Konsep Akhlak Islam dan Relevansinya

Dalam Kehidupan Modern

A. Mukadimah

Dalam tradisi filsafat istilah “etika” lazim difahami  sebagai suatu  teori  ilmu pengetahuan yang mendiskusikan mengenai apa yang  baik  dan  apa  yang  buruk  berkenaan  dengan  perilaku manusia.  Dengan  kata lain, etika merupakan usaha dengan akal budinya untuk menyusun teori  mengenai  penyelenggaraan  hidup yang  baik.  Persolan  etika muncul ketika moralitas seseorang atau suatu masyarakat mulai ditinjau  kembali  secara  kritis. Moralitas   berkenaan   dengan   tingkah  laku  yang  konkrit, sedangkan etika bekerja dalam level  teori.  Nilai-nilai  etis yang   difahami,   diyakini,  dan  berusaha  diwujudkan  dalam kehidupan nyata kadangkala disebut ethos.

Sebagai  cabang  pemikiran  filsafat,  etika  bisa   dibedakan manjadi  dua:  objektivisme  dan  subjektivisme.  Yang pertama berpandangan bahwa  nilai  kebaikan  suatu  tindakan  bersifat objektif,  terletak pada substansi tindakan itu sendiri. Faham ini melahirkan  apa  yang  disebut  faham  rasionalisme  dalam etika.  Suatu  tindakan  disebut  baik,  kata faham ini, bukan karena kita senang melakukannya, atau  karena  sejalan  dengan kehendak  masyarakat,  melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu. Tokoh utama pendukung  aliran  ini  ialah  Immanuel  Kant, sedangkan dalam Islam — pada batas tertentu — ialah aliran Muitazilah (Rasionalisme Islam).

Aliran kedua ialah  subjektivisme,  berpandangan  bahwa  suatu tindakan  disebut  baik  manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subjek tertentu. Subjek disini bisa  saja  berupa subjektivisme  kolektif,  yaitu  masyarakat,  atau  bisa  saja subjek Tuhan. Faham subjektivisme etika  ini  terbagi  ke dalam beberapa  aliran,  sejak dari etika hedonismenya Thomas Hobbes sampai ke faham tradisionalismenya Asy’ariyah.

Menurut  faham  Asy’ariyah (Tradisionalisme Islam),  nilai  kebaikan  suatu   tindakan bukannya  terletak  pada objektivitas nilainya, melainkan pada ketaatannya pada kehendak Tuhan. Asy’ariyah berpandangan bahwa menusia  itu  bagaikan  ‘anak  kecil’  yang  harus  senantiasa dibimbing oleh wahyu karena tanpa wahyu  manusia  tidak  mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk.

Kalau  kita  sepakati  bahwa  etika  ialah suatu kajian kritis rasional mengenai yang baik dan yang buruk,  bagaimana  halnya dengan   teori   etika   dalam  kitab  suci?  sedangkan  telah disebutkan di muka, kita  menemukan  dua  faham,  yaitu  faham rasionalisme   yang   diwakili   oleh   Mu’tazilah  dan  faham tradisionalisme yang diwakili oleh Asy’ariyah.

Munculnya perbedaan itu memang  sulit  diingkari  baik  karena pengaruh  Filsafat  Yunani  ke dalam dunia Islam maupun karena narasi ayat-ayat al-Quran  sendiri  yang  mendorong  lahirnya perbedaan  penafsiran.  Di  dalam  al-Quran pesan etis selalu saja   terselubungi   oleh   isyarat-isyarat   yang   menuntut penafsiran dan perenungan oleh manusia.

B. Etika dan Kebebasan

Menurut aliran voluntarisme rasional, suatu tindakan etis akan terwujud bilamana tindakan  itu  produk  pilihan  sadar  dalam situasi  bebas,  bukannya  terpaksa.  Suatu pertanggungjawaban etis bisa diberlakukan hanya ketika  seseorang  berbuat  dalam keadaan  sadar  dan  bebas.  Dengan demikian, etika senantiasa mengamsumsikan kebebasan.  Semakin  besar  wilayah  kebebasan, semakin besar pula pertanggungjawaban moralnya.

Dalam   perspektif   di   atas,   maka   faham  Jabariah  yang berpandangan  bahwa  tindakan  manusia  adalah  bagaikan,gerak wayang,  yang  ditentukan  oleh  ‘dalang’  tak ada tempat bagi konsep etika voluntarisme rasional Kantianisme.

Etika  voluntarisme  rasional   melahirkan   suatu   pandangan terhadap  manusia  sebagai  sosok  manusia berakal yang dewasa suatu  pandangan   positif   bahwa   manusia   memang   pantas mendapatkan  julukan  “ahsanu taqwîm”, puncak ciptaan Tuhan meskipun  keunggulan  kualitas   manusia   itu   masih   harus diperjuangkan   dan   disempurnakan   sendiri   oleh  manusia. Barangkali saja dalam perspektif yang demikian ini  kita  bisa memahami  mengapa  pewahyuan Tuhan melalui para rasulNya telah diakhiri,  sementara  kehidupan   menusia   kian   hari   kian berkembang sedemikian kompleknya.

Sebelum  kerasulan  Muhammad  problema kehidupan manusia tidak sekomplek pasca-Muhammad, namun  justeru  pada  masa-masa  itu Allah  sering  mengirimkan  rasul-rasulNya.  Mengapa demikian, biasanya kita mengajukan dua jawaban. Pertama, tuntutan  Allah yang   diturunkan   kepada   manusia.  Kedua,  manusia  dengan kemampuan rasionalitasnya telah mampu  mengevaluasi  kehidupan kesejarahan untuk menciptakan kebaikan hidup mereka.

Klaim  yang menyatakan Islam sebagai agama universal dan agama paripurna tersirat pada  surat  al-Maidah  ayat  3  dan  surat

al-Anbiya’  ayat  107.  Yang  pertama  menyebutkan  bahwa Islam adalah nikmat  Tuhan  yang  telah  disempurnakan,  yang  kedua menyatakan  bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Secara dogmatis teologis kedua klaim  di  atas  memang  sudah lazim  diterima  oleh  umat  Islam,  namun secara rasional dan empiris tampaknya masih perlu dirumuskan serta  diuji  kembali

kebenarannya dalam perjalanan sejarahnya.

Dari  analisis bahasa dan sosio-historis, Islam hadir bukannya dalam ruang kosong, melainkan dalam wacana yang memiliki sifat lokal   dan  partikular.  Secara  eksplisit  disebutkan  bahwa al-Quran  disebarluaskan  dengan  menggunakan  bahasa   Arab. Bahasa  mau  tidak  mau  bersifat  budaya,  ia  terikat dengan kaidah-kaidah sosial dan konsensus budaya. Jadi, universalitas pesan  al-Quran akan bisa terkomunikasikan kalau manusia juga memiliki dimensi universal. Dalam  hal  ini  rasionalitas  dan substansi   bahasalah  yang  secara  jelas  merupakan  dimensi universal yang melekat pada manusia.  Manusia  dibedakan  dari binatang  terutama  adalah  karena  manusia  merupakan  animal symbolicum, yaitu makluk yang hidup dengan symbol-symbol.  [Berbahasa pada dasarnya adalah berpikir, dan berpikir tidaklah mungkin tanpa bahasa, meskipun berbahasa  tidak  selalu  harus berbicara ataupun menulis.

Karena  adanya rasionalitas dan kemampuan berbahasa maka suatu masyarakat tercipta, komunikasi antar mereka berlangsung,  dan dunia  di  sekitarnya  memperoleh  makna.  Barangkali fenomena inilah yang telah diisyaratkan oleh al-Quran surat al-Baqarah ayat 31 di mana Allah telah mengajar ‘nama-nama’ pada Adam.

Karena  rasionalitas  dan  sistem symbol yang dimiliki manusia maka realitas masa lampau bisa direkontruksi, diceritakan  dan dihadirkan  kembali  di  hadapan  kita melalui narasi sejarah.

Suatu nilai,  cita-cita  dan  gagasan  masa  lampau  pun  bisa diwariskan  kepada generasi ke generasi lantaran adanya sistem simbol ini. Dan sesungguhnya hanyalah  al-Quran  yang  secara eksplisit dan tegas agar umat Islam mengembangkan rasionalitas dan sistem simbol  untuk  membangun  peradabannya.  Kita  bisa membuat  suatu  pengandaian, kalau saja al-Quran bertentangan dengan rasionalitas, maka bisa dipastikan  bahwa  Islam  telah terdistorsi  dalam  perjalan  sejarahnya. Lebih dari itu etika Islam akan teranomali dalam kehidupan modern.

Dengan kata lain,  al-Quran  dan  pesan-pesannya  kini  telah menjadi  bagian integral dari realitas sejarah masa lampau dan tetap hidup sampai kini, tanpa adanya revisi dan campur tangan Tuhan,  baik  isi  maupun  redaksionalnya.  Di  sini  tersirat pandangan positif al-Quran tentang manusia. Kalau kita telaah ayat-ayat  al-Quran  segera  kelihatan  bahwa etika al-Quran amat humanistik dan  rasionalistik.  Pesan  al-Quran  seperti halnya   ajakan   kepada   keadilan,   kejujuran,  kebersihan, menghormati orang tua, bekerja keras,  cinta  ilmu,  dan  lain sebagainya, semuanya amat sejalan dengan prestasi rasionalitas manusia sebagaimana tertuang dalam karya-karya para filosof.

C. Etika Islam

Etika Islam memiliki antisipasi jauh ke depan dengan dua  ciri utama.  Pertama,  etika Islam tidak menentang fithrah manusia. Kedua,  etika  Islam  amat  rasionalistik.   Sekedar   sebagai perbandingan  baiklah akan saya kutipkan pendapat Alex Inkeles mengenai sikap-sikap modern. Setelah melakukan kajian terhadap berbagai  teori  dan  definisi  mengenai  modernisasi, Inkeles membuat rangkuman mengenai sikap-sikap modern sabagai berikut, yaitu:  kegandrungan menerima gagasan-gagasan baru dan mencoba metode-metode  baru;  kesediaan  buat   menyatakan   pendapat; kepekaan  pada  waktu  dan  lebih  mementingkan waktu kini dan mendatang ketimbang waktu yang telah  lampau;  rasa  ketepatan waktu  yang  lebih  baik;  keprihatinan yang lebih besar untuk merencanakan organisasi dan efisiensi; kecenderungan memandang dunia  sebagai  suatu  yang bisa dihitung; menghargai kekuatan ilmu dan teknologi; dan  keyakinan  pada  keadilan  yang  bisa diratakan.

Rasanya  tidak  perlu  lagi dikemukakan di sini bahwa apa yang dikemukakan Inkeles  dan  diklaim  sebagai  sikap  modern  itu memang  sejalan  dengan etika al-Quran. Dalam diskusi tentang hubungan antara  etika  dan  moral,  problem  yang  seringkali muncul  ialah  bagaimana melihat peristiwa moral yang bersifat partikular dan individual dalam perspektif  teori  etika  yang bersifat rasional dan universal.

Islam  yang  mempunyai  klaim  universal  ketika  dihayati dan direalisasikan  cenderung  menjadi  peristiwa  partikular  dan individual.  Pendeknya, tindakan moral adalah tindakan konkrit yang bersifat pribadi dan subjektif. Tindakan moral  ini  akan menjadi  pelik ketika dalam waktu dan subjek yang sama terjadi konflik nilai. Misalnya  saja,  nilai  solidaritas  kadangkala berbenturan  dengan  nilai  keadilan dan kejujuran. Di sinilah letaknya kebebasan, kesadaran moral serta rasionalitas menjadi amat  penting.  Yakni  bagaimana  mempertanggungjawabkan suatu tindakan subjektif dalam kerangka nilai-nilai etika  objektif, tindakan  mikro  dalam kerangka etika makro, tindakan lahiriah dalam acuan sikap batin.

Dalam  teori  etika,  tindakan  moral  mengamsumsikan   adanya otonomi  perbuatan  manusia.  Menurut  Islam,  untuk  mencapai otonomi dan kebebasan sejati tidaklah  harus  ditempuh  dengan menyatakan  ‘kematian  Tuhan’ sebagaimana diproklamasikan oleh Nietzsche atau Sartre  misalnya,  keduanya  berpendapat  bahwa manusia akan terkungkung dalam kekerdilan dan ketidakberdayaan serta  dalam  perbudakan  selama   tindakan   moralnya   masih membutuhkan kekuatan dan kesaksian dari Tuhan. Oleh karenanya, menusia  haruslah  bertanggungjawab  kepada  dirinya  sendiri, bukannya  pada  Tuhan.  Lebih dari itu, untuk mencapai derajat kemanusiaannya secara prima manusia harus meniadakan Tuhan dan kemudian     menggali     dan    mengaktualisasikan    potensi kemanusiaannya.

Dasar pemikiran seperti di  atas  tentu  saja  berangkat  dari konsepsi   ketuhanan  dalam  tradisi  Kristen.  Dalam  sejarah pemikiran Barat kita mencatat  bahwa  untuk  mencapai  derajat filsuf  biasanya  mereka  mesti  bentrok dengan doktrin gereja tentang Tuhan. Sedangkan dalam Islam  justru  ketika  tindakan kita  diorientasikan  pada  Tuhan Yang Maha Absolut, Yang Maha Bebas, maka kita tidak akan terjebak dalam  relativisme  dunia dan sebaliknya kita akan terangkat menuju pada atmosphere Yang Maha Otonom.

D. Penutup

Pengakuan bahwa kita bukan makhluk sempurna  yang  sudah  jadi, dan  kemudian  diikuti  dengan usaha kontinyu menuju Yang Maha Sempurna, di sanalah terletak  makna  keimanan  yang  dinamis. Menurut   Kant,   puncak   rasionalitas   pada  akhirnya  akan mengantarkan pada pintu keimanan yang bersifat supra-rasional. Tuhan,   keimanan,   dan   kemerdekaan   bukanlah  objek  ilmu pengetahuan. Semua  berada  di  luar  jangkauan  rasio,  namun puncak   rasionalitas  mengantarkan  menusia  untuk  melakukan loncatan ke arah sana.