“Ketika Topeng Kebohongan Semakin Terpakai”

Di zaman yang penuh dengan para ‘pemain sandiwara’ dewasa ini, hampir setiap saat kita dijejali dengan janji-janji yang dilontarkan oleh siapa pun, termasuk janji-janji yang dilontarkan oleh para calon presiden dan para calon wakil rakyat yang sedang ‘sangat sibuk’ berkampanye.

Pengalaman membuktikan bahwa sebagian besar janji yang dilontarkan pada masa kampanye tidak pernah kunjung ditepati ketika akhirnya ‘mereka’ terpilih menjadi pejabat publik.

Kejadian seperti ini umum sekali terjadi, dan bukan hanya di negeri kita, melainkan di seantero ‘jagad’, di saat para ‘badut’ musiman memertontonkan sandiwara politik yang sarat nilai-nilai kebohongan dan tipudaya.

Kita sering mendapati para pejabat publik yang — dengan santainya — mengingkari janji-janji muluk yang pernah mereka lontarkan, dan pada akhirnya justeru menimbulkan rasa muak di dalam diri kebanyakan manusia yang merindukan atmosfir kejujuran dan kesungguhan karena ingjar janji mereka.

Bahkan, pada saat ini perilaku berdusta pun didemonstrasikan juga oleh para pejabat publik yang dikenal luas sebagai politisi yang berjuang atas nama Dakwah, dan oleh karenanya sungguh ‘kemuakan’ yang ditimbulkannya pun semakin menjadi berlipat ganda.

Saya pun sering bertanya kepada diri saya sendiri: “Tidakkah mereka ‘pernah’ sesekali menyimak — dengan hati mereka – makna firman Allah di bawah ini?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah ketika kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS ash-Shaff [61] : 2-3)

Mencermati fenomena ini, saya kira tidak salah kalau saya katakan kepada para sahabat saya: “Ketika topeng-topeng kebohongan semakin terpakai oleh siapa pun yang ada di seputar kita, waspadalah!, agar ‘diri kita’ tak tertipu (lagi) oleh siapa pun yang – dengan kemampuannya untuk beretorika dan mencitrakan dirinya – sering membuat diri kita terpesona.”

Beware and be careful!