KISI-KISI SOAL UJIAN SDI II (KEPERAWATAN) / AIK II (KEBIDANAN)

SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2011-2012

 

  • Para ulama, berkaitan dengan banyaknya penyimpangan dalam pelaksanaan syariat Islam, menyatakan pendapatnya,  — sebagaimana yang dinyatakan oleh MUI, dalam bentuk:

 

  • ijtihad
  • fatwa
  • istinbath
  • istidlal

 

  • Untuk memberikan kesempatan pada manusia untuk mengambil kemudahan dalam mengamalkan ajaran Islam, Islam memperkenalkan konsep:

 

  • rukhshah
  • ‘azimah
  • masyaqqah
  • ruqyah

 

  • Konsep kemudahan dipakai karena adanya kesulitan yang berarti ketika seseorang akan melaksanakan ajaran agama. Kesulitan-kesulitan itu, dalam istilah fikih disebut dengan:

 

  • ‘azimah
  • masyaqqah
  • ruqyah
  • rukhshah

 

  • Hukum Islam yang berjumlah lima, yang menyatakan: “haram, makruh, mubah, sunnah dan wajib”, oleh para ulama sering disebut dengan:

 

  • al-ahkamul khamsah
  • al-ahkamul wajibah
  • al-ahkamul fiqhiyyah
  • al-ahkamusy syar’iyyah

 

  • Fikih atau hukum formal itu penting. Tetapi, ada yang lebih dari itu dalam kehidupan manusia, yaitu tindakan mulia berdasarkan prinsip syariat Islam, yang disebut:

 

  • taqwa
  • akhlaq
  • ibadah
  • mu’amalah

 

  • Muara dari seluruh perilaku manusia adalah berupa ketaatan penuh dirinya kepada Allah, yang dikenal dengan istilah:

 

  • ikhlas
  • taqwa
  • iman
  • ihsan

 

  • Untuk menciptakan kesadaran dalam berislam, diperlukan proses pemantapan kesadaran untuk berbuat, yang sangat menentukan diterima atau tidaknya sebuah amal perbuatan di sisi Allah, yang disebut:

 

  • taubah
  • ridha
  • niat
  • tawakal

 

  • Sebelum manusia berbenah untuk mengamalkan ajaran agama, diperlukan pembersihan diri dari dosa/kesalahan, yang dikenal dengan istilah:

 

  • ikhlas
  • taubat
  • tawakal
  • ihsan

 

  • Di samping, kita harus membersihkan diri dari dosa, kita pun harus bersikap teguh dengan pendirian kita, yang dalam istilah agama (Islam) disebut dengan sikap:

 

  • istighfar
  • istighatsah
  • isti’anah
  • istiqamah

 

  • Semangat untuk meraih prestasi, perlu dibangun dengan ajaran fastabiqul khairât. Artinya:

 

  • berpacu menuju yang terbaik
  • berpacu menjadi pemenang
  • berpacu untuk saling-mengalahkan
  • berpacu untuk menjadi pecundang

 

  • Dalam kaedah ibadah, ulama fikih mengenalkan prinsip “al-ashlu fil ‘ibâdati al-buthlân, hattâ yadullad dalîlu ‘alal amri”. Maknanya:
  • dalam masalah ibadah, kita tidak diperkenankan untuk melakukaan apa pun kecuali yang diperintahkan oleh allah dan/atau rasulullah s.a.w.
  • dalam masalah ibadah, kita boleh melakukan apa saja, asal tidak bertentangan dengan prinsip syari’at allah
  • dalam masalah ibadah, kita tidak boleh melakukan apa saja yang dilarang oleh allah dan/atau rasulullah s.a.w.
  • dalam masalah ibadah, kita diperkenankan melakukan apa pun yang tidak dilarang oleh allah dan/atau  rasulullah s.a.w.

 

  • Di antara kajian dalam fikih ibadah, kita kenal istilah bid’ah. Maknanya:

 

  • menambahkan sesuatu amalan yang tidak diperintahkan oleh allah dan/atau rasulullah s.a.w.
  • menambahkan sesuatu amalan yang diperintahkan oleh  allah dan/atau rasulullah s.a.w.
  • menambahan sesuatu amalan yang ada dasarnya dalam al-quran dan/atau as-sunnah
  • menambahkan sesuatu amalan yang dianjurkan oleh para ulama fikih

 

  • Sebagaimana penjelasan Nabi Muhammad s.aw. dalam sebuah hadisnya: ”innamal ’a’mâlu bin niyyât, wa innamâ likulimriin mâ nawâ”. Para ulama menjelaskanan bahwa:

 

  • keabsahan sesuatu amalan dalam ibadah tergantung pada niatnya
  • keabsahan sesuatu amalam dalam ibadah tergantung pada tata-caranya
  • keabsahan sesuatu amalan dalam ibadah tergantung pada kehendak allah
  • keabsahan sesuatu amalan dalam ibadah tergantung pada kelengkapan syarat dan rukunnya

 

  • Ibadah dalam Islam ada yang disebut mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah:

 

  • ibadah yang tata-caranya belum baku, sehingga dalam situasi dan kondisi apa pun memungkinkan dilakukan perubahan
  • ibadah yang tata-caranya sudah baku, sehingga tidak memungkinkan adanya perubahan, kecuali ada situasi dan kondisi darurat
  • ibadah yang tata-caranya diserahkan pada kebijakan pengamalnya
  • ibadah yang tata-caranya selalu berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi

 

  • Sedang yang disebut dengan ibadah ghairu mahdhah ialah:

 

  • ibadah yang tata-caranya selalu berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi
  • ibadah yang tata-caranya belum baku, sehingga dalam situasi dan kondisi apa pun memungkinkan dilakukan perubahan
  • ibadah yang tata-caranya diserahkan pada kebijakan pengamalnya
  • ibadah yang tata-caranya sudah baku, sehingga tidak memungkinkan adanya perubahan, kecuali ada situasi dan kondisi darurat

 

  • Dalam kaedah mu’amalah, ulama fikih mengenalkan prinsip: ”al-ashlu fil mu’âmalâti al-ibâhah, hattâ yadullad dalîlu ’alat tahrîm”. Maknanya:

 

  • semua perbuatan dalam wilayah mu’amalah tidak boleh dikerjakan, kecuali ada perintahnya dari allah dan/atau rasulullah s.a.w.
  • semua perbuatan dalam wilayah mu’amalah boleh dikerjakan, kecuali ada larangannya dari allah dan/atau rasulullah s.a.w.
  • semua perbuatan dalam wilayah mu’amalah boleh dikerjakan, selama bermanfaat dan tidak bermadharat
  • semua semua perbuatan dalam wilayah mu’malah tidak boleh dikerjakan, kecuali perbuatan yang bermanfaat dan tidak mengandung madharat

 

  • Dalam fikih mu’amalah, para ulama fikih memperkenalkan kaedah ”mashlahah”, dengan ketentuan:

 

  • semua perbuatan yang bermanfaat boleh dikerjakan, meskipun bertentangan dengan prinsip syari’at islam
  • semua perbuatan yang bermanfaat boleh dikerjakan, selama tidak bertentangan dengan prinsip syari’at islam
  • semua perbuatan yang bermanfaat boleh dikerjakan, kecuali yang dilarang oleh allah dan/atau rasulullah s.a.w.
  • semua perbuatan yang bermanfaat boleh dikerjakan, selama tidak bertentangan dengan prinsip syari’at islam, tidak dilarang oleh allah dan/atau rasulullah s.a.w., dan tidak menimbulkan madharat

 

  • Para ulama fikih menjelaskan bahwa dalam wilayah mu’amalah, ada sesuatu yang bisa diharamkan, meskipun semula adalah ”mubah”, kalau berpotensi menimbulkan sesuatu yang haram. Seperti:

 

  • tidur, yang berpotensi mengakibatkan kelelahan
  • tidur, yang berpotensi mengakibatkan kelalaian shalat
  • tidur, yang berpotensi mengakibatkan kemalasan
  • tidur, yang berpotensi mengakibatkan terlambat kuliah

 

  • Sementara itu, ulama fikih juga menjelaskan bahwa dalam wilayah mu’amalah, ada sesuatu yang bisa diwajibkan, meskipun semula adalah ”mubah”, kalau menjadi prasyarat yang tidak bisa diabaikan untuk melaksanakan kewajiban. Seperti:

 

  • mendirikan bioskop, dalam rangka memfasilitasi para pecinta film layar lebar untuk menonton
  • mendirikan masjid, dalam rangka memfasilitasi umat islam untuk melaksanakan shalat jama’ah, utamanya pada hari jumat
  • mendirikan puskesmas, dalam rangka memfasilitasi para pasien untuk berobat
  • mendirikan pos ronda, dalam rangka memfasilitasi para penduduk untuk ronda

 

  • Dalam wilayah mu’amalah, adat-istiadat bisa dirujuk menjadi sumber hukum. Begitulah para ulama fikih berpendapat. Dengan persyaratan:

 

  • adat-istiadat itu sudah menjadi kesepakatan bersama seluruh angota masyarakat
  • adat-istiadat itu telah diundangkan menjadi ketentuan hukum negara
  • adat-istiadat itu merupakan ‘urf shahîh’, yaitu, adat-istiadat yang bersesuaian dengan prinsip syari’at atau bukan ’urf fâsid’ (adat-istiadat yang bertentangan dengan prinsip syari’at)
  • adat-istiadat itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat pada waktu dan tempat tertentu

 

  • Dalam masalah shalat, untuk mendapatkan keabsahannya, ada persyaratan ”suci dari hadats dan najis”. Artinya:

 

  • Harus melakukan thahârah (bersuci), dengan berwudhu/tayammum atau mandi
  • Harus membersihkan kotoran sebelum melaksanakan shalat
  • Harus melaksanakan penyucian diri dari kotoran yang melekat pada badan, dengan alat pembersih yang dibenarkan oleh syari’at Islam
  • Harus melakukan pembersihan diri dari kotoran yang mengotori diri, dengan cara yang dituntunkan oleh Allah dan/atau Rasulullah s.a.w.

 

  • Seorang muslim, diwajibkan untuk bersuci dari “hadats besar“, dengan cara:

 

  • berwudhu.
  • bertayamum
  • mandi
  • beristinja’

 

  • Dalam kajian mengenai puasa, ada istilah qadha’ dan/atau fidyah. Keduanya harus dilakukan bila:

 

  • Kita berhalangan dalam berpuasa, dengan pilihan bebas antara keduanya (qadha’ dan/atau fidyah)
  • kita tidak mampu berpuasa karena berhalangan, dengan pilihan (qadha’ dan/atau fidyah) yang terkait dengan sebab ketidak-mampuan kita
  • kita membatalkan puasa dengan alasan yang tepat, dengan salah satu pilihan (qadha’ dan/atau fidyah) menurut selera kita
  • kita tidak sempat berpuasa dengan halangan permanen, dengan pilihan yang proporsional (qadha’ dan/atau fidyah)

 

  • Setiap orang Islam ’mukallaf’ (yang sudah dibebani kewajiban syar’i) yang memiliki harta satu nishab, diwajibkan membayar zakat dengan jumlah tertentu. Mereka disebut sebagai:

 

  • mustahiq
  • muzakki
  • mustahiq dan (sekaligus) muzakki
  • ‘amil

 

  • Setiap orang yang mendapatkan hak untuk menerima zakat, disebut:

 

  • ‘amil
  • mustahiq dan (sekaligus) muzakki
  • mustahiq
  • muzakki

 

  • Sementara itu, orang yang menjadi petugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat dari para pembayar zakat kepada orang yang berhak menerimanya, disebut:

 

  • muzakki
  • ‘amil
  • mustahiq
  • mustahiq dan (sekaligus) muzakki

 

  • Dalam fikih kesehatan, pada dasarnya setiap muslim disunnahkan untuk:

 

  • berobat, karena sakit
  • memelihara kesehatan fisik
  • memelihara kesehatan fisik dan mental
  • menghindari penyakit

 

  • Setiap muslim yang sakit, disunnahkan untuk:

 

  • berobat
  • berobat dengan bahan yang halal
  • berobat dengan bahan dan cara yang halal
  • berdoa kepada Allah

 

  • Sementara itu, ketika benar-benar tidak ada obat yang halal, berobat dengan bahan dan cara yang tidak halal hukumnya:

 

  • haram
  • sunnah
  • makruh
  • mubah

 

  • Dalam fikih kesehatan, pada dasarnya pengobatan alternatif, hukumnya:

 

  • mubah
  • sunnah
  • mubah, selama tidak bertentangan dengan prinsip syari’at
  • makruh

 

  • Doa, juga bisa dipakai sebagai pengoabatn alternatif, yang dalam istilah fikih disebut dengan istilah:

 

  • ru’yah
  • ruqyah
  • rukyah
  • rufyah

 

  • Islam menganjurkan agar setiap muslim agar menjaga keturunan. Oleh karenanya konsep Keluarga Berencana:

 

  • ditolak sepenuhnya oleh ulama fikih
  • diterima sepenuhnya oleh ulama fikih
  • diterima dengan sikap kritis oleh ulama fikih
  • diabaikan sama sekali oleh ulama fikih

 

  • Keluarga Berencana dalam bentuk “tahdîdun nasl“, hukumnya:

 

  • haram
  • sunnah
  • mubah
  • makruh

 

  • Keluarga Berencana dalam bentuk “tahzhîmun nasl“, hukumnya:

 

  • wajib
  • haram
  • makruh
  • mubah

 

  • Kesepakatan para ulama fikih dalam menentukan halal-haramnya KB itu disebut dengan:

 

  • jima’
  • ijma’
  • mujma’
  • mujtama’

 

  • Pada umumnya, terhadap alat-alat kontrasepsi” dalam program Keluarga Berencana, para ulama menyatakan hukumnya:

 

  • haram
  • wajib
  • mubah
  • mubah, selama tidak bertentangan dengan prinsip syari’at Islam

 

  • Ada sebagaian alat kontrasepsi yang diharamkan oleh mayoritas ulama, antara lain:

 

  • kondom
  • vasektomi dan tubektomi
  • spiral
  • susuk KB

 

  • Sementara itu, para ulama membolehkan “coitus interruptus“, karena diqiyaskan dengan:

 

  • ‘azl
  • Tahdîdun nasl
  • tabaththul
  • qathlun nasl
  • Para ulama ada yang membolehkan Keluarga Berencana dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi tertentu, dengan mendasarkan pada konsep ”azl” yang diizinkan oleh Nabi s.a.w. Azl, bermakna:

 

  • pengunaan alat kontrasepsi
  • sanggama terputus
  • ejakulasi dini
  • sanggama dengan pengarturan waktu

 

  • Dalam fikih kedokteran, khitan bagi perempuan, dalam pandangan mayoritas ulama dinyatakan:

 

  • sunnah
  • mubah
  • wajib
  • haram

 

  • Sedang bagi laki-laki, khitan dalam pandangan mayoritas ulama dinyatakan:

 

  • mubah
  • sunnah
  • haram
  • wajib

 

  • Para ulama menyatakan bahwa, penggunaan metode “bayi tabung” dengan menggunakan sperma dan ovum suami-isteri yang sah, adalah:

 

  • mubah
  • haram
  • makruh
  • haram

 

  • Sementara itu untuk “bayi tabung”, yang menggunakan sperma atau ovum orang lain, hukumnya:

 

  • makruh
  • mubah
  • haram
  • sunnah

 

  • Di antara masalah fikih kedokteran yang sedang diperbincangkan adalah “operasi selaput dara”. Para ulama memandangnya sebagai sesuatu pengobatan yang:

 

  • mubah, secara mutlak
  • mubah, selama digunakan untuk pengobatan yang tidak bermadharat
  • mubah, selama digunakan untuk pegobatan yang bermanfaat
  • mubah, selama tidak disalah-gunakan

 

  • Di antara kajian fikih kedokteran pemanfaatan janin yang sudah mati, pada prinsipnya dibolehkan:

 

  • karena kepentingan medis
  • karena benar-benar dalam keadaan mati
  • karena kepentingan ilmu pengetahuan
  • karena benar diperlukan, dan tidak ada alternatif

 

  • Menurut para ulama fikih, hukum asal dari pendonoran anggota badan adalah:

 

  • mubah
  • haram
  • sunnah
  • makruh

 

  • Sementara itu, para berpendapat bahwa hukum “donor darah” adalah:

 

  • haram
  • makruh
  • mubah
  • sunnah

 

  • Dalam kasus pengobatan, menurut pendapat para ulama fikih, berobat dengan obat-obatan yang mengandung alkohol, pada dasarnya hukumnya:

 

  • mubah
  • haram
  • makruh
  • sunnah

 

  • Mereka (para ulama fikih) ada yang mengharamkan pengobatan dengan obat-obatan yang mengadung alkohol, karena menganggap alkohol sama dengan:

 

  • benda najis
  • khamr
  • barang haram
  • minuman yang bermadharat

 

  • Seseorang diperbolehkan berobat dengan obat yang haram, karena:

 

  • kondisi darurat
  • memerlukan obat itu
  • menyukai obat itu
  • tidak terbiasa dengan obat selain itu

 

  • Dalam pengobatan alternatif, seseorang diharamkan untuk melakukannya, karena ada unsur:

 

  • madharat yang ada di dalamnya
  • syirik
  • lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya
  • manipulasi

 

  • Dalam kajian tentang fikih kontemporer, seperti fikih kesehatan, disamping kita harus mempertimbangkan mashlahatnya, kita harus juga mempertimbangkan sisi:

 

  • keharamannya
  • kewajibannya
  • kemungkinan dampak positifnya
  • kemungkinan dampak negatifnya

 

  • Dalam hal seseorang ingin berobat, sesorang – disamping harus mempertimbangkan aspek kehalalannya, juga harus mempertimbangkan:

 

  • kebaikan dan keburukannya
  • keharamannya
  • efektifitasnya
  • efisiensinya

 

  • Keharaman sesuatu, termasuk obat dan pengobatan, bisa  disebabkan oleh:

 

  • pengunaannya yang tidak proporsional
  • pemakaiannya yang tidak tepat sasaran
  • pemanfaatannya yang tidak optimal
  • pengelolaannya yang tidak benar

 

  • Seorang dokter bukanlah penyembuh dari semua penyakit, dia hanyalah:

 

  • Pemberi obat kepada pasien
  • Orang yang memberikan jaminan kesembuhan pada pasien
  • Mitra pasien untuk memohon kesembuhan dari Allah
  • Orang yang diberi ilmu dan keterampilan oleh Allah untuk mengobati penyakit pasien

 

  • Dalam fikih kesehatan, para ulama fikih menyarakan kepada para dokter agar melakukan melaksanakan tugasnya sebagai:

 

  • seorang yang secara profesional melakkan tugasnya
  • seorang yang tengah beribadah dengan menjalankan profesinya
  • seorang yang melaksanakan tugasnya untuk mendapatkan imbalan jasa
  • seorang yang dibayar untuk berbuat baik kepada pasien

 

  • Menurut para ulama fikih, seorang pekerja medis dinyatakan telah  melakukan malpraktik, antara lain karena:

 

  • salah dalam menjalankan tugasnya secara tidak sengaja
  • melakukan tindakan di luar kewenangannya
  • melaksanakan tugasnya bersama petugas yang tidak berwenang
  • menjalanakna tugas dalam kewenangannya, tetapi keliru dalam penerapannya

 

  • Berkaitan dengan konsep halal dan thayyib, pada prinsipnya Islam membolehkan semua orang untuk mengonsumsi semua makanan, kecuali:

 

  • yang jelas-jelas diharamkan oleh syari’at islam
  • yang bermadharat ketika dikonsumsi
  • yang jelas diharamkan oleh syari’at islam dan bermadharat
  • yang jelas-jelas diharamkan oleh al-quran dan/atau  sunnah nabi s.a.w., dan juga yang tidak jelas-jelas diharamkan oleh al-quran dan/atau  sunnah nabi s.a.w., tetapi ber madharat ketika dikonsumsi

 

  • Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadis, para ulama mengatakan bahwa awal kehidupan seorang manusia dimulai setelah:

 

  • janin berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya
  • janin berbentuk manusia
  • bertemunya sperma dan ovum
  • janin benar-benar telah dilahirkan

 

  • Kebalikan dari awal kehidupan manusia, maka akhir kehidupan seorang manusia, menurut para ulama, adalah:

 

  • berhentinya gerak tubuh manusia
  • berhentinya detak jantung manusia
  • berpisahnya ruh dari jasadnya
  • rusaknya batang otak

 

  • Mayoritas ulama membolehkan pemanfaatan janin:

 

  • sebelum usia empat bulan
  • sebelum memiliki tanda-tanda kehidupan
  • sebelum menempel di dinding rahim
  • sebelum usia tujuh bulan

 

  • Memanfaatkan jasad janin yang telah meninggal, menurut para ulama, hukumnya:

 

  • boleh (mubah) secara multak
  • boleh (mubah) dengan syarat-syarat tertentu
  • haram
  • makruh

 

  • Praktik pembuatan bayi tabung, hukumnya:

 

  • haram secara mutlak
  • haram, bila pembuatan bayi tabung dari sel sperma laki-laki ke dalam rahim perempuan yang bukan isterinya,
  • haram, meskipun pembuatan bayi tabung dari sel sperma suami ke dalam rahim isterinya
  • mubah, meskipun pembuatan bayi tabung dari sel sperma laki-laki ke dalam rahim perempuan yang bukan isterinya

 

  • Setelah menelaaah secara teliti di sebuah negara, yang ternyata pendonoran anggota badan lebih banyak bermotif ekonomi, akhirnya para ulama fikih berpendapat, bahwa hukum pendonoran anggota badan manusia adalah:

 

  • haram
  • mubah
  • makruh
  • sunnah

 

  • Dalam keadaan darurat, ulama fikih berpendapat, bahwa hukum dari pendonoran anggota badan manusia adalah:

 

  • mubah, secara mutlak
  • mubah, dengan persyaratan tertentu
  • haram, secara mutlak
  • sunnah

 

  • Aborsi, pada umumnya dinyatakan oleh para ulama fikih, hukumnya:

 

  • mubah
  • makruh
  • haram
  • sunnah

 

  • Dalam situasi darurat, aborsi:

 

  • diperbolehkan secara mutlak
  • diperbolehkan untuk sementara
  • diperbolehkan, kapan pun, khusus untuk wanita yang mengandung kurang dari 4 bulan
  • diperbolehkan, kapan pun, khusus bagi wanita yang belum siap memiliki anak

 

  • Para ulama sepakat, bahwa aborsi yang dilakukan sesudah peniupan ruh (setelah empat bulan), pada dasarnya hukumnya:

 

  • mubah
  • makruh
  • haram
  • sunnah

 

  • Sebagian di para ulama membolehkan aborsi dengan syarat:

 

  • karena kehamilan sebelum nikah
  • karena kondisi darurat
  • karena untuk menutup aib pelaku
  • karena kepentingan kesehatan reproduksi

 

  • Para ulama fikih, pada umumnya, menyatakan bahwa operasi selaput dara hukumnya:

 

  • boleh secara mutlak
  • boleh karena kepentingan darurat
  • haram, meskipun ada kepentingan darurat
  • haram secara muktak

 

  • Dalam fikih mu’amalah, ada kajian tentang arti pentingnya shadaqah, di samping zakat. Para ulama berpendapat bahwa pada dasarnya hukum shadaqah adalah:

 

  • mubah
  • wajib
  • sunnah
  • makruh

 

  • Umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan syari’at Allah, setelah “baligh”. Maksudnya setelah:

 

  • memiliki kesediaan untuk bertindak
  • cukup umur
  • sampai pada saat kedewasaannya
  • menyadari perbuatannya

 

  • Fikih, dalam perkembangan zaman, akan bisa mengalami perubahan. Perubahan-perubahan (dalam) fikih dalam pandangan ulama fikih dianggap sebagai sebuah:

 

  • keniscayaan
  • kemunduran
  • penyimpangan
  • kesalahan

 

  • Dalam fikih kesehatan, misalnya, para ulama menggunakan kaedah saddudz dzari’ah. Sehingga, karena dengan jelas dibuktikan telah menimbulkan dampak negatif, maka merokok bisa dihukumi:

 

  • halal
  • sunnah
  • haram
  • wajib

 

  • Para ulama fikih menetapkan bahwa, karena situasi dan kondisi darurat, berobat dengan obat-obatan yang mengandung alkohol hukumnya:

 

  • haram
  • sunnah
  • mubah
  • makruh

 

  • Pada masa lalu, banyak ulama yang mengharamkan KB. Tetapi, sering dengan perkembangan zaman, mereka menyatakan bahwa KB – dalam pengertian pengaturan kelahiran — hukumnya:

 

  • makruh
  • mubah
  • sunnah
  • wajib

 

  • Karena kesamaan esensinya dengan khamr, sabu-sabu dan sejenisnya diharamkan penggunaannya oleh para ulama fikih. Mereka menyatakan, bahwa keduanya haram karena memiliki ‘illat yang sama, yaitu:

 

  • membahayakan
  • mengandung zat adiktif
  • memabukkan
  • memberi dampak negatif

 

  • Dalam rangka menghindari mafsadah, kloning pada manusia, oleh para ulama fikih dihukumi:

 

  • makruh
  • haram
  • mubah
  • sunnah

 

  • Dengan mempertimbangkan mafsadahnya yang sangat besar, para ulama memandang bahwa penggunaan alkohol yang berlebihan, sebagaimana “merokok”, bisa dihukumi:

 

  • mubah
  • haram
  • makruh
  • sunnah
  • Setiap muslim, pada akhirnya harus memiliki kesadaran untuk bersikap “menerima” dengan sikap “sami’na wa atha’na”, yang secra tepat bermakna:

 

  • mendengar dan memahami
  • mendengar dan menaati
  • memahami dan menaati
  • memahami dan menghayati

 

  • Islam mengenalkan “konsep hukum” dalam bentuk kajian:

 

  • aqidah
  • akhlak
  • fikih
  • tarikh

 

  • Dari sekian banyak hasil kajian fikih, ada sejumlah “fatwa” ulama yang disepakati, yang disebut dengan:

 

  • ijtihad
  • istinbath
  • ijma’
  • jima’

 

  • Dalam istilah fikih, dikenal sebutan “rukhshah“, yang berarti:

 

  • kebolehan
  • keringanan
  • kesulitan
  • keberatan

 

  • Sementara itu, para ulama menyatakan bahwa ketika ada “masyaqqah“, maka “rukhshah” bisa dilaksanakan. Istilah “masyaqqah” ini bermakna:

 

  • kemudahan
  • kesulitan
  • kebolehan
  • kelaziman

 

  • Di samping ketentuan fikih yang formal, Islam mengenalkan konsep “akhlâqul karîmah“,  yang bermakna:

 

  • perilaku yang selaras
  • perilaku yang mulia
  • perilaku yang benar
  • perilaku yang tepat

 

  • Kesempurnaan perilaku manusia adalah berupa “taqwa“, yaitu: “ketaatan penuh dirinya kepada Allah”, yang dikenal dengan istilah:

 

  • kepatuhan yang murni
  • ketaatan penuh dirinya kepada Allah
  • keyakinan kepada Allah
  • Kekhusyu’an dalam beribadahn kepada Alllah

 

  • “Niat” seseorang dalam beribadah menandai:

 

  • kesadaran akan dosa-dosanya
  • kerelaan untuk beribadah
  • proses pemantapan kesadaran untuk berbuat
  • kepasrahan kepada Allah

 

  • Sedang “taubat” adalah bukti:

 

  • kebersihan niat dalam melakukan tindakan
  • pembersihan diri dari dosa/kesalahan
  • kepasrahan total kepada Allah
  • kesempurnaan dalam melaksanakan ibadah

 

  • Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap “istiqâmah” dalam beribadah kepada Allah, yang bermakna:

 

  • bersikap patuh
  • bersikap pasrah
  • bersikap teguh dan konsisten
  • bersikap sadar

 

  • Di antara kajian dalam fikih ibadah, kita tidak diperkenankan untuk “menambahkan sesuatu amalan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan/atau Rasulullah s.a.w.”, yang kita kenal dengan istilah “bid’ah”. Maknanya:

 

  • sunnah yang tidak diperkenankan
  • tambahan yang tidak ada tuntunannya
  • kesalahan yang disengaja
  • ibadah yang salah

 

  • Keabsahan sesuatu amalan dalam ibadah tergantung pada niatnya, sebagaimana hadis Nabi s.a.w.:

 

  • innamal ’a’mâlu bin nawâ
  • innamal ’a’mâlu bin niyyât
  • innaman niyyatu bil a’mâl
  • innaman niyyatu bin niyyât

 

  • Ibadah dalam Islam yang tata-caranya sudah baku, sehingga tidak memungkinkan adanya perubahan, kecuali ada situasi dan kondisi darurat  disebut dengan ibadah: mahdhah. Ibadah mahdhah adalah:

 

  • ibadah yang bersifat khusus
  • ibadah yang bersifat umum
  • ibadah yang bersifat mengikat
  • ibadah khusus yang tuntunannya bersifat mengikat

 

  • Ibadah yang tata-caranya belum baku, sehingga dalam situasi dan kondisi apa pun memungkinkan dilakukan perubahan yang disebut ibadah ghairu mahdhah, yaitu:

 

  • ibadah yang bersifat khusus
  • ibadah khusus yang tuntunannya bersifat mengikat
  • ibadah yang bersifat umum
  • ibadah yang bersifat umum, dan tuntunannya tidak bersifat terbuka

 

  • Setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakan syari’at Allah, setelah “baligh”. Maksudnya setelah:

 

  • memiliki kesediaan untuk bertindak
  • cukup umur dan mengerti baik dan buruk
  • cukup umur dan sampai pada saat kedewasaannya dengan tanda-tanda tertentu
  • menyadari perbuatannya

 

  • Bersuci dari hadats dan najis, artinya:

 

  • melakukan thahârah (bersuci), dengan berwudhu/tayammum atau mandi
  • membersihkan kotoran sebelum melaksanakan shalat
  • melaksanakan penyucian diri dari kotoran yang melekat pada badan, dengan alat pembersih yang dibenarkan oleh syari’at Islam
  • melakukan pembersihan diri dari kotoran yang mengotori diri, dengan cara yang dituntunkan oleh Allah dan/atau Rasulullah s.a.w.

 

  • “Mandi” bagi seorang yang berhadats besar, sebelum seseorang melaksanakan shalat, hukumnya:

 

  • mubah
  • wajib
  • sunnah
  • makruh

 

  • Ketika kita tidak sempat berpuasa dengan halangan permanen, bisa mengambil rukhshah berupa:

 

  • qadha’ dan fidyah
  • qadha’
  • fidyah
  • qadha’ atau fidyah

 

  • Muzakki adalah sebutan bagi orang yang:

 

  • menerima zakat
  • memberi zakat
  • membagi zakat
  • mengelola zakat

 

  • Mustahiq adalah sebutan bagi:

 

  • pengelola zakat
  • penerima zakat
  • pemberi zakat
  • pembagi zakat

 

  • ‘Amil adalah sebutan bagi orang yang:

 

  • memberi zakat
  • menerima zakat
  • mengelola zakat
  • membagi zakat
  • Shadaqah yang di”nadzar“kan oleh pelakunya sebagai penyerta zakat,  hukumnya:

 

  • mubah
  • wajib
  • sunnah
  • makruh

 

  • Karena kondisi darurat, berobat dengan bahan dan cara yang tidak halal, hukumnya:

 

  • makruh
  • haram
  • mubah
  • sunnah

 

  • Ketika pengobatan medis tidak diminati dan tidak/kurang efektif, maka pengobatan alternatif hukumnya:

 

  • mubah, secara multak
  • mubah, bila tidak bertentangan prinsip syari’ah
  • mubah, selama bermanfaat
  • mubah, bila tidak mengandung unsur madharat

 

  • Ruqyah adalah pengobatan alternatif, yang intinya adalah:

 

  • mantera
  • doa
  • pengobatan herbal
  • azimat

 

  • Beberapa ulama menolak konsep Keluarga Berencana, karena berawal dari konsep:

 

  • tahdîdun nasl
  • tajdîdun nasl
  • tanzhîmun nasl
  • taqrîbun nasl

 

  • Sementara itu ada ulama yang membolehkan Keluarga Berencana, karena selaras dengan konsep:

 

  • taqrîbun nas
  • tanzhîmun nasl
  • tahdîdun nasl
  • tajdîdun nasl

 

  • Keluarga Berencana dipandang sebagai sesuatu yang hukumnya “sunnah” oleh sebagian ulama, karena:

 

  • kemanfaatannya lebih besar daripada kemadharatannya
  • kemanafatannya cukup besar, sementara kemadharatannya bisa dikesampingkan
  • kemanfaatan dan kemadharatannya sama besarnya
  • kemanfataan dan kemadharatannya tidak ada

 

  • Ijma’ para ulama dalam masalah hukum, bermakna:

 

  • keselarasan
  • kesepakatan
  • kepatuhan
  • ketidakpatuhan

 

  • Pada umumnya, terhadap alat-alat “kontrasepsi” dalam program Keluarga Berencana, para ulama menyatakan hukumnya:

 

  • haram
  • wajib
  • mubah
  • mubah, selama tidak bertentangan dengan prinsip syari’at Islam

 

  • Ada sebagian alat kontrasepsi yang diharamkan oleh mayoritas ulama, antara lain:

 

  • kondom
  • vasektomi dan tubektomi
  • spiral
  • susuk KB

 

  • Sementara itu, para ulama membolehkan “coitus interruptus“, karena diqiyaskan dengan:

 

  • ‘azl
  • tahdîdun nasl
  • tabaththul
  • qathlun nasl

 

  • Dalam pandangan mayoritas ulama, “khitan” bagi laki-laki, hukumnya:

 

  • mubah
  • wajib
  • sunnah
  • makruh

 

  • Sedang bagi perempuan, khitan dalam pandangan mayoritas ulama, dinyatakan bahwa hukumnya:

 

  • wajib
  • sunnah
  • makruh
  • mubah

 

  • Metode “inseminasi buatan”, pada dasarnya “mubah”, dengan syarat:

 

  • menggunakan sperma dan ovum yang disepakati oleh suami-isteri
  • menggunakan sperma dan ovum suami-isteri yang sah
  • menggunakan sperma dan ovum yang dibeli dengan sah
  • menggunakan sperma dan ovum yang disetujui oleh dokter

 

  • “Operasi pemulihan selaput dara”, diperbolehkan sepanjang dilakukan untuk:

 

  • pemulihan
  • penyempurnaan
  • pemulihan dan/atau penyempurnaan
  • penggantian dan/atau perubahan, kapan pun dihendaki oleh pasien

 

  • Pemanfaatan janin yang sudah mati untuk kepentingan medis, pada prinsipnya diperbolehkan, dengan syarat:

 

  • ada persetejuan para dokter
  • ada persetujuan para ulama
  • karena kepentingan yang mendesak  (darurat)
  • karena kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan

 

  • Pada prinsipnya, hukum asal dari pendonoran anggota badan “mayat” yang sudah  mewasiyatkan untuk mengizinkan pendonoran anggota badannya untuk kepentingan yang lebih utama kepada ahli waris, adalah:

 

  • mubah
  • haram
  • sunnah
  • makruh

 

  • “Donor darah”, untuk kepentingan kemanusiaan, hukumnya:

 

  • haram
  • makruh
  • mubah
  • sunnah

 

  • Obat-obatan yang mengandung alkohol, selama tidak berpotensi memberi madharat kepada orang yang mengonsumsinya, hukumnya:

 

  • mubah
  • haram
  • makruh
  • sunnah

 

  • Ada ulama yang mengharamkan pengobatan dengan obat-obatan yang mengadung “unsur urine“, karena menganggapnya:

 

  • kotor
  • najis
  • bermadharat
  • sama dengan khamr

 

  • Berobat dengan obat yang haram, untuk sementara waktu diperbolehkan, karena:

 

  • kondisi darurat
  • memerlukan obat itu
  • menyukai obat itu
  • tidak terbiasa dengan obat selain itu

 

  • “Hipnoterapi” – misalnya — sebagai pengobatan alternatif, diperbolehkan, selama:

 

  • tidak ada madharat yang ada di dalamnya
  • tidak menyalahi prinsip syari’at Islam
  • bermamanfaat bagi pasien
  • berpotensi menyembuhkan pasien

 

  • Meskipun mengandung mashlahat, “mengonsumsi khamr” diharamkan, karena:

 

  • mengandung mafsadat bagi peminumnya
  • mengandung unsur-unsur najis
  • mengandung unsur haram
  • jelas-jelas diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya

 

  • Keharaman sesuatu pengobatan, bisa  disebabkan oleh:

 

  • pemakaiannya yang tidak tepat sasaran
  • pemanfaatannya yang tidak optimal, sehingga tidak efektif
  • pengunaannya yang tidak proporsional, sehingga mengakibatkan sesuatu yang haram
  • pengelolaannya yang tidak benar

 

  • Seorang “bidan” bukanlah penentu keselamatan kelahiran bayi, dia hanyalah:
  • pembantu pasien dalam proses “melahirkan”
  • orang yang memberikan jaminan kesehatan pada pasien
  • mitra pasien untuk memohon keselamatan dari Allah
  • orang yang diberi ilmu dan keterampilan oleh Allah untuk membantu proses kelahiran

 

  • Para ulama menyarakan kepada para “bidan” agar melakukan melaksanakan tugasnya sebagai:

 

  • seorang yang secara profesional melakukan tugasnya
  • seorang yang tengah beribadah dengan menjalankan profesinya
  • seorang yang melaksanakan tugasnya untuk mendapatkan imbalan jasa
  • seorang yang dibayar untuk berbuat baik kepada pasien

 

  • Menurut para ulama fikih, seorang “bidan” dinyatakan telah  melakukan mal praktik, antara lain karena:

 

  • melakukan tindakan di luar kewenangannya
  • melaksanakan tugasnya bersama petugas yang tidak berwenang
  • salah dalam menjalankan tugasnya secara tidak sengaja
  • menjalanakan tugas dalam kewenangannya, tetapi keliru dalam penerapannya

 

  • Konsep halal dan thayyib, berlaku pada praktik kebidanan, seperti:

 

  • melakukan praktik jelas-jelas diharamkan oleh syari’at Islam, meskipun bermanfaat
  • melakukan praktik jelas-jelas diperbolehkan oleh syari’at Islam, tetapi bermadharat
  • melakukan praktik jelas-jelas diperbolehkan oleh syari’at Islam, bermanfaat dan tidak bermadharat
  • melakukan praktik jelas-jelas diharamkan oleh syari’at Islam dan bermadharat

 

  • Para ulama pada umumnya menyatakan bahwa awal kehidupan seorang manusia dimulai setelah:

 

  • janin berbentuk manusia
  • janin berusia empat bulan di dalam kandungan ibunya
  • bertemunya sperma dan ovum
  • janin benar-benar telah dilahirkan

 

  • Sedang akhir kehidupan seorang manusia, menurut para ulama, adalah:

 

  • berpisahnya ruh dari jasadnya
  • berhentinya gerak tubuh manusia
  • berhentinya detak jantung manusia
  • rusaknya batang otak

 

  • Donor darah  yang bermotif ekonomi, oleh para ulama ulama dinyatakan:

 

  • haram
  • mubah
  • makruh
  • sunnah

 

  • Dalam keadaan terpaksa, ulama fikih berpendapat bahwa hukum dari pendonoran anggota badan manusia yang telah meninggal dunia adalah:

 

  • mubah, secara mutlak
  • haram, secara mutlak
  • mubah, dengan persyaratan tertentu
  • sunnah

 

  • Aborsi yang dilakukan dengan tanpa pertimbangan medis, pada umumnya dinyatakan oleh para ulama fikih, hukumnya:

 

  • mubah
  • makruh
  • haram
  • sunnah

 

  • Sementara itu, aborsi karena pertimbangan keselamatan ibu dinyatakan:

 

  • diperbolehkan secara mutlak
  • diperbolehkan karena kepentingan yang lebih utama
  • diperbolehkan, kapan pun, khusus untuk wanita yang mengandung kurang dari 4 bulan
  • diperbolehkan, kapan pun, khusus bagi wanita yang belum siap memiliki anak

 

  • Dahulu banyak ulama yang mengharamkan Keluarga Berencana. Tetapi, sering dengan perkembangan zaman, dan seiring dengan kepentingan yang mendesak, mereka menyatakan bahwa Keluarga Berencana – dalam pengertian pengaturan kelahiran — hukumnya:

 

  • makruh
  • mubah
  • sunnah
  • wajib

 

  • Karena kesamaan esensinya dengan khamr, “ganja kering” dan sejenisnya diharamkan penggunaannya oleh para ulama fikih. Mereka menyatakan, bahwa keduanya haram karena memiliki ‘illat yang sama, yaitu:

 

  • membahayakan
  • mengandung zat adiktif
  • memabukkan
  • memberi dampak negatif

 

  • Dalam rangka memberi kemanfaatan, meskipun mengandung mafsadah, “kloning” pada manusia, oleh para ulama fikih dihukumi:

 

  • wajib
  • haram
  • mubah
  • sunnah

 

  • Karena, ternyata profesi tenaga medis tidak sepenuhnya aman dari kemungkinan penyalah-gunaan obat dan pengobatan, maka, dengan prinsip saddudz dzari’ah (antisipasi), para pekerja medis disunnahkan untuk berhati-hati, yang dikenal dalam istilah fikih dengan sebutan:

 

  • ikhtiyath
  • ikhtilath
  • ikhtilaf
  • iftitah

 

  • Para ulama menggunakan kaedah saddudz dzari’ah. Sehingga, karena dengan jelas dibuktikan telah menimbulkan dampak negatif, maka “merokok” bisa dihukumi:

 

  • halal
  • sunnah
  • haram
  • wajib

 

  • Para ulama fikih menetapkan bahwa, karena situasi dan kondisi darurat, berobat dengan “urine”, meskipun disebut barang najis, hukumnya:

 

  • haram
  • sunnah
  • mubah
  • makruh