Dalam kehidupan di dunia, sebagai manusia, kita dipilih Allah secara khusus untuk menjadi “Khalîfah”, sebagaimana tersebut di dalam firman Allah,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka pun berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan pun berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqarah/2: 30), dan disuruh juga menjaga seluruh yang ada di jagad alam raya ini untuk tidak merusak dan melestarikannya, sebagaimana firman Allah di dalam QS ar-Rûm/30: 40,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِن شُرَكَائِكُم مَّن يَفْعَلُ مِن ذَٰلِكُم مِّن شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”, dan juga tidak merusak lagi setelah diperbaiki.

Perjalanan kehidupan manusia di jagad alam raya ini sebenarnya bukanlah hal yang mudah, kecuali bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh. Sebagaimana disebut dalam firman Allah:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan kami telah menunjukinya dua jalan (kebaikan dan keburukan).” (QS al-Balad/90: 10)”.

Dalam penafsiran Buya Hamka, kata (najdain) itu diartikan sebagai ‘dua jalan menanjak’. Dua mata menghadap ke muka. Di muka terentang dua jalan yang mendaki; menandakan bahwa dua jalan yang terentang itu mesti ditempuh dengan perjuangan dan mengeluarkan tenaga juga.

Pertama, ialah: ‘jalan kebajikan’. Kedua, ialah: ‘jalan yang buruk’. Sudah sangat jelas bahwa perjuangan menuju kesuksesan itu bukan perkara mudah, tidaklah sebuah kesuksesan itu dicapai dengan mudah melainkan dengan segala perjuangan yang sangat dan mengeluarkan tenaga.

Tidak mungkin juga orang yang ‘berleha-leha’ akan mendapatkan kesuksesan dengan mudah atau hanya dengan berharap kepada Allah saja. Tidak! Allah SWT akan memberikan hasilnya jika seseorang telah berusaha sekuat tenaga dan bertawakal kepada Allah SWT.

Saya mengilustrasikan sukses itu sebagai buah yang besar, yang nikmat dimakan jika buahnya sudah menjadi besar. Bukan kah sebuah buah yang besar dahulunya hanya sebuah biji yang kecil yang tidak dianggap oleh kebanyakan orang? Namun demikian, bagi orang yang mempunyai akal, sebuah biji yang kecil akan berdampak besar bagi kehidupannya. Sebuah biji yang kecil pasti akan menjadi sesuatu jika diproses dan diperlakukan dengan sebaik mungkin.

Kesuksesan yang hakiki bukanlah diraih dengan jalan yang batil. Kesuksesan adalah sesuatu yang haq. Tidaklah cocok jika keduanya berdampingan menuju jalan yang bersamaan.

Allah berfirman

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil.” (QS al-Baqarah/2: 42).

Sebuah ayat ini sudah sangat jelas, haq dan bâthil bagaikan seperti minyak dan air yang tidak pernah bersatu.

Allah berfiman lagi,

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ﴿١٠﴾

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS asy-Syams/91: 8-10).

Ayat ini juga dapat diartikan bahwa manusia itu diberi potensi untuk melakukan kesalahan dan kebenaran, dan manusia “seharusnya” mampu mengendalikan diri pada kebaikan dan keburukannya yang merupakan bagian dari rahmat-Nya.

Hidup sebenarnya merupakan hal yang indah apabila kita menguasai rahasianya serta memiliki kunci untuk tetap bertahan. Semua manusia diciptakan agar sukses dalam segala aspek kehidupannya. Kesuksesan tidak diraih secara gratis. Butuh perjuangan dan keringat untuk mewujudkan sebuah kesuksesan yang hakiki. Jangan takut untuk memulai dan jangan ragu untuk mencoba lagi.

Mengerahkan segala kekuatan dengan usaha yang maksimal akan membantu kita untuk sukses. Jika itu semua telah dikerahkan, hal terakhir yang perlu dilakukan adalah bertawakal kepada Allah, menyerahkan segalanya dan pasrah hanya kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi penolong kami. Sebagaimana firman-Nya dalam QS at-Taubah/9: 129,

فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” Dan juga dalam firman-Nya,

وَإِن تَوَلَّوْاْ فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللَّهَ مَوْلاَكُمْ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (QS al-Anfâl/8: 40)

Wallâhu a’lamu bish-Shawâb.