Membaca Fenomena Gerindra dan Berharap Perubahan dari ‘Sang Pemimpin’

Luar biasa! Komentar teman saya, ketika melihat QC di internet. Gerindra melejit, katanya.

Saya tidak kaget dengan hasil yang dicapai Gerindra. karena semua ini adalah buah (hasil) dari kerja keras mereka. Man Jadda Wa Jada (Siapa pun yang mau bersungguh-sungguh, dia akan menunai hasil dari kesungguhannya). Gerindra telah membuktikan kerja keras dan cerdasnya. Sementara, partai yang lain kalah ‘cerdas’ dibanding Gerindra.

Kita harus sadar bahwa para pemilih itu akan tertarik untuk memilih bukan hanya karena satu faktor saja, dan Gerindra menyadari. Loyal Voters (Para Pemilih Loyal) PDIP, Golkar dan partai-partai Islam pun ada yang dengan santainya pindah pilihan ke Gerindra, karena ada sesuatu yang menarik darinya. Selain Faktor Prabowo, masih ada juga faktor yang lain, antara lain komunkiasi efektif yang dilakukan oleh mesin politiknya di kantong-kantong mereka. Tim sukses Gerindra sudah lama bergerilya untuk membangun komunikasi dengan para calon pemilihnya. Dengan kesabaran yang luar biasa mereka memasarkan ‘jualannya’ dari waktu ke waktu di kantong-kantong potensial mereka. Dan hasilnya, bisa kita lihat seperti sekarang.

Kalau dengan hasil PDIP dan Golkar serta PKB saya kira tidak ada yang perlu dianalisis secara khusus. Semuanya sangat mudah dipahami. Mereka punya Loyal Voters yang sangat banyak untuk tetap ‘leading’. Saya agak kecewa dengan PKS dan PAN yang sebenarnya potensial untuk meraup suara lebih daripada 8 persen, kalau mereka mau bekerja lebih keras dan cerdas, karena mereka punya konstituen di basis massa mereka yang bisa digarap lebih bagus. Tetapi mereka telah banyak menyia-nyiakan peluang. Komunikasi PAN dengan Muhammadiyah — misalnya — terasa agak renggang, Dan ini sisi lemah yang perlu dibenahi. Sementara sepak terjang PKS di bawah terlalu ‘lugu’ dan sangat mudah dibaca. Apalagi setelah kasus korupsi yang melibatkan LHI. Citra mereka di masyarakat menjadi kurang bagus. Sementara para kadernya tidak cukup cerdas untuk berkomunikasi dengan lapisan bawah (grass-root), utama kelompok yang sudah bisa berpikir lebih rasional. Tawaran PKS tidak begitu menarik untuk kalangan grass-root, apalagi orang Islam yang pernah tersakiti karena beberapa kasus yang menimpa PKS dan mereka lakukan beberapa kali. Ingat! Muhammadiyah sudah sering terluka dengan sepak terjang kader-kader PKS yang kurang cerdas dan agak ‘kasar’ (baca: kurang santun) ketika bermain di bawah. Lain lagi dengan PKB yang bisa bermain lebih cerdas, dengan memainkan kelekatan emosional para konstituennya di basis massa mereka, plus menampilkan dua figur yang bisa sedikit memanggil: “Mahfud MD dan Rhoma Irama”. Bahkan teman-teman saya ada yang berkomentar bahwa Rhoma-Effect itu cukup penting bagi PKB.

Sementara itu, Gerindra bisa mengambil kesempatan, dan bermain lebih cantik untuk meggaet para pemilih rasional. Sehingga tidak sedikit dari ‘massa mengambang’ di negeri kita yang merapat ke partai Gerindra. Dan para kadernya pun mampu menyapa mereka dengan sangat bagus.

Saat ini, setelah kesuksesan mendulang suara yang sangat signifikan, Gerindra sedang berkonsolidasi, dan dalam beberapa kesempatan membangun komunikasi dengan beberapa pihak untuk meyakinkan bahwa mereka layak diharapkan. Utamanya (mereka) sudah bergerilya untuk (mulai) menjual Fgur Prabowo, seorang yang ditawarkan kepada rakyat sebagai calon pemimpin Indonesia yang sangat menjanjikan perubahan ke arah yang lebih baik, bahkan terbaik. Mereka menyatakan bahwa Indonesia — sekarang ini — memerlukan Strong Leader, dan Prabowolah orangnya. Berkali-kali kader-kader Gerindra mengampanyekan Prabowo dengan kalimat seperti itu. Dan, saat ini, tidak sedikit orang yang mulai meyakini ‘kata-kata’ itu. Bahkan kalau selama +/- 3 bulan ini mereka (Gerindra) benar-benar bisa all-out, bukan tidak mungkin Prabowo akan bisa mengalahkan Jokowi, Figur yang tengah dipasarkan oleh PDIP, dengan proyek pencitraan yang agak berlebihan. Prabowo, dengan sedikit iklan pencitraan yang dipoles dengan kelembutan dan ketegasan, yang dalam istilah Islam disebut dengan al-Hilm, bisa menjadi fenomena (seperti) Umar bin al-Khaththab pada masanya, yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh rakyat untuk segera melakukan perubahan. Tinggal bagaimana Gerindra memaikan ‘orkestra’ yang terbaik selama 3 bulan ke depan. dan, saya kira, Prof. Suhardi dan kawan-kawannya sudah sangat siap untuk menabuh genderang ‘perang’ untuk (kemudian) menyalip ‘Jokowi’ yang tak sekuat Prabowo.

Saya ibaratkan Prabowo ini adalah Mobil Balap Formula I yang belum dipacu di landasan pacau secara maksimal, sementara Jokowi ini adalah Mobil Sedan yang dipaksa untuk berpacu di sirkuit balap. Sebentar lagi saya prediksi ‘Jokowi’ akan ‘kehabisan tenaga’. Maaf, ini adalah sebuah analisis sederhana saya. Dan ini saya katakan, bukan karena saya adalah pendukung atau kurang mendukung salah satu dari keduanya. Kalau saya boleh jujur, saya lebih merindukan capres-cawapres dari kalangan partai Islam. Tapi sampai detik ini figurnya belum saya temukan. Dan kalau pun saya telah menemukannya, saya belum yakin “bisa dijual’, salah satunya teman saya pernah menyebut “Irman Gusman”, orang Muhammmadiyah (Pengusaha yang Cukup Cerdas) yang kini menjadi ‘komandan’ DPD. Atau Hatta Rajasa yang bisa diajak jalan-jalan oleh Pak Amien Rais ke jantung-jantung massa Muhammadiyah. Aatau Mahfud MD, manatan Ketua MK yang hendak dijuakl oleh NU. Tapi, menurut pendapat saya, saat ini kedua figur (Jokowi-Prabowo) inilah yang paling layak jual. Yang lain, masih sulit untuk dijual dan bersaing dengan mereka. Kalau mau menjual Irman Gusman, Hatta Rajasa atau Mahfud MD, mestinya tinggal tawarkan saja mereka pada Jokowi atau Prabowo. Inilah realitas politik yang perlu kita pahami.

Saya menduga dan (sebenarnya) sangat berharap, Prof. Suhardi (orang yang sangat dekat dan pernah menjadi pengurus Muhammadiyah) segera mendekat ke beberapa komunitas muslim dan merapat kepada mereka, termasuk kepada para Kyai NU (bukan pengurus PKB) dan Pimpinan Muhammadiyah, serta membangun komunikasi yang lebih intens dengan berapa kalangan yang diharapkan ‘bisa’ menjadi basis dukungan kepada Prabowo. Sebab untuk kalangan militer — misalnya — tinggal pukul genderang atau tiup terompet yang keras dan indah, saya yakin Prabowo sudah bisa menjadi yang paling didukung oleh mereka. Dan bukti awalnya adalah hasil pemilihan (pileg) di jantung militer (kemarin): “Gerindra menjadi juara”. Untuk kalangan pengusaha, Pak Hashim dan para mitra bisnisnya sudah bisa dipercaya untuk meyakinkan mereka, dengan caranya sendiri”. Tinggal untuk beberapa kalangan — termasuk para santri dan kelompok muslim yang ada di kalangan bawah — yang perlu diyakinkan, melalui NU dan Muhammadiyah, misalnya, dan kemudian tinggal menunggu hasil yang terbaik dari proses komunikasi yang terbaik.

Akhir kata, meskipun sebenarnya saya bukan pendukung Prabowo, dan juga bukan orang yang tidak atau kurang mendukung Jokowi, saya berpendapat bahwa Indonesia saat ini lebih butuh seorang pemimpin seperti Prabowo (dengan segala kelebihan dan kekurangannya) daripada Jokowi. Dengan catatan, Prabowo dan mesin politik Gerindranya bisa bermain lebih cantik. Dan untuk hal itu, menurut pendapat saya, tidak terlalu sulit bagi orang secerdas Prabowo dan para pengikutnya, yang saya yakini bisa bermain lebih cantik dan (lebih) cerdas lagi daripada yang pernah ditampilkan sebelum Pileg kemarin.

Untuk itu, Prabowo dan mesin politik Gerindranya jangan pernah salah langkah. Begitu sedikit ‘teledor’, bukan tidak mungkin Jokowi dengan mesin politik PDIP-nya dan orang-orang yang siap memanfaatkannya, karena dia — saya kira — terlalu mudah untuk dimanfaatkan, akan segera menyalip dengan sangat cepat dan meninggalkan Prabowo dan mesin politiknya.

Selamat bekerja keras dan cerdas Partai Gerindra, dan bangunlah komunikasi dengan siapa pun dengan seefektif mungkin. Saya tunggu, ‘Prabowo’ bisa memimpin Indonesia dengan keberanian, ketegasan dan kelembutannya bersama wakilnya yang terbaik, yang bisa ‘dipilih’ dengan pertimbangan yang cermat.

Bekerjalah untuk Indonesia menuju “Baldatun Thayyibatun wa rabbun Ghafur.” Dan bagi capres-cawapres yang lain, silakan berkompetisi dengan Prabowo. dan andaikata Allah berkehendak untuk memenangkan Prabowo, mari kita dukung Dia untuk bekerja demi kemashlahatan Indonesia ke depan. Dan kalau ternyata ‘Bukan Prabowo’ yang memenangkan kompetisi ini, marilah kita sama-sama berbesar hati dan ikhlas menerimanya. Dan marilah kita bersama-sama membangun Indonesia ke depan dengan semangat: Fastabiqû al-Khairât, dalam rangka ‘beramar ma’ruf nahi-mungkar’.

Sekali lagi, saya bukanlah seorang pendukung siapa pun, Tetapi saya tetap akan mendukung siapa pun yang terbaik, dan bisa diharapkan bersama rakyat untuk membangun Indonesia ke depan. Bagi saya Prabowo, Jokowi atau siapa pun tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah: “Kami bangsa Indonesia ini segera mendapatkan pemimpin yang memiliki kemauan dan kemampuan, — dengan segala kelebihan dan kekurangannya — untuk membangun Indonesia. Bisa jadi pempimpin itu bukan Prabowo atau Jokowi, tetapi justeru muncul dari selain mereka, yang dengan gagah-berani bisa berbuat sesuatu yang lebih baik.

Amien.

Jayalah Indonesia. Nasrun Minnallaah, wa Fathun Qariib.