Kemaksiatan Tak Lagi Mengenal ‘Simbolnya’
Ironis! Itulah ‘komentar’ sahabat saya ketika membaca sebuah tulisan di koran ibukota yang mengungkap peristiwa tertangkapnya ‘seorang guru besar’  salah satu PTN ternama di Indonesia Timur, yang ditengarai mengonsumsi ‘sabu-sabu’. Apalagi yang bisa kita harap, katanya.

Saya pun segera berkomentar. Nggak perlu risau! Peristiwa lain yang lebih mengenaskan pernah juga terjadi.

Saya pernah tersentak, ketika membaca kasus korupsi ‘dana haji’ dan — yang lebih memalukan — ‘kasus korupsi pengadaan kitab suci al-Quran. Pelakunya ‘sama sekali nggak terduga’, para petinggi di sebuah kementerian yang seharusnya menjadi ‘uswah hasanah‘ bagi yang lain. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Itulah komentar saya ketika itu.

Belum lagi kata teman saya. Di sebuah stasiun TV swasta pernbah ditayangkan sejumlah perempuan ‘berkerudung’ dan ‘laki-laki’ berjubah dan berkopiah putih’ berada di meja hijau, menempati kursi terdakwa dengan mengantongi sebuah kasus yang sangat memalukan: “korupsi”.

Dalam ‘Kerudung dan Jubah Para Tersangka’ itu para terdakwa — dengan tenangnya’ menjawab pertayaan para hakim, dan berupaya memberikan sebuah pembelaan dengan sangat meyakinkan. Di sini ‘Publik’ menyaksikan paradoks para tersangka korupsi di negeri ini. Para pelaku tindak kriminalitas itu  tampil di hadapan publik dalam ‘balutan pakaian yang berasal dari lingkungan religius umat Islam’, yang perempuan mengenakan kerudung atau jilbab, sedangkan laki-laki berjubah dan berkopiah putih, sebuah simbol yang mengisyaratkan kesalehan.

Saya pun berkomentar lirih: “ternyata simbol tak selalu berkorelasi dengan substansi”.

Sorry-sorry to say, meminjam ungkapan ‘Mpok Romlah’ dalam sebuah acara tayangan sinetron Tukang Bubur Naik Haji, saya tak habis pikir. Apakah Tuhan (Allah) sudah sedemikian ‘marah’ pada diri kita, umat Islam dan bangsa kita ini, sehingga beberapa kali kita diberi peringatan yang sangat ‘memesona’ dan menginspirasi. Ternyata — ‘saat ini ‘ — kemaksiatan tak lagi mengenal simbolnya sendiri. Dan bahkan telah — dengan sangat meyakinkan — meminjam simbol lawan abadinya!

Ada apa dengan dunia kita?

 

Wallahu A’lam bish-Shawab!