Keabsahan Patungan Kurban Sapi dengani Niat yang Berbeda-Beda

Ada sebuah pertanyaan dari jamaah: “Apakah boleh tiga orang yang (ada di rumah yang berbeda) melakukan patungan kurban sapi, namun satu orang di antara mereka berniat untuk kurban sedangkan dua orang lagi tidak berniat kurban, hanya sekadar ingin memanfaatkan dagingnya?”

Dalam hal ini – memang — terdapat dua pendapat di antara para ulama mengenai tercampurnya niat antara orang-orang yang ingin berkurban dengan yang ingin sekadar memanfaatkan dagingnya saja.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa hukumnya “boleh”, ketika ada percampuran niat dalam kurban. Baik (niat) yang tercampur itu antara niat kurban wajib dengan niat kurban sunnah. Atau juga niat yang tercampur itu antara niat kurban dengan niat (sekadar)ingin memanfaatkan dagingnya saja. Inilah pendapat ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan Muslim, Shahih Muslim,  IV/38, hadits nomor 3005:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُهِلِّينَبِالْحَجِّ فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَشْتَرِكَ فِىالإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِى بَدَنَةٍ.

“Dari Jabir dia berkata (bahwa) kami pernah  keluar bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam untuk menunaikan ibadah haji. Lalu Rasulullah shallallâhu ’alaihi wasallam memerintahkan kami untuk (melakukan) patungan kurban unta dan sapi. Tujuh orang dari kami tiap satu ekor”.

Dalam riwayat lain dinyatakan:

عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِيأَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: اشْتَرَكْنَا مَعَ النَّبِيِّصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِيبَدَنَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ لِجَابِرٍ أَيُشْتَرَكُ فِي الْبَدَنَةِ مَا يُشْتَرَكُفِي الْجَزُورِ قَالَ مَا هِيَ إِلَّا مِنْ الْبُدْنِ وَحَضَرَ جَابِرٌالْحُدَيْبِيَةَ قَالَ نَحَرْنَا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ بَدَنَةً اشْتَرَكْنَاكُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ

 “Dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata; “Kami bersekutu bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam di dalam haji dan umrah, yakni tujuh orang berkurban seekor Unta atau seekor Sapi.” Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Jabir, “Bolehkah bersekutu dalam kambing sebagaimana bolehnya bersekutu dalam Unta atau sapi?” Jabir menjawab, “Tidaklah kami bersekutu, kecuali dalam Badanah (unta atau sapi).” Jabir juga turut serta dalam peristiwa Hudaibiyah. Ia berkata, “Di hari itu, kami menyembelih tujuh puluh ekor Badanah (unta atau sapi). Setiap tujuh orang dari kami bersekutu untuk kurban seekor Badanah (unta atau sapi).”(Muslim, Shahîh Muslim, IV/88, hadits nomor 3250)

Dari kedua hadits ini bisa dipahami bahwa berkurban dalam haji itu ada yang wajib dan ada yang sunnah. Namun perbedaan dari niat taqarrub (ibadah) ini tidak memberi pengaruh. Jadi hadits ini menunjukkan bahwa perbedaan niat tidak memengaruhi keabsahan kurban.

Pendapat kedua, tidak boleh ada perbedaan niatantara niat taqarrub (beribadah) dengan selain taqarrub. Karena kurban itusatu kesatuan, tidak boleh ada perbedaan dari orang yang patungan, yaitu sebagiannya ingintaqarrub dan lainnya bukan ingin ibadah. Inilah pendapat ulama Hanafiyyah.

Pendapat yang lebih kuat –menurut sebagian ulama — adalah bahwa tidak boleh ada perbedaan niat kurban kecuali perbedaan niat yang semuanya masih termasuk niat taqarrub (beribadah kurban). Karena yang diizinkan dalam hadits-hadits adalah dalam konteks yang demikian. Adapun perbedaan niat antara kurban yang wajib dengan kurban yang sunnah, ini tidak bermasalah. Karena semua ini termasuk niat taqarrub. Sebaliknya, jika perbedaannya antara ibadah danbukan ibadah, bisa dinyatakan “tidak boleh”.

WallâhuAlam.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan [hasil terjemah] YulianPurnama [muslim.or.id], dalam http://ar.islamway.net/fatwa/39383?ref=w-new, dan dimuat kembali dalam http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/09/21/mthj74-merasakan-kehadirannya)