Kisi-kisi Soal Ujian Tafsir-Hadis Ekonomi dan Bisnis

FE-UMY Semester Gasal TA 2011-2012

  • Dalam banyak riwayat (tarikh), kita tahu misi dan visi Nabi Muhammad s.a.w. pada awalnya justeru berhasil karena berkoalisi dengan kaum lemah (dhu’afâ’): “para mualaf, rakyat biasa dan miskin (bukan tokoh populer), para gembel, dan juga budak-budak, di samping beberapa tokoh kuat seperti Khadijah binti Khuwailid dan Abu Bakar.” Begitu bangga Rasulullah s.a.w. pada mereka, sampai beliau pernah berkata bahwa merekalah (kaum lemah) sebenarnya yang menjadi sumber kekuatan kepemimpinan beliau. Apa yang seharusnya diimplementasikan dari konsep keadilan dan kesejahteraan dalam al-Quarn dan Hadis?
  • Dalam bukunya The Economic Enterprise in Islam, Muhammad Nejatullah Siddiqi menyatakan bahwa Islam memberikan kepercayaan sangat besar kepada mekanisme pasar. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah pun mengisyaratkan bahwa “kebebasan ekonomi” yang dinyatakan dalam al-Quran maupun Hadis harus dipahami sebagai doktrin yang lentur sekaligus bertanggung jawab. “Bagaimanakah al-Quran memandang arti “kebebasan ekonomi” berkaitan dengan doktrin “keadilan”?
  • Al-Quran memperkenalkan agama Islam antara lain  sebagai  agama  fitrah dalam  arti  ajaran-ajarannya sejalan dengan jati diri manusia serta naluri positifnya. Dalam hal ini al-Quran menyatakan bahwa semua orang pasti berkeinginan untuk mendapatkan kenikmatan duniawi. “Bagaimana seharusnya seseorang muslim bersikap mengenai kepemilikan hartanya, bila dikaitkan dengan kewajiban setiap muslim terhadap dirinya dan relasi vertikalnya dengan Tuhannya?”
  • Dalam realitas kehidupan manusia, sering kita melihat seseorang atau sekelompok orang yang yang  menikmati hidupnya untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Oleh karena itu, mereka bisa menikmati kesengsaraan orang lain yang berdampak positif terhadapnya. “Apa pendapat saudara terhadap pendirian orang dan sekelompok orang tersebut di atas, berkaitan dengan doktrin Islam mengenai: “ukhuwwah”? Dan bagaimana konsep ideal ajaran Islam  tentang “solidaritas sosial” – menurut pendapat saudara – yang relevan untuk menjawab realitas kehidupan sosial yang senjang, termasuk di dalamnya “dalam kehidupan sosial-ekonomi”.
  • Islam memerintahkan agar setiap orang bersikap “ihsan”. “Bagaimana implementasi “ihsan” dalam soal utang-piutang, agar orang Islam tidak terjebak dalam riba, sekaligus (dapat) saling-membantu?
  • Bekerja dan berusaha (dalam Islam) harus ditujukan sebagai ibadah, sehingga di setiap langkah, perlu kita pertimbangakan keabsahan vertikanya, di samping keabsahan horisontalnya. Bagaimana penjelasan konsep kerja dan berusaha dalam kegiatan ekonomi dan bisnis bisa disebut sebagai bagian dari ibadah.
  • Berbisnis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri pun telah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang (al-hadîts). Artinya, melalui jalan perdagangan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka sehingga karunia Allah terpancar daripadanya. Jual beli merupakan sesuatu yang diperbolehkan dengan catatan selama dilakukan dengan benar sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Apa konsep normatif jual-beli dalam Islam?
  • Para ulama sejak dahulu hingga kini, ketika membahas masalah riba, dan tidak melihat esensi riba guna sekadar mengetahuinya, tetapi mereka melihat dan membahasnya sambil meletakkan di pelupuk mata hati mereka beberapa praktik transaksi ekonomi dan bisnis guna mengetahui dan menetapkan apakah praktik-praktik tersebut sama dengan riba yang diharamkan itu sehingga ia pun menjadi haram, ataukah tidak sama. Apa hakikat riba dalam realitas transaksi ekonomi dan bisnis?