MANAJEMEN  SYAHWAT: “PERSPEKTIF AL-QURAN”

Oleh: Muhsin Hariyanto

Syahwat, yang sering diterjemahkan dengan hasrat seksual, sebenarnya memiliki pengertian yang jauh lebih luas. Dalam pengertian bahasa (Arab), syahwat dimaknai sebagai kecenderungan hati yang sulit terbendung kepada sesuatu yang bersifat inderawi dan materiil. Dalam fitrahnya, syahwat bukanlah sesuatu yang layak dibenci, namun merupakan karunia Allah yang harus dikendalikan, sehingga memiliki nilai tambah bagi setiap diri (pribadi) manusia. Ego (nafs) manusia bisa terbawa ke arah positif atau negatif, tergantung pada kemampuan setiap diri (pribadi) manusia untuk mengarahkannya. Oleh karenanya, menjadai tugas setiap manusia untuk mengarahkan syahwat ke arah yang serba positif dan mengendalikannya jangan sampai menuju ke arah yang serba negatif.

Al-Quran menyebut kata syahwat dalam pelbagai bentuk  katanya. Dalam bentuk isim (kata benda) mufrad (syahwah) disebut dalam QS al-A’râf, 7: 81 dan QS an-Naml, 27: 55; dalam bentuk isim (kata benda) jama’ (syahawât) disebut dalam QS Âli ‘Imrân, 3: 14; QS an-Nisâ’, 4: 27 dan QS Maryam, 19: 59; sedang dalam bentuk fi’il (kata kerja) (isytahat) disebut dalam QS al-Anbiyâ’, 21: 102; (tasytahî) dalam QS Fushshilat, 41: 31; (tasytahîhi) dalam QS az-Zukhruf, 43: 71; (yasytahûn) dalam QS an-Nahl, 16: 57; QS Saba’, 34: 54; QS at-Thûr, 52: 22; QS al-Wâqi’ah, 56: 21 dan QS al-Mursalât, 77: 42.

Dalam bentuk isim (kata bendanya), syahwat berarti: melepaskan nafsu (QS al-A’râf, 7: 81); memenuhi nafsu (QS an-Naml, 27: 55); segala sesuatu yang diingini (QS Âli ‘Imrân, 3: 14); hawa nafsu (QS an-Nisâ’, 4: 27 dan QS Maryam, 19: 59). Sedang dalam bentuk kata kerjanya berarti: menikmati apa yang diingini (QS al-Anbiyâ’, 21: 102);  yang kamu inginkan (QS Fushshilat, 41: 31); yang diingini (QS az-Zukhruf, 43: 71); apa yang mereka sukai (QS an-Nahl, 16: 57); yang mereka ingini (QS Saba’, 34: 54; QS at-Thûr, 52: 22 dan QS al-Mursalât, 77: 42); yang mereka inginkan (QS al-Wâqi’ah, 56: 21).

Menimbang Realitas

Taufiq Ismail, seorang budayawan dan penyair yang sangat peduli terhadap moralitas bangsanya pernah menulis sebuah artikel di majalah GATRA Nomor 7, yang beredar Kamis, 28 Desember 2006 dengan judul: ”13 Wajah Gerakan Syahwat Merdeka”.

Dia katakan bahwa di dalam gelombang reformasi yang membawa perubahan politik sewindu yang lalu, sebuah arus besar digerakkan oleh kelompok permisif dan adiktif menumpang masuk ke tanah air kita. Arus besar itu, sesuai karakteristiknya, tepat disebut sebagai gerakan syahwat merdeka. Tak ada sosok organisasi resminya, tapi jaringan kerja samanya mendunia, kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan melandasinya, dan banyak media massa jadi pengeras suaranya. Menurutnya, ada tiga belas komponen dalam gerakan dengan seks sebagai jaringan pengikatnya.

Kata pak Taufiq Ismail, seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahun. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan faktor-faktor di atas. Inilah produk akhirnya.

Luar biasa destruksi sosial yang dilakukan Gerakan Syahwat Merdeka ini, yang ciri kolektifnya adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dalam diri mereka.

Apa Kata al-Quran?

Setiap manusia, dalam pandangan al-Quran. Memiliki fitrah untuk mencintai sesuatu yang didambakan. Mereka ingin memiliki, menguasai, meraih, menikmati  dan memanfaatkan sesuatu yang mereka pandang indah dan menarik bagi dirinya, tanpa kecuali.

Disebutkan — misalnya — dalam QS Âli ‚’Imrân, 3: 14:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Dalam ayat ini Allah menyebutkan kata zuyyina (dijadikan indah) dalam bentuk pasif. Selanjutnya menyebut kata linnâs (bagi manusia) dengan memakai alif-lâm yang dikaitkan dengan kata an-nâs, dengan didahului huruf lâm yang berarti milk (kepunyaan).

Kata kerja pasif itu mengisyaratkan arti pentingnya sesuatu yang disebut, yaitu kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yang di dalam ayat ini disebutkan dengan rinci ada 6 (enam) macam. Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Enam hal tersebut dengan ihtibâknya (sesuatu yang secara tersirat bisa dipahami termasuk dalam sebutan yang berjumlah enam, yaitu hal-hal yang terkait dengan keenam macam atau bisa dipahami ada dalam keenam macam yang disebutkan) merupakan seutu yang menarik bagi setiap manusia. Dan disilah setiap manusia diuji.

Dalam kaitannya dengan pengujian terhadap hambanya, Allah menyedediakan keenam macam perhiasan dunia yang seringkali membuat manusia terkecoh dan tergelincir oleh godaan setan. Sehingga dirinya menjadi tidak mampu lagi berdzikir dengan benar. Dan di saat inilah manusia benar-benar dapat menunjukkan jati dirinya: apakah dia bisa bersyukur atau kufur terhadap nikmat Allah.

Manajemen Syahwat

Dalam ayat yang lain, Allah menjelaskan betapa sulitnya manusia memenej syahwatnya, sehingga mereka banyak yang tergelincir ke lembah kehinaan karena godaan dari lingkungan sosialnya.

Dalam QS an-Nisâ’, 4: 27 Allah menyatakan:

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa godaan setan itu tak pernah padam, dan setan akan selalu berusaha menggoda setiap manusia dengan segala cara. Oleh karenanya, bertaubat menjadi solusi bagi setiap orang yang pernah tergelincir. Dan tentu sja yang dimaksudkan dengan taubat di sini adalah taubatan nasûhâ.

Sejarah telah membuktikan kegagalan kaum Luth dalam memenej syahwatnya, sehingga mereka tergelincir ke dalam budaya liwâth (homo seksual dan lesbian). Dan bagaimana contoh kasus Yusuf a.s. dan Zulaikha yang sangat indah mempertontonkan drama cinta seorang wanita terhadap lelaki pujaan hatinya yang dikarunia iman yang kokoh. Dalam kasus tersebut Zulaikha dipersonifikasikan sebagai wanita yang gagal memenej syahwatnya, sedang Yusuf a.s. digambarkan sebagai sosok-tegar yang berhasil memenej syahwatnya; dan akhirnya berkesudahan dengan happy-ending.

Dalam kisah ini, kita diberi pelajaran untuk menjadi Yususf-Yusuf yang lain di tengah godaan Zulaikha-Zulaikha yang mungkin saja tengah hadir di seputar kita. Dan bagi para wanita, janganlah menjadi Zulaikha-Zulaikha lain yang selalu mempertoontonkan keindahan yang bisa jadi akan menggoda Yusuf-Yusuf yang lain.

Dan dalam kisah Kaum Luth, kita bisa mengambil pelajaran bahwa ketika hawa nafsu telah dipertuhankan oleh siapa pun, maka setiap manusia akan manjadi budaknya (budak syahwatnya). Sebaliknya, ketika iman dibingkai dengan semangat tauhid, maka ia pun akan menjadi raja (malik) syahwatnya, yang akan dikuasainya kapan dan di mana pun ia berada. Tentu saja kita tidak pernah berkeinginan menjadi duplikat Kaum Luth yang Gagal memenej syahwat. Dan bahakan kita ingin menjadi trend-setter, seperti Luth yang tegar di tengah dekadensi moral umatnya.

Natîjah (Simpulan)

Tawaran ‘Manajemen Qalbu’ – misalnya — yang digagas dan dipopulerkan oleh Aa’ Gym bisa dikembangkan menjadi ‘Manajemen Syahwat’, atau bait lagunya ”jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini” bisa diubah menjadi ”jagalah syahwatmu jangan kau turuti; kalau kau turuti, akan menyesal nanti.“

Hati manusia akan bisa berbolak-balik, di ketika manusia menghadapi persoalan hidup yang selalu berubah. Di ketika ia berada dalam situasi dan kondisi yang sangat mendukung, ia pun akan dekat dengan Sang Khaliq.

Namun, bila ia berada dalam lingkaran setan yang sangat menggoda, belum tentu ia akan mampu berdzikir.

Oleh karena, solusi terbaiknya adalah: Jauhi tapak-tapak setan yang siap menghadang, dan dekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikr; bukan dengan sekadar mengucap kata Allah dengan seluruh derivasinya, namun benar-benar menambatkan hati pada diri-Nya dalam setiap kesempatan.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta