MEMAKNAI JILBAB KITA

Oleh: Muhsin Hariyanto

Pada umumnya para pemakai jilbab merasa bangga terhadap jilbabanya. Dan, tentu saja, itu tidak salah. Kebanggaan itu pun bias dirasakan oleh para orangtua dan pendidik yang memiki kesadaran bersyari’ah (Islam) yang – dalam beberapa hal — tidak ternilai bagi setiap muslim tatkala menyaksikan putri-putri mereka mengenakan pakaian jilbab,” Sebuah symbol kesalehan, kepatuhan dan ketaatan beragama,  yang mengindikasikan keberhasilan dari sebuah proses pendidikan akhlak, utamanya akhlak berbusana.

Pertanyaan lanjutnya: “apakah kebanggaan ini harus selalu mengalir dan berakhir menjadi kebanggaan, di ketika para pemakai jilbab ini baru sekadar memakai jilbab sebagai symbol kesalehan, dan terbatas pada pemakaian secara lahiriah (baca: kesalehan eksoterik)? Apakah kesalehan lahiriah mereka  juga diikuti oleh kesalehan esoteric (batiniah)? Apakah pemakaian jilbabnya juga diikuti dengan sejumlah perilaku yang juga mencerminkan akhlak-Islami mereka?”

Ada jawaban sinis dari para pengeritiknya, yang – para umumnya – mreka ungkapkan dengan penuh kecurigaan: “jangan-jangan mereka memakai jilbab bukan karena keimanan, tetapi karena keterpaksaan, hanya sekedar mengikuti ‘trend’, tanpa ada kesadaran terhadap nilai-nilai yang mendasarinya. Atau – bahkan – mereka memakai jilbab hanya untuk menyembunyikan kekurangannya.”

Tanpa harus merespon kritik dan komentar para pengeritik itu dengan sikap benci, apalagio marah, kita sadar bahwa konsep ibadah dalam Islam tidak terlepas dari niat. Niat seseorang dalam berjilbab (bagi setiap muslimah) adalah untuk “beribadah”, dan niat itulah yang akan menentukan posisi jilbab yang ia kenakan. Seseorang perempuan yang memakai jilbab hanya karena mengikuti “trend” , tentu saja tidak akan mendapatkan pahala “berjilbab” dari Allah, yang akan ia dapatkan – maksimal — hanyalah pujian dari orang lain.

Makna berjilbab di balik niat dan setiap perempuan pemakai busana yang diorientasikan untuk menutup aurat karena Allah, terlepas apakah akan mendapatkan pujian atau tidak dari orang lain inilah yang terbaik, kerana ia menyadari bahwa Tuhannya memerintahkan kepadanya untuk beribadah secara ikhlas dan tanpa sikap “riya’.

Kebanggaan hanya pantas bagi setiap orang-tua dan pendidik muslim yang puteri mereka memakai jilbab – hanya — karena Allah semata. Kebanggaan itu menjadi tidak, jika kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Di ketika jilbab-jilbab asessoris,  yang dipakai dalam  acara-acara ritual, seremonial dan sejumlah acara formal yang mengharuskan jilbab-jilbab itu dipakai oleh mereka “para pecinta jilbab asesoris” Dan semakin menyedihkan, di saat jilbab hanya menjadi kebutuhan sesaat, kehilangan ruhnya sebagai bukti kesalehan.

Ingat, ketika Allah berfirman: ”Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasan, kecuali yang biasa nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saaudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap perempuan, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung,”(QS. an-Nur, 24: 31).

Ayat di atas mengisyaratkan perlunya kita berjilbab, menutup aurat kita: semata-mata untuk beribadan kepada-Nya. Dan insyaallah dengan dengan niat beribadah jilbab-jilbab itu pada saat dan tempat yang berbeda akan menjelma menjadi sejumlah perilaku terpuji bagi para pemakainya, menwujudkan dirinya menjadi orang yang berakhlak mulia.

Semoga!