Memahami Makna al-Birr, al-Khayr dan al-Ma’rûf 

Kalau kita mencermati dua ayat berikut, kita bisa bertanya apa makna tiga istilah kunci al-Birr, al-Khayr dan al-Ma’rûf dalam kedua ayat tersebut.

Pertama, kata al-Birr dalam QS al-Baqarah, 2: 177,

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Baqarah, 2: 177)

Kedua, kata al-Khayr dan al-Ma’rûf dalam QS Âli ‘Imrân, 3: 104,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar [segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya]; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Pengertian

Secara bahasa, al-birr berarti kebaikan. Bahkan sebagian ulama mendefinisikan “al-birr” ini dengan sebuah nama/istilah yang mencakup segala macam bentuk kebaikan. Terdapat juga ulama yang secara khusus memberikan makna yang dimaksud dari kata al-birr ini, diantara maknanya adalah hubungan baik, ketaatan, dan kelembutan.

Dalam al-Quran, banyak sekali ayat-ayat yang menggunakan kata atau akar kata al-birr.  Di antaranya  firman Allah SWT (QS al-Maidah, 5: 2),

… وَ تَعاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوى وَ لا تَعاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَ الْعُدْوانِ …

” … dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan …”

Oleh karenanya, Allah swt. melarang kita untuk memerintahkan orang lain mengerjakan kebaikan, sementara kita sendiri tidak melaksanakannya (QS al-Baqarah, 2: 44)

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“Mengapa kalian memerintahkan orang lain untuk mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupkan dirimu sendiri, padahal kalian membaca al-kitab (Taurat), maka tidakkah kamu berfikir?”

Kandungan Makna al-Birr

Al-Birr yang mengandung makna begitu luas sebagaimana ditekankan oleh Rasulullah saw., bahwa yang dimaksud dengan al-birr adalah husnul khuluq atau akhlak yang baik. Akhlak yang baik memiliki urgensitas yang sangat penting dalam pribadi seorang mu’min, diantaranya:

  1. Akhlak yang baik merupakan refleksi keimanan seseorang kepada Allah SWT.
  2. Akhlak yang baik merupakan bukti ketinggian keimanan seseorang. Semakin tinggi imannya maka akan semakin sempurna akhlaknya. Dalam hal ini, Rasulullah saw. mengemukakan: Dari Abu Hurairah ra berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang terbaik akhlaknya.’ (HR Abu Dawud)
  3. Akhlak yang baik memiliki timbangan yang begitu besar di akhirat kelak, serta dapat menjadikan pelakunya menjadi ahlul jannah.

Substansi Akhlak yang baik adalah mencakup segala macam bentuk kebaikan dalam bermuaamalah diantaranya adalah, jujur, amanah, menyambung persaudaraan, kasih sayang, lembut, tidak mudah marah, pemaaf, menjaga lisan, qanâ’ah, tawâdhu’, îtsâr, istiqâmah, murah senyum, penolong, menepati janji, ridha, sabar, syukur, ‘iffah, adil, menyukai kebersihan dsb. Atau dengan kata lain, akhlak yang baik adalah segala perbuatan dan sifat yang positif, tidak mengandung unsur negatif serta tidak melanggar larangan-larangan Allah SWT.

Makna al-Khayr

Dari sisi bahasa, al-khayr bermakna: “Kebaikan yang lebih condong kepada sifat asalnya.”, Sena=dang dalam pengertian istrilah, al-khayr bermakna: “Kebaikan menurut pandangan syariat.” Namun tidak semua orang terbiasa mengenalnya. Seperti pembagian harta waris. Perlu pemikiran mendalam untuk menerima secara akal.

Substansi al-khayr adalah kebaikan yang tidak bisa semua orang mengetahuinya, atau bahkan menyetujuinya. Kebaikan ini tertumpu pada penjelasan dalil. Islam adalah al-khayr, karena tidak semua manusia setuju dan mengerti tentang kebaikan Islam. Dan Kebaikan Islam perlu penjelasan dan ilmu.

Makna al-Ma’ruf

Secara bahasa,  al-ma’rûf  berikisar pada segala hal yang dianggap baik oleh manusia dan hati menjadi tenang dengan perbuatan  al-ma’rûf  (baik) tersebut sehingga mereka mengamalkannya serta tidak mengingkarinya. Lawan katanya adalah al-munkar (semua yang dianggap buruk oleh manusia dan hati menjadi tidak tenang dengan mengamalkannya,  sehingga mereka mengingkarinya).

Ibnu Atsir rahimahullah mengatakan bahwa  al-ma’rûf adalah satu nama yang mencakup segala apa yang dikenal berupa ketaatan kepada Allah, pendekatan diri kepada-Nya, berbuat baik kepada manusia dan segala apa yang disunnahkan oleh syari’at dari berbagai kebaikan dan apa yang dilarang olehnyanya dari segala macam kejelekan.

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas mengemukakan bahwa al-ma’rûf adalah apa yang dikenal kebenarannya oleh setiap orang yang berakal, dan lawannya adalah kemunkaran. Ada yang mengatakan bahwa al-ma’rûf adalah ketaatan kepada Allah dan kemunkaran adalah berbuat maksiat kepada-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah mengatakan al-ma’rûf adalah satu nama yang mencakup bagi segala apa yang dicintai oleh Allah, berupa iman dan amal shalih.

Substansi al-ma’rûf adalah jenis kebaikan yang tanpa dalil-pun orang tahu bahwa itu suatu kebaikan. Bahkan semua orang menyetujuinya. Seperti berbuat baik kepada orang tua, atau memberi makan yang kelaparan. Jangankan umat Islam, mereka yang non-muslim pun sadar bahwa itu kebaikan. Oleh karena itu asal arti al-ma’ruf adalah (sudah) dikenal atau sudah biasa dikenal

(Dikutip dan diselaraskan dari http://handienioke.blogspot.com/2011/01/arti-makna-dan-substansi-al-birr-al.html)