MEMBACA SURAT YASIN,  KENAPA TIDAK?

Membaca al-Quran merupakan suatu ibadah yang sangat besar pahalanya. Banyak sekali hadis-hadis dari Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan keutamaan atau fadhîlah membaca al-Quran.

Dari Aisyah ra ia berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda : “Orang yang mahir membaca al-Quran ia bersama para malaikat sedangkan yang membaca al-Quran dengan terputus-putus dan ia membacanya dengan susah payah, maka baginya dua pahala” (HR. Muslim)

Dari Abu Umamah al-Bahili Ra ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah oleh kalian al-Quran karena ia akan menjadi pemberi syafaat bagi orang yang membacanya di hari kiamat nanti, bacalah dua yang bersinar yaitu surat Al-Baqarah dan Ali Imron karena keduanya akan datang pada hari kiamat laksana dua awan atau sekelompok burung yang berbaris yang akan menolong orang yang membacanya, bacalah surat al-Baqarah karena barangsiapa yang melakukannya maka ia mendapatkan barakah dan barangsiapa yang meninggalkannya itulah suatu kerugian dan dan tidak mampu melakukannya para tukang sihir (HR. Muslim)

Namun jika yang dibaca itu adalah surat tertentu dan pada waktu-waktu tertentu dengan keyakinan adanya fadhîlah tertentu pula, maka untuk melaksanakannya diperlukan adanya dalil dari al-Quran maupun as-Sunnah yang menjelaskan pensyariatan amalan tersebut.

Berkaitan dengan surat Yasin, memang ada sejumlah riwayat yang menjelaskan keutamaan surat tersebut serta keutamaan membacanya pada malam hari. Namun demikian hadis-hadis yang menjelaskannya didha’ifkan oleh para ulama.

Dari Anas bin Malik ra berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: Segala seuatu memiliki hati dan hatinya al-Quran adalah surat Yasin (HR Tirmidzi No. 2887. Tirmidzi berkata: Hadis ini Gharîb, kami tidak mengetahuinya melainkan hanya dari hadis Humaid bin Abdurrahman dan Harun Abu Muhammad adalah guru yang tidak dikenal. Abu Hatim dalam al-‘Ilal II/56 berkata hadis ini bâthil)

Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh al-Bazzar dari sahabat Abu Hurairah ra. Al-Bazzar berkata: “Kami tidak mengetahui yang meriwayatkannya selain Zaid dari Humaid”. (Lihat Musnad al-Bazzar No. 2304) Demikian juga diriwayatkan oleh Al-Hakim At-Tirmidzi dalam kitabnya Nawâdir al-Ushûl hal 335 dari sahabat Abu Bakar As-Shidiq ra. Dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Ad-Dlurais dalam Fadhail Al-Quran No. 217 dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Îmân No. 2465 dan Ibnu al-Jauzi dalam al-Maudhû’ât (I/247). Ibnu Al-Jauzi berkata: “Hadis ini dari semua jalannya adalah batal dan tidak berdasar”.

Dari Abu Hurairah ra ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam maka di waktu pagi dosa-dosanya akan diampuni dan barangsiapa membaca Hâ Mîm yang di dalamnya ada ad-Dukhân, maka pagi harinya (doa-doa) orang tersebut akan diampuni”. (HR. Abu Ya’lâ, XI/93)

Dalam sanad hadis di atas ada rawi yang bernama Hisyam bin Ziyad yang didha’ifkan oleh sejumlah ulama hadis. Ibnu Hibban berkata: Ia termasuk orang yang suka meriwayatkan hadis-hadis maudhu’ dari ats-Tsiqat serta hadis-hadis maqlûb dari hadis hadis-hadis yang tsâbit sehingga orang-orang beranggapan bahwa itulah yang dipegang. Oleh karena itu perkataan orang tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.

(Dikutip dari beberapa sumber dalam situs internet, dan dipublikasikan kembali untuk bahan kajian hadis pada pengajian rutin Jumat Sore, 15 Oktober 2010, di Masjid Margo Rahayu, Namburan Kidul, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta)