Macam-macam Puasa Terlarang

Beberapa hari ini ada pertanyaan dari para jamaah pengajian saya tentang puasa yang dilarang. Dan untuk menjawabnya, saya kutipkan tulisan yang berasal dari http://www.konsultasisyariah.com/6-puasa-terlarang/, dengan beberapa penyelarasan.

Sebagaimana kita maklumi, bahwa para ulama menyatakan bahwa “ibadah” – pada dasarnya — harus dilakukan berdasarkan aturan yang jelas. Sebagaimana kaedah fiqih yang dinyatakan oleh para ulama:

الأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ إِلاَّ مَا شَرَعَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ

“Pada dasarnya semua ibadah itu batal (tidak boleh dikerjakan), kecuali apa yang telah disyari’atkan oleh Allâh dan RasûlNya.” (Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Ahkâm Ahl adz-Dzimmah, I/408)

Atau dengan kata lain,

الأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتىَّ يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الْأَمْرِ

“Pada dasarnya semua ibadah itu batal (tidak boleh dikerjakan), sehingga ada dalil yang memerintahkannya.” (Zakariyyâ ibn Ghulâm Qâdir, Ushûl Fiqh ‘Alâ Manhaj Ahl al-Hadîts, I/145)

Ibadah tanpa aturan tidak akan membuahkan pahala, bahkan justeru bisa menjadi sebab dosa. Sehingga tidak heran, ketika ada orang yang ahli ibadah, namun dia justeru terpuruk menjadi ahli neraka.

Sebagaimana yang dialami para pelaksana ibadah, yang menghabiskan hidupnya untuk beribadah di mana pun tanda adanya landasan syar’i yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya,
Demikian pula puasa. Semua orang memahami, bahwa puasa adalah ibadah yang nilainya luar biasa. Namun jika puasa ini dilakukan tanpa aturan yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya, puasa ini justeru akan menjadi sumber dosa dan bukan pahala.

Para ulama mencatat, bahwa ada 6 (enam) jenis puasa yang terlarang dalam syari’at, yaitu:
Pertama, Puasa Setiap Hari (Shaum ad-Dahr)

‘Abd Allâh ibn ‘Amr ibn al-‘Âsh r.a. (radhiyyâhu ‘anhu) pernah bertekad untuk berpuasa setiap hari dan melaksanakan shalat tahajud sepanjang malam. Mengetahui hal ini, Nabi Muhammad s.a.w. (shallalâhu ‘alaihi wa sallam) langsung menegurnya, seraya bersabda:

إِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ لَهُ العَيْنُ، وَنَفِهَتْ لَهُ النَّفْسُ، لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الدَّهْرَ

“Jika kamu lakukan tekadmu itu, membuat matamu cekung dan jiwamu lelah. Tidak ada puasa bagi orang yang melakukan puasa dahr (puasa setiap hari).” (Hadits Riwayat al-Bukhâriy dari ‘Abd Allâh ibn ‘Amr ibn al-Âsh, Shahîh al-Bukhâriy, VII/95, hadits. no. 1843)

Dalam riwayat lain, Nabi s.a.w. (shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ

“Tidak ada puasa bagi orang yang puasa abadi.” (Hadits Riwayat al-Bukhâriy, Shahîh al-Bukhâriy, hadit no. 1977 dan Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, III/164, hadits no. 2791 dan 2793 dari ‘Abd Allâh ibn ‘Amr ibn al-Âsh)

Dr. Musthafâ al-Bughâ – Ulama Syafi’iyah Kontemporer – menjelaskan makna puasa abadi yang dilarang dalam hadits: “Orang tersebut berpuasa setiap hari sepanjang usianya dan tidak pernah meninggalkan puasa, kecuali pada hari yang diharamkan untuk berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq.” (Ta’lîq Shahîh al-Bukhâriy, III/40).

Bahkan terdapat ancaman keras bagi orang yang melakukan puasa sepanjang usianya. Dari Abû Mûsâ al-Asy’ariy r.a. (radhiyyâhu ‘anhu), beliau mengatakan,

مَنْ صَامَ الدَّهْرَ ضُيِّقَتْ عَلَيْهِ جَهَنَّمُ هَكَذَا؛ وَقَبَضَ كَفَّهُ

“Siapa yang melakukan puasa sepanjang masa, neraka jahannam akan disempitkan untuknya seperti ini.”

Kemudian beliau menggenggamkan tangannya.” (Hadits Riwayat Ahmad ibn Hanbal dari Abû Mûsâ al-Asy’ariy r.a. [radhiyyâhu ‘anhu], Musnad Ahmad ibn Hanbal, IV/414, hadits no. 19728. Syuaib al-Arnauth menilai hadits ini shahîh-mauqûf (keterangan Abû Mûsâ al-Asy’ariy). Namun apakah riwayat itu merupakan sabda Nabi s.a.w. (shallalâhu ‘alaihi wa sallam) atau bukan, riwayat itu diperselisihkan ulama tentang keshahihannya. Tetapi mengingat ini masalah agama, asumsinya, tidak mungkin seorang sahabat Rasulullah s.a.w. (shallalâhu ‘alaihi wa sallam) berbicara murni dari pikirannya, sehingga oleh para ulama dihukumi sebagaimana sabda Nabi s.a.w. (shallalâhu ‘alaihi wa sallam)

Al-Hafîzh Ibn Hajar al-Asqalâniy menjelaskan:

“Zhahir hadits, jahanam disempitkan baginya dalam rangka mengekangnya, karena dia menyiksa dirinya sendiri dan memaksa dirinya untuk puasa sepanjang masa. Disamping dia membenci sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa selain sunnah beliau (dengan puasa sepanjang masa), itu lebih baik. Sikap ini menuntut adanya ancaman keras, sehingga hukumnya haram.” (Fath al-Bâriy, IV/222).

Kedua, Puasa pada Dua Hari Raya (Îd al-Fithrî dan Îd al-Adh-hâ)

Dari Abû Sa’îd Al-Khudriy r.a. (radhiyyâhu ‘anhu), beliau mengatakan

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الفِطْرِ وَالنَّحْرِ

“Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang puasa pada saat ‘Îd al-Fithri dan ‘Îd an-Nahr (hari raya qurban).” (Hadits Riwayat al-Bukhâriy, Shahîh al-Bukhâriy, III/55, hadits 1991 dan Ibn Mâjah, Sunan ibn Mâjah, II/616, hadits no. 1721 dari Abû Mûsâ al-Asy’ariy r.a. [radhiyyâhu ‘anhu]).

Dalam hadits lain, dari ‘Umar ibn al-Khaththâb r.a. (radhiyyâhu ‘anhu). Ketika beliau berkhutbah, menjelaskan hukum terkait dengan ‘Îdul Fitrî dan Îdul Adh-hâ,

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا: يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَاليَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

“Ini adalah dua hari, ketika Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang untuk melakukan puasa pada hari itu: pada hari kalian selesai melaksanakan puasa (‘Îd al- Fithri) dan hari kedua adalah hari ketika kamu sekalian makan dari hasil kurban kalian.” (Hadits Riwayat al-Bukhâriy, Shahîh al-Bukhâriy, III/55, hadits no. 1990 dan Muslim, Shahîh Muslim, III/152, hadits no. 2727 dari ‘Umar ibn al-Khaththâb r.a. [radhiyyâhu ‘anhu]).

An-Nawâwiy menjelaskan,

قد أجمع العلماء على تحريم صوم هذين اليومين بكل حال، سواء صامهما عن نذر أو تطوع أو كفارة أو غير ذلك، ولو نذر صومهما متعمداً لعينهما، قال الشافعي والجمهور: لا ينعقد نذره ولا يلزمه قضاؤهما. وقال أبو حنيفة: ينعقد، ويلزمه قضاؤهما.

“Ulama sepakat haramnya puasa di dua hari raya, apapun puasanya. Baik puasa karena nazar, sunnah, kafarah, atau sebab lainnya. Jika ada orang uang bernazar puasa pada hari raya, Imam Syafii dan mayoritas ulama mengatakan, ‘Nazarnya batal dan dia tidak wajib qadha’. Sementara Abû Hanîfah mengatakan, ‘Nadzarnya sah, dan dia wajib mengqadha’nya.” (Syarh Shahîh Muslim, VIII/15)

Ketiga, Puasa Sunnah Yang Dilakukan Wanita, Tanpa Izin Suaminya

Dari Abû Hurairah r.a. (radhiyyâhu ‘anhu), Rasulullah s.a.w. (shallalâhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

لاَ تَصُومُ المَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Seorang wanita tidak boleh berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izinnya.” (Hadits Riwayat al-Bukhâriy, Shahîh al-Bukhâriy, VII/39, hadits no. 5192, dan Hadits Riwayat Abû Dâwud, Sunan Abî Dâwud, II/306, hadits no. 2460 dari Abû Hurairah r.a. [radhiyyâhu ‘anhu]).

Larangan ini – menurut para ulama — tidak berlaku jika suami tidak di rumah. Sang isteri boleh berpuasa sunnah, meskipun dia tidak meminta izin suaminya.

Ibn Hazm mengatakan,

لا يحل لذات الزوج أن تصوم تطوعاً بغير إذنه، فإن كان غائباً لا تقدر على استئذانه أو تعذّر، فلتصم بالتطوّع إن شاءت

“Tidak halal bagi wanita yang bersuami untuk melakukan puasa sunnah tanpa izin suaminya. Jika suami tidak ada, sehingga dia tidak bisa meminta izin, dia boleh berpuasa sunnah, jika dia menginginkannya.” (Al-Muhallâ, IV/453).

Karena memenuhi hak suami adalah “wajib”, sementara melaksanakan puasa sunnah sifatnya anjuran. Dan yang wajib lebih didahulukan dari pada yang sunnah.

Keempat, Puasa Pada Hari Tasyriq

Dari Nubaisyah al-Hudzaliy Hudzaliy r.a. (radhiyyâhu ‘anhu), Nabi s.a.w (shallallâu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” (Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, III/153, hadits no. 2733 dari Nubaisyah al-Hudzaliy r.a. [radhiyyâhu ‘anhu])

An-Nawâwiy memasukkan hadits ini di dalam Syah Shahîh Muslim, “Bâb Tahrîm Shaumi Ayyâm at-Tasyrîq (Haramnya Berpuasa pada Hari Tasyriq)”. (Syarh Shahîh Muslim, VIII/17)

Ibn ‘Abd al-Barr menegaskan bahwa ulama sepakat tentang larangan ini. Beliau menyatakan,

وأما صيام أيام التشريق فلا خلاف بين فقهاء الأمصار فيما علمت أنه لا يجوز لأحد صومها تطوعا

“Tentang puasa pada hari-hari tasyriq, maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama di berbagai negeri bahwasannya tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk berpuasa sunnah ketika itu” (At-Tamhîd, XII/127).

Al-Hâfizh Ibn Rajab menjelaskan sebab larangan puasa di hari tasyriq,

إنما نهى عن صيام أيام التشريق لأنها أعياد المسلمين مع يوم النحر، فلا تصام بمنى ولا غيرها عند جمهور العلماء خلافاً لعطاء في قوله: إن النهي يختص بأهل منى، وإنما نهى عن التطوع بصيامها سواء وافق عادة أو لم يوافق

“Dilarang berpuasa hari tasyriq, karena hari tasyriq termasuk hari raya kaum muslimin, bersambung dengan hari raya kurban. Karena itu, tidak boleh puasa pada hari tasyriq, baik di Mina maupun lainnya menurut mayoritas ulama. Tidak sebagaimana pendapat Atha’ yang mengatakan bahwa larangan ini hanya khusus bagi mereka yang sedang berada di Mina.

Yang dilarang adalah berpuasa sunnah, baik itu puasa rutinitas maupun bukan rutinitas.” (Lathâif al-Ma’ârif, hlm. 292).

Kelima, Puasa Hari Syak (Meragukan)

Dari ‘Ammar ibn Yâsir r.a. (radhiyyâhu ‘anhu), beliau mengatakan,

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Siapa yang berpuasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abû al-Qâsim (Nabi Muhammad) s.a.w. (shallalâhu ‘alaihi wa sallam).” (Hadits Riwayat al-Bukhâriy dari ‘Ammar ibn Yâsir (radhiyyâhu ‘anhu), Shahîh al-Bukhâriy, secara Mu’allaq [tanpa menyebut sanad awalnya sampai tabi’in], III/34).

Al-Hâfizh Ibn Hajar al-‘Asqalâniy menyatakan,

استُدل به على تحريم صوم يوم الشك لأن الصحابي لا يقول ذلك من قبل رأيه فيكون من قبيل المرفوع

“Hadits ini dijadikan sebagai dalil haramnya puasa pada hari syak. Karena sahabat (‘Ammâr) tidak mungkin mengatakan demikian dari pendapat pribadinya, sehingga dihukumi sebagaimana hadits marfû’ (sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam). (Fath al-Bâri, IV/120).

Apa Hari Syak Itu?

Hari syak adalah tanggal 30 Sya’ban, hasil dari penggenapan bulan Sya’ban, karena hilal tidak terlihat, baik karena mendung atau karena cuaca yang kurang baik.” (Muhammad ibn ‘Utsaimin, Asy-Syarh al-Mumti’, VI/478).

An-Nawâwiy mengatakan,

يوم الشك هو يوم الثلاثين من شعبان إذا وقع في ألسنة الناس إنه رؤى ولم يقل عدل إنه رآه

“Hari syak adalah tanggal 30 sya’ban, ketika banyak orang membicarakan bahwa hilal sudah terlihat, padahal tidak ada satu pun saksi yang adil, yang (dirinya) telah (menyatakan) melihat (hilal).” (Al-Majmû’, VI/401)

Keenam, Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Sehari atau Dua Hari Sebelumnya.

Dari Abû Hurairah r.a. (radhiyyâhu ‘anhu), Nabi s.a.w. (shallallâhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا، فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali orang yang memiliki kebiasaan puasa sunnah, dia boleh melakukannya.” (Hadits Riwayat al-Bukhâriy, Shahîh al-Bukhâriy, hadits no. 1914 dan Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, hadits no. 1082, dari Abû Hurairah r.a. [radhiyyâhu ‘anhu]).

An-Nawâwiy mengatakan,

فيه التصريح بالنهي عن استقبال رمضان بصوم يوم أو يومين لمن لم يصادف عادةً له أو يصله بما قبله، فإن لم يصله ولا صادف عادة فهو حرام، هذا هو الصحيح من مذهبنا

“Dalam hadits ini terdapat larangan tegas mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa sunnah yang bertepatan dengan hari itu, atau tidak bersambung dengan berpuasa sunnah sebelumnya. Jika bukan karena dua alasan tersebut, statusnya haram. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab kami (Syafi’iyah).” (Syarh Shahîh Muslim, 7/194)

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas:

Hadits ini menunjukkan ada larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, dengan alasan karena ingin berhati-hati dalam menentukan awal Ramadhan atau hanya ingin melaksanakan puasa sunnah biasa (puasa sunnah mutlak).

Larangan di sini – menurut pendapat yang râjih [kuat] adalah larangan yang menunjukkan hukum haram, karena hukum asal larangan memang menunjukkan ‘demikian’ (haram) sampai ada dalil yang menyatakan berbeda. Sebagaimana ungkapan berikut:

الأَصْلُ فِي النَّهْيِ التَّحْرِيْمُ إِلاَّ لِقَرِيْنَةٍ

“Pada dasarnya pada (setiap) larangan itu menunjukkan (hukum) haram, kecuali ada qarinah (indikator yang mengecualikannya)”

Dikecualikan di sini kalau seseorang yang memunyai kebiasaan berpuasa tertentu, seperti puasa Senin-Kamis, atau puasa Dawud (sehari puasa, sehari tidak puasa), kalau puasa itu memang harus dilakukan satu atau dua hari sebelum Ramadhan.

Begitu pula dikecualikan jika seseorang ingin melaksanakan puasa wajib, seperti puasa nadzar, kaffârah atau qadhâ’ puasa Ramadhan yang lalu, itu pun masih dibolehkan dan tidak termasuk dalam larangan hadits yang kita kaji.

Hikmah larangan ini adalah supaya ‘kita’ bisa membedakan antara amalan wajib (puasa Ramadhan) dan amalan sunnah. Juga supaya kita semakin bersemangat untuk melaksanakan awal puasa Ramadhan. Di samping itu, hukum puasa berkaitan dengan melihat hilal (datangnya awal bulan). Maka orang yang mendahului Ramadhan dengan sehari atau dua hari berpuasa sebelumnya berarti menyelisihi ketentuan ini.

Ada hadits yang berbunyi,

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا

“Jika sudah mencapai separuh dari bulan Sya’ban, janganlah kalian berpuasa.“ (Hadits Riwayat Abû Dâwud dari Abû Hurairah (radhiyyâhu ‘anhu), Sunan Abî Dâwud, II/272, hadits no. 2339).

Hadits ini seakan-akan bertentangan dengan hadits yang sedang kita kaji yang menyatakan larangan berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan. Artinya, puasa sebelum itu masih boleh meskipun setelah pertengahan Sya’ban. Dan sebenarnya, hadits ini pun terdapat perselisihan pendapat mengenai keshahihannya. Jika hadits tersebut shahih, maka yang dimaksudkan adalah larangan puasa sunnah mutlak yang dimulai dari pertengahan bulan Sya’ban. Adapun jika seseorang memunyai kebiasaan berpuasa, seperti puasa Senin-Kamis, puasa Dawud, atau ingin menyambung puasa Sya’ban karena separuh pertama melakukannya, begitu pula karena ingin mengqadhâ’ puasa Ramadhan, maka hal yang seperti itu tidaklah masuk dalam larangan berpuasa setelah pertengahan Sya’ban.

Islam memberikan batasan dalam melakukan persiapan sebelum melakukan amalan shalih seperti yang dimaksudkan dalam hadits ini untuk puasa Ramadhan.

Tujuan seseorang tidak boleh berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan ialah: dengan maksud untuk berjaga-jaga, jangan sampai Ramadhan telah masuk pada satu atau dua hari tersebut, sementara dia tidak mengetahui hal itu. Kalau seseorang berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan karena bertepatan dengan kebiasaannya dalam hal berpuasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis dan puasa Dawud maka hal tersebut tidaklah dapat dianggap salah, dan diperbolehkan dalam syariat Islam.

Bagi orang yang tidak biasa memerbanyak puasa di bulan Sya’ban, maka dia tidak diperbolehkan untuk berpuasa Sya’ban pada hari-hari terakhir pada bulan Sya’ban, yaitu sehari atau dua hari terakhir, karena amalannya itu bertentangan dengan hadits Abû Hurairah r.a (radhiyyâhu ‘anhu) di atas.

Demikian kajian ringkas tentang hadits mengenai puasa yang diharamkan. Dan untuk melengkapinya, dipersilakan untuk membaca kitab-kitab fiqihnya.

Wallâhu A’lam.

(Dikutip dan dielaborasi dari tulisan yang diunggah pada http://www.konsultasisyariah.com/6-puasa-terlarang/)