Mahalnya Biaya Kesehatan, Tanggung Jawab Siapa?

Masih ingat fenomena ‘Ponari’? Tentu saja, sudah banyak yang lupa. “Ponari” bisa saja dilupakan. Tetapi, fenomena Ponari akan bisa berulang, karena ada faktor pemicunya.

Seperti yang pernah menjadi berita utama, baik dimedia cetak atau pun di media elektronik, ada seorang bocah kelas III SD yang ditengarai dan bahkan ada yang meyakini dapat menyembuhkan semua jenis penyakit hanya dengan menyelupkan sebuah batu ajaib ke dalam air, dan air tersebut diminum oleh ‘Sang Pasien. Hal ini diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Ribuan orang siap mengantri untuk mendapatkan sebuah pengobatan “murah-meriah” dengan berkorban tenaga, waktu, dan — jangan lupa — “sedikit uang”.

Kalau saya melihat fenomena ini terjadi, mungkin bisa terjadi karena mahalnya biaya kesehatan dan obat yang sekarang ada di Indonesia. Kaum para (baca: fakir-miskin) saat ini sangatlah sulit untuk membayar biaya kesehatan yang sedemikian besar. Mereka — di sebuah desa yang pernah penulis singgahi — hanya mampu membayar — misalnya — rata-rata 5 ribu rupiah saja untuk biaya periksa dokter, bukannya 50-150 ribu rupiah. Kaum Papa di Indonesia sangatlah bersyukur dengan adanya “Ponari”, Sang Juru Sembuh (yang diyakini oleh sebagian besar pasiennya) “Serba Bisa”. Mereka menganggap bocah ini dapat menyembuhkan segala jenis penyakit dengan biaya yang sangat murah (semampunya).

Seharusnya pemerintah, — khususnya kementerian kesehatan — melihat fenomena ini merupakan sebuah pukulan yang kuat bagi dunia kesehatan di Indonesia. Sebagian besar kaum papa sudah kurang percaya para dokter (dan juga Rumah Sakit) yang mematok biaya pelayanan kesehatan dengan biaya yang sedemikian mahal. dalam hali ini, “Saya” (mewakili awam yang pernah menjadi pasien) menganggap Indonesia gagal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyatnya. Seharusnya pemerintah “malu” . Dimana seharusnya setiap orang yang hidup di Indonesia — baik yang kaya atau miskin — berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang sudah menjadi tanggung jawab dari pemerintah untuk melayani rakyatnya dengan sebaik-baiknya.

Biaya pengobatan dan dokter ‘sangat’ mahal di Indonesia, sepadan dengan mahalnya biaya kuliah untuk menjadi dokter. Kenapa ‘sih’ tidak ada dokter yang mau tampil seperti ‘Ponari’ yang mau bekerja sedemikian kerasnya untuk sebuah tugas (yang mungkin saja direkayasa) mulia untuk melakukan kegiatan (baca: upaya) ‘penyembuhan pasiennya’? Kenapa ‘sih’ tidak ada dokter yang terpanggil nuraninya dan (kemudian) mau memberikan pelayanan kesehatan kepada siapa pun yang membutuhkan jasanya dengan biaya semurah-murahnya, bahkan ‘gratis’ bagi setiap orang yang tidak mampu untuk membayarnya?

Jangan mau kalah sama Ponari ‘dong’, Para dokter di Indonesia — yang insyaallah lebih pintar dan lebih kaya daripada Ponari — mana tanggung jawabmu sebagai ‘Sang Penolong’ rakyat fakir-miskin yang memerlukan bantuanmu? Kemana sajakah engkau selama ini, hai para dokter?

Salut buat ‘Si Ponari’, saya harap biaya kesehatan di Indonesia bisa lebih murah lagi (seperti biaya pengobatan yang dipatok pihak manajemen Ponari). Karena ‘pelayanan kesehatan’, kini sudah ternyata sudah menjadi komoditas. Maka semuanya menjadi sangat mahal dan kadang-kadang tak terjangkau bagi kaum dhuafa’ di Indonesia.

Saya bisa ngomong kepada para dokter. Saya hingga saat ini — kebetulan — berperan sebagai mubaligh kampung, Seringkali saya diminta oleh para pengurus majlis ta’lim, utamanya para jamaah ibu-ibu — untuk memberikan pengajian. Dan, kalau ‘ngaji di kampung’, jangan pernah berharap ‘amplop’. Naif! Berikan yang terbaik pada mereka. dan alhamdulillah, mereka pun merasa terlayani, Mereka — tanpa diminta — bersedia untuk mengucapkan terima kasih, dan mendoakan kepada mubalighnya dengan beragam doa yang — insyaalllah — semuanya baik.

Alhamdulillah. Karena doa para jamaah itulah ‘saya’ merasakan adanya kenikmatan Allah yang luar biasa. Hati terasa tenang, tenteram, damai dan insyaallah ridha Allah pun bisa saya peroleh, kalau keikhlasan saya benar-benar terbangun.

Saya berpendapat, bahwa tidak ada sedikit pun kenikmatan yang lebih tinggi nilainya — dari Alllah — daripada “ridhaNya”.

Saya selalu berharap, semoga segera ada dan bahkan banyak dokter-(utamanya dokter-dokter muslim) di Indonesia yang berjiwa besar (tanpa memersoalkan adanya kemungkinan rekayasa) seperti “Ponari”, bocah dari Jombang ini, yang mengiringi pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya karena dengan satu niat: “membantu siapa pun, di mana pun, dengan cara apa pun, hanya dalam rangka “menggapai ridha Allah semata-mata”. Sehingga “pelayanan kesehatan murah dan bersahabat” bisa dinikmati oleh siapa pun di negeri kita. Utamanya bagi kaum papa (fakir-miskin) yang tak memiliki uang untuk membayar para dokter yang telah — dengan tega — mengubah akad tabarru’ (pelayan sosial kesehatan) menjadi akad tijarah (bisnis pelayanan kesehatan). Pelayanan kesehatan yang semula bernuansa transaksi sosial — oleh para pelayan kesehatan di negeri kita — saya tengarai ‘kini’ telah berubah menjadi transaksi bisnis seperti layaknya jual-beli.

Kini saatnya kita mulai: “Jadilah Pelayan, yang dengan ikhlas beribadah — dengan cara melayani siapa pun — hanya untuk Allah semata-mata.

Fastabiqû al-Khairât. Semoga Allah selalu meridhai amal shalih kita.

Âmîn Yâ Mujîbas Sâilîn.