Memahami Konsep Ma’rifat

(Materi Pengajian Tazkiyatun Nafs, dalam acara Baitul Hikmah, PDM Kota Yogyakarta, Ahad 30 Maret 2014, di Kantor PDM Kota Yogyakarta)

Persoalan ma’rifat, hingga kini masih menjadi perbincangan yang menarik. Utamanya bagi mereka yang tertarik

pada wacana tasawuf. Tidak terkecuali bagi Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beliau memaparkan kajian tentang ma’rifat ini dalam beberapa karya tulisnya, termasuk di dalam bukunya: “Madârujus Sâlikîn”.

Berkaitan dengan kajian tentang ma’rifat ini, ada sebuah hadits Qudsi yang sering diungkapkan oleh para penulis untuk memulai kajian mereka tentang masalah itu, yang menurut penilaian Ibnu Taimiyah (haditst ini) berkualifikasi maudhû’ (palsu),

كُنْتُ كَنْزاً لَا أُعْرَفَُ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفُ ؛ فَخَلَقْتُ خَلْقاً فَعَرَّفْتُهمْ بِي ، فَعَرَفُونِي

Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang tak

dikenal, Aku ingin memerkenalkan siapa Aku, maka Aku menciptakan makhluk. Oleh karena itu, Aku memerkenalkan diriKu kepada mereka, maka mereka itu mengenal Aku.” (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahâdîts al-Dha’îfah, XIII/50, hadits no. 6023)

Dari hadits inilah ke kemudian sebagian umat Islam memahami konsep ma’rifat, dan akhirnya – dalam beberapa hal – mengalami kekeliruan yang cukup fatal. Antara lain, ada yang menyatakan bahwa seseorang yang sudah mencapai ma’rifat sudah tidak perlu lagi beribadah seperti manusia pada umumnya (yang belum mencapai ma’rifat)

Berkenaan dengan hal itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyah — dengan mengutip penjelasan dari al-Harawi — menjelaskannya dalam kitab Madârijus Sâlikîn. Dinyatakan bahwa al-Harawi, dalam kitab Manâzilus Sa’irin menyitir firman Allah berkaitan dengan ma’rifat ini,

وَإِذَا سَمِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُواْ مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka

mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang

yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).” (QS al-Mâidah/5: 83).

Ma’rifat artinya meliputi sesuatu seperti apa adanya. Saya katakan, bahwa di dalam al-Quran terkadang disebutkan lafazh ma’rifat dan adakalanya disebutkan lafazh ilmu. Lafazh ilmu yang banyak disebutkan di dalam

al-Quran memiliki batasan yang relatif lebih luas. Allah memilih bagi Diri-Nya asma al-Ilm dan segala kaitannya. Allah menyifati DiriNya dengan Al-‘Alîm, Al-Allâm, dari kata ‘alima, ya’lamu, dan menginformasikan bahwa Dia memiliki ilmu, tanpa menggunakan lafazh ma’rifat. Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, apa yang dipilih Allah untuk Diri-Nya adalah yang paling sempurna jenis dan maknanya. Lafazh ma’rifat disebutkan di dalam al-Quran berkaitan dengan orang-orang yang beriman dari Ahli Kitab secara khusus, seperti firman-Nya yang disebutkan di atas, yaitu: “orang-orang yang mendengarkan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah s.a.w..

Begitu pula firman-Nya yang lain,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمُ الَّذِينَ خَسِرُواْ أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Orang-orang  yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).” (QS al-An’ârn/6: 20).

Golongan ini lebih menandaskan ma’rifat daripada ilmu. Bahkan banyak di antara mereka yang sama sekali tidak peduli terhadap ilmu, yang menganggapnya sebagai pemotong dan hijâb (tirai penghalang), tidak seperti ma’rifat.

Sementara orang-orang yang bersikap istiqamah di antara mereka menegaskan nasihat kepada manusia agar mencari dan memerhatikan ilmu. Menurut mereka, wali Allah tidak akan sempurna perwaliannya jika tidak memiliki ilmu. Sebab Allah tidak akan mengambil wali yang bodoh. Sebab kebodohan merupakan pangkal segala

bid’ah, kesesatan dan kekurangan. Sementara ilmu merupakan dasar segala kebaikan, petunjuk dan kesempurnaan.

Ada perbedaan antara ilmu dan ma’rifat dari segi lafazh dan maknanya. Dari segi lafazh, kata kerja transitif hanya membutuhkan satu objek saja, seperti perkataan seseorang, “araftu zaidan”, artinya Aku mengenal Zaid. Sedangkan kata kerja ilmu membutuhkan dua objek (material dan formal), seperti perkataan seseorang: “alimtu zaidan, wa huwa shâlihun”, artinya aku mengenal Zaid sebagai orang yang shalih. Sedangkan perbedaan maknanya dapat dilihat dari beberapa sisi:

1. Ma’rifat berkaitan dengan dzat sesuatu. Sedangkan ilmu berkaitan dengan keadaannya. Dapat engkau katakan, “Aku memiliki ma’rifat tentang ayahmu, dan aku mengetahuinya sebagai orang yang shalih dan berilmu.” Yang pertama ma’rifat (a’rifu) dan yang kedua ilmu (a’lamu). Karena itu disebutkan perintah di dalam al-Quran

agar mengetahui (ilmu) dan bukan mengenal (ma’rifat), seperti firman-Nya,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat

kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS Muhammad/47: 19).

Ma’rifat merupakan kehadiran sesuatu dan penyerupaan ilmiahnya di dalam jiwa. Sedangkan ilmu merupakan kehadiran keadaan, sifat dan kaitannya di dalam jiwa. Ma’rifat menyerupai gambaran dan ilmu menyerupai pembenaran.

2. Biasanya ma’rifat diperuntukkan bagi sesuatu yang hilang dari hati, yang sebelumnya telah diketahui. Jika kemudian sesuatu itu diingatkan kembali, maka dikatakan, “Dia memiliki ma’rifat tentangnya.” Atau bisa juga bagi

sesuatu yang disifati dengan sifat-sifat yang bisa ditangkap jiwa. Jika kemudian sesuatu itu disebutkan sifat-sifatnya, maka dikatakan, “Dia memiliki ma’rifat tentangnya.”

Ma’rifat menyerupai ingatan tentang sesuatu, yaitu menghadirkan apa yang tidak ada dalam ingatan. Maka kebalikan dari ma’rifat adalah pengingkaran atau tidak mengenal. Sedangkan kebalikan ilmu adalah kebodohan.

Firman Allah,

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS an-Nahl/16: 83).

Sebab sesuatu yang paling mereka (orang-orang kafir) benci adalah ilmu yang benar dan bermanfaat, yang diawali dengan perkataan seseorang, “Allah befirman….” atau, “Rasulullah s.a.w. bersabda….”

Dan, yang membuat kedok mereka terbuka adalah ilmu ini. Karena itu mereka menyimpang dari jalan yang biasa

dilalui manusia, agar mereka lebih mudah untuk memancing manusia.

3.  Ma’rifat mengharuskan pembedaan antara yang dikenal atau yang diketahui dengan yang lainnya, sedangkan ilmu mengharuskan pem bedaan antara apa yang disifati dengan yang lainnya. Perbedaan ini berbeda dengan yang pertama, yang kembali kepada pengenalan dzat dan sifat, sedangkan perbedaan ini pada pembebasan dzat dan sifat dari yang lainnya.

4. Jika engkau katakan, “Aku memiliki ma’rifat tentang Zaid“, maka tidak memberikan manfaat apa pun kepada

lawan bicara, karena dia masih menunggu kelanjutannya, yaitu keadaan macam apa yang akan engkau kabarkan kepadanya? Jika kemudian engkau katakan, “Seorang yang mulia dan pemberani”, maka engkau akan memberikan manfaat kepadanya.

Jika engkau katakan, “Aku memiliki ma’rifat tentang Zaid“, berarti engkau menegaskan kepada lawan bicara bahwa engkau membedakannya dari yang lain.

5. Ma’rifat merupakan ilmu tentang jenis sesuatu secara terperinci, yang bisa dibedakan dari selainnya. Berbeda dengan ilmu yang berkaitan dengan sesuatu dan bersifat global. Perbedaan ini, seperti yang dikatakan oleh al-Harawi, “meliputi sesuatu seperti apa adanya.” Berdasarkan batasan ini, maka tidak bisa digambarkan sama sekali bahwa Allah bisa dikenal, dan hal ini termasuk sesuatu yang mustahil. Sebab Allah tidak bisa diliputi dengan ilmu, ma’rifat dan penglihatan. Allah lebih agung dari hal-hal yang bisa dilihat dan dikenal.

Sebagaimana firman-Nya,

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (QS Thâhâ/20: 110).

Perbedaan antara ilmu dan ma’rifat menurut golongan ini, bahwa ma’rifat adalah ilmu yang diterapkan orang yang berilmu dengan segala konsekuensinya. Mereka tidak mendefinisikan ma’rifat berdasarkan makna ilmu semata, bahkan mereka tidak menyifati ma’rifat kecuali terhadap orang yang mengetahui Allah dan mengetahui jalan yang menghantarkan kepada Allah, bencana dan perintangnya. Orang ini memunyai suatu keadaan bersama Allah yang secara bersama-sama bisa memersaksikan ma’rifat.

Orang ‘Ârif (yang memiliki ma’rifat) menurut mereka adalah orang yang memiliki ma’rifat tentang Allah dengan segala sifat, asma’ dan perbuatan-Nya, kemudian Allah membenarkan mu’amalahnya, memurnikan tujuan dan

niatnya, melepas akhlak-akhlaknya yang buruk, kemudian bersabar dalam menerima ketetapan hukum Allah, baik yang berupa nikmat atau cobaan, kemudian berdoa kepada-Nya berdasarkan bashirah terhadap agama dan ayat-ayat-Nya, kemudian memurnikan seruan kepada Allah semata seperti yang dibawa Rasul-Nya, tidak dicampuri dengan pendapat manusia, qiyas dan pemikiran mereka, tidak menimbangkan dengan apa yang dibawa Rasulullah s.a.w.. Inilah sebutan untuk orang Ârif yang hakiki. Mereka telah mendefinisikan ma’rifat dengan segala pengaruh dan kesaksian-kesaksiannya.

Di antara mereka ada yang berkata, bahwa “di antara tanda ma’rifat tentang Allah ialah munculnya rasa takut kepada-Nya. Siapa yang ma’rifatnya tentang Allah semakin bertambah, maka bertambah pula rasa takut  kepada-Nya.”

Ada pula yang berkata, “ma’rifat mengharuskan adanya ketenangan. Siapa yang ma’rifatnya tentang Allah semakin bertambah, maka bertambah pula ketenangannya.”

Ada seorang teman yang bertanya kepada diri saya, “Apa tanda ma’rifat seperti yang mereka isyaratkan itu?” Saya jawab, “Kebersamaan hati dengan Allah.” Dia menambahi, “Tandanya yang lain ialah merasakan kedekatan hati dengan Allah, sehingga dia mendapatkannya amat dekat dengan Allah.”

Asy-Syibli (Abu Bakar bin Dulaf ibnu Juhdar asy-Syibly) berkata, “orang arif tidak memunyai kaitan, orang yang mencintai tidak mengeluh, hamba tidak boleh mengadu, orang yang takut tidak tetap dan tak seorang pun bisa lari dari Allah.” Ini merupakan definisi yang amat bagus, karena ma’rifat yang benar harus mampu memotong segala kaitan dari hati. Keterkaitannya hanya dengan ma’rifat tentang Allah, sehingga tidak ada kaitan selainnya.

Ahmad bin ‘Ashim (Abu Bakar bin Abi ‘Ashim Ahmad bin ‘Amru bin Dhahhak bin Makhlad asy-Syaiban) berkata, “Siapa yang paling memiliki ma’rifat tentang Allah, maka dialah yang paling takut kepada-Nya”.

Hal ini ditunjukkan firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama [Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui

kebesaran dan kekuasaan Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Fâthir/35: 28).

Begitu pula sabda Rasulullah s.a.w.

أَنَا أَعْرِفُكُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً,

“Aku adalah orangyang paling memiliki ma’rifat tentang Allah di antara kalian dan akulah yang paling takut kepada-Nya.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Madârijus Sâlikîn, III/338)

Ada pula yang berkata, “Siapa yang memiliki ma’rifat tentang Allah, maka hidupnya menjadi jernih dan tenang, segala sesuatu takut kepadanya, tidak takut kepada semua makhluk dan merasakan kejinakan di sisi Allah.”

Yang lain lagi berkata, “Siapa yang memiliki ma’rifat tentang Allah, maka dia merasa senang kepada Allah, senang kepada kematian dan semuanya senang kepadanya. Sementara siapa yang tidak memiliki ma’rifat tentang Allah merasa rugi karena tidak mendapatkan dunia. Siapa yang memiliki ma’rifat tentang Allah tidak menyisakan kesenangan kepada selain-Nya. Siapa yang membual memiliki ma’rifat tentang Allah, padahal dia menghendaki selain-Nya, maka kesenangannya itu mendustakan ma’rifatnya. Siapa yang memiliki ma’rifat tentang Allah, maka Allah mencintainya, tergantung dari kadar ma’rifatnya, lalu dia takut, berharap dan tawakal kepada-Nya, merindukan perjumpaan dengan-Nya, malu kepada-Nya, mengagungkan dan memuliakan-Nya. Di antara tanda orang ‘arif ialah: hatinya bisa menjadi cermin saat melihat hal gaib yang mengajak kepada iman. Seberapa jauh kejernihan cermin itu, maka sejauh itu pula dia bisa melihat Allah, hari akhirat, surga dan neraka, para malaikat dan rasul.”

Ada seseorang yang bertanya kepada Al-Junaid (Al-Junaid ibn Muhammad al-Khazzaz al-Qawariri al-Baghdadi), bahwa “ada segolongan orang yang mengaku memiliki ma’rifat. Mereka shalat tanpa melakukan gerakan, dan ini dianggap masalah kebajikan dan takwa.” Maka Al-Junaid berkata, “mereka adalah orang-orang yang memang sengaja menggugurkan amal. Ini bukan masalah yang ringan dalam pandangan saya. Orang yang mencuri dan berzina, jauh lebih baik keadaannya daripada mereka yang berpendapat seperti itu. Orang-orang yang memiliki ma’rifat tentang Allah justeru mengambil amal dari Allah dan kepada Allah mereka kembali. Andaikan aku berumur seribu tahun lagi, maka aku tidak akan mengurangi amal kebajikan walau sebiji atom pun, kecuali jika umurku sudah dihentikan.”

Di antara tanda yang dimiliki orang ‘ârif ialah tidak menyesali apa yang lepas dari tangannya dan tidak gembira karena sesuatu yang diterimanya. Sebab dia melihat segala sesuatu dengan mata kefana’an dan kemusnahan, yang pada hakikatnya seperti bayangan atau khayalan.

Al-Junaid pun berkata, “Orang ‘ârif tidak disebut ‘ârif kecuali dia menjadi seperti tanah yang siap dipijak orang baik dan buruk, atau seperti awan yang memayungi segala sesuatu, atau seperti hujan yang mengairi orang yang disukai dan yang tidak disukai.”

Yang lain berkata, “orang ‘ârif tidak disebut ‘ârif kecuali jika dia memberikan harta miliknya sebanyak yang dimiliki Nabi Sulaiman a.s., agar tidak membuatnya berpaling dari Allah sekejap mata pun.

Di antara tanda orang ‘ârif ialah menghindari makhluk yang ada di antara dirinya dan Allah, sehingga mereka tak ubahnya mayat yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepadanya, tidak bisa mendatangkan mati dan hidup. Dia juga menghindari kaitan antara dirinya dan makhluk, sehingga dia berada di tengah mereka seperti orang yang tidak memiliki jiwa.

Dzun-Nun al-Mishri berkata, “tanda orang ‘ârif ada tiga macam:

Cahaya ma’rifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya, tidak memercayai batin dari ilmu yang dapat mengalahkan zhahir hukum, dan limpahan nikmat Allah tidak merusak tabir hal-hal yang diharamkan Allah.”

Masih banyak pengertian-pengertian lain yang diberikan orang tentang ma’rifat. Namun yang terakhir inilah yang paling baik, sekalipun masih membutuhkan penjabaran. Sebab banyak orang yang melihat wara’ sebagai akibat dari minimnya ma’rifat. Padahal ma’rifat ini amat luas jangkauannya. Orang yang arif adalah orang yang lapang dan dilapangkan. Sementara kelapangan bisa memadamkan cahaya wara’.

Ma’rifat orang ‘ârif tidak akan memadamkan wara’nya, dan wara’nya tidak bertentangan dengan ma’rifatnya, seperti anggapan sebagian orang, bahwa orang ‘ârif ialah: yang tidak mengingkari kemungkaran. Maksud perkataannya, “Batin dari ilmu yang dapat mengalahkan zhahir hukum”, diisyaratkan kepada orang-orang yang menyimpang, yang menisbatkan kepada perilaku, yang lebih mementingkan olah rasa dan wirid-wirid yang bertentangan dengan hukum syariat, yang berlaku di kalangan mereka dan tidak bisa lagi dihindari. Mereka

meyakininya dan meninggalkan zhahir hukum. Contoh tentang hal ini amat banyak, dan semacam inilah yang dikritik para pemimpin golongan ini. Maksud perkataannya, “Limpahan nikmat Allah tidak merusak tabir hal-hal yang diharamkan Allah”, bahwa nikmat yang banyak bisa membuat hamba melampaui batas dan mendorongnya untuk menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang baik dan tidak baik, untuk yang halal dan tidak halal.

Sementara kebanyakan nikmat yang diberikan kepada mereka tidak terbatas untuk hal-hal yang halal, tetapi juga

untuk hal-hal yang tidak halal, lalu dia membisiki dirinya bahwa ma’rifatnya tentang Allah mampu membentengi dirinya dari hal-hal yang dilarang. Maka dia berkata, “orang‘ârif tidak akan terpengaruh oleh dosa seperti yang terjadi pada diri orang yang bodoh.” Atau bahkan dia beranggapan bahwa dosanya lebih baik daripada ketaatan

orang-orang yang bodoh. Tentu saja ini merupakan tipu daya yang paling besar, dan yang sebenarnya adalah kebalikannya, sebab apa yang ditanggung orang bodoh tidak seperti yang ditanggung orang arif. Jika orang bodoh dihukum satu kali, maka orang arif dihukum dua kali lipat. Karena itu hukuman yang dijatuhkan kepada orang merdeka dua kali lipat dari hukuman yang dijatuhkan kepada budak. Maka Allah menjelaskan bahwa hukuman yang dijatuhkan kepada para istri Nabi dua kali lipat.

Di antara orang salaf berkata, “tidurnya orang ‘ârif sama dengan berjaga dan napasnya merupakan tasbîh. Tidurnya orang ‘ârif lebih baik daripada shalatnya orang yang lalai.”

Dikatakan begitu karena hatinya tetap hidup meskipun keduanya matanya terpejam. Ruhnya sujud di bawah ‘Arsy, ada di hadapan Rabb dan Penciptanya, meskipun jasadnya telentang di atas tempat tidur. Tidurnya lebih baik daripada shalatnya orang yang lalai. Sebab badan orang yang lalai ini berdiri di dalam shalat, tapi hatinya berenang di genangan dunia dan angan-angan. Karena itu keadaannya saat berjaga sama dengan tidur, sebab hatinya mati.

Ada yang berkata, “Bergaul dengan orang arif dapat mengajakmu dari enam perkara ke enam perkara: Dari keraguan ke keyakinan, dari riya’ ke ikhlas, dari lalai ke dzikir, dari keinginan terhadap dunia ke keinginan terhadap akhirat, dari takabur ke tawadhu’ dan dari buruk sangka ke nasihat.”

Menurut Al-Harawi, ada tiga derajat ma’rifat, dan manusia dalam ma’rifat ini bisa dibedakan menjadi tiga golongan.

1. Ma’rifat sifat dan ciri. Yang paling tinggi ialah yang disebutkan berdasarkan risalah, yang kesaksian-kesaksiannya muncul dalam ciptaan, karena melihat cahaya dalam kesendirian dan kebaikan kehidupan akal untuk menanamkan pikiran. Kesaksian-kesaksian ini juga muncul dalam kehidupan hati, dengan pandangan yang baik antara pengagungan dan i’tibar. Ini merupakan ma’rifatnya orang awam, yang syarat-syarat keyakinan tidak bisa terhimpun kecuali dengan hal-hal ini. Ada tiga sendi yang melandasinya: Penetapan sifat dengan nama tanpa ada

penyerupaan, penafian penyerupaan, putus asa dalam mengetahui detailnya dan mencari ta’wilnya.

Ada tiga perbedaan antara ciri dan sifat:

· Ciri disertai dengan perbuatan yang baru, sedangkan sifat merupakan perkara yang tetap bagi dzat.

· Sifat-sifat yang berhubungan dengan dzat tidak bisa dijelaskan dengan istilah ciri, seperti wajah, tangan, kaki dan jari. Sifat merupakan makna yang meliputi apa yang disifati, sehingga wajah tidak bisa disebut sifat.

· Ciri adalah apa yang muncul dari sifat dan yang memang menonjol, yang diketahui orang khusus dan umum.

Namun ada yang berpendapat, ini hanya sekadar dua bahasa yang tidak ada perbedaan di antara keduanya, yang maksudnya satu dan permasalahannya pun juga dekat. Kita tidak akan memermasalahkan hal ini, tapi kita melihat pada maksudnya, bahwa tidak ada yang ditetapkan terhadap hamba dalam ma’rifat dan juga dalam iman, sehingga dia beriman kepada sifat Allah ‘Azza wa Jalla, mengenalinya dengan ma’rifat yang dapat mengeluarkannya dari wilayah kebodohan terhadap Rabb. Iman kepada sifat merupakan asas Islam, kaidah iman dan buah pohon ihsan. Siapa yang mengingkari sifat, berarti telah merusak asas Islam, iman dan ihsan. Allah menganggap orang yang mengingkari sifat-sifat-Nya merupakan orang yang berburuk sangka kepada-Nya. Allah memberi ancaman kepadanya yang tidak pernah diberikan kepada orang-orang musyrik, kafir dan pelaku dosa besar.

Firman-Nya,

وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلا أَبْصَارُكُمْ وَلا جُلُودُكُمْ وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِّمَّا تَعْمَلُونَ (٢٢) وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنْ الْخَاسِرِينَ (٢٣)

“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu [Mereka itu berbuat dosa dengan terang-terangan karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan mereka tidak mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan kulit mereka akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka] bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”  (QS Fushshilat/41: 22-23).

Allah mengabarkan bahwa pengingkaran mereka terhadap salah satu dari sifat-sifat-Nya ini, karena mereka berburuk sangka terhadap Allah. Inilah yang kemudian membuat mereka binasa. Allah juga be-firman tentang orang-orang yang berburuk sangka kepada-Nya,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرًا

“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS al-Fath/48: 6).

Tidak pernah disebutkan ancaman yang lebih keras daripada yang diberikan kepada orang-orang yang berburuk sangka kepada Allah ini. Mengingkari sifat-sifat dan hakikat asma’-Nya merupakan buruk sangka yang paling buruk terhadap Allah. Karena yang paling disukai Allah adalah pujian kepada-Nya dengan menggunakan asma’, sifat dan perbuatan-Nya, maka mengingkari asma’, sifat dan perbuatan-Nya merupakan kufur yang paling besar, yang berarti lebih buruk daripada syirik.

Semua rasul, semenjak yang pertama hingga penutup, diutus untuk menyeru kepada Allah dan menjelaskan jalan yang bisa menghantarkan kepada-Nya serta menjelaskan keadaan orang-orang yang diseru setelah mereka sampai kepada-Nya. Tiga kaidah ini merupakan ur-gensi dalam setiap agama yang disampaikan para rasul. Mereka memperkenalkan Rabb yang diserukan kepada-Nya dengan asma’, sifat dan perbuatan-Nya dengan cara yang rinci, sehingga seakan-akan hamba bisa memersaksikan-Nya dan memandang kepada-Nya yang berada di atas ‘Arsy-Nya, yang mengatur segala-galanya. Kaidah kedua adalah memerkenalkan jalan yang menghantarkan kepada Allah, yaitu ash-shirâth al-mustaqîm yang dipancangkan bagi para rasul dan pengikutpengikutnya, yaitu mereka yang mengikuti perin-tah Allah, menjauhi larangan-Nya, mengimani janji dan ancaman-Nya. Kaidah ketiga adalah memerkenalkan keadaan setelah sampai ke hadapan Allah, yang meliputi kehidupan hari akhirat, berupa surga dan neraka, yang diawali dengan hisab, menyeberangi ash-shirat dan timbangan.

Perkataan, “yang paling tinggi ialah yang disebutkan berdasarkan risalah”, dan seterusnya, bahwa al-Harawi menyebutkan penetapan sifat yang menunjukkan wahyu yang datang dari sisi Allah dan disampaikan Rasul-Nya, indera yang menangkap pengaruh ciptaan, yang berarti menjadi bukti sifat-sifat ciptaannya, kehidupan akal yang menjadi baik karena tanaman pikiran, dan hati yang hidup karena pandangannya, antara pengagungan dan i’tibar.

2. Ma’rifat dzat dengan menggugurkan perbedaan antara sifat dan dzat, yang bisa menguat dengan ilmu keterpaduan, menjadi jernih di me-dan kefana’an, menjadi sempurna dengan ilmu keabadian dan mende-kati keterpaduan. Derajat ini lebih tinggi daripada derajat pertama, karena derajat pertama merupakan pandangan terhadap sifat, sementara derajat ini berkaitan dengan dzat yang meliputi sifat, meskipun dzat itu sendiri tidak lepas dari sifat.

Perkataan al-Harawi, “dengan menggugurkan perbedaan antara sifat dan dzat”, bahwa memisahkan antara sifat dan dzat dalam wujud merupakan hal yang mustahil. Ma’rifat dalam derajat ini berkaitan dengan dzat dan sifat secara keseluruhan, tidak bisa dibedakan antara ilmu dan kesaksian. Hal ini lebih sempurna daripada kesaksian terhadap sifat semata atau terhadap dzat semata.

Sifat Allah termasuk dalam sebutan asma’-Nya. Asma’ “Allah, Rabb, Ilah” bukan sekadar asma’ dzat semata dan bukan merupakan sifat semata. Asma’ Allah, Rabb, Ilah merupakan asma’ dzat yang memiliki seluruh sifat kesempumaan dan keagungan, seperti ilmu, qudrah, iradah, sama’, kalam bashar, hayat, baqa’ dan lain sebagainya dari sifat-sifat kesempumaan yang dimiliki dzat Allah. Sifat-sifat-Nya ada dalam sebutan asma’-Nya.

Pemisahan sifat dari dzat dan pemisahan dzat dari sifat merupakan khayalan yang tidak ada hakikatnya.

Sementara golongan Jahmiyah mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, dengan berdalil kepada firman

Allah, “Allahlah Pencipta segala sesuatu”. Menurut mereka, al-Quran adalah sesuatu.

Orang-orang salaf menyanggah pendapat mereka, bahwa al-Quran adalah kalam Allah, dan kalam-Nya merupakan bagian dari sifat-Nya. Sementara sifat-Nya masuk dalam sebutan asma’-Nya. Allah bukan sekadar asma’ bagi dzat yang tidak memiliki ciri, sifat, perbuatan, wajah dan tangan. Itu adalah sesembahan yang tidak tampak namun bisa dihadirkan dalam pikiran, seperti sesembahannya golongan Jahmiyah, yang mereka anggap tidak keluar dari alam dan tidak pula masuk di dalamnya, tidak berhubungan dengan alam namun juga tidak terpisah dengannya.

3. Ma’rifat yang tenggelam di dalam kemurnian pengenalan, yang tidak bisa dicapai dengan pembuktian, kesaksian dan wasilah. Ma’rifat ini memiliki tiga sendi: Memersaksikan yang dekat, naik untuk meninggalkan ilmu dan memerhatikan kebersamaan. Ini ma’rifatnya orang yang lebih khusus.

Menurut al-Harawi, derajat ini lebih tinggi dari dua derajat sebelumnya, yang berkaitan dengan sarana dan kesaksian serta berhubungan dengan tuntutan, sedangkan derajat ini berkaitan dengan tujuan semata, terlepas dari sarana dan kesaksian.

Ma’rifat merupakan sifat hamba, sedangkan pengenalan merupakan perbuatan Allah dan taufiq-Nya. Sifat hamba

tenggelam dalam perbuatan Allah dan pengenalan-Nya kepada hamba. Ma’rifat pada derajat ketiga ini tidak bisa dicapai dengan sebab apa pun, karena memang sebab menyingkir darinya dan sarana sudah terputus darinya.

Demikian hasil kajian penulis tentang ma’rifat, yang tentu saja masih masih banyak celah untuk dikritisi dan disempurnakan. Karena kajian tentang masalah ma’rifat, hingga kini, masih menjadi perbincangan yang tak kunjung usai, karena luasnya pengertian yang bisa dijelaskan tentang masalah ini dengan berbagai sudut pandang yang bisa saling melengkapi.

(Dikutip dan diselaraskan dari kitab Madârujus Sâlikîn, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah)