Memahami Makna Hadits tentang:
“Keterbelengguan Setan pada Bulan Ramadhan”

Sering kita dengar ketika para ustadz berceramah menjelang Ramadhan atau selama Ramadhan menyatakan bahwa setan dibelenggu selama bulan Ramadhan. Mereka – pada umumnya – menjelaskan:

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu”

Di dalam riwayat lain dinyatakan,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika telah masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu (neraka) jahanam ditutup, dan setan-setan dirantai”

Beliau juga bersabda,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ.

“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.”

Akan tetapi mengapa kita masih menyaksikan beragama maksiat (tetap ada) selama bulan Ramadhan?

Sebagian ulama berpendapat bahwa makna dibelenggu adalah makna zhâhir (hakiki) bukan majâz (kiasan). Artinya setan benar-benar di belenggu akan tetapi tetap ada maksiat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullâh menyatakan:

“Semisal hadits ini merupakan perkara ghaib, maka sikap kita adalah menerima dan membenarkan. Kita tidak mencari-cari apa di belakang itu (mencari-cari takwil yang tidak benar, pent). Karena sikap ini lebih selamat bagi agama seseorang dan lebih baik hasilnya. Oleh karena itu Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal berkata kepada bapaknya, ‘manusia , tetap melakukan maksiat pada bulan Ramadhan’. Maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “hadits tidak membicarakan tentang hal tersebut (tidak ada lafazh jelas bahwa dengan dibelenggu akan berkurang maksiat, pent). Zhahir hadits ini adalah setan dibelenggu dari (kemungkinan untuk) menyesatkan manusia.”

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullâh menyatakan:

“Al-Qurthubi rahimahullâh berkata setelah beliau menguatkan pendapat membawa makna hadits ini sesuai zhahirnya, maka apabila ditanyakan: “Mengapa kita masih melihat banyak kejelekan dan kemaksiatan terjadi pada bulan Ramadhan padahal jika memang setan-setan telah dibelenggu, tentunya hal itu tidak akan terjadi? Maka jawabnya: (1) Sesungguhnya kemaksiatan itu hanyalah berkurang dari orang-orang yang berpuasa (puasanya menahan dari maksiat) apabila pelaksanaan puasanya memerhatikan syarat-syarat puasa dan menjaga adab-adabnya. (2) Atau bisa juga bermakna bahwa yang dibelenggu itu hanyalah sebagian setan, yaitu para pembesar setan, bukan seluruhnya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya pada sebagian riwayat hadits. (3) Atau bisa juga maksudnya adalah pengurangan kejelekan-kejelekan pada bulan Ramadhan, dan ini sesuatu yang dapat disaksikan, yaitu terjadinya kemaksiatan pada bulan Ramadhan lebih sedikit dibanding bulan-bulan lainnya. Karena dibelenggunya seluruh setan pun tidak dapat memastikan kejelekan dan kemaksiatan hilang sama sekali, sebab terjadinya kemaksiatan itu juga karena banyak sebab selain setan, seperti jiwa yang jelek, kebiasaan yang tidak baik dan godaan setan-setan dari golongan manusia. (4) Ulama lainnya berkata bahwa dibelenggunya setan-setan pada bulan Ramadhan adalah isyarat bahwa telah dihilangkannya alasan bagi seorang mukallaf (orang yang terbebani kewajiban syar’i) dalam melakukan dosa, seakan dikatakan kepadanya, “Setan-setan telah ditahan dari menggodamu, maka jangan lagi kamu menjadikan setan sebagai alasan dalam meninggalkan ketaatan dan melakukan maksiat”.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullâh menjelaskan:

“Maksiat yang terjadi pada bulan Ramadhan tidak menafikan bahwa setan dibelenggu. Karena dibelenggunya setan tidak mencegah mereka dari bergerak… bukanlah yang dimaksud setan tidak bisa bergerak sama sekali, bahkan mereka tetap bergerak, sesat dan menyesatkan. Akan tetapi gerakan mereka selama bulan Ramadhan tidak sama dengan gerakan mereka selain Ramadhan.”

Sementara itu, ada juga ulama yang menjelaskan, bahwa dalam hadits di atas, pembelengguan setan (wa shuffidat asy-syayâthîn) secara bahasa berarti bahwa Allah mengikat mereka dengan tali atau rantai seperti halnya di dunia nyata. Itulah maknanya secara hakiki. Namun pemaknaan secara hakiki itu belum tentu bisa menjadi alternatif satu-satunya; yakni benar begitu adanya. Buktinya para ulama pun berbeda pendapat dalam memaknai “shuffidat asy-syayâthîn” tersebut. Ada yang memaknainya secara hakiki; setan itu memang pada hakikatnya dibelenggu selama Ramadhan, tidak bisa menggoda manusia lagi. Dan ada pula yang menggunakan makna majâz (kiasan); bukannya setan terbelenggu sepenuhnya secara hakiki, dia masih bebas berkeliaran, hanya saja tidak memunyai kesempatan luas (yang sama) untuk menggoda manusia, karena pintu-pintu rahmat dan ampunan dibuka oleh Allah seluas-luasnya.

Dan memang benar banyak sekali amal kebajikan yang dilakukan oleh umat Islam pada bulan Ramadhan. Antara lain: bersedekah, menyantuni anak yatim, memberi berbuka pada orang yang berpuasa, shalat tarawih (shalat tahajud), kegiatan dzikir pun meningkat pesat. Sesuai dengan firman Allah:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu (iblis) atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS al-Hijr/15: 42)

Dan pada ayat lain dinyatakan:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah SWT, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS al-A’râf/7: 201)

Pekerjaan-pekerjaan inilah yang sebenarnya bisa juga dianggap membelenggu setan sehingga tidak banyak kesempatan baginya menggoda orang-orang yang berpuasa. Hal mana sangat berbeda jauh dibanding dengan bulan-bulan selain Ramadhan.
Itulah makna majâz (kiasan)-nya.

Memang, pada bulan Ramadhan, bisa jadi kemaksiatan masih ada, namun karena antusiasme (semangat) orang-orang yang berpuasa untuk beribadah kepada Allah, maka segala bentuk kemaksiatan bisa jadi berkurang secara drastis.

Demikian penjelasan terhadap hadits-hadits tersebut. Semoga bermanfaat.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan dr. Raehanul Bahraen, Pogung Lor, Yogya, 25 Ramadhan 1434 H., dalam http://muslimafiyah.com/setan-dibelenggu-kok-masih-ada-maksiat-di-bulan-ramadhan.html dan http://www.pesantrenvirtual.com/ index. php? option=com_content&task=view&id=549&Itemid=14)