Khutbah Nikah: “Kado Pernikahan untuk ananda tercinta, Amalia Rizqina Putri Imammia S.Si dan Dhavin Raditya Shendy, S.T. “

السلام عليكم  و رحمة الله  و بركاته

Alhamdulillah,  berkat karunia dan limpahan rahmatNya-lah di pagi hari yang penuh berkah ini, Sabtu Pon, 22 Muharram 1436 H.,bertepatan dengan tanggal 15 November 2014,kita dapat berkumpul pada acara akad-nikah sahabat kita tercinta, — Amalia Rizqina Putri Imammia S.Si — dengan — Dhavin Raditya Shendy, S.T.

Kita senantiasa bermohon kepada Allah,semoga pertemuan ini mendapatkan rahmat dariNya. Âmîn Yâ Mujîbas  Sâilîn.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ananda berdua, Allah SWT telah menakdirkan kalian pada hari ini, Sabtu Pon, 22 Muharram 1436 H., bertepatan dengan tanggal 15 November 2014, menikah dengan pasangan yang telah dipertemukan olehNya.

Beberapa saat lagi  kalian berduaakan resmi melaksanakan akad- nikah, perjanjian yang menyebabkan kalian berdua mempunyai status baru, sebagai pasangan suami-isteri secara sah menurut ketentuan agama, dan diakui serta dicatat, sehingga memunyai kekuatan hukum sesuai dengan ketentuan Undang-Undang PerkawinanNo. 1 tahun 1974.

Dalam khutbah singkat ini, saya sampaikan beberapa hal yang perlu ananda berdua ‘selalu ingat’ mengenai status baru anda berdua setelah anda menikah:

Pertama, pernikahan adalah ibadah, ia tidak sekadar sebuah upacara untuk mengumumkan kepada publik mengenai status baru kalian. Oleh karena itu menjadi sangat penting bahwa sejak dari niatnya Ananda berdua harus selalu meletakkan peristiwa ini sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kalian kepada Allah SWT dan RasulNya. Jadi di dalam pernikahan ini ada sebuah amanah, langsung dari Allah dan RasulNya.

Tekadkanlah dalam hati Ananda berdua,sejak dari awalnya, untuk menjaga amanah ini hingga  akhir hayatmu nanti.Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan Ananda berdua selanjutnya.Karena dengan menempatkan niat dan tekad itu, semoga kiranya Allah SWT selalu berkenan hadir dalam kehidupan Ananda selanjutnya, baik dikala gembira maupun di saat duka.

Kedua, pernikahan adalah jalinan kasih-sayang dua insan yang dengan ketulusan hati berkeinginan untuk saling memberikan yang terbaik untuk kebahagian bersama. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnyalah terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia.Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan bukan yang lain atau sebaliknya. Berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegaluan dan sejenisnya.

Oleh karena itu — saya katakan kepada anda berdua -– bahwa ada tiga indikasi, dalam konteks hadirnya kebahagiaan dalam hidup seseorang, yaitu:

Ciri Pertama, terhadap masala lunya ia tidak pernah menyesali atau kecewa berkepanjangan; masa lalu selalu disikapi dengan konsep istighfar dan syukur. Permohonan ampun didasari atas kelemahan manusiawi diiringi dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang; rasa syukur yang dilandasi atas kesadaran kuat bahwa betapa pun beratnya cobaan dan kesulitan, nikmat Tuhan selalu lebih banyak dibanding itu semua.

Ciri Kedua, terhadap tantangan yang dihadapi saat ini selalu disikapi dengan antusiasme atau semangat pantang menyerah karena keyakinan bahwa terhadap setiap sebuah kesulitan selalu tersedia sekurang-kurangnya dua buah kemudahan. Cukuplah kesabaran dan ketekunan dalam usaha yang disertai dengan do’a dari kerendahan hati seorang hamba sebagai bekal, yang dalam bahasa al-Qur’an: jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.

Ciri Ketiga, dari hadirnya kebahagiaan adalah bahwa terhadap ketidakpastian masa depan selalu disikapinya dengan optimisme. Jadikanlah kebahagiaan sebagai visi abadi ananda berdua dalam membangun kehidupan keluarga.

Ketiga,  pernikahan adalah wujud kebahagiaan.  Ananda berdua, kebahagiaan adalah nuansa atau karakteristik surgawi dan oleh karenanya kepemilikannya oleh manusia amat tidak disukai oleh para setan. Sebagai musuh abadi manusia, Setan –sang pewaris neraka — akan terus merongrong kebahagiaan yang menjadi milik manusia, anak keturunan Adam, para calon pewaris surga. Dalam hal kehidupan berkeluarga, salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan dari rongrongan itu adalah kemaafan. Bukalah pintu kemaafan selebar-lebarnya dan selama-lamanya karena iaakan mencegah masuknya kemarahan, awal dari intervensi ‘setan’ dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam.

Hala ini teramat penting untuk selalu diingat, karena kalian mempunyai karakteristik sendiri-sendiri yang unik,lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing yang melalui pernikahanini hendak dipersatukan dalam sebuah rumah tangga. Konsekuensinya adalah bahwa kesalahpahaman adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu membuka pintu kemaafan adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia. Lebih dari itu, kemaafan adalah jalan menuju taqwa, dan kemaafan itu lebih dekat kepada taqwa.

Keempat, pernikahan adalah rahmah. Secara garis besar, berdasarkan fitrah manusia, agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi kalian masing-masing dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan kalian membangun rumah tangga yang semoga dengan demikian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT. Menurut ketentuan agama, tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada di pundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera keluarga selalu berjalan menuju visi abadi: kebahagiaan dunia akherat dan terhindar dari siksa neraka abadi.

Teladan mulia bagi isteri tentunya  adalah Ibunda Khadijatu lKubra, yang selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan juga dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqamah sehingga betapa pun beratnya tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat di atasi dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ingatlah selalu oleh kalian berdua bahwa salah satu fungsi pasangan suami-isteri menurut al-Qur’an [QS al-Baqarah, 2:187] adalah: seperti pakaian (هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ), mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka).

Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami isteriharus saling menutupi kelemahan pasangannya. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian, maka berdo’alah agar di balik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terduga. Ingatlah firman Allah SWT [QS an-Nisâ’, 4: 19]: (فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْتَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرً), bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Kelima, tingkatkanlah bakti kalian kepada ayah-bunda, yang telah dengan penuh kasih sayang dan kesabaran mengantar kalian hingga ke jenjang untuk memulai hidup baru, membangun rumah tangga sendiri. Perlu kalian ingat bahwa cinta dan kasih sayang beliau kepada kalian tidak akan pernah pudar walau kalian kini telah membangun rumah tangga sendiri.

Sebagai  penutup — di akhir khutbah — pesan kami  ananda berdua:

…اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا (٧٠) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا(٧١)

… bertakwalah kamu kepada Allah dankatakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS al-Ahzâb, 33: 70-71).

…اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

bertakwalah kepada Allahs ebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Âli ‘Imrân, 3: 102).

Ciptakanlah keluarga yang ‘se-iya sekata’, sehingga terbentuklah keluarga yang sakînah (damai, tenang dan tenteram), yang didalamnya terbangun cinta dan kasih sayang timbal-balik (mawaddah wa rahmah), sehingga anda berdua bisa berkata: “Baitî Jannatî, Rumahku adalah surgaku”.

Janganlah anda hanya sekadar tergiur oleh kecantikan dan ketampanan, harta dan keturunan anda berdua.  Tetapi kalian boleh tertarik karena  agama dan ketakwaan anda masing-masing, hingga anda berdua memiliki tekad yang kuat untuk membangun akhlak anda berdua, sebagai bekal untuk menuju ridha ‘Sang Pemberi Rahmah’.

Ananda — Amalia Rizqina Putri Imammia S.Si dan  — Dhavin Raditya Shendy, S.T.  — yang berbahagia … Ibu dan bapakmu,  beserta  keluargamu  dan seluruh undangan yang hadir di sini akan bersama-sama mendo’akan  kalian berdua: “bârakallâhu lakuma wa bâraka ’alaikuma wa jama’a bainakumaa fî khaîr” (mudah-mudahan Allah melimpahkan barakah kepada anda berdua dan menurunkan kebahagiaan atasmu, dan mempertemukan kamu berdua dalam kebaikan).

Pesan saya kepada anda berdua: “Kembangkanlah layar kehidupan anda berdua, pegang kemudi bahtera anda berdua dengan iman dan taqwa.

Aqûlu qaulî hâdzâ, wa astaghfirullâhal ‘azhîm, lî wa lakum wa li sâiril muslimîna wal muslimât, wal muminîna wal muminât.

Fastaghfirûhu, innahû huwal ghafûrur rahîm. Fattaqullâha Mastathatum.

Fastabiqul Khairât.

 و السلام عليكم  و رحمة الله  و بركاته

Muhsin Hariyanto

 

Yogyakarta, Sabtu Pon, 22 Muharram 1436 H., bertepatan dengan tanggal 15 November 2014,