita sekarang.

Lagi pula, pihak yang membolehkan mengamalkan hadis dhaif untuk fadhâilul a’mâl juga memberikan syarat dengan syarat yang begitu penting sampai-sampai tidak mungkin, sehingga sama saja itu sebagai hadis shahih.

Syarat yang mereka keluarkan adalah:

  1. Hadis tersebut kedha’ifannya ringan
  2. Kandungannya memiliki dasar yang kuat yang telah ada pada Hadis lain yang tidak dha’if
  3. Hendaknya si penasehat menjelaskan kepada manusia bahwa Hadis tersebut adalah dha’if

Ulama yang luas ilmu-ilmu syariat selamanya tidak akan pernah berhujjah dengan hadis-hadis dha’if, karena hadis-hadis shahih begitu banyak dan mencukupi. Namun, orang-orang yang sering menggunakan hadis dha’if, mereka hanyalah orang-orang yang membuat mudah populernya hadis-hadis dha’if, lantaran sedikitnya pergaulan mereka terhadap hadis dan ilmu-ilmunya.”

Dalam Fatwanya, Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan: “Banyak amal yang disandarkan oleh mereka kepada apa-apa yang telah disiarkan oleh orang yang menganggap Hadis dhaif itu boleh diriwayatkan dalam fadhâilul a’mâl, kisah, targhîb (janji), tarhîb (ancaman), dan semisalnya.

Beliau memberikan sejumlah peringatan sebagai berikut:

Pertama. Pendapat ini tidaklah disepakati, di sana terdapat sejumlah besar para imam mu’tabar yang menolak menggunakan Hadis dhaif dalam semua bidang, sama saja baik fadhâilul a’mâl dan lainnya.  Itu adalah pendapat Imam Yahya bin Ma’in, dan segolongan para imam, dan juga zahirnya pendapat Imam Al Bukhari; orang yang telah meneliti dengan cermat dan detil terhadap syarat diterimanya Hadis. Juga Imam Muslim yang dalam mukadimah Shahihnya telah menilai buruk terhadap para periwayat Hadis dhaif dan munkar, juga terhadap orang yang meninggalkan khabar yang shahih. Ini juga kecenderungan pendapat Imam Abu Bakar bin Al ‘Arabi pemimpin madzhab Malikiyah dizamannya, juga Imam Abu Syamah pemimpin madzhab Syafi’iyah pada zamannya, dan pendapat Imam Ibnu Hazm, dan selainnya.

Kedua. Jika telah ada dalam Hadis shahih dan hasan yang memuat makna dan maksud pelajaran dan peringatan, maka tidak ada artinya bergantung dengan Hadis lemah lagi lembek. Allah Ta’ala telah mencukupkan dengan baik dibanding yang jelek, dan jarang sekali makna agama, akhlak, dan taujih, yang tidak ditemukan dalam Hadis shahih dan hasan, betapa itu sudah memadai. Tetapi lemahnya keinginan, dan mengambil segala apa saja yang datang kepadanya tanpa mengkaji dan muraja’ah, membuat begitu mudahnya tersebarnya Hadis dhaif secara mutlak.

Ketiga. Sesungguhnya Hadis dhaif tidak boleh disandarkan kepad Nabi s.a.w.  dengan bentuk kata jazm (pemastian). Disebutkan dalam kitab At Taqrib Syarhnya: “Jika anda hendak meriwayatkan Hadis dhaif tanpa isnad, maka jangan katakan: Qaala Rasulullah kadza (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda begini).’ Atau kata lainnya yang semisal pemastian. Tetapi katakanlah: ruwiya ‘anhu kadza (diriwayatkan darinya begini), atau disampaikan kepada kami darinya begini, atau telah sampai, atau telah datang, atau telah dinukil darinya, dan yang semisalnya dari bentuk kata tamridh (bentuk kata yang menunjukan adanya cacat), seperti rawaa ba’dhuhum (sebagian mereka meriwayatkan). Maka, apa yang menjadi kebiasaan sebagian khatib, juru nasihat, ketika menyampaikan Hadis dhaif dengan ucapan: Qaala Rasulullah (Rasulullah telah bersabda), adalah pekara yang tidak dapat diterima.

Keempat. Ulama yang membolehkan menggunakan Hadis dhaif dalam urusan targhib dan tarhib tidaklah membuka pintu bagi semua yang dhaif. Mereka memberikan syarat untuk itu, yakni ada tiga syarat:

  1. Kedhaifannya tidak terlalu.
  2. Hadis tersebut masih masuk ke dalam prinsip dasar syariat yang dapat diamalkan melalui al-Quran dan Sunah yang shahih.
  3. Ketika mengamalkannya tidak memastikan dari Nabi s.a.w., justeru hendaknya berhati-hati.

Dari sini telah jelas, bahwa tak satu pun ulama membolehkan menggunakan Hadis dhaif dengan pembolehan tanpa ikatan dan syarat. Bahkan mereka memberikan tiga syarat sebagaimana yang telah disebutkan.

Sebagai tambahan dari syarat asasi ini, yaitu hendaknya hal itu pada fadhâilul a’mâl saja tidak berakibat pada hukum syariat. Dalam pandangan saya, hendaknya syarat ini ditambah dua syarat lagi, yakni:

  1. Isinya tidak mengandung hal-hal yang bombastis dan ditolak oleh akal, syariat, dan bahasa. Para imam hadis telah menyebutkan bahwa hadis palsu dapat diketahui melalui qarînah (petunjuk) pada perawinya dan apa yang diriwayatkannya.
  2. Tidak bertentangan dengan nash syar’i lain yang lebih kuat darinya.

Penutup

Pembicaraan tentang ilmu panjang sekali. Namun, satu poin penting yang ingin kami tekankan di sini, bahwa banyak para penulis dan penceramah tatkala membawakan dalil-dalil al-Quran dan hadis—baik yang shahih maupun tidak shahih—tentang menuntut ilmu mereka memaksudkannya untuk ilmu dunia. Hal itu adalah suatu kesalahan, karena setiap ilmu yang dipuji oleh dalil-dalil tersebut maksudnya ilmu-ilmu yang digali dari spirit (semangat) al-Quran dan sunnah.  Kita memang tidak mengingkari ilmu-ilmu dunia seperti kedokteran, arsitektur, pertanian, perekonomian, dan sebagainya tetapi ilmu-ilmu duniawi itu bukanlah yang dimaksudkan dalam dalil-dalil tersebut. Hukumnya (ilmu-ilmu duniawi itu) tergantung pada tujuannya. Apabila ilmu-ilmu duniawi tersebut digunakan dalam ketaatan maka baik, dan bila digunakan dalam kejelekan maka jelek. Perhatikanlah hal ini baik-baik, semoga Allah menambahkan ilmu bagimu.

(Dikutip dan disellaraskan dari http://www.alfurqon.co.id)

Tags: