Kenali Pola Money Games pada Perusahaan Berkedok MLM

Pengantar:

Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN ini mengunjungi pembaca setiap hari Jumat. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis. Pembaca dapat mengirimkan pertanyaan atau berkonsultasi seputar masalah-masalah perencanaan keuangan. Pertanyaan dapat dikirim lewat email: redaksi@sinarharapan.co.id, Faksimile Redaksi Sinar Harapan (021) 3153581, surat dialamatkan ke redaksi Sinar Harapan, Jl. Raden Saleh No. 1B-1D Cikini, Jakarta Pusat 10430, dan bisa membuka di http://www.pembelajar.com/ISOL.

Siapa sih yang tidak tertarik dengan usaha sambilan dengan modal seadanya, tetapi penghasilannya bisa sangat besar. Bahkan, bukan tidak mungkin kemudian usaha sambilan tersebut bisa menjadi penghasilan utama karena menjanjikan kehidupan yang lebih layak dan menjamin masa tua yang lebih aman.
Kesempatan menggiurkan itu bisa diperoleh dari usaha multi level marketing (MLM) atau direct selling yang telah lama tumbuh dan berkembang, apalagi selama masa krisis di Indonesia, baik dari jumlah perusahaan, jenis produk maupun pelaku usaha tersebut.
Para pelaku usaha ini biasa disebut member, anggota, mitra bisnis atau investor. Mengembangkan network menjadi sangat penting dalam usaha ini. Karena penghasilan usaha ini didapat bukan hanya dari menjual produk tapi juga dari hasil penjualan jejaring yang dikembangkan.
Bagaimana perusahaan MLM tersebut bisa memberikan diskon yang besar sebagai pendapatan atau bonus bagi para membernya? Pola penjualan langsung, memutus biaya untuk distributor—dalam mata rantai distribusi dari pabrik hingga konsumen—yang kemudian dana untuk itu bisa diberikan kepada anggota sebagai bonus.
Namun, dibalik maraknya perkembangan bisnis MLM dan kesuksesan yang sudah dirasakan sebagian member, sesungguhnya tidak sedikit beredar kisah sedih dari orang yang gagal menggeluti bisnis MLM atau kegiatan usaha lain yang pola kerjanya nyaris sama dengan MLM, namum bukan pola MLM.
Oleh karenanya, dalam pembahasan kali ini kami mencoba memberikan beberapa ciri yang dapat Anda amati guna membedakan antara bisnis MLM dan bisnis berkedok MLM, atau biasa disebut dengan pola piramida.

Regulasi
Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI) tidak pernah reda untuk mengikis habis perusahaan nakal pengganda uang (pola piramida) yang berkedok perusahaan MLM atau mendompleng usaha itu. Adapun salah satu upaya yang ditempuh adalah mendesak Deperindag untuk segera menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang Ketentuan kegiatan usaha penjualan berjenjang.
Untuk melindungi masyarakat agar tidak terjebak iming-iming pengusaha pengganda uang berkedok MLM maka peraturan yang baru nanti, baik SK maupun Undang-Undang, hendaknya memberikan penekanan mengenai usaha single level (direct selling) dan multi level (MLM).
Sampai saat ini diperkirakan sedikitnya 4,5 juta orang Indonesia yang bekerja sebagai tenaga pemasaran berjenjang. Perkembangannya bisa mencapai 18 juta orang bila satu keluarga beranggotakan empat orang semua terlibat dalam bisnis itu.
Adapun perusahaan MLM yang telah bergabung menjadi anggota APLI sebanyak 59 perusahaan, walaupun perusahaan sejenis yang beroperasi di Tanah Air sekarang cukup banyak jumlahnya.

Ciri dan daya tarik sistem MLM
Dilihat dari berbagai ciri dari sistem MLM ini ada beberapa hal yang menurut hemat kami sangat memberikan pesona atau daya tarik usaha ini. Beberapa hal tersebut adalah:
Penghasilan besar tiap bulannya. Usaha melalui sistem MLM dimana penghasilan mereka yang sudah mencapai tingkat Diamond Distributor di Amway atau Diamond Agency Manager di CNI keduanya merupakan perusahaan MLM terkemuka di Indonesia, lebih besar dibandingkan para direktur maupun CEO di perusahaan konvensional. Ditambah lagi, dalam sistem MLM semua orang berpeluang untuk mencapai jenjang tinggi dengan waktu yang relatif tidak terlalu panjang. Andrias Harefa menyebutkan dalam bukunya, untuk mencapai jenjang Diamond umumnya dibutuhkan waktu 4-10 tahun. Sedangkan untuk mencapai jenjang direktur atau CEO dalam perusahaan konvensional dibutuhkan waktu 15-30 tahun.
Bisnis dengan modal seadanya. Bisnis MLM hanya membutuhkan dana awal yang sangat kecil. Untuk bergabung dengan usaha MLM modal awal yang harus dikeluarkan berupa pembelian fomulir pendaftaran berikut informasi awal (starter kit, busines pack) yang nilainya sekitar atau kurang dari Rp. 300,000. Jumlah yang sangat kecil dengan peluang mendapatkan penghasilan bulanan sama atau lebih besar dengan para CEO di perusahaan konvensional.
Untuk semua usaha, modal finansial bukan satu-satunya modal yang harus dikeluarkan. Dalam menekuni bisnis apapun modal yang juga dibutuhkan adalah berupa waktu, pengetahuan, sikap mental, motivasi dan tekad bulat, keahlian berkomunikasi dan lain-lain.
Bisnis dengan risiko rendah atau tidak ada sama sekali?. Bila Anda ingin berusaha, tentunya akan menghadapi apa yang disebut risiko. Tetapi apakah untuk mendapatkan keuntungan besar seseorang harus menanamkan uangnya dalam jumlah besar sebagai investasi usaha?
Dalam sistem bisnis MLM, sepanjang risiko yang dimaksud adalah kerugian finansial maka bisnis MLM ini memberikan tingkat risiko yang sangat rendah (minim). Dengan hanya modal awal berupa starter kid atau business pack, jelas bahwa risiko finansial bagi yang tidak berhasil meraih sukses dalam bisnis ini juga kecil. Bahkan perusahaan-perusahaan besar MLM memberikan kesempatan kepada distributornya bila merasa tidak yakin masih dapat mengembalikan starter kit-nya dan mendapatkan kembali uangnya.
Jadi dari aspek finansial, bisnis sistem MLM dapat dibilang bebas risiko. Namun celakanya, justru karena modal awalnya minimum dan risikonya relatif nol (kecil), banyak orang yang terlibat dalam bisnis ini tidak serius menjalankannya, sehingga memang berakhir dengan kegagalan.
Transparasi penilaian prestasi. Dalam bisnis MLM, mereka yang mencapai posisi puncak dalam suatu jaringan (network) umumnya memang telah dikenal prestasi dan reputasinya sebagai penjual dan perekrut handal.
Sehingga bila seorang distributor dengan masa kerja pendek berhasil mencapai posisi cukup tinggi, hal ini justru menjadi kebanggaan kelompoknya. Hal ini malah memberikan motivasi lebih besar lagi kepada para downliners untuk bekerja lebih giat lagi dan menjadikannya sebagi tokoh kebanggaan, model yang harus ditiru, dan kata-kata yang diucapkannya makin berharga di mata mereka.
Dengan sisitem bisnis MLM penilaian prestasi seseorang dilakukan secara relatif trasparan berdasarkan target-target yang ditetapkan serta diketahui oleh semua orang yang terlibat didalamnya. Tidak ada kolusi, nepotisme atau kronisme yang mendahulukan kepentingan orang-orang se-suku, se-keluarga, se-agama dan sebagainya. Semuanya transparan.

Skema piramida
Perusahaan penggandaan uang yang berkedok MLM biasanya menawarkan berbagai kemudahan dan janji-janji yang menggiurkan. Penyelewengan sistem MLM ini nampak dalam skema piramida atau investasi lewat surat berantai. Pemasaran produk dengan skema surat berantai memiliki ciri-ciri khusus yang sebenarnya mudah untuk dikenali. Ciri pertama adalah pungutan biaya pendaftarn anggota yang relative besar dan sebagian digunakan sebagai kompensasi atau komisi kepada orang-orang yang merekrut atau mensponsori anggota baru.
Dengan cara ini, sistem piramida seolah-olah terlihat lebih unggul dan menarik dibandingkan dengan pola MLM yang sah dimana tidak memberikan kompensasi terhadap orang atau anggota yang merekrut anggota baru dari fee pendaftarannya.
Dengan demikian, anggota skema piramida lebih sibuk untuk merekrut anggota baru dan melalaikan tanggung jawab untuk menjual produk dan memberikan pelayanan kepada pelanggan.
Ciri kedua dalam skema piramida ini adalah keharusan setiap anggotanya untuk melakukan pembelian produk dalam jumlah besar dan dengan potongan harga setinggi mungkin (sementara harga produk umumnya telah “disesuaikan” secara tidak wajar) sebelum menerima pesanan dari pelanggan atau distributor lainnya. Pembelian produk ini tidak disertai dengan jaminan uang kembali (garansi), karena produk-produk yang mereka distribusikan umumnya memang tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan manfaatnya. Akibat lain dari praktek bisnis semacam ini adalah kecendrungan untuk menjual produknya dengan harga seenaknya (banting harga) atau sama sekali tidak mempedulikan produk.
Ciri ketiga dari sistem pemasaran piramida ketidakpedulian perusahaan dan distributor independennya terhadap kualitas produk dan kepuasan pelanggan, sehingga konsumen cendrung menjadi korban. Ketidakpedulian ini juga nampak nyata karena banyak distributor yang telah memesan produk sebagai syarat menjadi anggota, kemudian tidak pernah mengambil produk tersebut dari perusahaan. Sementara perusahaan acapkali kehabisan stok produk tertentu dan lalai untuk menyediakannya dalam kurun waktu yang dijanjikan.
Ciri keempat adalah tidak adanya perjanjian atau kontrak tertulis antara perusahaan dengan distributornya. Hampir semua janji berupa iming-iming untuk menjadi kaya mendadak disampaikan secara lisan, sehingga sulit untuk dibuktikan bila terjadi pengingkaran.
Ciri kelima adalah tidak adanya pendidikan dan sistem pelatihan yang sistematis dan berkesinambungan untuk para distributor. Perusahaan dan para pemimpin jaringan tidak menunjukkan rasa tanggung jawab moral untuk mengembangkan sumber daya manusianya secara sungguh-sungguh.
Ciri keenam adalah tidak diterimanya perusahaan yang melaksanakan pemasaran dengan skema piramida dan investasi surat berantai sebagai anggota APLI atau Direct Selling Association (DSA) di negara di mana mereka beroperasi.
Dan ciri ketujuh adalah pelanggaran terhadap prinsip umum MLM yang sah, yakni semua anggota memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan produk atau serius. Dalam skema piramida, mereka yang mendaftar belakangan kurang dan/ atau tidak memiliki sama sekali peluang untuk mendapatkan keuntungan. Setiap keberhasilan seseorang harus dibayar dengan kegagalan sejumlah orang lain yang bergabung belakangan.
Demikianlah paparan kami kali ini. Semoga ulasan kali ini memberikan masukan kepada Anda dan dapat melihat perbedaan dari binis MLM dan yang berkedok MLM.

Selamat berusaha.

(Dikutip dan diselaraskan dari http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/eureka/2004/0716/eur1.html)