Kajian Tematik Manajemen Qalbu

Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid

Di: Masjid Pertiwi, Gendingan, Kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan, Yogyakart

Ustadz: Muhsin Hariyanto

I

Membangun Sikap Jujur

Terkadang seseorang berbohong karena suatu kepentingan. Namun, disadari atau tidak, pada saat ia melakukan suatu kebohongan, maka kecemasan akan datang menghantuinya. Cemas apabila kebohongannya terbongkar. Cemas apabila orang akan mencelanya sebagai seorang pembohong dan beragam kecemasan lainnya. Sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Seseorang yang awalnya terpaksa berbohong, namun bila ia melakukannya terus-menerus, maka hal itu akan melekat pada dirinya dan menjadi tabiat hidupnya. Inilah yang harus diwaspadai. Sesungguhnya kebohongan hanya membawa pelakunya kepada banyak permasalahan.

II

Berbahagia dengan Huznu Zhan

Kehidupan bagaikan sebuah pengembaraan. Banyak yang manusia temui sepanjang perjalanan hidupnya. Banyak hal yang tak pasti dan tak dapat diprediksi. Terkadang manusia mengalami kebahagian, kadang ia juga mengalami kesedihan. Banyak hal yang dilakukan untuk menghilangkan efek dari satu pengalaman yang didapat dari perjalanan hidup, salah satunya adalah husnuzhan.

III

Mengembangkan Sikap Ihsân

Kisah Umar ibn al-Khaththab – Sang Khalifah — ketika berinteraksi dengan seorang anak gembala berikut ini, benar-benar bisa menjadi ‘ibrah bagi diri kita. Berawal dari permintaan ‘Sang Khalifah’: ”Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!. ‘Si Anak Gembala’ itu pun menjawab: Aku hanyalah seorang budak, jawab si anak gembala. Sang Khalifah pun berucap kembali:  Katakan saja nanti pada tuanmu bahwa anak kambing itu dimakan serigala. Anak gembala itu pun terdiam sejenak, dan ditatapnya wajah Sang Khalifah, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Sang Khalifah: ”Fa ainallâh?”, yang kurang lebih bermakna: Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?” Alangkah indahnya negeri ini bila penduduknya memiliki îmân dan ihsân seperti ‘Si Anak Gembala itu’. Apalagi jika îmân dan ihsân itu ada pada para pendidik  di negeri ini. Para pendidik yang berkarakter dan selalu bersedia mengedepankan sikap ‘ihsân”, yang dengan îmân dan sikap istiqâmahnyabisa bekerja — secara optimal — untuk  mendidik para peserta didiknya.

IV

Memahami Makna Ikhlas

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya’ akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.

V

Jadilah Seorang Pemaaf

Islam mendorong setiap muslim untuk memiliki sikap “pemaaf”. Sifat ini muncul karena keimanan, ketakwaan, pengetahuan dan wawasan mendalam seorang muslim tentang Islam. Seorang muslim menyadari bahwa sikap pemaaf menguntungkan, terutama mebuat hati lapang dan tidak dendam terhadap orang yang berbuat salah kepadanya, sehingga jiwanya menjadi tenang dan tentram. Apabila ia bukan pemaaf, tentu akan menjadi orang pendendam. Dendam yang tidak terbalas menjadi beban bagi dirinya. Ini penyakit berbahaya karena selalu membawa kegelisahan dan tekanan negatif bagi orang yang bersangkutan. Hanya orang-orang bodoh yang tidak memiliki sikap pemaaf.

VI

Bersikap Istiqamah

Banyak hal yang bisa menjadikan diri kita ‘gamang’ menghadapi persoalan hidup, karena kita tidak selalu hidup dalam lingkaran sistem dan budaya yang ‘sehat’. Bahkan dalam banyak hal kita ditantang oleh sebuah kenyataan hidup yang serba menggoda, hingga iman kita serasa semakin menipis dan suatu saat mungkin akan sirna karena kelemahan kita sendiri ketika menghadapi realitas kehidupan yang serba menekan.   Padahal Islam telah mengenalkan panduan hidup yang cukup sederhana; “jadilah orang yang beriman, bersikap istiqâmah dan – kemudian – “jaga lidah kita”.

VII

Tahsîn al-Akhlâq:

“Berproses Menjadi Muslim Sejati”

Pendidikan untuk “pencerdasan diri”, merupakan visi dan misi Islam sejak agama ini diturunkan Allah SWT. Penanamam sikap tauhid dan pembinaan akhlak adalah dua ‘kunci utama’ pendidikan yang ditawarkan Islam. Tauhid adalah akar kepribadian sedangkan akhlak adalah buahnya. Tanpa akar yang kuat — kata para ulama — tanaman mudah tercerabut, berpeluang layu, dan akhirnya ‘mati’, atau kalau tetap hidup pun ‘buahnya’ akan rusak bersamanya. Namun, akar yang kuat saja bagi setiap pohon, tidaklah cukup, apabila pohon tak dirawat dengan  penuh kesabaran sejak ditanamnya benih, maka jangan harap akan memberikan kesempurnaan hasil yang diidamkan.

VIII

Membangun Sikap Khauf dan Rajâ’

Konsep Khauf dan Raja’, dan dalam dunia spiritualitas dianggap sebagai salah satu hâl (kondisi) yang harus dilalui atau dialami orang yang menapak jalan menuju Allah. Keseimbangan secara proporsional ini diperlukan agar seseorang tidak tenggelam dalam satu kondisi, apakah itu Raja’ atau Khauf saja.

IX

Al-Hilm:

(Menahan Diri untuk Melampiaskan Amarah

Meskipun Mampu Untuk Melakukannya)

Jika seseorang mengikuti amarahnya tanpa menggunakan akal pikiran dan perenungan, berarti dia berada dalam satu kehinaan, dan jika ia rela dengan kezaliman dan kesewenangan maka dia pun berada dalam kehinaan yang serupa. Tetapi jika dia menghadapinya dengan sikap sabar, meskipun dia memiliki kemampuan untuk melampiaskan kemarahannya, maka dia berada dalam kebaikan, dan itulah hakikatnya sifat al-hilm.

X

Antara Amanah dan Khianat

Sikap amanah harus dimiliki setiap individu, terutama para pemimpin. Dengan sikap amanah diharapkan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka dapat dijalankan dengan baik dan membawa kejayaan setiap orang, keluarga, masyarakat dan bangsa. Sebaliknya, apabila sikap khianat menjadi ‘budaya’, maka setiap orang, keluarga, masyarakat dan bangsa ini akan semakin terpuruk.

XI

Menjaga Diri dari Sikap Ghuluw

Ghuluw adalah sikap melampaui batas kebenaran. Sesuatu yang berlebih-lebihan pasti akan keluar dari jalan yang lurus. Ibn Hajar mengatakan: “Ghuluw adalah berlebih-lebihan terhadap sesuatu dan menekan hingga melampau batas.” Sikap ghuluw telah lama menjangkiti umat-umat terdahulu. Sebelum Nabi Muhammad, umat-umat Nabi Nuh, Nabi Musa dan Isa dikecam karena telah melebih-lebihkan aturan yang telah diberikan.

XII

Afsyus Salâm:

“Dari Ucapan Menuju Tindakan”

Kata “salâm” dalam hadis itu bisa dimaknai lebih daripada sekadar mengucapkan salam secara verbal. Lebih jauh dari itu, salâm bisa dimaknai sebagai “kedamaian” dalam pengertian luas. Tebarkan kedamaian untuk siapa pun dalam konteks apa pun. Karena Islam hadir dengan tawaran damai: “peace for all” (damai untuk semuanya), selaras dengan misi kerahmatannya, rahmatan li al-âlamîn. Itulah kurang-lebih makna kalimat “afsyus salâm” (tebarkanlah kedamaian untuk semua orang).